putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

gambar5b.jpg

(oleh tjahja tribinuka, pengajar arsitektur ITS)

Arsitektur nusantara yang sangat dipengaruhi iklim tropis lembab memiliki kesamaan dalam proses dan memiliki perbedaan dalam produk. Tanah nusantara yang selalu labil oleh gempa dan banjir adalah hal yang paling diantisipasi, banyak rumah-rumah tradisional nusantara yang berbentuk panggung. Semakin rawan bencana, semakin tinggi pula bentuk panggungnya. Di bawah panggung adalah ruang negatif yang dipergunakan untuk hal-hal tidak penting, seperti menyimpan barang dan hewan. Hampir seluruh rumah nusantara kuno selalu mengutamakan ruang luar bagi bangunannya. Ruang luar itulah ruang keluarga bagi mereka, gugusan bangunan adalah kamar-kamarnya.

Gambar 1b. Studi karakteristik arsitektur nusantara, berpola panggung untuk lokasi rawan, menempel tanah untuk lokasi aman, beratap tinggi untuk mengantisipasi panas matahari, serta selalu terbuka dan bersahabat dengan iklim.

gambar1b.jpg

gambar 1b

Masyarakat nusantara kuno berusaha menyatu dengan iklim. Kita bisa melihat relief candi bahwa orang-orang masa lalu selalu bertelanjang dada baik pria maupun wanita. Percandian merupakan kompleks peribadatan yang terpengaruhi agama Hindu dan Budha. Masa lampau kedua agama ini berasal dari India. Namun demikian, dari relief pula, maka penampilan manusia lampau pada relief candi di India, badannya selalu ditutup kain, menunjukkan ganasnya iklim. Jadi bukan masalah candi dan agamanya, namun relief lebih dipelajari pada kondisi dan filosofi masyarakat pada saat itu. Tentunya masalah prinsip kehidupan ini juga akan berpengaruh pada perwujudan arsitektur.

Gambar 2b. Perbandingan karakter manusia dari relief candi di India dengan relief candi di Indonesia

gambar2b.jpg

gambar 2b

Sebuah contoh kenusantaraan yang dapat dipelajari adalah arsitektur jawa kuno. Dalam kasus ini diambil arsitektur kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan besar yang pernah menyatukan nusantara. Masyarakat majapahit sangat menghargai matahari sebagai salah satu sumber kehidupan. Penghargaan ini tampak pada lambang kerajaan majapahit yang berbentuk matahari, orang menyebutnya dengan ’surya majapahit’.

Gambar 3b. ’Surya Majapahit’ sebagai lambang kerajaan Majapahit masa lampau

gambar3b.jpg

gambar 3b

Gambar 4b. Analisis bentuk arsitektur dari relief candi di Jawa,

gambar4b.jpg
gambar 4b

Pada intinya, tulisan ini bertujuan untuk mencari kembali asitektur nusantara, bukan dari produknya, tapi dari prosesnya. Pencarian arsitektur nusantara bukan hanya pada aspek ’tangible’, tapi juga (dan justru lebih penting) dari aspek ’intangible’.

Popularity: 60% [?]

Comments

There are 13 comments for this post.

  1. kana on December 11, 2008 2:43 am

    saya sangt setuju dengan mas tribinuka, pencarian arsitektur nusantara bukan dari produknya sdangkan bagaimana produk itu bisa terjadi….sperti arsitektur bali tempo dulu…hmmm..kapan ya ada arsitek yg bisa berkarya sperti arsitektur bali tempo dulu…
    salam

  2. diana putranti on December 11, 2008 4:35 am

    bagus banget, coba waktu saya kuliah udh ada pasti sangat menolong tugas sejarah arsitektur.

  3. Benk Sumantri on December 11, 2008 9:16 pm

    Saya sangat senang sekali mendapat kan ilmu tentang majapahit ini, kebetulan orang tua sy asli dr jawa timur, dan sy sangat gemar mempelajari arsitektur NUSANTARA,….

  4. vbi_djenggotten on December 15, 2008 4:32 am

    wa…liat simbol mataharinya jadi inget bangsa aztec….

  5. tribinuka on December 15, 2008 9:45 am

    wa… senang sekali masih ada yang tertarik dengan nusantara, pak Jenggot… kalau anda melihat bentuk candi sukuh serta candi utama di candi penataran, maka akan didapatkan keserupaan dengan candi piramida terpancung bangsa aztec. mereka juga menganggap matahari adalah hal yang penting.

    … iya, mas waduk2 hebat itu sepertinya juga berhubungan dengan pertanian masa majapahit. soal orientasi itu saya hanya meniru orientasi ‘kaja’ masyarakat Bali menuju Gunung Agung (tertinggi). apa anda ndak salah tentang lokasi candi penataran, kalau gunung wilis ditarik garis lurus dengan gunung kelud, maka justru candi penataran ada di sisi timur garis tersebut. candi penataran letaknya di lereng gunung kelud, tepatnya lereng barat daya-nya.

    candi penataran termasuk situs peninggalan majapahit. ada prasasti yang menuliskan bahwa dalam waktu tertentu iring2an majapahit bersembahyang di situ. menurut analisis saya lokasinya justru terpilih agar saat mengadakan persembahyangan pagi hari, wajah orang dapat menghadap gunung arjuno sekaligus menyambut terbitnya matahari timur.

    mari kita analisis lagi… he he, saya juga bisa salah kok… yang penting obor nusantara tetap menyala saja…

    salam, tribinuka

  6. yu sing on December 18, 2008 8:22 am

    mas tribinuka, knapa tdk dibukukan saja koleksi penelitian mas soal ars nusantara ini (dgn tambahan lainnya yg lbh luas). sangat menarik, cukup tajam, dan pasti jadi dokumen penting buat arsitektur nusantara. ayo mas, pasti jadi manfaat buat byk org, sy pasti beli ! bukunya sy tunggu yah =)

  7. tribinuka on December 18, 2008 11:31 am

    salam Pak Yu Sing… wah… kata ’saya pasti beli’ membuat saya jadi termotivasi, tapi saya jadi ingat sebelum menulis di sini Bli Putu bilang ‘mudah2 an ada yang masih mau berbagi ilmu dengan murah’… he he. Pak, kalau saya mau cari duit mending mroyek aja, saya masih mampu kok cari proyek.

    pernah Bli Putu presentasi di its, waktu itu saya harus bertemu orang pemkot dan sudah bilang beliau tidak bisa ikut menemani presentasi. Bli Putu cuman tanya aja ke saya, ‘kamu itu arsitek apa dosen? arsitek yang dosen atau dosen yang arsitek?… saya bingung jawab, tapi akhirnya pertemuan dengan pemkot saya batalkan/tunda…

    nanti deh soal buku itu… selama masih ada yang mau berbagi ilmu di internet yang murah ini, maka saya akan selalu bersedia. yang penting bagi saya adalah komunikasinya, kedewasaan memahami arsitektur secara bersama2, bisa membangun bangsa dan nusantara dengan lebih baik…

    maaf pak Yu Sing kalau terkesan narsis, dan mohon dimaklumi pula ketidakmampuan saya, saya belum pantas menjadi orang yang karyanya dapat dipakai sebagai dokumen…

    salam, tribinuka :)

  8. yu sing on December 19, 2008 7:23 am

    pak tribunika, sy seringkali trenyuh setiap melihat (kadang2 membeli kalau mampu) buku2 terbaik ttg indonesia diterbitkan d ditulis di luar negeri, yg tentunya jauh lbh byk drpd buku2 terbaik hasil karya anak bangsa. ini bukan soal cari duit lewat bikin buku, tapi lbh penting adalah merekam peradaban dan keagungan, keluasan, kedalaman, keluruhan budaya kita. buku akan lbh banyak & mudah diakses lbh byk org, mk akan lbh bermanfaat. menurut saya,syg kalau kapasitas yg telah dianugerahkan NYA tidak disumbangkan kpd lbh byk org. barangkali memang bangsa kita belum memiliki budaya menulis (buku) yg sifatnya ilmiah & mendalam. Apa krn kita memang tdk mampu?
    -provokator-

  9. tribinuka on December 19, 2008 8:01 am

    salam pak Yu Sing, terima kasih sarannya, saya juga trenyuh, tapi saya juga yakin banyak yang mampu meneliti pula. saya berkeinginan membuat textbook, dan sekarang masih melakukan banyak riset. doakan saja riset yang saya lakukan membuahkan hasil.

    saya mendekati arsitektur nusantara tidak hanya dengan satu alternatif, tapi juga dengan alternatif lain. di sebuah milis telah saya ulas pendekatan dari sisi psikologi, di milis ini menggunakan alternatif arkeologi. anda bisa melihat bahwa keresahan saya atas kerumitan arkeologi ini sudah saya dekati untuk alternatif kedua yaitu sosiologi (ulasan tentang vernakular madura pelosok).

    kita lihat saja nanti, saat ini saya masih bagai telur, masih mudah pecah, butuh dierami dengan diskusi dari berbagai orang, termasuk anda… jika sudah merasa akan menetas, pasti dan amat pasti saya akan membuat textbook, dan bukan hanya buku populer seperti yang banyak beredar di toko2 buku saat ini. saya ingin menjadi seseorang seperti penulis kebanggaan saya anthony antoniades dan geoffrey broadbent. mudah2an Tuhan mengijinkan

    sekali lagi, terima kasih Pak Yu Sing

    salam, tribinuka :)

  10. p.m. on December 20, 2008 5:42 am

    <p><p>saya termasuk seorang pembual, selain pembual, saya termasuk pemimpi besar dimana selalu saja saya menekankan agar mahasiswa arsitektur itu MUSTI menjadi arsitek. saya ingin punya sekolah. saya pikir, sekolah itu tak harus mahal. maka, blog ini saya pakai untuk mewujudkan bualan dan impian itu. jadi, untuk mencerdaskan masyarakat dan membuat para mahasiswa arsitektur itu melek terus untuk tetap semangat kelak menjadi arsitek, dibutuhkan banyak bara dari mereka yang mau berbagi tentang apa yang terjadi diluar kampus mereka, tentang apa itu arsitektur, tentang apa itu arsitek, tentang apa itu hukum, sex, lonte, dan lain sebagainya tanpa membedakannya dari ras, suku, agama. jadi, kalau blog ini bisa membantu pendidikan dan pengajaran tentang arsitektur dengan free, tanpa penyunatan bara sedikitpun, mari belajar bersama dengan ikut menyebarkan ilmu dan pengetahuan dengan cara masing masing agar arsitektur itu bisa dimengertikan dari kalangan atas, medium hingga kaum usang. yang penting halal dan menyeluruh serta dipenuhi oleh pemikiran tentang bagaimana arsitektur itu bisa menyelamatkan alam dan isinya. yang begini, memerlukan banyak pengorbanan seperti yang dilakukan setiap penyumbang pemikiran di blog ini. saya amat sangat berterima kasih buat mereka atas segalanya. </p></p>

  11. tribinuka on December 20, 2008 6:03 am

    :) :) :)

  12. yu sing on December 20, 2008 9:37 am

    pertama2, mohon maaf br sadar salah tulis nama pak tribinuka. salut buat bli putu yg membuka blognya sebagai ajang sekolah, shg sy ikut bersekolah di sini =). pak tribinuka, mohon maaf kalau saya lancang, semata-mata krn sy ingin sekolah lagi & dapat ilmu lbh banyak dr bapak. saya percaya textbooknya akan jadi sumbangan besar bagi dunia arsitektur dalam negeri! sukses terus, semoga selalu diberkahi kesehatan & hikmatNYA

  13. shofi on August 21, 2009 4:54 am

    aqu mau tanya.
    caranya buad blog se-keren ini gmn y???
    bagi tipsnya donk.
    saya pengguna baru.
    kalau bisa tipsnya dikirim ke blog saya saja.
    makasih sblumnya.

Write a Comment