putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

ini yang pertama kali saya menginap di ritz carlton di negeri sendiri, ritz carlton pacific place, jakarta.
saya sempat berada di ritz carlton di jimbaran (atau nusa dua?), tapi saat itu saya cuman sebagai penjemput. waktu itu, saya menjemput boss untuk bersama sama berangkat ke ubud. maklum, pekerja murahan. saya bukan tamu ritz carlton yang tidur merasakan nikmatnya kasur mpuknya. tapi saya hanya duduk di kursi mpuk pojokan, saat itu, yang berada di lobbynya. manusia murahan hanya mampu duduk di kursi lobby. itupun selalu diawasi oleh pekerja hotelnya. mungkin mereka berpikir, “nih manusia desa ngapain duduk berlama lama di situ, sambil menguap nguap mulutnya mengeluarkan bau busuk!”.
saya relax.
duduk relax seperti saya berada dalam rumah sendiri. seperti saya tamu hotel di situ. kalau ndak begitu, mungkin saya seperti manusia desa beneran, gugup berada di tempat mahal sekelas ritz!.

ini bukan pertama kali kemudian, saya menginap di hotel ritz.
ritz carlton pertama kali dikenalkan dikehidupan nginap menginap oleh bill bensley. dia memberikan kesempatan untuk menginap di mana saja saya mau, termasuk di ritz carlton singapore. rasa gugup saya sebagai manusia desa sudah saya hilangkan dari dulu. rasa gugup saya sekarang yang saya pupuk adalah rasa gugup sebagai arsitek; mata jelalatan, tangan meraba raba material yang dipandang mata. duduk di tiap kursi, merasakan panas lampu. melihat setiap sudut, yang sembunyi maupun yang menyalak nyata di depan mata. begitulah, gugup ternyata ada gunanya.

baik ritz carlton di singapore ataupun yang sekarang saya inepi, ritz carlton pacific place jakarta, di suite roomnya, selalu saja ada produk kelas kakap di toiletnya; bvlgari. shampoo bvlgari. sabun bvlgari. conditioner cap bvlgari. shower gel bvlgari. dan tentu saja, body lotion bvlgari.
tapi kalau kita menginap di room “standard”, kita hanya mendapat product kelas “standard” juga di toiletnya.

saya pencinta toilet. saat pertama kali masuk ruangan suitenya, saya langsung menuju toilet. bukan untuk kencing atau ngengek. ada saja hal baru yang dilakukan desainer untuk bagaimana kita diprovokasi untuk cara kencing, cara mandi, atau bagaimana kita diprovokasi untuk melakukan sex di toilet sekalipun!. mereka, para pemilik hotel, menjual produk untuk tak dimilki selamanya seperti kita membeli kue lapis di mal plaza semangi, yang kita bisa lumat sampai habis dan tertelan ke jurang perut dan keesokan pagi keluar berupa taek!. mereka menjual produk yang hanya bisa kita miliki dalam hitungan jam. makin lama jam, makin banyak rupiah yang dikeluarkan. makin tinggi kelas kamarnya, makin banyak rupiah yang musti kita keluarkan dan ini artinya, servicenya juga akan semakin tinggi. manusia hanya menyewa kenikmatan tubuh kamar. walau ada beberapa hotel yang menjual unitnya, dan pihak hotel mengoperatori kamar unit yang dijual untuk disewakan.
#2205, menyediakan view yang spektakuler. di living roomya, meja kerja lengkap dengan koneksi internet. ada dock ipod “philips” sofa lengkap dengan tumpukan bebuahan dengan cara menatanya yang kreatif. tivi segede dinosaurus yang disambung dengan audio “bang & olupsen”. mini bar yang tersimpan di bawah tivi dino yang tersembunyi melalui laci laci tertata apik. lampu lampu untuk kerja dan sofa yang bertangkai semampai. karpet yang berwarna lebut berpattern “chinese” look. dan, di luar sana, bergentayangan tower tower tetangga yang tiap unitnya menyala memperlihatkan aktivitas penghuni : ngobrol, nonton tivi, mandi, dan tentu saja ; having sex!, persis seperti saat saya menyaksikan beragam ikan koi dalam sebuah aquarium di pasar satria denpasar di mana berjubel manusia memperdagangkan hewan.

bed roomnya.
tipi segede dino menganga menyambut. seprei putih begitu mpuk, yves delorme-the art of linen since 1845, terlihat membalut kasur. mini bar. sofa mpuk. dan tentu saja; view tower tower lainnya menampakkan isi perutnya yang beraneka rupa.

korden di bath tub naik turun dengan knob. saat korden full terbuka, pemandangan jakarta sampai jauh kedepan sana tersapu dari sudut selebar toilet ini.

mereka telah berlelah lelah, menyewa sekian orang desainer untuk mempermak tubuh. mempermak tubuh membuatnya pada posisi “WOW”. membuatnya begitu menyilaukan mata. membuat tubuh sedemikian rupa “nikmat” untuk meraup rupiah banyak kemudian.
business yang menggiurkan!. rupiah yang ditanam dalam “olah tubuh”, kini musti digali dari mereka yang merasa mampu untuk menikmatinya dalam hitungan jam!.

saya terenyuh.
luas total room suitenya, adalah 2 kali lipat luas rumah saya. bed roomnya saja mungkin sama luas dengan satu rumah saya yang amburadul oleh coretan di dinding anak anak.

saya duduk di sofa di living room. memandangi sekeliling. memandangi pintu masuk kamar ini.

seorang mengetuk pintu kamar.
kamar #2205 terletak dipojokan.
pintu terbuka, wanita memasuki kamar saya. jalannya anggun. kain putih menerawang dari pangkal leher sampai ke lima belas centi di atas lututnya. lekuk tubuhnya terlihat secuil. landskap tubuhnya mengingatkan saya akan liukan kelokan jalan bedugul singaraja.
di lobby saat kami check in, bill bensley berujar, “putu, saya bayar harga kamar anda dan fasilitasnya, tapi tidak “dancing women”.
saya tertawa.
dan dancing women kini di depan mata.
dia duduk di samping saya. di sofa itu. hening sejenak.
“hai, saya r..z c…..n”, katanya.
semua orang pasti tahu manusia produk ini. sama seperti semua orang tahu produk bermerek ritz carlton.
kami mulai bercakap, walau saya terlalu gugup.
r..z c…..n melepas sepatunya yang berhak tinggi, prada.
jejarinya lentik. kukunya menyilaukan mata. jempulnya mungil kemudian menjadi kepala sebuah bentukan yang terawat menurun sampai ke jari kelingkingnya. tak ada keriput semili di semua telapak kaki. cuman guratan sidik jari nampak dengan jelas. lukisan abadi tuhan.
r..z c…..n menyilangkan kakinya. pangkal paha kini terlihat jelas. betis yang menganga meliuk seperti garis garis terasiring padi di desa jati luwih, tabanan. kain yang menutupi tubuhnya kini menyamping, mengalah saat tangannya mengibaskannya. tak ada guratan di pangkal. warnanya merata dari pangkal sampai ke ujung jari kelingking. sutra jim thompson.
saya menelan ludah. basah.
kami masih tetap bercakap. gugup sedikit menghilang.
sepuluh menit kami masih bercakap tentang banyak hal. tangannya bergerak ke sana kemari menceritakan banyak hal beriringan dengan mulutnya yang merah bermerah shiseido. pergelangan tangannya yang ceking menggelantung jam hijau mengkilat lederer-paris di sebelah kiri. kami masih tetap bercakap. tentang pekerjaannya. tentang hobbynya. tentang hobby saya. tentang pekerjaan saya. tentang jakarta. tentang sanur. tentang cinta. tentang sex!. kain putih yang menutupi tubuhnya kini terlepas. yang tertinggal cuma segitiga di pantat. G string, pako pano.

saya menelan ludah.
bau tubuhnya mewarnai ruangan. bvlgari.
“bagaimana kamu merawat tubuh?, membentuk tubuh?”, saya mengalihkan pembicaraan saat dia melepas G string pako pano. brazilian wax!.
saya mebuang mata ke tower tower di luaran sana. kata kata yang lepas dari mulut bergetar. telapak tangan mengeluarkan kabut. dingin.

“saya telah berlelah lelah, menyewa sekian orang desainer untuk mempermak tubuh. mempermak tubuh membuatnya pada posisi “WOW”. membuatnya begitu menyilaukan mata. membuat tubuh sedemikian rupa “nikmat” untuk meraup rupiah banyak kemudian. business yang menggiurkan bukan?”, r..z berjalan membuka mini bar. tubuh belakangnya kini menyalak galak seperti doberman. berjalan seperti para model elite paris di fashion tipi. camilla lindh.
“rupiah yang ditanam dalam “olah tubuh”, kini musti digali dari mereka yang merasa mampu untuk menikmatinya dalam hitungan jam!”, dia menambahkan. tubuhnya kini menggelepar di samping saya. beradu dengan tubuh saya. melekat.
tangannya menggenggam secangkir whiskey. jim beam, kentucky straight bourbon whiskey. r..z menghirup semili liter. jim beam membasahi permukaan 2 bibir merah shiseidonya. rambut rambut halus mengelilingi garis bibir membatasi pertemuan dengan hidungnya yang melekuk runcing seperti jarum suntik dokter kandungan. rambut rambut halus itu kini basah seperti embun pagi di ilalang sawah. saya ingat desa kelahiran.
“sama persis seperti pemilik tubuh ritz carlton, yang menyewa sekian desainer untuk mempermak tubuhnya. mempermak membuatnya pada posisi “WOW”. dan menyewakan dengan sekian rupiah menumpuk untuk beberapa jam!”. tangan kirinya mengelitik gelitik di tempat sudutan sana dimana brazilian wax menjadi facade. saya menelan ludah. basah.

“tubuh saya tubuh lonte”, dia melanjutkan. “sama seperti tubuh kamar #2205 ini. dipakai oleh sekian orang dalam hitungan jam dan mereka menghabiskan sekian tumpuk rupiah hanya untuk beberapa saat sekedar untuk menikmati enaknya kasur di sini karena dipikir kasur seperti ini tak mampu didapat di rumah sendiri, sama seperti mereka yang memakai tubuh saya dengan menghabiskan sekian tumpuk rupiah dalam waktu secuil menit, karena mereka pikir tubuh yang ia miliki tak mampu memberikan hal lebih dibanding dengan tubuh yang ia sewa”, dia menjilati jejarinya yang basah.

“anda arsitek resort?”, r..z bertanya. “sudah berapa tubuh kamar yang anda telah buat?, dan telah berapa tubuh kamar yang anda gauli tiap anda travelling?”.

tilpun berdering. istri menilpun, “lagi ngapain?”.
“bengong sendiri. merenung!”
saya hidupkan tipi. fashion tipi di depan mata.
jadi selama ini, saya mempermak “tubuh lonte” dan tidur bersama lonte kalau sedang berpergian?.

siapa bilang berarsitektur tak bisa dekat dari perlontean?.
seperti malam ini, lonte berkelas. ritz carlton, #2205. semalam saja. US$481.58.

Popularity: 82% [?]

Comments

There are 20 comments for this post.

  1. nugroho on July 14, 2008 1:02 pm

    ruarrrrr biasaaaaa ( luar biasa..!!)…ruar biasa..rangkaian kata-kata anda sangat ruar biasa….anda seperti penyair ketimbang arsitek…atau mungkin seorang arsitek memang harus juga sebagai penyair….sekali lagi luar biasa…saya sangat menikmati blog anda ini

    salam dari gunung Dago Pakar
    nugroho

  2. slothglut on July 14, 2008 2:00 pm

    hore! bli putu, bagus tulisannya yang kali ini…

  3. yogis on July 14, 2008 6:07 pm

    hahaha….
    seru…! seru …. !

  4. ario on July 14, 2008 6:44 pm

    wah Bli Putu,
    ini kalau ndak hati2 bacanya bisa geger perang baratayudha sama si ‘Boss’ nya.
    Memang penting mengasah kepekaan ya, termasuk yang tak terlihat langsung… Essence not contents.

  5. SanKo on July 14, 2008 7:34 pm

    Mengapa ditengah kepenatan pelaksanaan PON dan ratusan email yang masuk dan tidak semuanya bisa saya baca saya “dipaksa” membaca tulisan ini?

    Karena dalam kepenatan itu saya merindukan cerita semacam ini ditengah melonjaknya tarif kamar2 hotel di Samarinda dan Balikpapan. Ambruknya sekian banyak orang di kamar rumah sakit baik atlit maupun petugasnya. Termasuk seorang LO yang kini terbaring di ruang kelas 1 rumah sakit Balikpapan akibat bisnya masuk jurang 2 hari lalu.

    Bravo Putu.

  6. Murti on July 14, 2008 8:53 pm

    senang melihat gaya pikir sekarang makin dewasa y :) bangga jadi adik kelas. Semoga nular.

  7. heru on July 14, 2008 11:04 pm

    rasanya anda memang seorang ‘ARSITEK’ bukan seorang lonte yg sok ‘NGARSITEK’. he…he…. salam

  8. armeyn on July 14, 2008 11:39 pm

    wah, kalo gitu bung s*”%y sut*%#”o banyak “mencetak” lonte dong ya?

  9. ::satrionugroho on July 15, 2008 8:34 pm

    US$ 481. 58_gaji sebulan pun ‘hampir’ belum cukup untuk nginep semalam, = 1830 liter miyak tanah = 765 kg beras = 7625 bungkus indomi = 183 perempuan di prostitusi murahan…

    bravo putu

  10. Mantus on July 15, 2008 11:54 pm

    Bwahaha om Ongky emang mula oye dr sejak sma dulu.
    Senang baca blog ( bukan belog ) nya Ongky.

    Salam dogen uli surabaya

  11. russel on July 16, 2008 10:08 am

    keep up the good work!

  12. Agus Ireng on July 17, 2008 2:12 am

    wouuw…ada Ritz Carlton…ada lonte…ada Ongky…ada rekaman visualnya nggak, biar bisa lebih mendetail mengimajinasikannya….

  13. sibob on July 17, 2008 6:53 am

    WOWWWWW…very very inspiring story bli..! keep writing n ‘fucking’ ;) )

  14. lugas on July 18, 2008 2:33 am

    aku tidak mau memuji karena membosankan sudah banyak yang memuji. tapi lugas, bikin penasaran seolah2 adegan panas yang menuju puncak. tapi sayang cooling downya tergesa-gesa. maaf ya..

  15. obor on July 24, 2008 7:04 am

    the difference between a room/resort and a prostitute?
    the motives that drives it. i guess. just blabering…blablabla.thx for the story.

  16. SanKo on July 24, 2008 8:10 am

    Minggu lalu di FTV disuguhi sajian Brazilian Weekend Special mulai dari fashion show sampai Cabaret Diva. Tiba-tiba melintas acara Lingerie dengan perancang POKO PANO.

    Putu, ternyata salah eja dengan Pako Pano.

    Tapi apalah arti sebuah salah eja untuk sebuah imaji yang demikian menarik.

    Bleh… kenapa aku nulis komentar disini lagi ya he..he..he..

  17. ipur on August 15, 2008 12:36 pm

    Salam kenal ….
    Tyang salut sama Bli Putu
    tyang ingin berkenalan lebih lanjut
    tyang juga arsitek, tyang ingin belajar banyak cara menulis

    salam
    ipur

  18. ipod on May 3, 2010 11:38 pm

    salam kenal pak putu..

  19. ipod on May 3, 2010 11:39 pm

    salam kenal pak putu..
    saya tahu anda semenjak masuk arsitektur ITS.

  20. kepang on June 28, 2010 11:38 pm

    cicing…beler ci ky.. ngae penasaran… proud of u.. tetap membumi, dan memberi inspirasi GOD BLESS U

Write a Comment