rumah saya tak kelar kelar.
menunggu dana yang hanya jatuh di akhir bulan.
seribu rupiah masuk kantong, seribu rupiah musti dipakai.
kalau dirasa hanya cukup buat beli paku, hari itu juga saya hanya beli paku.
setelah itu, tunggu bulan depan lagi.
begitulah proses. tak instan.
terkadang, ada sebagian manusia tak seperti saya membangun rumahnya; tiga bulan kelar.
cerita saya berbeda dengan kelompok itu.
saya manikmati saja.
dalam sebuah makan malam di tahun lalu,
di sebuah resto di kota beijing china.
tepatnya di hotel “the opposite” beijing.
saya bercakap dengan brian, direktur kantor bangkok kami.
makan malam plus, plusnya adalah kami menggelar gambar yang sedemikian lebar.
sehingga, musti memakai meja makan yang super lebar. beruntung ada dan tersedia di resto itu.
walau dengan sedikit memelas, maklumlah, mejanya sudah di”reserved”.
berbicang sedikit dengan 2 orang dari WATG, karena mereka kebetulan satu job dengan sebuah proyek di sanya.
setelah itu, mereka duduk terpisah dengan kami.
di perbincangan di malam itu, sambil makan dan mata melirik gambar gambar,
sempet berdiskusi tentang rumah.
brian sedang membangun rumahnya.
saya juga.
brian memerlukan 19 tahun bekerja untuk bisa mendirikan rumah di bangkok.
saya perlu 14 tahun bekerja untuk bisa mendirikan rumah.
beda di lamanya tahun.
dan yang paling mencolok, beda luasan tanah dan rumah.
saya 2 area koma sekian, brian tujuh area koma sekian.
dia bergaya sedikit sentuhan mexican dengan roof topnya dan berlantai 3, saya memakai rustic! berlantai dua.
kesamaanya;
kami sama sama membangun bertahap.
seribu rupiah ada uang di awal bulan, seribu rupiah dana yang dipakai untuk membeli material.
“mungkin akan finish sebelum natal tahun ini”, begitu katanya.
matanya berbinar. saya membaca harapannya.
saya tersenyum.
beberapa bulan setelah makan malam di hotel itu, setelah 2009 berubah menjadi 2010,
kami bertemu kembali di bulan januari 2010 di hotel yang sama untuk meeting job yang sama saat bertemu dan makan malam dengannya di hotel itu beberapa bulan di tahun 2009 itu.
kami makan siang sehabis meeting, kali ini makan siang di kantor klien.
seseorang bertanya kepada brian di akhir makan siang itu,
“bagaimana dengan rumah anda?, selesaikah?”, begitu ia bertanya.
“belum”, brian tersenyum. “masih ada banyak detail yang belum selesai”, ia melanjutkan.
saya menatapnya.
sambil mangut mangut, saya berpikir;
terkadang nasib kita sama.
Popularity: 14% [?]










halo pak putu .. say numpang nulis ya… he.. crita2nya sungguh inspiratif buat arsitek2 junior seperti saya dan teman2 dari jogja he..
penasaran dengan tampilan unik “rumah rustic” bli Putu, barangkali ke depan bisa diceritakan lebih dan dishare sedikit desainnya seperti denah, detail ornamen, dll…
salam
kapan bisa ML (melali) kerumah pak putu ya?!