(disumbangkan oleh profesor josef prijotomo, guru besar arsitektur ITS, surabaya)
Spasi antar kata dalam kalimat
Melalui pengamatan terhadap pembentukan kalimat dalam sistem latin, jarak atau rongga yang berada di antara kata yang satu dengan kata yang lain adalah sama pentingnya dengan kata-kata itu sendiri. Sebuah kalimat, dengan demikian, adalah penjejeran/konstruksi dari kata dan rongga.
Dalam sistem Jawa, pembentukan kalimatnya dilakukan dengan mengikatkan kata yang satu dengan kata yang berikutnya. Rongga samasekali tidak diberi tempat untuk hadir. Yang disaksikan dari sebuah kalimat, dengan demikian adalah kata yang terikatkan pada kata yang berikutnya tanpa sedikitpun tempat bagi rongga untuk mengisyaratkan kehadirannya. Pengikatan kata ini juga terkadang demikian ketat sampai-sampai huruf awal dari kata penyusul (succeeding character) diberi tugas untuk melakukan `pembunuhan’ atas huruf yang mendahuluinya (preceeding character). Pengikatan seperti ini dengan nyata sekali menampakkan bahwa rongga bukanlah apa-apa bagi tulisan Jawa (bukan bagi kalimat Jawa ==> DI SINI KITA MESTI MEMBUAT PEMBEDAAN ANTARA TULISAN JAWA DENGAN KALIMAT JAWA)
Berpusat pada rongga yang berada di antara kata yang mendahului dengan kata yang menyusulinya, sistem bahasa tulis Jawa menampakkan peristiwa pengkalimatan berikut ini:
MENULIS: kata demi kata diikatkan satu dengan yang lain tanpa ada sedikitpun peluang bagi rongga untuk menyatakan dirinya. Tetapi itu apakah berarti bahwa penulisan ini memberi peluang bagi terjadinya `perusakan kata’ (maksudnya: kekeliruan dalam memenggal kata menjadikan arti kata berubah total)?
MEMBACA: Tugas pertama dan terpenting dalam membaca adalah menempatkan rongga di antara kata yang satu dengan kata yang lain: sebuah kegiatan PENGOSONGAN. Juga dapat dikatakan sebagai PENJARAKAN; juga PELEPASAN IKATAN. Tetapi, tindakan itu nampaknya bukanlah PENGISIAN RONGGA ANTAR KATA; juga bukan PENETAPAN JARAK; ataupun PENUNDAAN IKATAN
Di depan telah dikatakan bahwa dalam membaca seseorang wajib untuk pertama-tama melepaskan ikatan antara kata yang satu dengan kata yang lain. Lebih tepat lagi, tindakan pertama adalah membangun sebuah kepastian mengenai kata-kata mana sajakah yang terdapat dalam deretan huruf. Ingat, sistem Jawa samasekali tidak mengharamkan interpretasi; justru sebaliknya: dalam membaca, pertama-tama tugasnya adalah menginterpretasi deretan huruf menjadi deretan kata.
Antara penulis dengan pembaca, dengan demikian, terbentang sebuah ETIKA Jawa yang berkata: “pembaca bukanlah pihak yang didikte oleh penulis” Pembaca diberi kebebasan sepenuh-penuhnya untuk berinterpretasi. Apa itu artinya? Itu berarti bahwa pembaca memiliki kebebasan mutlak untuk membangun makna; memiliki kebebasan untuk tidak dikuasai oleh penulis.
Apakah etika ini tidak menjadi `kebablasan’ sehingga pembaca lalu menjadi pengarang? Tentu saja tidak, karena di pundak penulis-lah kecenderungan untuk `kebablasan’ itu dibebankan. Penulis diberi kewajiban untuk mengendalikan interpretasi yang dibangun oleh pembaca. Melalui pemilihan kata itulah pengendalian ini dijalankan. Itu pula sebabnya, kata-kata dalam bahasa Jawa itu punya sinonim, dan bisa saja satu kata memiliki beberapa sinonim.
Kembali ke pihak pembaca. Apakah Etika Membaca itu diberlakukan pula bagi pembaca? Pengkajian ini masih belum sempat untuk menjawab pertanyaan ini. Walau demikian, langkah-langkah ke arah itu dapat dijalankan di kesempatan sekarang ini. Kalau kita membaca, sebenarnya apa yang dilakukan dalam kegiatan membaca, dan apa pula pendapatan yang dapat diperoleh? Apakah membaca itu adalah “mendengarkan teks” sebagaimana pernah dikatakan oleh Budi A.Sukada?. Apakah membaca itu adalah “mencari tahu apa yang dikatakan oleh penulis”?. Apakah membaca itu adalah “belajar, yakni membangun pengetahuan pembaca dengan menggunakan bacaan/teks sebagai rambu dan butir pembangun pengetahuan? Satu hal boleh dipandang sebagai kepastian yakni: pembaca berhak untuk membangun pengetahuannya sendiri, bahkan sepenuhnya lepas dan tak terkait dengan penulis, melalui apa yang dalam Jawa dinamakan sebagai `keratabasa’ atau `othak-athik gathuk’.
Keratabasa dan Othak-athik gathuk
Di sini kata dihadapi oleh pembaca sebagai rangkaian huruf yang tidak harus dengan ketat disatukan dengan arti/makna yang dimilikinya. Deretan huruf ini memang membentuk kata, tapi adalah kata dengan muatan arti yang dikosongkan. Kekosongan arti ini kemudian diisi oleh pembaca dengan bangunan arti yang dia punyai. Tetapi awas, meskipun arti telah dikosongkan, itu tidak berarti bahwa kata itu sudah samasekali tidak memiliki arti. Tidak, ada othak-athik gathuk yang mencoba untuk menyisakan sebagian arti atau konsep yang dimiliki oleh kata, namun kemudian sisa arti/konsep ini dijadikan rujukan bagi pembangunan arti terhadap kata yang dihadapi.
Contoh: kata `kathok’ (=celana) Kata ini seringkali diartikan sebagai sebuah singkatan dari kata “diangkat mbaka sithok” (diangkat satu demi satu). arti dari `kathok’ = celana telah disisihkan, karena di situ `kathok’ dijadikan sebuah singkatan, dan karena itu menjadi kehilangan arti. Di dalam pemahaman atas konsep celana sebagai pakaian yang dalam pemasangannya di badan dilakukan dengan mengangkat satu demi satu kaki secara bergantian, maka peristiwa inilah yang dinamakan `diangkat mbaka sithok’. kata kathok = celana kini berganti menjadi `kathok’ sebagai singkatan dengan arti “diangkat satu demi satu”.
Contoh lain adalah `cangkir’ = cangkir, tempat minuman suguhan untuk tamu. Kata ini kemudian diangkat menjadi sebuah singkatan dari kata yang lebih panjang yaitu “nancang pikir” = “mengikat pikir(an)” Suguhan minuman dihidangkan agar tamu yang bertandang dapat terikat pikirannya pada pikiran yang menyuguhkan minuman. Dibanding dengan kathok yang merupakan singkatan dari aksi langsung bagi pendayagunaan celana; maka dalam cangkir singkatan itu ditujukan pada intensi dari aksi menyuguhkan cangkir. lalu, ada lagi contoh lain yaitu “guru”. Kata ini dapat saja berarti “digugu lan ditiru”; “yen minggu turu” “wagu lan kuru”
Kesemuanya itu menunjukkan betapa pembaca memiliki kebebasan yang demikian besar dalam membangun pengetahuan dengan memanfaatkan huruf. Di situ, membaca adalah membangun pengetahuan versi pembaca, yang tidak harus takluk pada pengetahuan penulisnya. Pengetahuan penulis tinggal di dalam kata sebagai rujukan, acuan ataupun batas-batas interpretasi dan pembangunan pengetahuan.
Spasi/ruang dengan Arsitektur Nusantara
Penulisan dengan aksara Jawa (dan dengan aksara Bali, demikian pula halnya) tidak memasang spasi di antara kata yang digunakan untuk menyusun kalimat. Ada sekurangnya dua konsekuensi dari hal itu, khususnya bagi pengenalan dan pengetahuan kita terhadap arsitektur Nusantara (Jawa, Bali dalam kasus ini). Yang pertama, orang Jawa mengenal adanya spasi, adanya space, adanya ruang, akan tetapi dengan sadar tidak memperlihatkannya. Mengapa tidak diperlihatkan, tentu saja adalah karena spasi/ruang itu adalah benda yang tak kelihatan. Dengan mengalami, membaca tulisan, baru dapat disadari dan diakui bahwa spasi/ruang itu ada. Yang manakah pasi/ruang itu atau tepatnya di manakah spasi/ruang itu berada? Setelah membaca dan menangkap maksud dari tulisan itu,orang baru bisa menetapkan dan menegaskan dengan tepat di mana spasi/space antar kata itu berada. Jadi, spasi/ruang menjadi ada/nyata sesudah sebuah kata dapat dipastikan, bukan sebelum kata itu ditempatkan. Sebagaimana halnya selembar kertas putih yang adalah sebuah spasi/ruang yang menghampar sebelum kertas tadi ditulisi, kita baru menyadari dan mengenali spasi/ruang itu sesudah kertas ditulisi oleh rangkaian kata. Dianalogkan ke arsitektur Nusantara, ruang itu baru disadari sebagai nyata sesudah rakitan dan rangkaian unsur-unsur bangunan digubah.
Yang kedua, makna atau maksud dari sebuah tulisan/kalimat baru bisa diketahui setelah sebuah tindakan interpretai dilaksanakan. Ada kemutlakan untuk menjalankan interpretasi, sebab tanpa tidakan itu tidak akan muncul kata dan spasi antar kata. Langsung dianalogkan ke dalam arsitektur, makna atau maksud hadirnya sesuatu arsitektur baru bisa diketahui sesudah sebuah tindakan interpretasi terhadap arsitektur itu dijalankan.
Tapi ada yang lebih penting dari itu yakni, hanyalah dengan menginterpretasi arsitektur Nusantara kita memperoleh kepastian adanya ruang. Nah, sesampai di sini, masih bisakah kita mengatakan bahwa membuat arsitektur adalah membuat ruang? Sebuah diskusi yang panjang perlu dilakukan, maukah kita melakukannya?
10 desember 2008
Popularity: 52% [?]










“Mengapa tidak diperlihatkan, tentu saja adalah karena spasi/ruang itu adalah benda yang tak kelihatan. Dengan mengalami, membaca tulisan, baru dapat disadari dan diakui bahwa spasi/ruang itu ada.”
bagus betul itu tulisan pak prof!
yuk!
kapan kita diskusi panjang?bersama yang lain juga tentunya..
salut!
waduuuwh… siapa neh yang berani mengomentari tulisan sang Profesor… hi hi… bingung Prof…
mengenai tulisan kuno warisan leluhur itu memang salah satu indikator tingginya budaya nusantara. bahkan tulisan tentang keruntuhan majapahit saja, bagi yang dapat menginterpretasikannya akan menuai keindahan dan makna yang berganda. ada prasasti masa majapahit dengan tulisan ’sirnailangkarsaningbhumi’ kalau diindonesiakan ’sirna ilang karsaning bhumi’, bermakna hilang sirna karena kehendak alam, bermakna sebuah takdir yang sudah digariskan, atau bermakna sebuah karma dari raja terakhir yang tidak menjalankan dharma. yang paling menarik adalah makna tahun; sirna=0, ilang=0, karsa=4, bhumi=1. yang terakhir ini namanya candra sengkala, biasanya dibaca terbalik, jadi bukan 0041 tapi 1400, majapahit runtuh tahun 1400 saka. demikian pula di relief candi sukuh, bahkan dengan gambar (bukan tulisan) yang kalau ditulis berbunyi ‘gajah wiku…dst’ (maap, lupa) yang menunjukkan tahun pembangunan candi yakni 1368 (kalau tidak salah).
Prof,, katanya candi sukuh itu hasil analogi bentuk ya, namun saya kurang paham itu analogi bentuk apa…
salam hormat
tjahja tribinuka
maaf Prof, nulis lagi… menurut pendapat saya ‘ruang’ itulah yang menyebabkan arsitek nusantara modern menjadi tidak digdaya. pemahaman sepenggal mengenai ‘arsitektur’ membuat orang menistakan diri dengan mengutamakan ‘ruang’. masyarakat nusantara mencipta arsitektur tidak dengan memilah2 antara ruang, bentuk dan tatanan (space, form and order). namun menjadikannya sebagai sebuah proses hybrid yang saling mempengaruhi. intinya, proses berarsitektur merupakan kegiatan yang melibatkan ’spaceformorder’ atau ‘formspaceorder’ atau ‘orderformspace’ dan seterusnya.
nalar adalah hal yang paling menentukan klualitas arsitektur.
saat kita (maap) diWC, saat menunggu dan melamun itulah kualitas nalar kita teruji, jika hanya memikirkan ‘ruang’ sempit dari wc untuk arsitektur, maka nista-lah kegiatan itu. jika pikiran kita melanglang jagad menembus antariksa, maka utama-lah kegiatan itu. masyarakat kuno nusantara yang berbudaya tinggi paham hal ini, mereka mendesain WC dengan keterbukaannya terhadap alam, agar manusia bisa merasa dan tetap peka terhadap alam.
bahkan Bli Putu dan pasukan sanur saja demikian paham WC seperti apa yang sesuai untuk gaya hidup selebriti kelas atas. waktu diajak jalan2, saya pernah lihat Bli Putu menggeser posisi sandal dalam sebuah cottage yang akan dikunjungi owner. he he… posisi sandal aja bisa bikin orang merasa ‘high class’… he he… itulah ilmu…
salam hormat, tribinuka
waaa…makin menarik aja…
” Jadi, spasi/ruang menjadi ada/nyata sesudah sebuah kata dapat dipastikan, bukan sebelum kata itu ditempatkan. Sebagaimana halnya selembar kertas putih yang adalah sebuah spasi/ruang yang menghampar sebelum kertas tadi ditulisi, kita baru menyadari dan mengenali spasi/ruang itu sesudah kertas ditulisi oleh rangkaian kata. Dianalogkan ke arsitektur Nusantara, ruang itu baru disadari sebagai nyata sesudah rakitan dan rangkaian unsur-unsur
”
saya dulu pernah dilontari pertanyaan seperti ini oleh dosen saya, menurut anda(saya), dinding itu dikategorikan penyekat ruang atau ruang?
dikaitkan degan tulisan di atas, tulisan itu sendiri disebut ruang? atau menempati ruang?
dengan analogi:
sebuah tembok dg ketebalan 15cm mungkin disebut penyekat,
tapi tembok masif dengan ketebalan 15 meter, masihkah disebut penyekat?
sekali lagi, nalar saya masih terlalu jauh untuk mendalami pertanyaan dan pernyataan ini…
mas djengkoten,
kalau anda menyimak banyak di diskusi milis ami, saya pernah mengungkap tentang “ruang dalam tembok”, mengajak berpikir bahwa tembok bukan saja sebagai sebuah pemisah/penyekat, tetapi bisakah ia dibaca sebagai ruang?. pada diskusi di studio kami di sanur, beberapa bulan lalu, spasi dalam kalimat yang memisahkan kata, ataupun ruang kecil pada huruf dalam sebuah kata, bisakah dibaca sebagai ruang?. kalau kita jeli membaca fenomena ini, anda akan bisa membaca bahwa rentetan elemen pembentuk tubuh adalah ibarat rentetan kata kata dengan spasinya; temukan mana kata mana spasi dalam tubuh anda. tubuh itu pusat studi terbanyak kalau kita belajar tentang ruang di rumah, ruang di desa, ruang di kota hingga ke alam ini. salam dari bali, p.m.
nah itulah bli….
saya sekarang sedang belajar menangkap fenomena ini melalui rasa…
oiya, mungkin saya belum terlalu lama menyimak milis ami, maklum, masih amatir…rookie…
ketika saya dulu diajari untuk merancang ruang dengan dinding sebagai pembatas, saya terpaku untuk ngotak-ngatik zoning di atas kertas tanpa mencoba memahami bahwa bentuk dan warna dinding nantinya berpengaruh pada pengalaman ruang, asalkan kebutuhan aktifitas ruang tercukupi dengan asumsi sekian meter persegi,dilubagi ventilasi, ditutup naungan, masalah terselesaikan…
cuman tidak terpikirkan, bahwa mungkin ada semut yang melangsungkan hidup di dalam tembok tersebut…, bukankah ini bagian dari ekosistem yang harusnya diperhatikan?yang harus dipertanggungjawabkan?
ketika saya lontarkan pernyataan seperti ini dalam sebuah diskusi, sebagian menganggap pernyataan ini terlalu “gila”, telalu melankolis…sok idealis…gak membumi…hahahaha, gak
yang saya suka dengan tulisan pak joseph ini adalah konsistensinya untuk menggali akar budaya, dikupas, dan disiapkan di permukaan bumi untuk dimasak serta dimakan rame2….
inilah,
yang jelas saya akan terus blajar mengolah rasa…
mencoba mempelajari hakekat ruang, meruang, ada, tiada, dan antara…
salah satunya melalui web ini …
gpp ya bli putu…….
matursuksma…(bener gak ya?hehehe…)
salam Pak Jenggot, he he… diskusi yang semakin menarik, semakin indah, jadi pengen nimbrung. Bli Putu yang saya kenal itu orangnya selalu terbuka untuk diskusi yang konseptual, jadi pasti ‘gpp ya’ deh dong…
soal semut dalam dinding itu terkait dengan filosofi, dari egosentris (demi kepentingan diri) menjadi antroposentris (demi kepentingan hidup manusia), dan ekosentris (demi kepentingan lingkungan). tentunya setiap orang berhak menentukan prinsip masing2, tapi kalau saya, jika semut itu mengganggu kehidupan manusia ya perlu disemprot obat serangga. kalau ingin ada hewan dapatlah saya pelihara burung, ayam bekisar, kucing atau anjing pudel… jadi secara pribadi saya berprinsip antropoekosentris… hi hi hi
mengenai ruang, nah ini yang menarik karena saya yang sudah jatuh cinta dengan nusantara, lalu sudah berusaha menelanjangi dan menyetubuhinya ingin membahas ruang. ruang yang anda bahas dengan sudut pandang barat, hasil reka pikiran plato, aristoteles, lao tze dll yang bagi saya belum tentu sesuai dengan kenusantaraan kita.
sulit mencari bahasa jawanya ‘ruang’ atau ’space’, tapi bahasa belandanya tertulis ’spasi’. saya ndak tahu apa bahasa bali atau sunda-nya ’space’ itu ada. justru makna ‘ruang’ yang ada adalah ‘place, bahasa belandanya ‘plaats’, bahasa jawanya ‘panggonan’. orang jawa kalau menanyakan tempat tinggal (tempat me-ruang sehari2) : “sampeyan ‘manggon’ nang endi?” (anda bertempat tinggal di mana). ‘place’ inilah yang menurut saya merupakan satu kesatuan antara ’spaceformorder’. tapi terserah-lah kita mau menggunakan falsafah yang mana, mau barat, timur atau nusantara ya terserah saja…
salam, tribinuka
definisi,dimensi,visualisasi ruang takkan pernah berbatas,selama imajinasi (dan interpretasi) manusia tak terbatas…karena ruang adalah : i m a j i n a s i itu sendiri. berbicara “ruang” mau tak mau hrs berjalan dalam ranah abstrak,tak sebatas tembok, dinding,bata,beton..berbicara tentang ruang berarti kita akan “memasuki” tembok 15cm,tembok 15m,gajah,duren,langit,dan barangkali..s p o n g e b o b..
salam bu Heranisvari yang sedang serius bahas ‘ruang’… he he
banyak ‘enclosure’ ruang seperti tembok, gajah dll. bahkan enclosure itu bisa juga abstrak tapi terasa, misalnya satu ruang besar dengan beda material tanah dan batu candi, akan terasa ada ruang tanah dan ruang batu candi. bisa pula dengan beda lain seperti warna lantai, plafond, beda warna salah satu sisi dinding, beda pencahayaan, beda bau, beda suara, beda suhu, beda tekanan udara, dsb.
masalahnya sekarang, keabstrakan ruang yang bagaimana yang dapat membuat kita menjadi liyan dari seorang… misalnya frank gehry, atau arsitek barat terkenal lain-lah… jika gehry sudah menggunakan spongebob sebagai pembatasm akankah kita menirunya…
jika telah kenyang kita memahami ruang ‘eropa’ dan ruang ‘asia’. apa tidak sebaiknya, dan apa sudah saatnya kita menggali yang kita miliki di tanah kita berdiri ini, yakni ruang nusantara…
mungkin jika sudah memiliki kesaktian kenusantaraan dalam menggubah ruang kita bisa menjadi ‘liyan’ yang dapat mengungguli ilmu frank gehry… he he…
saya pribadi masih memiliki keyakinan terhadap kesaktian kenusantaraan yang berbeda dengan eropa/asia, mau bantu mencari bareng2 ma temen2nya?…:)
kali ini tetap agak nyantai aja Bu… biar ndak terlalu tegang… hi hi
salam persahabatan,
tribinuka
pak tribinuka, saya amat sangat setuju dan sejalan dengan anda tentang menjadi “liyan” melalui jubah gatotkaca. tapi barangkali yang saya maksudkan dengan “space is something beyond imagination” adalah sesuatu yang berada dalam konteks “ada”. sehingga bebas nilai, bebas dikotomi, bebas parameter. mengenai konteks “bagaimana”, dimana kita akan menemui parameter2, saya rasa tiap arsitek memiliki formulanya sendiri-sendiri. [salah satu contohnya seperti yang sudah dibuat pak putu dua tahun lalu melalui sintesis "ruang dalam ruang", sayang benda ini tak jadi terbangun =(]
salam pramuka,
hey =)
(ini becandaa looo…)
<p>tubuh ini penuh dengan ruang. tapi ruang ruang itu sepertinya tak ada karena saking sempitnya. sehingg kulit, sebagai misal, terlihat begitu mulus tanpa cela tanpa ruang. padahal, ada sekian pori yang memberikan ruang untuk sebatang rambut bertumbuh. kalu kita bisa memikirkan hal ini, huruf huruf dalam setiap kata, baik latin, jawa atau huruf bali kuna, setiap hurufnya “diterima” atau dimaknakan oleh sebuah ruang. jadi benar kata pak josef dalam tulisan itu bahwa tiap kata itu sama pentingnya dengan tiap ruang yang memisahkan dengan kata yang lainnya. hurf huruf jawa atau bali atau latin lainnya, adalah mempunyai ruang tersendri dimana ia dimaknakan. saya dengan ruang “saya” yang memaknakan “aku” yang tak terlihat. jadi tubuh “saya” adalah sebuah ruang untuk me-relaisasikan “aku”. ruang penerima pada huruf huruf ho no co ro ko..dan seterusnya adalah ibarat ruang ruang kecil pori pori dimana rambut di kulit menjadi jelas tampak dan bermakna/berfungsi. tiada ruang yang tak memberikan makna kehadiran, terkasuk ruang yang membuat huruf K itu berbunyi walau dalam setitik bunyi/tempat. tak disadari mungkin bahwa kalaupun di”cap” rangkaian huruf dalam kalimat tulisan jawa/bali yang dirasa tak beruang, maka tiap huruf itu kemudian ruangnya dinyatakan dalam sebuah “bunyi” masing masing ruang. meruang itu tak musti dibatasi oleh tembok atau ruang lain, tetapi meruang itu juga bisa dibentuk oleh dirinya sendiri, dalam hal ini rangkaian huruf huruf itu baik di tulisan jawa atau bali atau latin kini adalah berperan sebagai pembatas. ingat bahwa menentukan adanya sebuah ruang yang paling mudah dengan memakai 5 indera kita. seperti tulisan di atas, huruf “K”, diketehaui kehadiran karena adanya “ruang bunyi”. ruang itu adalah sebagai penanda sebuah kehadiran (apapun bentuknya)</p>
salam mbak Heranisvari, lha saya pake jubah pancasila kok, itu tuh… si ‘patrick’, si bintang lima temennya spongebob… he he
(balas becanda…
)
diskusi ini mengingatkan saya akan cuplikan tulisan marleau ponty yang dikutip oleh romo mangun di wastu citra, “tubuh dalam arti mulia adalah ruang yang mengekspresikan diri.”
terima kasih untuk menelanjangi & mengurai-urai nya, membantu saya membuka tabir lain tentang banyak hal.