kemarin malam,
saya mendarat di beijing.
dari jendela kaca singapore airlane, saya melihat tumpukan salju.
saya baca sejak akhir desember lalu, beijing dilanda badai salju yang parah.
kali ini, saya tak berbekal banyak baju hangat, saya pikir, acara kali ini tak akan habis di outdoor.
saat keluar dari pesawat, walau masih di belalai gajah, dingin telah menerjang.
pilot memberi khabar, beijing di angka minus 7 derajat.
berjalan ke imigrasi, badan menggigil.
saya bergegas, mulut mengatup, tangan bersembunyi di balik kantong.
hangatnya udara ruang interior bandara ini, tak mampu mengalahkan udara luarnya.
tubuh saya tak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
lepas dari costum, saya dijemput hotel.
“selamat datang di beijing kembali, mister putu”, katanya.
perempuan china itu kemudian menggiring saya ke parkiran.
dingin menusuk.
napas saya menghasilkan asap.
saya ingat pilem pilem barat.
knalpot mobil menderu, asapnya mengalir.
saya ingat pilem pilem barat.
audi 6 melaju membawa saya ke hotel the opposite.
kabinnya kini menghangatkan tubuh saya.
jam 12 malam,
tubuh saya terjatuh di ranjang tidur.
kini, hangat terasa.
terlelap.
pekerjaan sebagai arsitek, membawa saya ke pengalaman yang tak pernah saya bayangkan.
dulu, saya hanya punya satu tujuan hidup; jadi arsitek.
bakalan ke mana mana, bukan bayangan saya. bukan harapan atau mimpi.
apalagi naik audi 6!.
pagi tadi,
tilpun berdering.
walau saya telah terbangun, tapi tubuh masih malas untuk bangun.
dering tilpun di meja kerja di kamar saya, membuat saya musti bangun.
“hello putu, did you wake up already?”, begitu katanya. brian yang ada di kamar lainnya menilpun sekedar untuk memberitahu jam meeting di pagi itu.
saya bergegas mandi.
dengan sedikit caci maki karena merasa kurang tidur, dingin air di shower itu membuat saya berjingkrak jingkrak kedinginan.
di restaurant level lobby,
saya isi perut dengan buah segar dan teh.
selanjutnya, obrolan saya dengan brian, direktur kantor bangkok, seputar pekerjaan dan pekerjaan.
kami bergegas kemudian menuju lobby.
meminta mobil hotel untuk menghantar ke tempat meeting.
di luar sana, nampak tumpukan salju seperti bunga es di bibir dalam kulkas rumah.
manusia manusia beijing berjalan bergegas dengan sekian lapis pakaian.
mobil lalu lalang dengan asapnya menular ke udara.
pepohonan berdiri kaku tanpa dedaunan.
dua buah mobil nampak sedang parkir depan lobby; satu audy 6 dan maserati.
kamu dijemput dengan apa semalam?”, brian memecah lamunan saya akan udara luar.
“audy 6″, saya jawab dengan senyuman.
“kamu tahu, saya dijemput dengan maserati semalam!. gila suaranya!”, brian menjawab. “kamu pernah dengar suaranya harley?, maserati mempunyai karakter suara seperti itu, tapi lebih halus. halus tapi garang!”, ia melanjutkan.
saya tersenyum. mata saya menatap interior hotel. simple saja.
“sir, mobil anda telah siap”, orang hotel berkata ke brian.
kami bergegas ke luar.
udara dingin menusuk kembali. saya menggigil.
kami bergegas ke audy 6 yang pintunya telah terbuka.
supirnya berada di samping pintu itu, bersiap membawa kami ke tempat meeting.
“no..no..use this car. i will drive”, orang hotel lainnya menyilahkan kami untuk duduk di maserati.
saya melongo. brian juga.
pagi itu, kami menikmati udara dingin beijing dengan maserati.
suaranya mengeram halus, garang seperti harley.
jam 9 pagi itu,
tubuh saya terduduk di jok mobil.
kini hangat terasa, karena joknya mampu menghangatkan tubuh.
nyaman.
pekerjaan sebagai arsitek, membawa saya ke pengalaman yang tak pernah saya bayangkan.
dulu, saya hanya punya satu pekerjaan hidup; jadi arsitek.
bakalan ke mana mana, bukan bayangan saya. bukan harapan atau mimpi.
apalagi naik maserati !.
Popularity: 6% [?]










Comments
There are no comments for this post.
Write a Comment