hera memberitahu khabar kemenangannya dalam kompetisi ini melalui google’s chat beberapa hari lalu. reaksi saya yang pertama adalah tertawa terbahak bahak. ia menempati urutan “runner up” bersama dua desainer lainnya dari UK, david bower dan dari USA mr. vincent. posisi “winner” ditempati oleh 2 desainer; david adar (israel) dan richard jones (UK). berikut ceritanya.
(Fiuwhh..saya tahu resiko mengiyakan permintaan Tuan PM untuk menulis di blog ini sangat besar. You know, having an intention to be popular dan semacamnya by contributing on this blog haram hukumnya bagi saya. Tapi, tak baik menolak permintaan bukan? Apalagi untuk sebuah tujuan yang baik..
so, here we go…)
Kompetisi ini temanya adalah Meeting Point, salah satu dari 3 brief kompetisi Line of Site yang diselenggarakan tiap tahun ( www.lineofsite.info/judge3_overview.php ). Menurut TOR yang saya baca belakangan setelah saya upload gambar submission, meeting point yang dimaksud adalah places which serve a vital purpose of the center of any thriving community- they are exchanges where people converse, play, and integrate on many levels (sumpah, ini hanya copy paste.. .belum saya cek artinya di kamus).
So, I started to think about one place, tempat yang sudah dari sananya terlahir sebagai sebuah meeting point. Tak perlu signage juga orang sudah tahu kalau tempat itu adalah sebuah titik, sebuah pertemuan. Dan itu adalah…perempatan jalan bukan? “Let’s meet at the junction!â€, itu jargonnya. Site yang saya pilih adalah perempatan Jl. Cik Ditiro, Jl. Suroto dan Jl. Jend. Sudirman di Yogyakarta, yang kondang dengan sebutan perempatan Gramedia. Kenapa di situ? Karena saya sering berkeliaran di situ sejak SD sampai kuliah! Ok..ok…seriously, itu adalah salah satu perempatan paling sibuk di Yogyakarta. Ada kantor, bank, museum, toko, sekolahan dari SD sampai SMA, dan rumah sakit di sekitar perempatan itu, kawasan Kotabaru. In short, banyak orang terutama pelajar di Kotabaru butuh sebuah tempat untuk sekedar saling bertemu, duduk-duduk sembari menunggu jam bimbingan belajar mulai, dan tentu saja melirik anak-anak sekolah sebelah J. Tempat yang gratis, yang tak mengintimidasi, yang tak perlu pura-pura beli segelas teh untuk bisa duduk di dalamnya, dalam radius yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari sekolah/kantor, pokoknya yang merakyat. Jujur saja, pengalaman pribadi saya bertahun-tahun sekolah di sekitar Kotabaru, menunggu les SSC jam 3 sore dengan nongkrong di Dunkin Donuts Gramedia terlalu mahal untuk kantong anak sekolahan macam saya.
But, the problem is…harga tanah di Kotabaru adalah yang termahal di Yogya (lagipula mana ada tanah kosong di sekitar perempatan sibuk). Then, simply I made it floating. Melayang persis di atas perempatan. Ya, di atas perempatan. Tak perlu tanah bermeter-meter persegi.. Strukturnya? Ya biasa saja, seperti yang sering dipakai untuk bikin jembatan. Tadaaa…now, watching the world goes by can be done here, literally. Duduk di atas dek, melongok ke bawah…melihat mobil pejabat lewat..dan barangkali bermimpi jadi pejabat. Oya, saya belum cerita ya betapa panas berjalan di sekitar perempatan itu. Apalagi di tengah-tengahnya! That’s why I made everything green. Green roof, green walls. Bukan karena tren, tapi ya apa sih yang lebih murah dan lebih dingin dari tanaman, yet meet the government’s budget? Sedikit menyumbang udara bersih juga, untuk perempatan yang begitu penuh karbonmonoksida. Secara arsitektural barangkali benda ini terlalu sederhana..but hey, pernah dengar istilah KISS? Keep It Simple, Stupid!
Sudah ah, saya mau makan tempe dulu…nanti sore kita ketemu lagi di perempatan kalau mau ngobrol lebih serius! J
(Maap, saya tak bisa berbahasa ilmiah, jarang buka buku arsitektur, kebanyakan baca komik akhir-akhir ini..)
Cheers kacang buncis. Have a nice day, and keep breathing guys…
heranisvari@gmx.com
Popularity: 70% [?]










Mirip jembatan penyeberangan tiga arah di Balikpapan sebelum jamannya jembatan ke terminal busway di Jakarta, tapi ide hijaunya menarik bisa ditiru di banyak kota di Indonesia.
Hey,
NICE!
hey….ra…
WOW…!!!
Cakep jeng…!!!
Congrat jeng..!!!
Syemangat….
wao…. selamat her… aku ikut senang
I’m ur big fans mbak!
Wah bagus yah…memang salut sama karya Arsitek anak bangsa
suangar mbak…selamat..oke..terus berkarya…..keren pisan euy….
hey..toast!!!
hebat her, selamet!
terima kasih bapak ibu sekalian…kompetisi hanyalah kompetisi, tak ada artinya kalau tak diteruskan dgn perjuangan yg sesungguhnya. yang terpenting bagaimana perjuangan arsitek untuk menjadikan bumi menjadi tempat yang lebih baik lagi, tak sekedar tempat mencari nama dan penghargaan.mari belajar bersama2..=)
kompetisi ya kompetisi…
dan anda runner upnya.
hehehe
emang hebat sampeyan mbak!
mbak he…
selamat!
start yang bagus
selanjutnya..
siapkan tas jinjing pink dan kacamata hitam berframe putihmu itu..
dan
sampai jumpa di London!
-cheers-
sampai ketemu di perempatan her..
stelah sampai dstu bru aku komentar
abis dari london jgn lupa k paris ya..katanya nanti mau ketemuan d louvre sama saya n Gus De. heheh
cemangat!
SELAMAT MBAK HERA…SEMOGA SUKSES…
Uwih!
komen terpanjang bulan ini..
selamat jeng, jangan lupa ketemu di louvre!
jah..
mb Hera ncen antik!
lugas.
Salut mbak…