ada manusia yang begitu getol untuk menghadapi permasalahan. tak mau meninggalkannya.
ada kalanya, kita menemukan sejumlah manusia yang lari dari permasalahan.
dalam perjalanan dari bangkok menuju ningbo-china,
saya bercakap dengan bill.
“putu, kita berada di areal profesional, tapi beberapa gambar kita belum menunjukkan hal itu”, bill membuka obrolan. matanya tetap terus melihat lihat gambar yang saya sodorkan.
“tulisan tulisan ini, beberapa horisontal, beberapa vertikal. dimensinya, tak sama besar dengan halaman berikutnya. ke sana ke mari”, ia melanjutkan.
saya mangut mangut saja.
“saya sudah pernah bicara ini, tapi tetap saja terjadi. susah ya?. di bangkok begitu juga. jadi bukan kamu saja yang mengalaminya di studio bali”, ia melanjutkan.
saya mangut mangut.
menjadi TOP 100, susahnya minta ampun.
jalannya berkelok kelok. cobaannya tak terhingga sakitnya.
jalannya menanjak terus, beban di punggung sedemikian beratnya ditambah lagi kita musti jalan menanjak.
sedikit pikiran untuk beristirahat, mampuslah!.
apalagi kalau kita telah berada di areal pro.
mempertahankan diri agar tetap berada di areal ini, susahnya minta ampun.
sekali lengah, mampus!.
mampusnya bukan oleh hal hal besar,
tetapi oleh hal hal kecil;
tentang bagaimana karakter gambar kita.
bagaimana kita mempresentasikan bahasa gambar.
bagaimana kita menulis angka angka dimensi, angka angka ukuran dalam setiap detail.
bagaimana kita mengertikan gambar kita.
salah tulis, salah eja, itu membuat kita berada dalam keadaan lengah dalam area pro.
hal sepele, tapi kalau itu terbaca oleh manusia lain, mereka akan tertawa, “gila, fee besar, nulis beginian saja kagak becus!”.
itu mungkin yang ingin disampaikan bill saat kami bercakap di atas awan beberapa bulan lalu.
tantangan kalau berada di daerah pro, jumlahnya sedemikian banyaknya.
tahun ini,
kita kembali berada pada 100 top desainer se dunia versi majalah architectural digest edisi januari 2010.
bersama foster, bottero, antoine predock, richard meier, michael graves dan lainnya.
ini yang ke dua kalinya.
kebanggaan didapat, tapi beban semakin berat dirasa.
termasuk memikirkan semua beban yang ada di sanur.
bukan hanya pada desain, masalah bagaimana menggambar, masalah pekerjaan, juga masalah tiap kepala.
dalam setiap pekerjaan, selalu saja kita akan terperangkap dengan lingkaran setan. antara kepentingan perusahaan versus kepentingan staff. di manapun kita berada dalam sebuah studio, perusahaan, kantor atau apalah namanya, banyak di antara kita yang menuntut agar perusahaan, kantor, studio atau apalah namanya, agar memberi imbalan atau gaji yang “pantas” terlebih dahulu baru kita mau mengerjakan tugas secara maksimal. kalau tidak, kerja pas pas an saja.
di sisi lain, perusahaan, kantor, studio atau apalah namanya, selalu menuntut staff memberikan yang terbaik dulu baru memberikan imbalan yang “pantas”. maka, amat pasti yang akan terjadi adalah lingkaran setan. siapa yang bisa memutus lingkaran ini, tak ada yang tahu karena masing masing pihak merasa berdiri pada kebenaran. biasanya, yang merugi para staff; kantor, studio, perusahaan atau apalah namanya, bisa dengan gampang kapan saja mendepak staffnya yang dinilai tak berprestasi.
terkadang juga, perusahaan, kantor, studio atau apalah namanya, sudah memberikan imbalan, tapi terkadang staff tak merasa diberi. semakin mbulet dan berlingkar lingkar.
seorang rudy hartono si pebulu-tangkis kita yang dulu sedemikian digjayanya di kancah ini, sempat bercerita kepada seorang andy f. noya.
“prinsip saya, berprestasi dulu baru penghargaan”, akunya. rudy mengaku ketika berlatih dan bertanding, tak punya secuilpun dalam pikirannya bahwa apa yang ia lakukan itu untuk memperoleh imabalan. “saya fokus untuk mencapai kemenangan demi kemenangan tanpa memperhitungkan apa yang akan saya dapatkan sebagai imbalan jika juara”, katanya.
pikir pikir, capek juga hari gini tanpa memikirkan imbalan?.
mungkin lebih baik saya buka studio ketimbang tetap sebagai staff!. nyuruh orang. ke mana mana se enak udel. mau ke kanan ya monggo, mau ke kiri ya silahken. nyaman buat diri sendiri. “trully boss”, kata orang.
dan pada suatu saat nanti, studio saya pun akan menemukan permasalahan pekerjaan versus staff, lingkaran setan lingkaran setan ini lagi yang ketemu sama persis saat saya berada di sanur.
kapan selesainya?.
kantor yang belum bijak? atau saya yang belum bijak, atau anda yang tak bijak?
atau mungkin kita anggota geng “tak bijak”?.
mari berpikir;
ada manusia yang begitu getol untuk menghadapi permasalahan. tak mau meninggalkannya.
ada kalanya, kita menemukan sejumlah manusia yang lari dari permasalahan.
saya tak tahu, saya termasuk yang mana.
saya taruh di lemari kembali, majalah architectural digest itu.
di urutan paling bawah.
terhimpit.
menahan beban (dalam hati saya berteriak lantang, “rasain kau!”).
seperti saya.
di sanur (mungkin si majalah juga berteriak lantang ke saya, “rasain kau!”, tapi saya tak mendengar).
tapi, kata orang, “tetap semangat!”.
Popularity: 17% [?]










tetap SEMANGAH….kwakakkakakakakkkk…..
Klo Jun Kaneko baca ini, dia bilang GANBATTE Lah…!
Klo Queen yang baca ini, The SHOW MUST GO ON Lah…!
tetap semangat bli !
semangat bli tu…..