putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

saya mungkin dulu terlahir sebagai kutu loncat.
hidup nomaden.
dari satu kotoran ke kotoran yang lainnya.
tak pernah jera.
tak pernah merasa senang untuk hidup dalam satu kotoran.

mungkin, di hidup sekarang ini juga,
profesi kutu loncat masih mendera.
dari satu kota ke kota lainnya.
dari satu job ke job lainnya.
pada loncat meloncat kota,
sekarang sudah agak berkurang.
dulu saya sempat berujar, “boss, alangkah baiknya kalau saya bisa menghabiskan waktu di studio, bukan terus terusan terbang. jadi saya bisa menggambar dengan tenang”.
dan berhasil; yang dulunya terbang pada angka 300 per tahun, kini melorot di angka 75-100 per tahun.

saya ingat bagaimana perasaan saat ingin meloncat.
persis seperti melakukan loncatan pada sebuah tebing tinggi, terjun ke sungai atau lautan.
ada saja perasaan begini, “gilak, kenapa aku ambil pekerjaan beginian!”.
apalagi mata memandang ke arah bawah!…
begitu juga saat akan terbang;
bangun pagi pagi banget.
lihat anak istri yang sedang tidur pulas.
berat sekali rasanya untuk melakukan penerbangan.
ingin rasa untuk tidur lagi.
atau,
melakukan aktivitas yang sama dan tipikal; bangun pagi, kerja dan tidur di kesetiap hari bersama mereka.
itu saja.
jadi tak ada perasaan sama persis seperti kita mau terjun bebas ke dasar jurang atau ke lautan bebas dari ujung tebing yang tinggi.

begitu juga halnya dengan loncatan ke job job di kantor.
hari ini garap B,
sebentar lagi garap C,
kemudian loncat sebentar garap D,
trus kembali ke B.
ada rasa berat untuk memulai menggarap C saat kita berada di job B.
pun sama halnya saat kita menggarap D, untuk kembali menggarap B pikiran musti disodok dengan makanan ringan. musti disodok dengan memperdengarkamn musik.
ibarat hukum kelembaman newton, sekali ia bergerak, susah dihentikan.
sekali ia diam, susah untuk digerakkan!.

Popularity: 20% [?]

Comments

There are 5 comments for this post.

  1. de Bhuana on January 27, 2010 3:46 am

    ngomong-ngomong kalo ganti terbangnya dengan naek bus ato angkot ato sepeda lah ….gimana ya kira kira rasanya apakah sama ato beda…kwakkwakk…..

    sip………..untuk critanya

  2. pm on January 27, 2010 4:02 am

    mas de bhuana,
    pejalan kaki, naek angkot, naek sepeda, naek SQ atau mersedes, sama rasanya. yang membedakan cuman seberapa jauh hati ini ditempatkan. kalau hati kita terlalu tinggi, mungkin beda antara berjalan kaki dengan numpak mersedes begitu jauh. begitu sebaliknya. kalau anda punya 4 mobil, sekali kali, cobalah naek sepeda pergi ke kota. rasanya sama.

  3. k3n_aroq on February 3, 2010 9:31 am

    Glodhaakk,,,, ngemenk epe seeehhh…..

  4. pm on February 3, 2010 10:07 am

    kadang saya ditanya saat memulai gambar, “themanya apa?”. terkadang, saya menggambar tanpa tau apa yang saya gambar. kalau ditanya, “ngemeng apa seeeehh?”, saya juga tak tahu musti jawab apa. baca bukunya rhonda byrne “the secret”. banyak jawaban yang ditemukan saat kita menjawab pertanyaan dengan kalimat “tak tahu lah…”

  5. dhani on February 12, 2010 3:44 am

    salah satu calon arsitek bodoh ingin mengucapkan, salam kenal bli.

Write a Comment