saya berhenti di sebuah warung.
hendak membeli pisang rebus dan ketela rebus.
warung ini selalu saya singgahi kalau liwat.
kalau ndak membeli pisang goreng, pilihan lainnya pasti ke pisang dan ketela rebus.
ada beberapa pembeli berdiri di depan warung.
saya memarkir sepeda saya.
panas belum menyengat.
ada mobil di seberang jalan berhenti.
saya memilih pisang.
seorang wanita datang bergabung. si pengendara mobil itu.
saya memilah dan memilih ketela rebus.
si perempuan tadi berkaca mata gelap. bulat sebesar bola kasti.
pakaiannya yang simple menutupi dari dada ke bawah.
bahunya terlihat putih. telanjang.
ada slayer hijau menggelayut dari leher.
mata saya menatap belahan dadanya yang muncul malu malu.
kepala saya tak bergerak karena mata terpaku di dada perempuan itu. tangan masih memegang ketela rebus. meremasnya. tubuh ketela rebus itu terasa sintal.
mendadak si perempuan itu menutup belahan dadanya dengan slayer, “ada pencopet”, begitu mungkin pikirnya.
kemudian ia bergerak menjauh. ke pojokan.
kini tubuhnya sedikit demi sedikit ditutupi oleh bantuan slayer hijau.
ketela rebus saya kantongi plastik. makanan ini sedikit remuk karena saya peras tadi!.
hari yang indah.
sepeda saya kayuh lagi. tinggal sekilo menuju studio. ketela dan pisang rebus bergelayut di stang sepeda. saya ingat perempuan dan dadanya tadi.
i love my bike!
pagi tadi saat makan pagi di depan monumen bajra sandhi renon,
saya parkir sepeda di depan warung makan.
ada bapak mendekat, “pak, bannya di cat atau asli warnanya krem?”, ia bertanya.
saya tersenyum dan menjawabnya, “aslinya pak, keluaran pabrik”.
kami kemudian bercakap.
si bapak bercakap tentang jalanan raya yang mustinya ramah terhadap masyarakat. ramah terhadap pejalan kaki dan pengguna sepeda.
si bapak bercakap tentang fasilitas pemerintah yang diberikan kepada masyarakat yang banyak tak tepat posisi dan guna.
saya mangut mangut saja sambil melahap rawon dan meminum teh hangat.
pagi yang tak terlalu panas.
pelayan warung datang membawa semangkuk bubur kacang hijau.
nikmat sekali makan pagi ini dengan kesederhanaan.
“om, sepedanya terus ganti ganti saja, kerja di mana sih?”, pelayan tadi bertanya.
saya tertawa saja. “sama seperti sampeyan. saya kuli juga. yang penting kerja dulu”, saya menjawab pertanyaannya.
“kalau kuli, mana ada kuli pakai kaos billabong, pakai kaos oakley, kaca mata oakley. sandal quicksilver!”, pelayan tertawa dan duduk di sebelah saya. matanya menatap sepeda. saya tak tahu, dia sedemikian detailnya memperhatikan.
si bapak yang sedari tadi bercakap tentang fasilitas pemerintah, ikut menjelaskan tentang kesederhanaan.
“biasanya, kesederhanaan bisa tampil dari kemewahan. bagaimana kita membungkusnya saja”, ia tersenyum.
si pelayan tadi tertawa. dan pergi kembali ke konternya. ada beberapa makanan yang siap dihantarnya.
si bapak pergi juga, matanya tetap memperhatikan ban sepeda saya.
saya menikmati teh hangat dan bubur kacang hijau.
dalam kayuhan menuju studio,
saya berpikir;
setidaknya arsitektur lokal kita bisa dikemas dengan rapinya dan cerdiknya dan bersanding menjadi karya karya arsitektur yang mendunia.
karya karya seperti ini, bukan saja musti dikunyah oleh manusia manusia berduit, tetapi juga bagaimana agar manusia lokal di mana karya tadi berada, mampu menikmati sama enaknya dengan manusia manusia berduit tadi.
sama seperti kejadian tadi, di depan warung ketela rebus itu, saya temui mereka berjubel di depan warung. ada yang turun dari mobil mewahnya. ada yang turun dari sepeda motor. ada yang datang dengan berjalan kaki. dan juga ada yang datang dengan kayuhan sepeda, seperti saya ini.
arsitektur itu, prulalis.
hanya manusia yang mengkotak-kotakannya.
Popularity: 13% [?]









He..he..he.. Jadi inget pesan Romo Mangun & Galih Widjil Pangarsa…
good…good…..saya setuju sekali…..terkadang kita sendiri yang suka mengkotak-kotakkan….kenapa tidak seorang tukang delman juga bisa menjadi arsitek bagi huniannya yang nyaman dan apik………..salam (Palu-sulteng)