tukang di rumah, mengajari saya tentang “fee”;
tukang saya yang sedang menggarap rumah saya, datang membawa map.
isinya sudah bisa saya tebak, rekap pekerjaan dia selama satu setengah minggu dan berapa yang musti saya bayar.
saya membacanya.
dahi berkerut kerut.
begitulah sifat manusia, saatnya membayar, kulit muka berlipat lipat tetapi saat menyuruh nyuruh tukang, mulut menganga lebar membawa liur memuntahkan perintah.
selama ini, saya tak pernah berurusan langsung dengan “fee” tukang, di manapun proyek berada.
istilahnya, saya “tinggal beres”.
saya tinggal suruh.
tapi lain terasa saat menggarap rumah sendiri.
mata sering juling membaca tagihan tukang.
jantung jungkir balik saat mata membaca harga total yang musti dibayar.
baru kali ini saya tahu, ada istilah meter persegi dan meter lari.
“mas, kalau main pekerjaan water profing, kalo sudah main M2, ya M2, kenapa ini M saja?”, mata saya membelalak.
“saya ini arsitek, tahu pekerjaan tukang. ini baru pekerjaan rumah, belum pekerjaan membuat sorga di awan!”, saya melanjutkan.
sang tukang keder. mata saya berubah warna. jingga sedetik, merah semenit.
“maap, pak, saya salah”, katanya.
saya membolak balik kertasnya. jantung berdetak kenceng!.
“revisi lagi dong!” saya membentak.
tukang menunduk dan meninggalkan saya. kemudian dia melanjutkan mengisi nat keramik terakota.
saya meneliti.
membaca lagi laporannya. mungkin saya yang salah baca.
dalam hati, “kenapa ini M2, kenapa ini M saja? kok tak ada perseginya. tapi ini M nya ada koma di atasnya. mungkin ini maksudnya meter lari?, waduh…!”
saya panggil lagi mas tukangnya.
“mas, ini maksudnya meter lari ya?”, saya bertanya. kali ini nadanya lemah lembut. menyembunyikan kesan bego.
“iya pak putu. kalau dak beton itu kan meter persegi, lha kalo wuwungan saya hitung meter lari. begitu..”, katanya.
saya mangut mangut. mengerti sekarang.
pikir pikir,
jadi tukang kok enak banget ya.
satu setengah meniggu sudah dapat 3 jutaan; water profing dak beton. cat. masang seng. itu thok. (saya tak mikir capeknya mereka naik turun!)
lain dengan saya; satu setengah minggu meres otak pulang malam, baru dapat setenga duit tukang.
lain lagi dengan tukang kayu.
setelah satu minggu dia mengerjakan “fix furnitures” saya di ruang tidur anak dan ruang tangga, dia datang ke hidung saya.
“boss, saya mau cash bon”, katanya.
“boleh mas, berapa?”, saya tanya.
“tiga juta saja”, katanya.
dahi saya berkerut.
sang tukang kayu sudah dua kali minta cash bon. yang pertama minta 2 juta. kini kembali minta cash bon sebesar 3 juta.
dalam hati, “busyet, berapa nanti total fee tukang kayu untuk memasang dan membuat furnitures saya?, ini sudah 5 juta dia menggaruk uang dari perut saya dalam waktu seminggu!”.
gila!
segalanya dihitung M2. (manusia selalu menilai hasil akhir!).
andai arsitek dihitung kerja per detiknya, (manusia selalu akhirnya membandingkan hidupnya dengan tetangga, walau dengan lonte sekalipun!)
atau, katakanlah percoretannya!.
jadi saya tak selalu mengernyitkan dahi saat tukang datang menagih upah!.
baru ngeh saat mengerjakan proyek sendiri. berhadapan dengan tukang langsung. berhadapan dengan toko bangunan langsung.
pendidikan begini, terkadang membuat perut sakit mules.
terkadang, begitu masuk akal saat saya membandingkan dengan pertemuan saya dengan dokter kulit beberapa waktu lalu saat telah selesai diperiksa.
“berapa ibu dokter?”, saya bertanya.
“tujuh puluh lima ribu perak saja”, katanya.
saya serahkan dengan tulus tanpa rasa penasaran.
saya pun berlalu. tiada protes!.
beberapa tahun lalu saat ada bule menyuruh saya membuat kebun vilanya.
saya sodorkan harga gambarnya, diapun membentak, “gila, kalo gambar begini saja, saya mah bisa. kagak perlu bayar sebesar ini!”
saya pun berpikir begini, “kayaknya saya lebih baik jadi lonte saja!” (karena, tinggal nganga, tapi dapat duit).
Popularity: 26% [?]










arsitek memang sering kelamaan di sorga, bermain-main dengan idenya..
sekali – kali mereka harus turun ke bumi, ketemu langsung dengan keadaan di sana, dengan tukang, dengan DUIT untuk idenya…
selamat datang di bumi, pak…
hehehehe….
ya gitu memang…..yang tua yang muda yang dibilang fresh graduate sampe yang katanya sudah expert melupakan “tokoh’ yang namanya KULI BANGUNAN…dan kadang “arsitek” sendiri juga tidak sadar bahwa dia juga KULI BANGUNAN….bosnya n kliennya….
sipp……
betul bgt tuh pak, tukang pasang marmer saja harga per meternya 125 rb tidak termasuk material, tidak perlu seolah tinggi-tinggi jg, sedangkan arsitek ngajukan harga 100 rb per meter saja klien rasanya berat bgt
hahahaha..ya itulah realita hidup..jadi inget pesan seorang dosen,,mahasiswa lulusan arsitek sekarang langsung dilepas jadi kolonel..belum pernah merasakan jadi kopral..begitu di medan perang,kopral bisa dengan gesitnya menguasai medan,,sedang kolonel,,hanya dapat terbengong memikirkan strategi2 tanpa bisa merasakan bagaimana medan perang yang sesungguhnya..
GBU pak putu..=D
itulah… kenapa banyak ‘arsitek’ dikomplain : bikinin (baca : desain-in) rumah orang aja bagus2..untuk rumah sendiri…belum tentu…(yaa…karena harus bayarin sendiri…yang sering kali bikin dahi mengernyit…terasa gak ikhlas bangetz dehh!!). Sedang kalo desain-in orang lain…sedahsyat2nya, pokok-e mantap-lah…
Piss bli Putu!!!
he he he he…emang bener kalo ngitung rumah orang digede2in ( karena banyak dui masuk) tp kalo giliran kita mao bayar tukang yang benerin rumah kita perasaan buerat kali….tp dia (…tukang ) bisa memberikan ilmu juga…
mang putu jozzzzz..