<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>putu mahendra</title>
	<atom:link href="http://www.putumahendra.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.putumahendra.com</link>
	<description>saya arsitek autis</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Aug 2010 22:29:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>pelajaran hari ini</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=1000</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=1000#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 22:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[rekan rekan,
pagi ini saya terbang dari guangzhou ke sanya.
ada klien hendak mengundang kami untuk mendisain propertynya.
sebenarnya, saya telah lihat sitenya bersama satu rekan di sanur 2 minggu lalu.
kini saya mengajak prinsipal untuk melihatnya.
dalam laporan tertulis saya akan site ini, saya bilang bahwa sitenya tak tergolong enak untuk didisain.
tapi terus terang, saya suka site yang berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>rekan rekan,<br />
pagi ini saya terbang dari guangzhou ke sanya.<br />
ada klien hendak mengundang kami untuk mendisain propertynya.<br />
sebenarnya, saya telah lihat sitenya bersama satu rekan di sanur 2 minggu lalu.<br />
kini saya mengajak prinsipal untuk melihatnya.</p>
<p>dalam laporan tertulis saya akan site ini, saya bilang bahwa sitenya tak tergolong enak untuk didisain.<br />
tapi terus terang, saya suka site yang berada di lahan terjal dan berhutan pinus. ada banyak hal yang membuat kemudian site ini tak cocok.<br />
buildingnya digarap oleh top world architect, aedas hongkong.<br />
dan interiornya digarap oleh 2 interior desainer dunia, satu dari england dan lainnya dari bangkok.<br />
saya tak bisa berkomentar apa apa terhadap garapan aedas dan garapan interior dari 2 IDnya.<br />
&#8220;saya tak mau berkomentar banyak terhadap building dan interiornya, anda bisa liat langsung saat anda ada di sanya&#8221;, saya tulis begitu di laporan saya.</p>
<p>site pertama yg didisain oleh aedas dan 2 ID itu, berada pada lahan berkontor terjal dan berhutan pinus.<br />
sekarang, proyek di site pertama telah berada di langkah 75% konstruksi.<br />
apa yang terjadi?<br />
pohon pinus bablas!. satupun tak tersisa. kontras alam menganga memperlihatkan hutan beton dan potongan tanah sedemikian rupa antara man-made dan god made. beton dan tanah yang terkotak kotak dilatar belakangi oleh hutan pinus dan kontor alami.<br />
kontor habis dibabat seperti potong kue tart!<br />
imagine: saat semua arsitek melakukan pendekatan seperti ini dalam olah site&#8230;.</p>
<p>klien mengajukan site ke dua, yang jaraknya cuman beberapa meter dari site pertama.<br />
building tetap akan digarap oleh aedas, dan interiornya akan di garap orang orang yang sama pada site pertama.<br />
pada site ke dua yg ditawarkan ke kami ini, aedas telah melakukan master planning sebanyak 16x lebih.<br />
dan tetap tak bisa membuat happy klien.<br />
yang akhirnya studio kami dipanggil.</p>
<p>siang kami landing di sanya.<br />
hujan menyambut.<br />
dan supir dari klien menjemput.<br />
sesaampainya di site,<br />
klien menemani untuk melihat apa yang telah mereka lakukan di site pertama.<br />
melihat prototype villanya, melihat mock up interiornya.<br />
melihat garapan aedas di master planning yang kini sudah 75% jalan.</p>
<p>kemudian klien mengantar ke site ke dua di mana ia tawarkan untuk menggarapnya.<br />
masuk ke hutan pinus dan melihat sekeliling.</p>
<p>dari site ini,<br />
kami melaju ke kantor klien.<br />
di rapat sore itu, prinsipal berujar, &#8220;maap, saya tak suka building villa anda. tak suka dg interior yg sudah ada. tak suka bagaimana arsitek memperlakukan alam di site pertama. saya tak berkeinginan menggarap proyek anda. sekali lagi, maap&#8221;.<br />
klien berujar, &#8220;anda boleh garap buidingnya, sekalian interiornya. agar memudahkan anda mengkontrol. itu sebabnya kita panggil anda ke sini untuk membuat property ini semakin baik&#8221;.<br />
prinsipal berkata, &#8220;mohon maap&#8221;.<br />
kami meninggalkan ruang rapat.<br />
hujan di luar masih berintik rintik.</p>
<p>saya bukan orang kaya, yang tak butuh uang dan kerja. juga bukan arsitek top rank world.<br />
tapi kalau ada arsitek yang merogoh dompet klien dengan membabi buta menggasak &#8220;mother nature&#8221;,<br />
saya doakan ia untuk masuk kubur dengan cepat!, menjadi pupuk buat bhumi ini agar tetanaman semakin rindang olehnya.</p>
<p>salam dari sanya-china,</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=1000&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=1000</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 perempuan ithuk&#8230;</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=996</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=996#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 00:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[hp saya bergetar dan berbunyi.
singapore masih teramat pagi.
basah hujan membuat kaca di lantai 9 grand hyatt berbintik bintik air.
seperti cacar air di mukak saya saat belita duluk.
istri menilpun sepaghik ini. deringan hp saya menyalak keras, membuyarkan mimpi.
saya bermimpi.
mimpi tentang 2 perempuan.
saya tak menghiraukan dering tilpun.
ingin rasa tertidur lagi. bermimpik lagi.
tentang 2 perempuan ithuk.
*
manusia berbaur.
berseliweran.
gang orchad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hp saya bergetar dan berbunyi.<br />
singapore masih teramat pagi.<br />
basah hujan membuat kaca di lantai 9 grand hyatt berbintik bintik air.<br />
seperti cacar air di mukak saya saat belita duluk.<br />
istri menilpun sepaghik ini. deringan hp saya menyalak keras, membuyarkan mimpi.<br />
saya bermimpi.<br />
mimpi tentang 2 perempuan.<br />
saya tak menghiraukan dering tilpun.<br />
ingin rasa tertidur lagi. bermimpik lagi.<br />
tentang 2 perempuan ithuk.</p>
<p>*</p>
<p>manusia berbaur.<br />
berseliweran.<br />
gang orchad di week end itu bagai acara tujuh belasan di alun alun kota di desa saya.<br />
dari dulu hingga jaman edan ini, acara tujuh belasan yang hanya bisa membuat manusia berjubel jubel memadati alun alun kota.<br />
masyarakat desa kami, dengan pakaian baru dan penuh solek, mengajak keluarganya sekedar &#8220;tamasya&#8221; ke alun alun kota, manusia kecil peruntungan kecil.<br />
tujuh belas agustus, di alun alun kota banyak ada hiburan. banyak ada warung kejut. dan yang pasti, selalu ada tong edan!.<br />
itulah desa kami, berjubel manusia hanya di saat perayaan tujuh belasan.<br />
taphik siang itu di orchad, jubelan manusia lalu lalang di trotoar kota adalah hal lumrah. bukan karena menyambut hari kemerdekaan mereka.<br />
tapi hal lumrah. hal yang telah menjadi &#8220;tahi lalat&#8221;.<br />
saya berpikir, ruang publik ini begithuk berhasil menyedot manusia lokal dan luar untuk menikmatinya.<br />
saya berdiri di kerumunan itu. di jubelan manusia itu.<br />
otak saya bertanyak, &#8220;apanya yang membuat gang ini begitu di damba manusia?&#8221;.</p>
<p>duduk di lantai kayu toko buku kinokuniya,<br />
di siang itu, membuat perasaan lebih adem ketimbang berada di kerumunan manusia itu.<br />
ntah kenapa, badan kini telah berada di lantai kayu itu. kini berserakan dengan tertata, tumpukan buku yang berwarna warni.<br />
bertebal tipis. tubuh buku dilapisi plastik membuat mata memergoki gambar kovernya. menyiratkan isi dalamnya. menggoda mata.<br />
persis seperti pakaian wanita wanita yang berseliweran di gang orchad; terbungkus kain tipis tembus pandang dengan rok semili meter dari selangkangan.<br />
menggoda mata.<br />
sekian buku, membuat mata blingsetan.<br />
menikmati buku di siang itu, duduk di atas lantai kayu, menikmati proses karya sekian arsitek yang dipahat pada setiap lembar kertas, angan angan melayang bebas di udara singapore.<br />
arsitek, ternyata bisa membuat dunia bermimpi. bergoncang, berwarnak.<br />
dari jingga sampai ke kelam gelap.<br />
dari drama, bego&#8217; begoan hingga dar-der dor!<br />
lembar demi lembar berlalu, warna demi warna berlalu. cerita demi cerita berlalu.<br />
udara berlalu. datang dan perghik.<br />
sekejap, suara hak sepatu mendekat membuyarkan lamunan di udara singapore.<br />
2 perempuan menyapa.<br />
mereka ayu, ayu mereka mengalahkan desingan mesin ferrari di gang orchad.<br />
mengalahkan hingar bingar starsitek manapun.<br />
mengalahkan lamunan saya di siang itu.<br />
ayu perempuan, karya arsitektural tuhan yang tak berhingga.<br />
ayu perempuan, menyiratkan kekuatan tuhan dalam berkarya.<br />
kebodohan dari perempuan ayu, merusak segala kekuatan tuhan.</p>
<p>*</p>
<p>kami bercakap.<br />
lama sudah tak bersua.<br />
waktu memisahkan. waktu mempertemukan.<br />
ntah dirasa atau tak dirasa, perjalanan adalah dua hal utama; temu dan pisah.<br />
2 perempuan ayu, saya kenal saat mereka berada bareng di sanur.<br />
meramaikan suasana siang dan malam.<br />
merayakan hari dengan hidup tertekan dan leluasa.<br />
meniti jalan menemukan makna arsitektur dan arsitek.<br />
saya menatap ke duanya.<br />
belum banyak berubah.<br />
&#8220;bapak kok gondrong?&#8221;, satu perempuan ayu bertanya. tubuhnya dibungkus kain rajutan. dalamannya melipir nongol keluar bertuliskan &#8220;mango&#8221;.<br />
&#8220;bapak kok gemuk?&#8221;, perempuan ayu ke dua bertanya. dia mangut mangut hingga tubuhnya bergelombang. persis seperti jalan ulat daun. selama dia ada di sanur, tak pernahlah mata ini melihat dia bersolek. keluar studio sanur, banyaklah yang berubah. solek adalah dunia kini.<br />
saya bingung, meraba rambut saya. tak terpikir kenapa rambut ini gondrong.<br />
saya menatap diri sendiri, kok bisa gemuk?.<br />
kami terbang. melesat. menikmati udara.<br />
melayang di atas, mencari tempat untuk bercengkrama.<br />
duduk di setiap awan. pindah ke awan berikutnya. angin berhembus menepi memberi minuman dan makanan ringan surgawi.<br />
kami tertawa dan menunjuk satu bintang yang bersinar terang di siang itu.<br />
di bawah sana, sekian manusia berjubel lagi. dan lagi..dan lagi..di gang orchad itu.<br />
kami terbang melayang menuju awan yang ada di pojok.<br />
awan singapore berseri. mataharinya berwarna pink!<br />
sayap putih mengepak di bahu. angin menepi terhempas.<br />
kegembiraan dalam cengkrama di siang itu, melupakan segala hal yang terjadi di bawah sana; gang orchad dengan mataharinya yang berwarna biru dongker.<br />
kantong saya bergetar.<br />
hp saya tersambung dengan nomor di luar sana.<br />
istri menilpun.<br />
mata saya terbuka.<br />
saya terjaga.</p>
<p>2 perempuan ayu sirna.<br />
hanya ada 2 bantal putih dan selimut, persis awan awan saat itu di mana kami duduk bersama.<br />
dering tilpun memisahkan waktu.<br />
saya menatap keluar,<br />
kini matahari singapore berawarna jingga.<br />
arsitektur dan dunia arsitek,<br />
penuh warna dan mimpi serta punya seribu tujubelas matahari.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=996&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=996</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>tentang 2 perempuan</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=994</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=994#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 01:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=994</guid>
		<description><![CDATA[selamat paghik,
baru saja saya datang dari desa saya,
desa kecil mrengil di punuk pulau bali, singaraja.
kami mengadakan ngaben masal.
mereka yang tak mampuk, sepertik kami kami ini, ngaben masal adalah sebuah jalan keluar.
sathuk perempuan kami yang baru beberapa bulan lalu khatam, dimasukkan dalam daftar yang akan diaben.
saya gusung satu bokor silver yang berisi canang sari dan dupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>selamat paghik,<br />
baru saja saya datang dari desa saya,<br />
desa kecil mrengil di punuk pulau bali, singaraja.<br />
kami mengadakan ngaben masal.<br />
mereka yang tak mampuk, sepertik kami kami ini, ngaben masal adalah sebuah jalan keluar.<br />
sathuk perempuan kami yang baru beberapa bulan lalu khatam, dimasukkan dalam daftar yang akan diaben.<br />
saya gusung satu bokor silver yang berisi canang sari dan dupa yang berbusa asap, diatas kepala saat dari pura segara ke bale banjar.<br />
semangat membara membawanya bersama ratusan jiwa yang diaben.<br />
manusia bali, hidup selalu dengan &#8220;representasi&#8221;.</p>
<p>*</p>
<p>beberapa tahun lalu,<br />
saya masuk ke dalam sebuah kamar tidur.<br />
rumahnya yang kecil mrengil di denpasar.<br />
dalam ruangan itu,<br />
nampak satu perempuan tua.<br />
ia kini kurus, mengecil seperti cabe merah yang kering digilas sinar matahari dan waktu.<br />
saat perempuan itu melihat saya datang,<br />
tubuhnya menangis.<br />
matanya berkubang air kehidupan yang semakin surut.<br />
saya duduk di dekatnya.<br />
kami bercerita melalui diam.<br />
ruangan itu seakan ikut berpesta kata kata.<br />
hanya kami berdua yang mendengar kalimat kalimat yang keluar dari mulut semua benda yang ada di ruangan itu.<br />
kami berbicara melalui diam.<br />
saya memegang tubuhnya yang mrengil.<br />
perempuan itu menangis.<br />
dalam hati saya berujar, &#8220;tuhan, kalau sampeyan ingin perempuan ini hidup, berilah ia kesembuhan. tapi kalau sampeyan ingin perempuan ini khatam, jangan begini caranya!&#8221;.<br />
selang infus melilit di tangan dan masuk ke lobang hidungnya.<br />
satu kaleng besar biruk tabung gas tersambung.<br />
manusiak dalam keadaan meregang nyawa, tuhanpun tak bisa berbuat apa.<br />
esok hari setelah pertemuan dengan perempuan itu,<br />
saya terbang ke colombo-srilangka.<br />
saat presentasi di ruang yang sepi dan lebar, colombo mengundang hujan untuk datang.<br />
awan gelap, burung gagak berseliweran dan menepi.<br />
sesekali petir datang meramaikan.<br />
di suasana yang dingin dan penampilan presentasi kami yang menawan,<br />
perempuan tua yang meregang nyawa itupun benar benar khatam. tuhan mengajaknya pulang.<br />
saya menangis.<br />
colombo basah.<br />
burung gagak menepi.<br />
tunai sudah perjuangan!.</p>
<p>*<br />
ini tentang beberapa bulan laluk;<br />
di siang itu,<br />
perempuan tua sedang tidur di atas sofanya yang lusuh.<br />
ia sendiri.<br />
saya masuk ke ruangan di mana ia tertidur di sofa itu.<br />
ia sendiri.<br />
anak anaknya sedang bepergian mengais rejeki.<br />
merayakan hari dengan bekerja.<br />
saya duduk di sampingnya.<br />
bunyi reyot sofa membangunkan perempuan itu.<br />
ia tersenyum.<br />
saya tersenyum<br />
udara luar membawa kebahagian.<br />
kami bercakap.<br />
tentang banyak hal.<br />
dan tentang rumah seng saya.<br />
&#8220;kalau bibikmu ini sehat dan selamat, ingin rasa bibik ikut melaspas rumah kamu tu&#8221;, ia berujar.<br />
nafasnya naik turun. matanya menerawang berharap pada tuhannya agar ia diberi umur lagik.<br />
&#8220;ya, nanthik saya akan jemput!&#8221;, saya berujar membalasnya.</p>
<p>tiga harik setelah pertemuan di sofak reyot itu;<br />
ada sms masuk saat saya sibuk dengan pulpen dan kertas, &#8220;bibikmu masuk RS laghik!&#8221;.<br />
saya bergegas keluar.<br />
menerjang malam yang dingin.<br />
di rumah sakik itu.<br />
sekian manusia berjubel.<br />
manusia manusia udik yang berharap banyak pada sebuah tempat; rumah sakik.<br />
masuk ke ruangan ICU,<br />
perempuan tua yang saya ajak ngobrol tentang banyak hal beberapa hari lalu itu, kini meregang nyawa.<br />
selang infus melekat erat di lengan.<br />
selang lain menerobos masuk ke lobang hidungnya.<br />
sekian alat  mengontrol hidupnya.<br />
sementara, si perempuan tua yang meregang nyawa, mulutnya komat kamit berbicara banyak hal.<br />
bahasanya bahasa yang tak saya kenal; bahasa sorgawi.<br />
sekali laghik tuhan menunjukkan kelemahannya, ia tak bisa berbuat apa apa.<br />
tiga puluh menit kemudian, perempuan tua yang saya ajak ngobrol tentang banyak hal ituk, khatam!.<br />
malam yang dingin, kini ramai oleh tangisan.<br />
saya menatap langit. ia diam seribu bahasa.</p>
<p>ini tentang kemarin;<br />
jasadnya,<br />
kemarin berupa sesajen bali dan dupa yang berbusa asap mengepul menemui langit cerah.<br />
saya berpikir, seburuk buruk perempuan selama hidupnya, niatnya untuk mengasihi kita kita ini adalah setinggi busa asap dupa yang merangkul bhumi hingga ke langit.<br />
representasi jasadnya yang kinik hanya berupa sesajen dan dupa, saya taruk di atas kepala, berjalan gagah dari segara ke bale banjar,<br />
di kemarin siang yang terik itu.</p>
<p>perempuan perempuan tua reyot yang pernah dekat di hatik saya.</p>
<p>anda punya perempuan perempuan tua reyot yang pernah dekat di hatik?<br />
saya punya, perempuan bali menginspirasik.</p>
<p>salam week end.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=994&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=994</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>arsitektur nusantara-arsitektur naungan, bukan lindungan (sebuah reorientasi pengetahuan arsitektur tradisional)</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=988</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=988#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jun 2010 06:26:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=988</guid>
		<description><![CDATA[jun 21 &#8211; univ khaerun, ternate
josef prijotomo
‘Bangunan panggung dibuat karena adanya ancaman dari binatang buas’, itulah yang kita pelajari dari arsitektur tradisional di Indonesia ini. Kita tidak terlalu mempersoalkan benar-kelirunya pernyataan itu karena telah banyak ditulis seperti itu, juga telah dikatakan oleh demikian banyak ahli dan peneliti. ‘Bangunan adalah tempat untuk berlindung’ juga sebuah pengetahuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>jun 21 &#8211; univ khaerun, ternate<br />
<em>josef prijotomo</em></p>
<p>‘Bangunan panggung dibuat karena adanya ancaman dari binatang buas’, itulah yang kita pelajari dari arsitektur tradisional di Indonesia ini. Kita tidak terlalu mempersoalkan benar-kelirunya pernyataan itu karena telah banyak ditulis seperti itu, juga telah dikatakan oleh demikian banyak ahli dan peneliti. ‘Bangunan adalah tempat untuk berlindung’ juga sebuah pengetahuan akan arsitektur tradisional yang tak disoalkan benar-kelirunya. Jika mau dibuat rinciannya, demikian banyak ihwal pengetahuan tentang arsitektur tradisional yang tidak pernah kita pertanyakan benar-kelirunya. Masih dengan ihwal yang sama yaitu mempersoalkan benar-kelirunya, kita dengan mantap dan tegas menempatkan arsitektur tradisional kita dalam kaitan yang demikian erat dengan budaya dan kebudayaan, namun kalau berkenaan dengan arsitektur Erorika (Eropa-Amerika) serta arsitektur modern, nyaris tidak pernah ada pelibatan dan pengkaitan dengan budaya dan kebudayaan. Di satu sisi kita memantapkan itu untuk menegaskan bahwa arsitektur tradisional itu beda dari arsitektur Erorika, namun di sisi lain kita menjadi bermasalah dalam mengkinikan arsitektur tradisional dalam proses rancang yang sepenuhnya  sangat Erorika itu.<br />
Tanpa harus membincangkan mengapa tidak disoalkan benar-kelirunya, sajian yang akan saya paparkan dalam kesempatan ini akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang seharusnya kita tanggung sebagai konsekuensi dari kenyataan bahwa Erorika dan Indonesia/Nusantara itu memang berbeda dalam banyak hal. Perbedaan itu akan kita manfaatkan untuk menyadari konsekuensi yang timbul. Ada konsekuensi yang menunjuk pada pengertian arsitektur sebagai perlindungan dalam persandingannya dengan arsitektur sebagai pernaungan atau perteduhan; ada pula konsekuensi yang menunjuk pada tempat/kategorisasi dari pengetahuan yang Erorika dalam persandingannya dengan pengetahuan arsitektur Nusantara. Di sini saya tidak melakukan pembandingan antara Erorika dengan Nusantara(tradisional) karena sebuah perbandingan akan berakhir dengan siapa yang lebih dan siapa yang kurang. Saya akan melakukan penyandingan, menjejerkan yang erorika dengan yang Nusantara/tradisional untuk memerikan/mendeskripsikan bahwa perbedaan yang ada bukan perbedaan dalam hal lebih-kurang, melainkan perbedaan tatapikir (mindset) yang digunakan dalam mempelajari dan memahami arsitektur Nusantara.<br />
<strong><br />
Kepulauan Nusantara</strong><br />
Berbeda dari kebiasaan dalam memerikan arsitektur tradisional yang diawali dengan menggelarkan budaya dari anak bangsa di Indonesia, saya akan mengawali penggelaran atas arsitektur Nusantara ini dengan menggelar alam dan iklim, yakni sebuah lingkungan yang menjadi tempat bagi munculnya arsitektur. Indonesia adalah Negara kepulauan yang satu pulau dengan pulau yang lain dihubungkan oleh laut. Laut atau perairan adalah penghubung pulau dan daratan, bukan pemisah. Jikalau laut dan perairan menjadi pemisah maka keterisolasian dari masing-masing pulau akan dapat muncul sebagai konsekuensinya. Sebaliknya, dengan menjadikan perairan dan laut sebagai penghubung, maka tidak hanya keterisolasian itu tersisihkan, tetapi komunikasi antara pulau satu dengan yang lain akan muncul sebagai konsekuensinya. Di dalam keterhubungan ini pulalah kita masih ingat penggal nyanyian anak-anak dari tahun 1950-1960-an yang diantaranya berbunyi: “nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudera”, menyadarkan kita akan arti dan makna dari sebutan bangsa kita sebagai bangsa bahari. Kejayaan kita di laut bahkan sudah berlangsung ratusan tahun sebelum Masehi, sebagaimana ditunjukkan misalnya oleh para ahli linguistic. Para ahli bahasa ini telah berhasil menemukan pencatatan rempah-rempah dari Pasifik di dalam dinding-dinding piramida di Mesir. Bahkan dalam abad ke-2 Masehi, perairan Nusantara ini merupakan perairan yang sibuk dengan lalu-lalangnya kapal dan perahu dari pasifik hingga Madagaskar dan dari Taiwan-Cina hingga India dan Arab. Di masa itu, telah pula terbuktikan bahwa bangsa Nusantara ini bukan hanya penonton, melainkan menjadi pemain; perahu dan kapal nusantara telah mengarungi sejauh Madagaskar dan Pasifik.<br />
Keberhasilan mengarungi lautan dan samudera seluas dari Madagaskar hingga Pasifik dan Cina hanya mungkin terjadi bila teknologi pembuatan perahu kayu sangatlah handal. Kehandalan teknologi pembuatan perahu dari bangsa Nusantara ini sampai membuat para ahli kapal dan perahu Cina untuk belajar dari para pembuat perahu di Sulawesi Selatan di tahun 1420-an, demikian dikatakan oleh Gavin Menzies dalam bukunya yang berjudul 1423. Mereka itu perlu belajar tentang teknologi perahu dan kapal karena di tahun 1423 Cina memulai penjelajahan melintasi semua samudera di dunia ini! Setidaknya ada tujuh armada dikirim oleh Cina untuk mengarungi semua samudera. Masing-masing armada menjelajah samudera yang berbeda. Kehandalan dalam membuat perahu dan kapal yang dari kayu ini dengan langsung tentunya berimbas pada handalnya teknologi dan pembuatan bangunan kayu. Sebagaimana halnya teknik konstruksi ikat dalam pembuatan perahu yang sudah dikuasai semenjak duaratus tahun sebelum Masehi, di pedalaman Flores, tepatnya di desa Wae Rebo, kabuparten Manggarai, telah dapat dihadirkan sebuah bangunan berkonstruksi ikat yang memiliki ketinggian sampai lima lantai, dan lantai dasarnya mampu menampung lebih dari seratus orang. Sekali lagi, desa Wae Rebo bukan desa di pesisir tapi di pedalaman; sehingga dari sini kita dapat dengan tepat mengatakan bahwa pengetahuan tentang konstruksi ikat itu telah mampu menembus pedalaman dari daratan di pulau-pulau di Nusantara ini. Hal ini sekaligus menggugurkan pandangan yang selama ini mengatakan bahwa anak-anakbangsa Nusantara ini berada dalam keterisolasian.</p>
<p><strong>Lembab</strong><br />
Lautan yang menjadi penghubung antar pulau juga memberikan kekhususan pada iklim yang ada di Indonesia. Iklim di Indonesia tidak hanya tropik, tetapi juga lembab, jadi beriklim tropik lembab.<br />
Kelembaban dari iklim ini dipermantap oleh kekayaan hutan hujan tropik yang mengisi daratan Nusantara. Dengan kelembaban ini pula tubuh menjadi mudah sekali berkeringat serta udara berkurang kenyamanannya karena menimbulkan kegerahan. Berhadapan dengan kelembaban ini, sebuah penyelesaian yang cemerlang telah berhasil ditemukan oleh anak-anakbangsa Nusantara. Pertama, tidak merasa perlu untuk mengenakan pakaian. Penutup tubuh yang ada hanyalah penutup kelamin semata, atau lebih diperluas lagi adalah sebatas dari pusar hingga lutut. Busana seperti itu adalah norma kesopanan yang berlaku, dan itu berarti bahwa samasekali tidak porno sebagaimana kita sekarang ini menilainya. Dan karena itu tidaklah mengherankan bila hingga abad ke 16 Masehi kita masih bisa menyaksikan relief candi yang menggambarkan sosok manusia dengan busana yang seperti tersebutkan tadi. Dari wayang kulit di Jawa kita juga menyaksikan bahwa sebagian terbanyak tokoh yang digambarkan bertelanjang dada. Dihadapkan pada orang-orang yang bertelanjang dada ini orang-orang Eropa yang mengunjungi Nusantara menilainya sebagai tidak beradab (maklum, dalam adat dan budaya Eropa, ihwal berbusana yang menutup seluruh tubuh adalah sebuah tanda beradab). Dengan memperhatikan kenyataan bahwa bertelanjang dada adalah penyelesaian atas kelembaban yang tak dapat dihindari, tentunya dapat dibayangkan bagaimana semestinya bangunan yang didirikan untuk ‘mewadahi’ manusia Nusantara. Sebuah ruangan yang memakai dinding serba tertutup sudah pasti sulit untuk dipahami sebagai penyelesaian atas kelembaban ini. Betapa tidak, dalam hal berada di luar bangunan saja sudah tak berpakaian, bagaimana nyaman bila berada dalam ruangan yang serba berdinding tertutup. Dengan pencermatan seperti itu, dapat kemudian dikatakan bahwa bangunan yang mewadahi manusia yang harus berhadapan dengan kelembaban adalah bangunan yang tidak memiliki dinding tertutup. Sebuah beranda, serambi (teras) dan kolong bangunan adalah tempat-tempat di bangunan yang dapat mewadahi manusia yang berkeringat dan gerah karena kelembaban. Dangau-dangau di sawah serta warung dan gardu jaga juga dengan jitu menjadi wujud bangunan yang merupakan penyelesaian atas kelembaban yang menimbulkan keringat. Apabila terpaksa harus ada dinding, maka dinding ini adalah berupa kerai atau kalau mau lebih canggih, dinding yang berukir tembus seperti lazimnya sekat berukir. Bagaimana halnya dengan bagian bangunan yang berdinding, bahkan berdinding rapat tanpa jendela? Keadaan bangunan yang serba tertutup seperti itu akan sangat jitu bila digunakan untuk menyimpan barang serta untuk menghangatkan tubuh bila suhu udara menjadi dingin. Kalau tidur di malam hari dianggap sebagai menyimpan badan, maka bagian bangunan yang serba tertutup itu tidak hanya menyimpan barang tetapi juga menyimpan badan. Dengan demikian, bagian bangunan yang berdinding tertutup itu asal-muasalnya bukanlah sebuah tempat tinggal, melainkan tempat penyimpanan. Bagian dari rumah yang digunakan untuk berbagai kegiatan harian hadir sebagai serambi, beranda, dangau atau gardu serta kolong dari bangunan panggung. Kalau dipaksakan untuk disebut tempat tinggal, maka bagian yang berdinding rapat adalah tempat untuk tinggal di malam hari sedang di siang hari adalah di beranda, serambi atau kolong.<br />
Dengan gambaran yang berdasar kelembaban seperti di depan, pembacaan denah dari arsitektur Nusantara akan menjadi sangat berbeda dari pembacaan denah dari bangunan Erorika. Di Nusantara, beranda, serambi dan kolong adalah tempat melangsungkan aktifitas siang hari. Bilik yang berdinding tertutup adalah tempat penyimpanan (termasuk menyimpan badan di malam hari). Pembagian bangunan dari irisan/potongan bangunan Nusantara juga bukan terdiri dari kepala-badan-kaki, melainkan terdiri dari atap-bilik-kolong. Bila antara bilik dengan muka tanah ada geladak, maka pembagiannya menjadi atap-bilik-geladak-kolong.<br />
Dengan kelembaban maka ketropikan di Nusantara menjadi berbeda dari ketropikan di Afrika, misalnya. Daerah-daerah yang bertropik-lembab tentu tidak hanya Indonesia. Malaysia dan Philipina, juga segenap daerah kepulauan di Amerika Tengah adalah daerah-daerah yang beriklim tropik lembab. Di segenap tempat tadi, beranda atau kolong dan ruangan berdinding tertutup memang menghadirkan diri, sekaligus mendapat pendayagunaan yang serupa dengan yang di Nusantara. Yang menjadikan berbeda dari Nusantara adalah dalam bentukan atap bangunan. Sebagian banyak bangunan di Amerika Tengah adalah bentukan atap pelana atau atap perisai; sedang yang di Malaysia dan Philipina umumnya serupa dengan yang ada di Nusantara, jadi cukup berragam bentukannya. </p>
<p><strong>Angin</strong><br />
Kita tidak perlu menyangkal betapa pentingnya angin ini bagi pelayaran mengingat adalah angin yang seakan menjadi motor bagi bergeraknya kapal dan perahu. Dengan kemampuan berlayar  par pelaut dan peniaga Nusantara hingga Madagaskar di abad-abad sebelum Masehi, tak ayal lagi pengetahuan akan pola pergerakan angin, dan sudah barang tentu pengetahuan akan arus laut yang bergantiganti sepanjang tahun, telah sangat dikuasai. Sebutan mata-angin dapat dipastikan berawal dari ihwal pelayaran, bukan dari ihwal bercocoktanam. Laut dan gunung dijadikan titik rujukan bagi mataangin itu, sehingga arah ke laut dalam mataangin orang Bali dinamakan kelod, di Madura dinamakan Laok, sedang di Jawa dinamakan Lor. Sementara itu, dalam hal menyusuri sungai, motor penggerak dari kapal dan perahu bukan angin, melainkan dayung dan keras-lemahnya arus sungai dari hulu ke hilir, dan karena itu arah hilir dan arah hulu atau udik (mudik) lebih banyak digunakan.<br />
Angin yang merupakan pergerakan udara dari dua tempat yang berbeda tekanan udaranya juga mampu didayagunakan dengan baik di daratan. Dalam keadaan normal (bukan dalam masa pancaroba khususnya), angin menjadi sumber utama bagi penyejukan udara. Angin yang berhembus dari laut akan membawa uap air dan mendatangkan udara yang lembab. Tetapi, bersamaan dengan angin yang berhembus itu, kepengapan udara dalam ruangan juga akan menjadi berkurang dengan cukup bena (signifikan). Di sini pula kolong, serambi dan beranda menjadi bagian dari bangunan yang dengan cemerlang mampu mendayagunakan hembusan angin guna menghadirkan ruangan yang nyaman (comfort). Melalui pembacaan atas asal angin berhembus, bangunan yang didirikan diarahkan agar dapat semaksimal mungkin memanfaatkan hembusan angin. Tidaklah mengherankan bila kebanyakan bangunan Nusantara didirikan dengan arah bubungan atap yang berlawanan dengan arah hembusan angin, seakan menjadi penangkap hembusan angin. Secara umum, arah hadap ke laut atau ke gunung adalah keletakan dari bangunan-bangunan Nusantara yang memakai bangun persegi empat; bangunan menjadi memanjang dan letaknya dibuat menangkap angin yang berhembus. Oleh karena itulah bangunan-bangunan di pantai utara Jawa memanjang dari timur ke barat dan menghadap ke ke laut Jawa (utara), sedang di daerah Jawa selatan, bangunan dibuat menghadap ke Samudra Hindia (selatan). Jikalau hubungan antara bangun geometrik dari denah bangunan menunjukkan adanya kaitan antara bangunan dengan arah angin, maka bangunan-bangunan dengan denah lingkaran rupanya bertempat pada daerah yang arah anginnya cenderung memutar, seperti misalnya di daerah lembah atau daerah yang dikelilingi oleh bukit. Selanjutnya, mengitari sekelompok gugus bangunan maupun sebuah gugus bangunan yang berdiri sendiri, pepohonan yang ditanam sepanjang pagar tapak lingkungan hunian serta pepohonan yang ditanam di seputar dusun diberi peran untuk menjadi pelambat lajunya hembusan angin.<br />
Dengan hembusan angin yang menyejukkan dan dengan kelembaban yang dapat ditanggulangi dengan tinggal di beranda. Serambi atau kolong, maka keberadaan bilik di dalam bangunan menjadi nyaris tak terkunjungi di siang hari. Di malam hari saja bilik-bilik itu digunakan sebagai tempat untuk tidur, untuk menyimpan badan. Kegiatan harian yang lebih banyak terpusat pada sekeliling bagian luar bangunan memberi kesempatan bagi tampang luar bangunan untuk ditangani dengan citarasa estetika dan artistika yang mempesona. Tubuh luar bangunan tidak hanya kaya dengan ukiran (dan di percandian dielokkan dengan relief-relief), tetapi juga dengan menggunakan warna yang cerah dan segar. Tidak itu saja, sosok bagian atap juga menjadi sangat berragam perupaannya. Bagian bilik dan kolong boleh saja tanpa sentuhan artistika dan estetika yang menyita perhatian, tetapi tidak demikian halnya dengan bentuk atapnya. Nampaknya, demi penandaan bagian yang terpenting dan terutama dari sesuatu bangunan Nusantara, maka bentukan atap menjadi sangat mencolok penampilannya.</p>
<p><strong>Kemarau dan Penghujan</strong><br />
Iklim tropik memang bukan iklim subtropik bukan pula iklim yang empat musim. Iklim tropik hanya mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Kalau mau dipaksakan menjadi empat musim, maka ada tambahan dua musim pancaroba, yakni pancaroba menuju penghujan dan pancaroba menuju kemarau. Salah satu pembeda mencolok antara iklim tropik dengan iklim subtropik adalah suhu udara. Bagi iklim subtropik rentang suhu udara dapat dipastikan mencakup suhu udara yang di sekitar nol derajat Celsius, sebuah suhu udara yang dalam iklim mereka berada dalam cakupan musim dingin. Suhu yang sangat rendah dalam musim dingin dengan langsung menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia yang berdiam di tempat itu. Dan karena itu tidak mengherankan bila mereka mengatakan bahwa iklim adalah ancaman, bahkan ancaman yang mematikan. Artinya, suhu yang rendah berpotensi mengakibatkan kematian. Dihadapkan pada ancaman kematian ini, tak ada jalan lain kecuali harus melindungi diri dari ancaman tadi. Di situ pula lalu muncul perumusan bangunan adalah perlindungan, arsitektur adalah tempat berlindung. Sebuah tindakan berlindung adalah tindaan menyembunyikan diri, dan oleh karena itu lawan yang mengancam sebisa mungkin tidak bisa mengetahui di manakah yang berlindung itu berada. Sebuah ketertutupan di semua sisi lalu menjadi jawaban dari pihak yang berlindung. Sebuah bangunan, karena dijadikan perlindungan adalah buatan manusia yang disemua sisinya tertutup; yaitu lantai, dinding dan atap semuanya serba tertutup. Sekurangnya tiga bulan lamanya orang harus berdiam di tempat yang serba tertutup, yang serba terpisah atau terisolasi dari dan lingkungan sekitar bangunan dan dunia luar. Perasaan ketersendirian yang dialami lalu membuat penghuni bangunan empat musim ini mengenal dengan baik perbedaannya dari kebersamaan.<br />
Bagaimanakah halnya dengan iklim tropik seperti yang ada di Nusantara ini? Musim kemarau maupun musim penghujan tidak menghasilkan suhu udara yang selisihnya seekstrim seperti yang empat musim. Suhu udara juga samasekali tidak mampu menjadi ancaman bagi keselamatan hidup anak-anakbangsa Nusantara. Baik dalam musim kemarau maupun dalam musim penghujan orang tetap dapat menikmati hidup dengan busana yang hanya melingkari dari peerut hingga lutut. Terhadap terik matahari yang menyengat atau curah hujan yang demikian deras, cukuplah bernaung di bawah pohon yang sangat rindang. Kalau harus tetap melakukan perjalanan, orang Nusantara cukup memotong daun pisang atau daun keladi untuk menaungi kepala dan badan. Kalau mau mengenakan yang buatan sendiri, sebuah topi yang berdaun lebar atau sebuah payung juga sudah dapat menjadi penyelesaiannya. Dihadapkan pada keadaan yang dua iklim ini, bukan tindakan berlindung yang diperlukan, tetapi adalah tindakan bernaung atau berteduh. Dari sini tentunya sudah dapat dibayangkan bagaimanakah bangunan yang diperlukan bagi tanggapan terhadap iklim kemarau dan penghujan. Sepotong daun pisang atau keladi, sebuah topi lebar dan sebuah payung dan sebuah atap adalah tanggapan atas iklim tropik. Petikan dari naskah kuno di Jawa menggambarkan kebenaran dari hal itu “tiyang sumusup ing griya punika saged kaupamekaken ngaub ing sangandhaping kajeng ageng” – orang yang menyusup ke dalam bangunan itu dapat diupamakan dengan bernaung/berteduh di bawah pohon yang rindang.<br />
Kebutuhan utama akan bangunan dan arsitektur lalu bukan untuk dijadikan perlindungan sebagaimana dilakukan oleh bangunan di Erorika; yang dibutuhkan adalah sebuah pernaungan atau perteduhan. Arsitektur lalu bukan sebuah perlindungan; arsitektur adalah sebuah pernaungan. Itulah yang menjadi pengertian tentang arsitektur di Nusantara. Bagi kebutuhan seperti ini, yakni akan adanya pernaungan atau perteduhan, maka cukup hadirnya sebidang atap penaung atau peneduh yang menjadi jawabannya. Di depan telah dikatakan bahwa keaneka-ragaman bentukan atap itu berkaitan dengan peran penting dan terhormat dari bagian atap. Melalui peninjauan atas ketropikan yang berisi musim kemarau dan musim penghujan, tentu menjadi semakin mantap dan nyata bahwa unsur pertama dan utama dari arsitektur Nusantara adalah atap. Dengan peran dan kedudukan yang utama ini pula lalu struktur bangunan menjadikan tiang-tiang penyangga atap sebagai tiang-tiang utama.<br />
Sementara itu, dihadapkan pada musim penghujan yang basah, permukaan tanah akan dengan langsung menjadi basah bila hujan tiba. Menanggapi kepastian basahnya tanah ini, sebentang geladak dapat dihadirkan, dan merentang di atara tiang-tiang yang menopang atap. Geladak ini sudah barang tentu membentuk jarak dengan muka tanah, membentuk kolong bangunan. Lantai bangunan yang berupa geladak ini lalu bukan hadir karena takut pada binatang buas, melainkan agar diperoleh bidang yang tidak becek. Selanjutnya, melihat bahwa kolong geladak ini dapat didayagunakan pula untuk berbagai kegiatan manakala musimnya bukan musim penghujan, maka letak geladak semakin ditinggikan dari muka tanah di satu sisi, dan di sisi lain dibangun pula penopang-penopang geladak. Kini konstruksi bangunan tidak lagi hanya berupa tiang-tiang penopang atap tetapi juga tiang-tiang penopang geladak.<br />
<strong><br />
Bangunan Kayu, Gempa dan Konservasi</strong><br />
Perbedaan mencolok antara arsitektur Erorika dari arsitektur Nusantara dapat pula dilihat dari bahan bangunan yang digunakan. Bila kita membuka buku sejarah arsitektur Eropa kita akan melihat bahwa semenjak jaman Yunani hingga jaman sekarang ini, bahan bangunan yang dominan dipergunakan adalah bahan-bahan bangunan yang anorganik. Ini berbeda dari bangunan di Nusantara yang menggunakan bahan bangunan yang organik, seperti kayu, bambu, alangalang, rumbia dan rotan. Pemakaian bahan bangunan yang organik ini mengandung sebuah konsekuensi langsung yang tidak dapat dihindari yakni aus dan lapuknya bahan itu dalam jangka waktu yang tertentu. Alangalang dan rumbia akan menjadi bahan yang paling cepat aus dan lapuk, kemudian disusul oleh bambu dan rotan, dan akhirnya kayu yang dipakai untuk tiang, balok dan bilah lantai serta bilah dinding sebagai yang paling lama mengalami keausan dan kelapukan. Bila ketiga jenis bahan itu dipakai bersamaan di sebuah bangunan, maka akan terjadi saat aus dan lapuk yang berbeda. Untuk mempertahankan bangunan agar tetap dapat didayagunakan, sudah barang tentu dituntut adanya penggantian bahan bangunan. Tuntutan seperti ini dengan langsung berkaitan dengan konstruksi yang digunakan; dituntut konstruksi yang dapat dicopot dan diganti tanpa harus merusak atau merubuhkan seluruh bangunan. Konstruksi ikat konstruksi cathokan serta konstruksi purus dan lubang adalah yang jitu. Di depan telah ditunjukkan bahwa arsitektur Wae Rebo yang hanya bermodalkan konstruksi ikat dapat menghadirkan diri sebagai bangunan yang seukuran bangunan setinggi lima lantai. Sebuah keberhasilan yang luar biasa! Tidaklah mengherankan bila para pendatang Eropa geleng-geleng kepala dan terkagum-kagum menyaksikan kehebatan bangunan Nusantara yang samasekali tidak menggunakan paku tapi bisa berdiri dengan kokoh.<br />
Pemakaian paku dalam mengkonstruksi bangunan juga memperlihatkan perbedaan yang besar dari konstruksi yang tanpa paku. Bangunan yang tidak menggunakan paku akan menghasilkan konstruksi yang masih bisa bergoyang-goyang. Kemungkinan bergoyang ini ditopang pula dengan penggunaan alat yang belum memungkinkan untuk menghasilkan presisi yang tinggi, misalnya pada sambungan antara tiang dengan balok. Lubang pada tiang yang akan dimasuki oleh purus balok bisa saja satu atau dua sentimeter lebih longgar dari ukuran purus balok. Secara keseluruhan, konstruksi yang digunakan di arsitektur Nusantara menghasilkan bangunan yang bisa bergoyang-goyang. Bahkan, keadaan yang paling stabil dan kokoh dari bangunan di Nusantara itu akan dicapai bila bangunannya sedikit miring, tidak tegaklurus terhadap tempatnya berdiri. Dengan adanya kesempatan bagi bangunan untuk bergoyang ke sisi yang satu di saat yang tertentu, lalu bergoyang ke sisi lain dalam kesempatan yang berbeda,  maka bangunan Nusantara ini lalu menjadi tak ubahnya dengan sebuah gubahan yang ‘hidup’, mengingat salah satu dari ciri dari keadaan yang hidup adalah adanya gerakan dari obyek bersangkutan. Di sini pula pengertian dari pengurip, penghidup, yang ada di sejumlah arsitektur anakbangsa Nusantara itu mendapatkan penjelasannya.<br />
Dengan menamakan konstruksi di Nusantara ini sebagai konstruksi goyang (sebagai lawan dari konstruksi mati, sebutan bagi konstruksi yang menggunakan paku), kehandalan dari arsitektur Nusantara menjadi semakin terbukti bila dihadapkan dengan gempa. Gempa yang merupakan gerakan bumi secara tiba-tiba, dapat berupa gerak yang horisontal dan dapat pula hadir dalam gerakan yang vertikal. Dengan penerapan konstruksi goyang, saat gempa menerpa, bangunan dengan nikmat mengikuti saja irama dari gempa, apakah horisontal ataukah vertikal, ataukah keduanya secara bergantian atau bersamaan. Pada sebagian banyak bangunan Nusantara yang keletakannya tidak dilakukan dengan menanam tiang ke dalam tanah, maka dapat saja terjadi bangunan akan terguling dan tergolek di tanah di saat gempa berlangsung; bangunan samasekali tidak remuk seperti yang selalu terjadi pada bangunan tembok dan beton. Di sini sebuah kecemerlangan pengetahuan konstruksi telah ditunjukkan dan dibuktikan oleh bangunan Nusantara, yakni penerapan konstruksi goyang.<br />
Gerakan konservasi adalah gerakan melestarikan bangunan agar mampu bertahan dalam perubahan waktu (dan ruang). Bagi dunia Erorika, konservasi dengan mempertahankan keaslian bangunan dapat dijalankan dengan tak banyak kesulitan. Maklum, bahan-bahan bangunannya sebagian terbesar adalah bahan bangunan yang anorganik. jikalau harus melakukan penggantian bahan, itu dapat dilakukan dengan harus tetap mengkuatirkan konstruksi dari bangunan. mencopot satu bata atau batu bisa saja mengakibatkan runtuhnya bangunan. Keadaannya akan sangat berbeda bagi konservasi di arsitektur nusantara. Hampir seluruh bangunan Nusantara dalah bangunan kayu, bangunan dengan bahan bangunan yang organik. Naluri dasar dari setiap bahan bangunan organik adalah mengalami penuaan, lapuk dan runtuh. pemikiran untuk mendapat bangunan yang mampu berusia ratusan tahun tentu tidak ada dalam pemikiran arsitektur Nusantara. yang ada ialah bangunan yang harus bisa mengalami penggantian bagian bangunan yang lapuk atau aus tanpa harus mengakibatkan bangunan runtuh. Atau, kalau memang harus mengganti seluruh bahan bangunannya, maka membuat bangunan baru yang sepersis mungkin dengan yang sudah tua dan aus adalah penyelesaiannya. Dengan demikian, konservasi di Nusantara adalah pelestarian yang mengharuskan penggantian. Bongkar dan ganti dengan yang persis dengan yang dibongkar, itulah tindakan konservasi yang berlaku di Nusantara.<br />
<strong><br />
Arsitektur Nusantara</strong><br />
Pencermatan atas arsitektur anak-anakbangsa Nusantara yang saya lakukan di depan bertitik-tolak atau berlandasan pada kenyataan geoklimatik Indonesia. Kenyataan ini dengan langsung menjadikan adanya keniscayaan akan adanya perbedaan dari kenyataan geoklimatik Erorika. Pengertian atau perumusan Erorika yang menjadikan arsitektur sebagai perlindungan lalu menjadi berbeda dari pengertian dan perumusan yang digunakan di Nusantara yakni arsitektur sebagai pernaungan atau perteduhan. Dalam hal arsitektur sebagai perlindungan bagian lantai, dinding dan atap adalah mutlak untuk hadir di bangunan, tidak demikian halnya dengan di Nusantara karena hanya memutlakkan hadirnya atap serta menganjurkan adanya geladak.<br />
Selanjutnya, jikalau paparan itu dicermati, maka ihwal adat, sistem kepercayaan dan pandangan dunia (worldview), serta budaya dari anak-anakbangsa Nusantara, hampir-hampir tidak terikutkan dalam memunculkan pengertian sebagai pernaungan atau perteduhan. Dalam tulisan-tulisan saya yang lain, ihwal-ihwal itu saya cermati sebagai keping-keping perekam pengetahuan tentang arsitektur, bukan sebagai sistem budaya yang dicerminkan oleh arsitektur. Sikap saya yang menempatkan segenap ihwal itu sebagai keping rekaman pengetahuan saya dasarkan pada kenyataan bahwa anakbangsa Nusantara ini mewariskan pengetahuannya tidak dengan menggunakan tulisan, melainkan dengan menggunakan segenap ihwal tadi. Masyarakat Nusantara adalah masyarakat yang bertradisi tanpatulisan; dan ini berbeda dari masyarakat Erorika yang bertradisi tulisan. Dengan tatapikir (mindset) tradisi tanpatulisan ini pula saya misalnya saja, memahami upacara pemasangan kuda-kuda dan bubungan atap di Jawa adalah sebuah bentuk pemeriksaan dan pengujian kehandalan konstruksi kuda-kuda. Selamatan yang diselenggarakan sebelum pemasangan kuda-kuda itu adalah sebuah wujud pengupahan tenaga kerja yang dirupakan sebagai barter antara tenaga dengan makanan yang disajikan.<br />
Dari pencermatan saya di depan, kita menjadi memahami betapa mengagumkan kecemerlangan pengetahuan anakbangsa Nusantara ini di bidang arsitektur, dan oleh karena itu samasekali tak dapat dikatakan sebagai sebuah genius loci atau kearifan lokal (local wisdom) sebab kedua sebutan itu berlatarbelakang Erorika sebagai inti dan sebagai yang unggul, sedang di luar Erorika adalah tak ubahnya dengan ‘antah berantah’. Sebagai pengganti kedua sebutan itu, saya menggunakan sebutan cerlang-tara, yang adalah singkatan dari kecemerlangan Nusantara.<br />
Di bagian awal dari paparan saya ini saya menjanjikan untuk menunjukkan bahwa arsitektur Nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Kiranya, melalui pasal yang terakhir ini kita semua telah dapat mengetahui bahwa arsitektur nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Arsitektur Nusantara mendasarkan pemahamannya atas arsitektur anakbangsa Nusantara pada pertama, kenyataan geoklimatik (kepulauan dan tropik lembab) serta yang kedua adalah kenyataan tradisi tanpatulisan. Di sini ihwal adat hingga upacara dan artefak menjadi rekaman-rekaman pengetahuan arsitektur. Sementara itu, arsitektur tradisional mendasarkan pemahamannya pada arsitektur sebagai cerminan budaya/kebudayaan, sebuah dasar yang tanpa disadari ternyata adalah ranah kajian budaya dan antropologi.</p>
<p>Surabaya, juni 2010</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=988&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=988</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mungkin memang benar..</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=985</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=985#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 02:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=985</guid>
		<description><![CDATA[istri saya meng-sms;
&#8220;nanthik malem keluar ndak?&#8221;.
saya tak menjawabnya.
saya musti mengirim email artwork untuk proyek di luar sana.
tilpun dari bangkok, kemarin hari, membuat saya terjaga.
&#8220;putu, apa khabar, dan selamat siang&#8221;, katanya.
&#8220;selamat siang. saya baik baik saja&#8221;.
&#8220;bagaimana dengan artwork yang dipesen brian?, katanya anda sudah meeting dengan brian dan berkenan mengerjakan?&#8221;, katanya lagi.
saya baru terjaga.
terjaga akan tugas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>istri saya meng-sms;<br />
&#8220;nanthik malem keluar ndak?&#8221;.<br />
saya tak menjawabnya.<br />
saya musti mengirim email artwork untuk proyek di luar sana.<br />
tilpun dari bangkok, kemarin hari, membuat saya terjaga.<br />
&#8220;putu, apa khabar, dan selamat siang&#8221;, katanya.<br />
&#8220;selamat siang. saya baik baik saja&#8221;.<br />
&#8220;bagaimana dengan artwork yang dipesen brian?, katanya anda sudah meeting dengan brian dan berkenan mengerjakan?&#8221;, katanya lagi.<br />
saya baru terjaga.<br />
terjaga akan tugas yang diberikan beberapa minggu lalu.<br />
kertas gambarnya tertumpuk di bagian bawah tumpukan tumpukan lainnya.<br />
dan yang paling menyiksa di hari kemarin adalah masalah listrik yang dimatikan oleh PLN.<br />
seharian tiada listrik.</p>
<p>gambar artwork untuk proyek di luar sana, saya genjot.<br />
ibarat mengendara mobil.<br />
ntah tikungan, jalan becek, jalan ramai, trotoar, lampu merah, saya libas habis.<br />
250km/jam!.<br />
kerjaan ini musti kelar, karena ada kerjaan lain yang musti dilibas habis dalam semenit dua menit. dan ada lagi. dan ada lagi. begithuk seterusnya. proyek datang silih berganthik.</p>
<p>sore menjelang gelap, listrik masih padam.<br />
sedang mata sudah agak gelap menatap kertas dan memainkan tangan.<br />
11 artwork saya hasilkan.<br />
meng-scannya, dan siap kirim.<br />
tapi listrik masih padam<br />
sore menjelang malam, di hari kemarin itu.<br />
saya teringat dengan sms istri, &#8220;nanthik malem keluar ndak?&#8221;.<br />
saya tinggalkan kantor. lebih baik keluar nganter istri ke mall beli susu.<br />
dan saya bisa nyantol di JCo-donat, untuk berinternet dan mengirim artwork!.</p>
<p>di mall;<br />
ibu saya yang ikutan rombongan, matanya melirik telapak kaki saya.<br />
ia menegur saya.<br />
&#8220;tu, sandalnya kok aneh?&#8221;.<br />
saya berhenthik berjalan. dan melihat telapak kaki.<br />
kaki kiri dengan sandal &#8220;volcom&#8221; hijau tentara.<br />
kaki kanan dengan sandal &#8220;rip curl&#8221; hitam.<br />
saya hanya nyengir.<br />
anak anak saya tertawa terpingkal pingkal.<br />
mereka berlalu.<br />
saya menepi menuju toko sandal.<br />
membeli sandal yang satu warna satu produk, satu rasa, satu merek; quiksilver.<br />
mungkin otak saya sudah tak mampu berjalan secepat yang saya mau.<br />
mungkin otak saya sudah tak mampu menyimpan data sebanyak yang saya butuhkan.<br />
mungkin saya merasa superman, tetapi apa yang saya miliki adalah kelas supermi.</p>
<p>malam itu di JCo-donat,<br />
saya kirim artwork pesanan.<br />
saya kirim photo photo st. regis bali yang saya potret beberapa hari lalu.<br />
ada 10 photo untuk pendahuluan.<br />
tak hendak semuanya. musti sathuk sathuk. biar sexy!.<br />
sisanya ada 2765 photo lagi.<br />
setidaknya, nyantol di JCo-donat malam itu, sudah bisa mengurangi beban.</p>
<p>pagi ini di pos polisi,<br />
&#8220;nama anda?&#8221;, pak polisi bertanya.<br />
&#8220;putu mahendra&#8221;.<br />
&#8220;pekerjaan?&#8221;,<br />
&#8220;arsitek&#8221;.<br />
&#8220;arsitek negeri?, atau arsitek swasta?&#8221;,<br />
saya bingung.<br />
&#8220;swasta&#8221;, saya jawab.<br />
&#8220;keperluan anda?&#8221;,<br />
&#8220;anu pak. atm saya hilang&#8221;.<br />
&#8220;kapan lalu, anda juga ke sini. atm hilang juga. sekarang hilang lagi?&#8221;.<br />
&#8220;anu pak. saya lupa taruh. ntah di mana&#8221;.<br />
wajah pak polisi ragu. dan ia berpaling muka kemudian memulai mengetik di komputernya yang kere.</p>
<p>pagi ini di kantor sanur;<br />
email datang bertubi tubi.<br />
ratusan jumlahnya.<br />
saya baca secuil.<br />
dan bersiap untuk mandi. habis bersepeda dari rumah menuju pos polisi. menuju bank BCA untuk meminthak atm baru. menuju warung makan untuk sarapan pagi.<br />
peluh meluluh-lantakkan tubuh.<br />
ruang kerja yang ramai. ramai oleh kertas. ramai oleh kerjaan. ramai oleh email. ramai oleh ide dan pesanan.</p>
<p>handuk.<br />
sabun baru.<br />
sikat gigi dengan secuil odol.<br />
shampoo.<br />
pakaian ganthik. tergeletak di meja. tepat di depan hidung. agar saya tak lupa membawanya ke ruang mandi.</p>
<p>air yang keluar dari shower membuat dahaga.<br />
sabun yang tinggal segores, dipaksa untuk mengeluarkan busa. saya lupa mengambil sabun yang sudah tepat berada di depan hidung tadi.<br />
otak saya sudah tak beres.<br />
saat badan basah oleh siraman air,<br />
handuk ternyata masih tergeletak di meja di ruang kerja.<br />
otak saya sudah tak mampu mengingat.<br />
pakaian bekas tadi pagi yang saya pakai untuk bersepeda, berfungsi dadakan sebagai handuk. bau peluh kini bercampur dengan bau sabun.<br />
saat akan keluar dari kamar mandi,<br />
saya baru ingat bahwa saya membawa shampoo dan tak meng-shampoo rambut saya yang kulit kepalanya sudah gatal.</p>
<p>mungkin memang benar, otak saya sudah tidak beres.</p>
<p>ada email baru datang saat kembali duduk di depan mac,<br />
tentang photo st. regis yang saya kirim semalam;<br />
&#8220;putu, you are such a teaser!. send them all!&#8221;.<br />
saya tersenyum. ikannya nyantol di pancingan.</p>
<p>selain memang benar otak saya sudah tak beres lagi, mungkin pekerjaan saya juga sudah tak beres lagi.<br />
mungkin memang benar begithuk adanya.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=985&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=985</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>s**pholic!</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=981</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=981#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 04:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=981</guid>
		<description><![CDATA[saya beli apa yang saya mau.
istri saya hanya tersenyum doang.
sambil bertanya, &#8220;dimana dapat duit?&#8221;.
saya sudah pindah ke rumah seng.
belum dapat listrik.
walau lampu bisa nyala karena pihak pengembang menarik listrik dari tetangga, setidaknya pagi hingga sore bisa liat berita di tipi.
dalam tipi; ada artis saling cakar cakaran. ada perempuan yang mundur. ada manusia yang tergelatak di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya beli apa yang saya mau.<br />
istri saya hanya tersenyum doang.<br />
sambil bertanya, &#8220;dimana dapat duit?&#8221;.</p>
<p>saya sudah pindah ke rumah seng.<br />
belum dapat listrik.<br />
walau lampu bisa nyala karena pihak pengembang menarik listrik dari tetangga, setidaknya pagi hingga sore bisa liat berita di tipi.<br />
dalam tipi; ada artis saling cakar cakaran. ada perempuan yang mundur. ada manusia yang tergelatak di jalan. ada banyak sandiwara.<br />
jam enam sore, listrik dicabut oleh tatangga, maklum tetangga ini punya business tukang las.<br />
ia kerja sampai malam.<br />
jam 10 malam, ia istirahat.<br />
dan listrik di rumah pun kembali nyala <img src='http://www.putumahendra.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .<br />
dan tipipun bersandiwara lagi.</p>
<p>saya bicara ke pengembang.<br />
kenapa bertele tele.<br />
dia menjawab, dengan bertele tele pula.<br />
jadinya, saya dan pengembang berada di dunia antah berantah.<br />
dunia tele menele.<br />
tetangga saya dalam satu perumahan, hanya diam saja walau hidup tak berlistrik pula.</p>
<p>saya pikir,<br />
rumah seng ber-ruang besar.<br />
saat diisi furnitur,<br />
ruang terlihat kecil.<br />
atau memang furniturnya kebesaran.<br />
atau,<br />
furniturnya kebanyakan.<br />
atau dua duanya benar.<br />
semuanya benar.<br />
jadinya,<br />
kalau jalan dalam rumah seng, musti mencari &#8220;celah&#8221;.</p>
<p>kalau saya ingat ingat lagi,<br />
rumah para kaum marginal yang saya lalui sebelum ke rumah seng,<br />
nampak dalam satu kamarnya akan penuh oleh segala barang.<br />
ada kasur yang tergeletak di lantai,<br />
lemari plastik pakaian.<br />
tape recorder, beserta speakernya segede lapangan bola basket.<br />
tivi.<br />
kulkas.<br />
kipas angin.<br />
bini.<br />
dan anaknya.</p>
<p>dan saya sendiri?,<br />
tak ada bedanya.<br />
cuman menang kelas doang.</p>
<p>saya berburu barang dari toko ke toko.<br />
di sekitaran bypass sanur hinga ke kuta.<br />
ada beberapa dapatnya di cambodia.<br />
ada yang dapatnya di india.<br />
ada beberapa yang hasil tangan sendiri.<br />
saking seringnya belanja,<br />
lupa akan tempat yang tersedia di rumah seng.<br />
dan yang paling penting;<br />
lupa ternyata kartu kredit ada batas limitnya!.<br />
dan yang penting dari yang terpenting adalah saya lupa bahwa saya musti bayar tagihan di nanthik bulan.</p>
<p>saya beli apa yang saya mau.<br />
istri saya hanya tersenyum doang.<br />
sambil bertanya, &#8220;dimana dapat duit?&#8221;.</p>
<p>saya hanya diam.<br />
tak bisa menjawabnya.<br />
kemaluan saya gatal.<br />
ingin menggaruknya.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=981&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=981</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>iklas saja</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=978</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=978#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 07:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=978</guid>
		<description><![CDATA[saya bekerja dengan wayan wijaya, seniman kaca lokal yang studionya di desa bona di gianyar.
sama dengan bagaimana saya bekerja dengan mas fulkin, tukang las yang berada sekitar tiga puluh meter dari studio sanur, begitu saya bekerja dengan masing masing supplier yang merealisasikan apa yang ada di benak. saya musti dekat, tak bisa dilepas hanya memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya bekerja dengan wayan wijaya, seniman kaca lokal yang studionya di desa bona di gianyar.</p>
<p>sama dengan bagaimana saya bekerja dengan mas fulkin, tukang las yang berada sekitar tiga puluh meter dari studio sanur, begitu saya bekerja dengan masing masing supplier yang merealisasikan apa yang ada di benak. saya musti dekat, tak bisa dilepas hanya memberi gambar.<br />
klien sudah membuat sampel untuk apa yang kita gambar, saat inspeksi beberapa waktu lalu, hasilnya tak begitu menohok.<br />
serasa saat kita melakukan sex, tak ada jilatan maka tak enak.<br />
gambar yang ada di kertas dari hasil plotter kita, tak fix. dia musti selalu membuka ruang untuk dipijit beberapa bagian agar lebih sempurna.<br />
pemijitan dilakukan saat dibuat sampelnya.<br />
dipijit atau dijilat, itulah bagaimana kita memadu madankan apa yang di kertas dengan apa jadinya ia nanti.<br />
desain musti dijilat, biar lidah merasakan apa kurang dari gambar yang kita buat.<br />
atau,<br />
disain musti dijilat agar sampel yang dibuat tanpa supervisi kita, kita bisa memberikan gambaran apa yang kurang dari sampel itu.<br />
kalau tak dijilat, tak enak.<br />
itulah sex.<br />
sextecture!.</p>
<p>jam empat pagi saat saya masih lelap, di dubai;<br />
mas andre, tukang las dari bengkelnya mas fulkin menilpun saya.<br />
&#8220;busyet, ada apa mas andre?, pagi gini..&#8221;, saya lupa saya tak memberi tahu dia bahwa saa ada di dubai.<br />
&#8220;anu mas, saya mau minthak gambar pagarnya. boss tak ada di bengkel. saya tak tahu di mana ditaruh gambarnya&#8221;, begitu dia menjelaskan. &#8220;ini kan sudah siang, jadi tak pikir mas putu sudah ada di sanur&#8221;, katanya lagi.<br />
sudah siang?. he..he..</p>
<p>hari apa yang digarap mas andre sudah kelar.<br />
saya ada di bai saat ia mengerjakan.<br />
ia meng-sms saya.<br />
&#8220;mas putu, sudah ada di mana sekarang?&#8221;.<br />
saya jawab, &#8220;di studio boss!&#8221;.<br />
dia balas, &#8220;bisa ke bengkel?, liat sampelnya. sudah jadi&#8221;.<br />
wweeeiiikkksss&#8230;., saya terkejut. tanpa supervisi?.<br />
saya bergegas berjalan.<br />
matahari masih bersahabat. hangat sinarnya.</p>
<p>mas fulkin dan mas andre sudah di bengkel.<br />
dia memegang sampel pagar itu.<br />
saya manikmati.<br />
ternyata mereka mengetahui apa yang ada di benak.<br />
maklumlah, kita sudah terlalu sering bekerja dengan tukang las ini.<br />
jadi, apa yang mereka sodorkan dengan sampel pagar ini, saya hanya berkomentar sedikit saja.<br />
secuil, tak banyak.<br />
saya puas dengan apa yang mereka kerjakan.</p>
<p>pagi itu setelah dari bengkel mas fulkin,<br />
wayan wijaya, seniman kaca lokal dari desa bona menilpun.<br />
&#8220;di mana ini boss?&#8221;, tanyanya.<br />
&#8220;di studio boss, nape?, saya jawab.<br />
&#8220;weh, kebetulan ini saya sudah ada di depan studio, saya masuk saja ya&#8221;, ia berkata lagi.<br />
kami bertemu dan berbicara di kebun.</p>
<p>ada satu job yang memerlukan bantuannya.<br />
memerlukan masukan dari pengalamannya.<br />
saya buta akan kaca.<br />
buta akan dunia itu.<br />
dan saya memerlukan bantuannya untuk merealisasikan apa yang ada di benak.</p>
<p>ada komentar dari klien tantang kaca yang akan kita pasang.<br />
banyak masukan dari klien yang membuat saya juga berpikir.<br />
setidaknya apa yang mereka bawa, masih diterima.<br />
hal ini seperti membuat kita musti bekerja dari nol lagi.<br />
meraba raba lagi.<br />
bereksprimen lagi.<br />
untuk bisa begini,<br />
hal yang paling membantu adalah bekerja dengan manusia yang tahu.<br />
yang tahu masalah kaca.<br />
wayan datang membantu.<br />
tanpa melihat ia akan mendapat pekerjaan atau tidak dari diskusi ini. ia iklas untuk nantinya tak dipilih untuk menyuplai kaca.</p>
<p>masalah sedikit tertanggulangi.</p>
<p>arsitek,<br />
semestinya musti bekerja dengan dekat bersama para seniman.<br />
termasuk tukang las yang tahu masalah besi,<br />
termasuk tukang kaca yang tahu karakter kaca.<br />
bengkel kerjanya seadanya.<br />
tak ber-ac,<br />
lantainya tak bereramik.<br />
dari sana segudang ilmu dan pengalaman menumpuk<br />
jangan malu untuk bertanya.<br />
karena arsitek adalah manusia juga.</p>
<p>sama seperti wayan wijaya,<br />
iklas saja.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=978&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=978</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>brrrooouuttt&#8230;!</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=976</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=976#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 13:48:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=976</guid>
		<description><![CDATA[dubai membuat saya berpikir banyak.
&#8220;tu, kamu nanam tanaman banyak banget. air yang kita sediakan tak cukup menyuplai untuk sekian tananam yang kamu tanam&#8221;. begitu issue yang saya terima di rapat di pagi itu di dubai.
saya mengernyitkan dahi.
ini pertama kali saya digugat karena mereka tak bisa menyiram tanaman karena jumlah tanaman yang banyak dengan air yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dubai membuat saya berpikir banyak.</p>
<p>&#8220;tu, kamu nanam tanaman banyak banget. air yang kita sediakan tak cukup menyuplai untuk sekian tananam yang kamu tanam&#8221;. begitu issue yang saya terima di rapat di pagi itu di dubai.<br />
saya mengernyitkan dahi.<br />
ini pertama kali saya digugat karena mereka tak bisa menyiram tanaman karena jumlah tanaman yang banyak dengan air yang terbatas.<br />
ada apa dengan dubai?</p>
<p>sebelumnya;<br />
&#8220;tu, karena ingin melakukan penghematan air dan mengontrolnya secara ketat, lebih baik water feature yang berupa air mancur ditiadakan. karena kami takut air itu menguap dan menghilang di udara&#8221;.<br />
katanya lagi pada sebuah meeting.<br />
saya mengernyitkan dahi.<br />
ini aturan main yang mau menggoda saya atau memang ini issue yang serius?.<br />
kenapa dengan tempat ini?.<br />
telunjuk saya mengutak utik lobang hidung.<br />
mereka menatap saya tanpa banyak tanya.<br />
tak terasa lobang pantat mengeluarkan kentut yang tak berbunyi.<br />
&#8220;ppppsssssssttttttt&#8230;&#8230;..&#8221;.<br />
lima detik kemudian.<br />
beberapa lobang hidung di depan mata tertutup tangan mereka masing masing.<br />
saya senang.</p>
<p>kalau mau hemat energi dan air,<br />
di sekitar hotel yang kita bangun, membentang sekian hektar lapangan golf yang memerlukan energi dan air yang tak berhingga.<br />
tapi kalau saya pikir, tetangga adalah tetangga.<br />
kebijakan kita tak bisa dipakai untuk mengukur kehebatan dan kekurangan tetangga di mana kita hidup.<br />
aturan main yang selalu baru di mana kita bermain dan bergembira, selayaknya tak membuat desain kita tambah kerdil.<br />
sebaliknya, musti bisa lolos untuk tetap bermain dan bergembira seperti sedia kala.</p>
<p>di lain waktu itu,<br />
&#8220;tu, ini tembok terlalu tinggi. kita ingin kebun yang luas dan lapang. see, dengan adanya tembok tinggi besar ini, membuat kebun yang memang sudah kecil jadi semakin kecil&#8221;.<br />
saya mengernyitkan dahi.<br />
saya pelajari dan memang ada kesalahan gambar pada kertas yang kita bawa itu.<br />
men-type ex di sana sini.<br />
mencoret di sudut kanan dan kiri.<br />
dan mempresentasikan kembali ke sidang meeting yang terhormat.<br />
ada saja saat di mana beberapa sudut dari desain kita akan menjadi titik komentar yang mungkin benar ada kesalahan di situ.</p>
<p>saya bertemu konsultan MEP siang itu.<br />
ia membawa segulung tebal gambar.<br />
gambar gambar dari kita yang ia telah tambahkan gambar MEPnya.<br />
kamu bersalaman. dan berpandangan. serta tersenyum.<br />
ia menjelaskan gambarnya. menjelaskan desainnya.<br />
saya mangut mangut. saya setujuh saja.<br />
saat ada pertanyaan secuil darinya, saya menjelaskan.<br />
karena tangan saya tak bisa diam saat menjelaskan konsep, tangan dengan reflek mengambil pena merah dan menggambar di kertasnya.<br />
&#8220;maap, putu, tolong jangan sentuh kertas saya. itu kertas konsep. tak bisa dicorat coret!&#8221;, matanya mendelik.<br />
saya terkesima.<br />
reflek tangan melempar pena merah ke sudut ruangan.<br />
banyak mata terkesima.<br />
manusia protektif.</p>
<p>saya mengerti.<br />
hari berganti, ditandai dengan banyak hal baru.<br />
nikmati saja.</p>
<p>perut saya kembung karena kebanyakan kopi starbucks.<br />
kali ini tak kuasa menahan kentut.<br />
&#8220;broouuuttttt&#8230;.!&#8221;.<br />
suaranya keras.<br />
untung sudah berada di kamar mandi hotel.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=976&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=976</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>di suatu hari</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=974</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=974#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 12:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[saya kembali berada di cambodia,
beberapa bulan lalu.
ada tanah yang hendak kita garap menjadi sebuah kompleks hotel.
seperti halnya kompleks hotel di kawasan BTDC nusa dua-bali.
di areal seluas 300 hektar, saya disuruh untuk menggarap beberapa hotel.
ritz carlton.
st. regis.
marriot.
hyatt.
sheraton.
plus hotel mini yang akan dihibahkan ke pemerintah cambodia beserta sekolah yang akan kita desain dan bangun untuk anak anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya kembali berada di cambodia,<br />
beberapa bulan lalu.</p>
<p>ada tanah yang hendak kita garap menjadi sebuah kompleks hotel.<br />
seperti halnya kompleks hotel di kawasan BTDC nusa dua-bali.<br />
di areal seluas 300 hektar, saya disuruh untuk menggarap beberapa hotel.<br />
ritz carlton.<br />
st. regis.<br />
marriot.<br />
hyatt.<br />
sheraton.<br />
plus hotel mini yang akan dihibahkan ke pemerintah cambodia beserta sekolah yang akan kita desain dan bangun untuk anak anak desa di sana.</p>
<p>saya antusias pergi.<br />
menyukai cambodia amat sangat.<br />
lebih baik saya keluyuran di negeri ini ketimbang disuruh jalan jalan di dubai.<br />
cambodia menyisakan banyak kenangan sejak saya pertama kali berada di situ beberapa tahun lalu.<br />
terutama tentang manusianya.<br />
terutama tentang angkornya.<br />
terutama tentang arsitekturnya yang berbudaya melekat.</p>
<p>di tanah 300an hektar itu,<br />
semua hotel yang akan digarap, tangan ini musti lengkap memberikan desain buildingnya.<br />
plus desain interiornya.<br />
plus lanskapnya.<br />
hingga grafis dan fashionnya.<br />
pekerjaan yang tak gampang.<br />
dan tak mudah.<br />
serta memerlukan banyak waktu mikir.</p>
<p>menjelajahi tanah yang 300an hektar itu,<br />
sungai sungai hutan mengalir.<br />
bebatuan cadas adalah dinding.<br />
pepohonan adalah rekanan hidup.<br />
sementara keserakahan manusia yang berusaha untuk bisa bertahan hidup dengan membakar hutan dan menebang pohon tua adalah signal bahwa akan selalu saja ada satu raksasa dasamuka dalam setiap kehidupan yang damai.</p>
<p>dalam bengong memikirkan beratnya masa depan untuk tanah 300an hektar itu,<br />
otak saya mengingat kalau kalau saya bisa singgah ke siem riep kembali.<br />
memotret angkor wat kembali.<br />
menikmati paginya dan terbenamnya matahari di sana.<br />
menikmati becaknya.<br />
memperhatikan bagaimana jalannya gajah yang gontai.<br />
walau ke sana dengan duit sendiri, pengalaman hidup di angkor wat adalah segalanya.<br />
&#8220;tu, anda bisa lanjutkan perjalanan ke siem riep, sekalian musti singgah ke luang prabang di laos. i pay!&#8221;, bill membalas email saya di suatu hari.<br />
saya terkesima.<br />
mata gelap.<br />
saya pingsan!.</p>
<p>ini mimpi?.</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=974&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=974</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>weeeeeiiiiiiiikkkksssssss&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://www.putumahendra.com/?p=972</link>
		<comments>http://www.putumahendra.com/?p=972#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 12:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ongky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsitektur Tulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.putumahendra.com/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[pagi ini,
jalanan dubai menuju abu dhabi tertutup pasir.
angin berhembus kencang di luar sana.
aspal dihiasi pasir putih gading.
udara kering berhembus.
mata saya semilir semilir hendak menutup.
tim, project manager proyek di abu dhabi menyetir.
saya tak bicara banyak.
dan tak bisa menahan kantuk.
semalam tidur jam 12, dan bangun jam 4 pagi.
kantuk berat menerpa.
pingin tidur, tapi kasihan si tim hidup sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi ini,<br />
jalanan dubai menuju abu dhabi tertutup pasir.<br />
angin berhembus kencang di luar sana.<br />
aspal dihiasi pasir putih gading.<br />
udara kering berhembus.</p>
<p>mata saya semilir semilir hendak menutup.<br />
tim, project manager proyek di abu dhabi menyetir.<br />
saya tak bicara banyak.<br />
dan tak bisa menahan kantuk.<br />
semalam tidur jam 12, dan bangun jam 4 pagi.<br />
kantuk berat menerpa.<br />
pingin tidur, tapi kasihan si tim hidup sendiri di jalanan sepi di tengah padang pasir.<br />
sesekali kami bercakap, setelah itu sepi lagi.<br />
saya tak banyak bicara dan tak bisa bicara banyak.<br />
pikiran kami menggelepar masing masing.</p>
<p>ada dua tempat yang akan dikunjungi.<br />
dua duanya nursery yang akan dipilih untuk menyuplai tanaman di proyek.<br />
lalu lalang kendaraan di sepanjang jalan ini nampak sepi.<br />
sabtu dan jumat adalah hari libur di dubai.<br />
minggu, mereka start kerja lagi.<br />
saya tak bisa membayangkan bagaimana pohon bisa ditanam di daerah tandus ini.<br />
apalagi ada perusahaan supplier tanaman di daerah setandus dubai.<br />
saya dengar, mereka mengexpornya dari jerman, thailand, malaysia.</p>
<p>untuk merubah tabiat tanaman tropis ke daerah kering begini, memerlukan ketelatenan yang luar biasa.<br />
dan sedikit uji coba yang sedemikian besarnya.<br />
saya penasaran.<br />
udara di luar berada di angka 41 derajat.<br />
kulit terasa ditusuk oleh sinar.<br />
mobil melaju kencang.<br />
angin membawa pasir.</p>
<p>kami berhenti di shangrila abu dhabi.<br />
berkenalan dengan kontraktor dan satu supplier tanaman.<br />
duduk di lobby hotel, kelihatan sekali interiornya ala middle east.<br />
saya memesan kopi late.<br />
mereka ngobrol.<br />
saya mendengarkan.</p>
<p>dalam setiap job,<br />
selalu bertemu manusia manusia baru.<br />
tabiat tabiat baru.<br />
dan pengalaman baru.<br />
mereka bercerita tentang mereka.<br />
saya mendengarkan saja.<br />
mereka bercerita tentang manusia lain.<br />
saya mendengarkan.<br />
pengalaman bertemu dengan pengalaman.<br />
cerita bertemu dengan cerita.<br />
seperti perjalanan uang di bursa efek, mengalir deras dari satu tangan ke tangan lainnya.<br />
dalam sekali pertemuan dalam satu meja empat kursi,<br />
pengalaman bertambah deras seiring waktu berjalan.</p>
<p>kopi late tarasa pahit tanpa saya beri gula.<br />
kopi mengalir pelan di kerongkongan. pahit melekat hingga ke otak.<br />
mereka semakin bersemangat berbicara.<br />
tentang mereka.<br />
tentang job yang kita garap.<br />
saya berbicara sedikit. tersenyum sedikit. dan menikmati lobby hotel.</p>
<p>kami bergerak.<br />
&#8220;tu, kopi anda tak anda habiskan?&#8221;, tanya manusia satu.<br />
saya menyeruput pelan. tak semanis kopi late starbucks.<br />
kami pergi.<br />
menuju nursery si supplier tanaman.</p>
<p>dalam nursery itu;<br />
nampak sekian tanaman.<br />
peopohonan.<br />
palm.<br />
perdu dan penutup tanah.<br />
saya terkesima.<br />
mereka hidup hijau bak kebun di studio sanur.<br />
tas plastik besar dan kecil sebagai media tanamnya.<br />
saya menyentuh batangnya.<br />
menyentuh daunnya.<br />
dalam hati, saya berucap, &#8220;kamu sehat baby?&#8221;.</p>
<p>antusias saya bertambah kencang.<br />
panas 41 derajat menusuk kulit.<br />
tak membuat rasa senang untuk berjalan di tiap jengkal kebun itu.<br />
supplier tanaman bertambah girang saat membaca raut muka saya.<br />
kami bercakap.<br />
tentang banyak hal.<br />
sesekali dengan bahasa latin tanaman yang tak dimengerti oleh tim dan kontraktor.<br />
manusia dubai punya talenta yang tajam untuk merubah nasib.<br />
tak mau bermuram durja pada padang pasir yang luas.<br />
saya berpikir, kalau mereka bisa merubah dunia, kenapa saya tak ?.</p>
<p>kami meninggalkan kebun itu.<br />
ada perasaan lapang mencuat.<br />
dubai ternyata bisa membuat perubahan tanaman tropis ke keadaan di mana ketandusan adalah juga punya kans untuk hijau.<br />
mobil bergerak ke supplier tanaman lainnya.<br />
aspal tertutup pasir.<br />
angin berhembus kering.</p>
<p>di supplier tanaman ke dua.<br />
hijaunya lebih gila dari supplier pertama.<br />
luasnya lebih gila ketimbang yang pertama.<br />
saya semakin bersemangat.<br />
sama seperti seorang lelaki yang sedang menggauli perempuannya, menuju puncak!.<br />
si suplier melihat wajah saya yang sumringah.<br />
kami bercakap.<br />
ia menjelaskan koleksinya.<br />
berapa banyak koleksi palm.<br />
berapa banyak koleksi pohon.<br />
menjelaskan segala hal tentang tabiat tanaman di daerah tandus.<br />
kami seperti berada dalam satu keluarga.<br />
padahal, saya tak tahu tanaman sama sekali.</p>
<p>dua tempat itu,<br />
menyisakan banyak harapan akan hijaunya job kita nanti.<br />
semegah apapun bangunan kita nantinya,<br />
ia akan tenggelam dalam kerindangan pepohonan.<br />
ia akan nampak kalem dalam pelukan perdu.<br />
seperti angin yang menerbangkan butir pasir yang berat.</p>
<p>kami berpisah.<br />
saya, tim, kontraktor itu dan para supplier.<br />
abu dhabi memberikan sebuah harapan.<br />
kerja yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.<br />
sesuatu yang baik, didapat dari pertemuan manusia manusia yang mengerti apa yang dikerjakannya dan dengan apa mereka musti mengerjakannya.</p>
<p>door boy hotel shangrila dubai, menyapa saya dan menyilahkan masuk.<br />
perut telah menangis sejak tadi.<br />
kerongkongan telah kering dihembus udara dingin ac mobil.<br />
kamar ada di lantai 37.<br />
saya memesan makanan siang; hainanese chicken rice dan orange juice.<br />
sambil menunggu makanan datang, facebook terbuka.<br />
ada banyak cerita tertulis di atas layar.<br />
satu teman saat kuliah dulu, mengirimkan video mesum dengan belahan paha menganga.<br />
kiriman seperti ini sudah saya terima bebeapa bulan lalu.<br />
saya delete saja.<br />
tapi kali ini lain.<br />
ini teman kuliah, mungkin ia mengirimkan sebuah pesan.<br />
saya klik.<br />
tak menghasilkan apa apa.<br />
beberapa detik kemudian,<br />
otomatis bin ajaib, account saya mengirim video mesum dengan gambar paha tersingkap itu ke beberapa rekan.<br />
tanpa saya suruh!.</p>
<p>weeeiiiiikkkkkssssss&#8230;..<br />
&#8220;aku ketahuan&#8230;..pacaran lagi&#8230;.!&#8221;</p>
<img src="http://www.putumahendra.com/?ak_action=api_record_view&id=972&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.putumahendra.com/?feed=rss2&amp;p=972</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
