putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

Archive for the ‘ Teori ’ Category

(tulisan ini disumbangkan oleh tjahja tribinuka-dosen di ars. ITS surabaya, januari 1 lalu. baru kali ini saya posting dikarenakan oleh kesibukan yang luar biasa di sanur. mohon maap sebesar besarnya buat mas tjahja)

Banyak filsuf menterjemahkan arti ‘ruang arsitektur’, semua bisa berbeda sudut pandang. Plato menterjemahkan ‘ruang arsitektur’sebagai lingkungan sekeliling yang terpengaruhi manusia. Aristoteles menterjemahkan ‘ruang arsitektur’sebagai lingkungan sekeliling yang mempengaruhi manusia, Lao Tze menterjemahkan ‘ruang arsitektur’sebagai jeda ‘ketiadaan’ antara ‘pembatas dan isi’ yang ‘ada’, Einsten menterjemahkan ‘ruang arsitektur’dengan pemahaman relatifitas yang terpengaruhi waktu, Sephen Hawkins dengan ‘string theory’ sepertinya menterjemahkan ‘ruang arsitektur’ sebagai dampak dari pembatasnya. Masyarakat Nusantara menterjemahkan ‘ruang arsitektur’ dengan kesaktian prana rasa yang tidak ingin terbatasi ‘enclosure’ apapun.

gmb-h01.jpg
Gambar 1. Beda ruang Plato, Aristoteles, Lao Tze, Einsten, Stephen Hawkins dan ruang Nusantara

secara ringkas ‘ruang arsitektur’adalah jarak yang tercipta antara seorang individu dengan obyek disekelilingnya. Dalam psikologi lingkungan, ‘ruang arsitektur’ dipahami dnegan konsep bahwa seseorang memilliki ‘bubble keintiman’, sebuah ruang personal yang membatasi privasi manusia dengan manusia tak dikenal lain. ‘bubble’ ini dapat menyatu jika dua orang cukup dekat, bahkan lebih dari dua dan tiga orang-pun dapat terjadi satu ‘bubble’ keintiman. Besarnya ‘bubble’ keintiman antara pri adan wanita berbeda-beda.

‘Bubble’ keintiman ini sifatnya juga berlapis-lapis. Lapisan pertama adalah untuk diri sendiri dan suami/istri, lapis kedua untuk saudara, lapis ketiga untuk teman, dan seterusnya. Pemahaman ’bubble’ membuat orang dapat sukses mendesain ’ruang arsitektur’. Bagaimana dengan ’ruang nusantara’ ?

gmb-h02.jpg
Gambar 2. Analisis tentang ‘bubble’ keintiman secara umum

gmb-h03.jpg
Gambar 4. hubungan ’bubble’ keintiman dengan keinginan kekuasaan manusia secara umum

Ruang nusantara dipahami sebagi sebuah tempat (place). Masyarakat nusantara tidak suka dibatasi enclosure masif yang turut serta membatasi pikiran. Seluruh suara, udara, warna dan nuansa dari alam adalah hal yang perlu dinikmati. Dinding kayu atau batu akan selalu diselesaikan dengan desain bagi penciptaan ‘place’, bukan ‘space’. Lorong candi borobudur saat sepi pengunjung akan tetap terasa ramai dengan kehadiran patung dan relief manusia, tumbuhan serta hewan. Dinding kosong selalu diukir pola sulur tumbuhan dan berbagai makhluk hidup lain. dinding papan atau bambu selalu menyisakan celah yang dapat menggambarkan cuaca di luar bangunan. Meresapkan sedikit iklim di luar agar terakrabi ke dalam kulit.

Sebuah ruang modern yang clear and clean, jika diisi sebuah patung bali akan menjadi ‘place’ budaya Bali, jika diisi patung Toraja akan menjadi ‘place’ budaya Toraja, jika diisi patung Julius Caesar akan menjadi ‘place’ Itali, jika diisi patung Pharaoh akan menjadi ‘place’ Mesir. Begitu pentingnya ‘place’ daripada ‘space’, apalagi kalau isinya bukan patung, tapi manusia. Para penari bali yang sedang bersolek mempersiapkan acara spiritual, akan lebih pasti menjadikan ‘space’ sebagai ‘place’ budaya Bali.

gmb-h04.jpg
Gambar 5. ruang modern yang menjelma menjadi berbagai ‘place’

Begitulah upaya masyarakat nusantara meleburkan ‘enclosure’ dengan ‘space’ kemudian meng-gubah-nya dengan ‘activity’ sehingga menghasilkan ‘place’. Sebuah fenomena yang hangat akrab mendukung daya hidup manusia, mendukung tingginya budaya. Hampir tidak ada sesuatupun elemen ‘ruang’, baik pembatas maupun isinya yang tidak memiliki makna ganda, triple sampai makna kuarter. Sampai dengan alat pertanian-pun tidak hanya fungsi efektifnya untuk mencangkul, tapi juga makna dari kata ’cangkul’ beserta makna tiap-tiap elemen dari gagang kayu sampai mata besi cangkulnya. Semua makna mengarahkan manusia agar mensukuri dan mengingat Sang Pencipta.

gmb-h05.jpg
Gambar 6. Ruang ’Kolonial Belanda !’ dengan enclosure ”budak nusantara !”

Sudah barang tentu pembentukan ruang dari refleksi denah tidak akan berlaku pada masyarakat nusantara. Memberlakukan arsitektur seperti benda dua dimensional tak berjiwa adalah kehinaan yang harus dihindari setiap kalang dan undagi. Lihatlah bangunan Minang yag bentuknya membesar ke atas, untuk menggambar denahnya harus dengan pemerkosaan kenyataan proyeksi dengan menganggap bangunan itu tegak lurus ke bawah. Tidak bisa, benar-benar tidak bisa bagi kita nusantara, jika yang dihadirkan itu adalah ’space’, harus sebuah ’place’.

gmb-h06.jpg
Gambar 7. Berbagai material ’enclosure’ ruang Nusantara, tidak ingin terbaca sebagai ’pembatas’, dengan pengukiran dan celah yang menginspirasikan nalar alam ’luar ruang’ melalui mata. Adakah cara modern untuk mencapainya ?… jawab : amat banyak cara…

Bukan taman indah yang hanya bisa dilihat mata, tapi taman yang bisa ditapaki, disentuh dan menghasilkan buah pula. Bahkan taman berupa hamparan sawah dan subak itu lebih bisa diterima bagi nusantara. Ruang luar yang hidup dengan setiap petaninya, hidup dengan segenap perubahan nuansa hijau dan kuning saat panen. Ruang luar inilah yang lebih ’laku dieksport’.

Popularity: 22% [?]

oleh tjahja tribinuka, dosen muda, institut teknologi sepuluh november, surabaya

Secara umum ada 3 falsafah proses merancang di Indonesia. Pertama adalah proses merancang Western yang diturunkan dari teori dan metoda hasil pemikiran cendekiawan Western. Teori ini masih disembah sujud dan digunakan oleh seluruh Perguruan tinggi di Indonesia. Kedua adalah proses merancang yang sedang berlangsung saat ini entah dari pemikiran siapa, yang jelas melibatkan bentuk, ruang dan struktur (karena masih belum jelas, saya sebut sebagai falsafah indonesiana). Ketiga adalah proses merancang arsitektur nusantara yang akan saya telanjangi dan setubuhi dalam karya tulis ini. Benar-benar akan saya telanjangi dan setubuhi ! [More]

Popularity: 4% [?]

oleh tjahja tribinuka, dosen muda, institut teknologi sepuluh november, surabaya

Sampai saat ini semua perguruan tinggi penyelenggara pendidikan arsitektur di Indonesia masih meggunakan falsafah Western. Penyusunan Kurikulum mengacu pada teori-teori dari pemikir Western dan memang kata arsitektur sendiri juga diturunkan dari bahasa Yunani. Demikian pula dengan buku acuan yang digunakan untuk mengulas teori dan metoda perancangan arsitektur bersumber dari pemikiran yang pemahaman arsitekturnya berbeda dengan pemahaman masyarakat negara kita. [More]

Popularity: 13% [?]

oleh : tjahja tribinuka, dosen muda, institut teknologi sepuluh november, surabaya

Beberapa arsitek indonesia banyak memperdebatkan masalah untuk mengangkat arsitektur lokal dengan berbagai topik seperti arsitektur vernakular, arsitektur tradisional, arsitektur nusantara, arsitektur Indonesia dan masih banyak topik lain. [More]

Popularity: 15% [?]

saya di sini lagi.
starbucks soekarno hatta. menunggu pesawat menuju rumah di bali.
semalam sampai hari ini, duduk di starbucks airport ini, sedikitnya ada 50 manusia baru yang ditemui. dari supir taxi sampai manusia penggede. [More]

Popularity: 4% [?]

ando vs putu

April 21, 2008 | No Comments | Teori

“in architecture, there is a part that is the result of logical reasoning and a part that is created through the senses. there is always a point where they clash. i dont think architecture can be created without that collision” (tadao ando-architect without any formals education)

“more that what you have read, for sure, architecture is almost a part of yourself. to be an architecture is closely to be yourself. having a sex for example, is one of the way to understand how the architecture is created” (putu mahendra-architect without any teories).

putu-bara api di semak pulau bali
forum AMI, 8 september 2006

Popularity: 4% [?]

_dsc1183.jpg

(makalah kuliah tamu untuk jurusan arsitektur universitas petra Surabaya)

Sebuah perjalanan memaknai arsitektur

A for Architecture!

Sejak kita berada dalam kandungan dimana kehidupan pertama dimulai, sampai ke masa di mana kita bisa merasakan kehidupan selanjutnya, tempat di mana kita melakukan segalanya dalam hidup, adalah di arsitektur.

Manusia dikenalkan ke dalam arsitektur sejak amat dini, disadari ataupun tidak, arsitektur telah tumbuh seiring kehidupan awal dimulai. Disadari ataupun tidak, arsitektur ternyata telah dekat di masing masing mahluk sejak amat dini.

Membicarakan ruang, salah satu komponen utama dalam arsitektur, telah kita alami sedari kita amat sangat kecil dan mengalami proses tumbuh kembang dalam ruang yang amat sangat sederhana. Hidup alam adalah hidup arsitektur. Arsitektur dikenal oleh siapa pun yang hidup di alam. Bahkan oleh seekor semut dan seorang abang becak sekalipun.

Alam ini telah terangkai oleh bagian satu dengan bagian yang lainnya, oleh titik satu dengan titik yang lainnya yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Mereka tak bisa berdiri sendiri dalam bekerja. Dan arsitektur bukan hanya apa yang ada di alam bhumi, bukan yang ada di planet lain. Arsitektur ini berada di alam yang begitu komplek ini.

Arsitektur musti dipandang secara menyeluruh dalam pengertiannya. Tidak sebagai sebuah pandangan ke apa yang di lihat sebagai bangunan. Tidak juga sebagai apa yang dirancang oleh seorang urban disainer, seorang interior desainer apalagi seorang arsitek lanskap. Tidak juga oleh seorang kuli!.

Arsitektur berada di semuanya.

Semuanya berada di arsitektur.

Arsitektur tidak hanya dilakukan oleh para disainer.
Arsitektur dilakukan secara sederhana oleh orang orang yang berada di luar profesi arsitek. Ataupupun juga, begitu kompleknya oleh orang orang yang berada di luar yang berprofesi sebagai arsitek.

Lantas siapa yang bisa disebut sebagai arsitek?

Anda?

Ando?

Gehry

Sir Norman Foster?

Djuhara yang orang AMI ?

Si Doel?

Atau

Bang Toyib?

……

Para penari diluar sana, gerakan gerakannya, tetabuhan yang mengiringinya, mengisyaratkan ia sedang melakukan arsitektur. Di sana ada batas, yang membentuk ruang. Di sana ada sebuah aktivitas yang dilakukan saat ia berada di “ruang tari”.

Suara, bau dan batas gerak serta elemen yang berada di sekeliling penari, ibarat titik garis, dan bidang yang membentuk sebuah ruang.

Seorang pematung, adalah seorang yang meng-carving ruang dalam sebuah material. Seorang pelukispun adalah seorang desainer ruang dalam tiap lukisannya.

Arsitektur hadir dalam setiap makna dan konteks.

Arsitektur musti dipandang dari segala arah dan hanya kita sebagai mahluk tertinggiNya kemudian memilah milah dan memberi garis batas yang tegas bahwa ini yang disebut sebagai arsitektur dan yang berada di luar adalah bukan disebut arsitektur.

Apakah pengertian arsitektur tiap orang itu (musti) sama? Atau, apakah musti ada makna arsitektur yang standard bagi tiap arsitek atau juga buat semua orang?. Apakah text dalam arsitektur musti selalu dipercaya sebagai sesuatu yang “fixed” ?, yang musti di dewa kan?.

Jadi,

Arsitektur itu katakanlah = bangunan?

Atau

Arsitektur itu = kota Singapore yang tertata rapi

Atau,

Arsitektur itu = Bandara Soekarno Hatta yang mendapat Aga Khan award?

Atau,

Arsitektur itu = kandang kuda?

Siapa yang berhak melabeli ini arsitektur dan itu bukan arsitektur?

Saya mengutip kuliah umum Soekarno tentang agama di Universitas Indonesia pada tahun 1955 sebagai berikut (saya menempatkan bagaimana publik melihat arsitektur pada saat bagaimana publik melihat agama) :
“Saya akan menceritakan kepada saudara saudara sekalian hikayat seekor gajah dan empat orang buta. Pada suatu hari Sri Baginda suatu negara menyuruh mendatangkan se ekor gajah beliau di halaman istana dan memerintahkan pada waktu yang sama mendatangkan pula empat orang buta. Setelah gajah dan empat orang buta tiba, maka Sri Baginda meminta supaya orang orang tuna netra itu masing masing menjawab pertanyaan : Apakah gajah itu?. Untuk menjawab pertanyaan itu, ke empat orang buta tadi diperkenankan secara bergilir mendekati gajah itu sambil meraba raba tubuhnya.

Ke empat orang buta tadi mesing masing memberikan jawaban yang berbeda, yang pertama mendifinisikan gajah sebagai penghalau lalat, besar dan panjang sekaligus agak lunak, karena ia memegang ekor gajah!.

Orang buta ke dua, menyebut gajah sebagai bambu yang amat besar tetapi kok lunak, karena ia memegang kaki gajah!

Orang buta ke tiga menjelaskan gajah sebagai daun besar yang tebal, karena ia memegang telinga gajah!

Orang buta ke empat menjelaskan gajah sebagai pipa karet yang besar karena ia meraba belalai gajah.”

Begitulah, saat kita identikkan bagaimana ke empat orang buta tadi memaknai “gajah” akan sama saat kita memaknai “arsitektur” itu apa?.

Semua jawaban di atas itu pada dasarnya benar, walau jawabannya berlainan.
Jangankan untuk memaknai arsitektur, kita memaknai sebuah “ruang” dalam arsitektur itu apa?, kejadian yang akan ada, mungkin akan masih sama seperti ke empat orang buta tadi men-define apa itu gajah. So what?.
Saat kita memasuki arsitektur, ntah kebun, ntah desa, kota atau rumah, ada sesuatu yang selalu terjadi di saat kita berada di dalamnya. Adanya sebuah aturan. Aturan harus bagaimana kita di dalamnya. Terlepas itu sudah menjadi sebuah kebiasaan hidup ataukah sebuah hal yang baru. Aturan aturan yang telah terbiasa kita jalani atau memang menjadi sesuatu yang baru kita alami.

Sama seperti kita berada dalam sebuah tubuh!.

Ada aturan di dalamnya untuk apa kita ada di dalam tubuh. Segalanya terangkai sebagai sebuah system.

“Chohatsu suru hako”, kata Tadao Ando saat men-define apa itu arsitektur. Kalau di jabarkan lebih lanjut, kata itu identik dengan “the box that provokes”. Ntah “provokes” yang dimaksud dalam artian yang baik atau mengarah ke hal yang buruk?. Tapi lepas dari “provokes” nya ando, arsitektur dibaca sebagai sesuatu yang punya andil besar dalam merubah kehidupan siapa yang memakainya.

Tubuh kota, akan berusaha membawa masyarakat pengisinya ke arah yang lebih baik. Tubuh rumah, tubuh anda, akan berusaha menjadikan tiap pengisinya ke arah yang lebih baik. Apakah musti yang baik baik saja?.

Arsitektur musti di lihat sebagai sesuatu yang tak absolute. Sesuatu yang bukan milik “yang baik” dan juga musti bukan milik “yang buruk”. Musti dipandang sebagai ketidak adaan suatu cara atau gaya yang terbaik, atau landasan yang terbaik atau akhirnya dapat dikatakan bahwa di dalam memandang arsitektur, semuanya mempunyai kesempatan yang sama dalam berkembang dan muncul. Yang musti selalu dikedepankan adalah usaha yang harus mengarah kepada keberagaman pandangan dan tata nilainya.

Selama ini “award” dalam arsitektur, hanya buat mereka yang “terbaik”. Arsitektur telah di artikan sebagai sesuatu yang “baik”. Karena pada yang “baik”, di sana lah yang memakai arsitektur akan ada dalam kehidupannya yang baik.

Betulkah?

Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir kita dalam menentukan dan memaknai arsitektur walau secara sederhana?.
Inilah pola pikir metapisika barat, yang selalu menempatkan garis tegas antara mana yang musti dipakai dan mana yang musti dibuang.
Ini yang saya sebut sebagai keadaan di mana kita berada di posisi yang “acute”!, beberapa waktu yang lalu dalam diskusi membahas arsitektur itu apa di forum milis AMI.

Atau mungkin saya yang berada di posisi itu!.
Arsitektur musti bisa di baca melalui 5 indera. Bukan hanya melalui pembacaan melalui mata. Arsitektur tak identik dengan produk sebuah bangunan. Di dalamnya selalu, dan akan selalu ada sebuah ide, gambar, proses, benturan, masa lalu dan kini sampai ke esokan, dan selalu akan ada sebuah usaha mempertanyakan “text” dalam arsitektur.

Di dalamnya selalu akan ada sebuah perubahan.

Seperti kita yang berada dalam sebuah “tubuh”!.

Pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah apakah mungkin hal yang positif saja timbul saat kita di-tubuh-kan? atau saat kita di arsitektur-kan?

“Everything is possible!”.

Ini sama artinya saat kita melihat balik dunia pendidikan arsitektur kita (di Indonesia!), ke positif-an barada selalu di “centre”.
Kebohongan publik pada pendidikan kita?

Melihat dunia pendidikan arsitektur kita, mari kita menangis melihat para tamatan arsitek dari semua penjuru kampus di Indonesia . Tak ada yang mendengar, apalagi mengusap air mata mereka.

Dan, siapa yang peduli?

Anda?,

Saya?,

Guru ?,

Dan siapa yang mengulurkan tangan dan meraup tangan tangan belia yang kini tenggelam oleh gelombang gelombang liar yang memangsanya di dunia luar?, menjadikan tamatan tamatan arsitektur meraup rupiah di profesi lain, dan membuatnya merasa beruntung untuk tidak dilahirkan ke dunia luar sebagai seorang arsitek? saat mereka telah terbuai oleh tumpukan rupiah dan kesibukan di profesinya kini.
Inilah kewajaran itu.

Sesuatu yang sudah dianggap amat sangat wajar. Sesuatu yang sudah dipikir “positive”. Bahkan wajar bagi institusi pencetak tamatan arsitektur. Karena yang mereka ingat hanyalah jumlah lulusannya, sudah berapa lulusan arsitektur yang mereka tamatkan. Dan tak pernah ingin tahu, sudah berapa lulusannya berprofesi sebagai arsitek!.

Wajar, karena belum ada yang mempersoalkan alih profesi yang terjadi di tamatan ini. Bahwa nantinya seorang yang tamat di jurusan arsitektur harus dan musti berprofesi sebagai arsitek (?), dengan bekerja di biro konsultan yang telah ada atau berpraktek sendiri.

Bahwa amat sangat wajar, karena hal ini juga terjadi di tamatan lain, selain arsitektur.

Bahwa ini wajar, karena juga terjadi di seluruh kampus di dunia ini!

Ya, karena dunia mengakui kewajaran ini!.

Jadi buat apa kemudian musti di perdebatkan?.

Mungkin telah lebih dari angka 100, jumlah kampus yang mempunyai jurusan arsitektur, di Indonesia. Kalau kita berbicara angka, terlihat memang menampakkan adanya suatu kemajuan. Tidak hanya adanya akademi arsitektur dan program S1, tetapi juga lihatlah kini telah ada diploma D3, magister (S2) sampai program doctoral (S3). Jumlah lulusannya juga telah dilihat sebagai angka ribuan! Menakjubkan!.

Semuanya hanya berbicara tentang kemajuan yang telah didapat melalui pembacaan angka. Kemajuan yang dibaca sebagai sesuatu yang “positive”.

Tidak ada sisi negativenya?.

Saat saya mulai kuliah, ada sekitar 90 an mahasiswa. Saya setidaknya, katakanlah punya sekitar 89-an teman. Cukup banyak memang. Tetapi saat kini telah 15 tahun berlalu, dari 89-an lebih rekan rekan saya, hanya sekitar 2-3 orang yang berprofesi sebagai arsitek!. Adakah yang menyebut ini di angka “kemajuan” tadi?, bila kita melihat prosentase “menjadi” nya tamatan arsitek tiap kampus. They were gone!.

Terlepas dari keinginan masing masing individu untuk bisa menjadi apa kelak, ketersediaan lapangan kerja di luar sana bukanlah menjadi hal utama yang memicu keganjilan ini. Ada faktor internal dan ekternal yang mungkin bisa diurut. Keduanya berdiri sendiri. Tetapi pada satu level duduk yang sama.

Perkuliahan adalah identik dengan pembelajaran tentang “ilmu arsitektur” bukan pembelajaran dalam “membuat arsitektur” (josep prijotomo, pada buku “Dari Lamin dan Bilik Pengakuan Dosa”, halaman 3-13, Berkaca Diri Demi Arsitektur Indonesia yang Mandiri).

Perkuliahan identik dengan pembelajaran text arsitektur; tentang teori dalam arsitektur. Bukan tentang bagaimana “text” itu di hadirkan, dan apa korelasinya dengan arsitektur yang berikutnya.

Tidak ada usaha untuk, “mempertanyakan” “text” dalam arsitektur.

Sebuah kefatalan dalam pembelajaran arsitektur.

Hal ini kemudian, salah satunya, merupakan sebab kenapa tamatan arsitektur menuai rupiah berlimpah dan berbahagia di profesi lain selain sebagai arsitek!.

Dilain pihak,
Perdebatan yang kini ada tentang keganjilan (apa boleh disebut ganjil?), selalu menempatkan posisi kampus sebagai pihak yang berada di posisi aman. Mengingat tujuan pendidikannya bukan untuk mencetak arsitek, melainkan baru sebatas mencetak sarjana arsitektur.

Sebuah kebohongan publik?.

Ini lah kewajaran yang sudah menjajah pendidikan kita!.

“still possible..in architecture!”

Sama saat sebuah konsep rancang tertinggalkan, terlupakan saat proses berlanjut dalam perancangan sebuah proyek.

Apakah konsep akan selalu musti dipertahankan dalam perancangan?.

Bagaimana arsitektur itu hadir?,

Kamasutra- bertektonika
Arsitektur hadir melalui persetubuhan!. Melalui seks. Seks dalam arsitektur.

Persetubuhan site dan ide. Site mewakili mereka yang berduit maupun mereka yang hanya mampu membayar dengan ucapan “terima kasih”. Site mewakili segala sesuatu yang tak bergerak, sesuatu yang passive. Sementara ide mewakili mereka yang punya kreativitas. Ide mewakili segalanya yang bergerak, yang aktif. Kreativitas!.
Persetubuhan 2 hal tersebut, pertemuannya selalu menghasilkan sebuah perubahan, sebuah kekuatan, sebuah tubuh tubuh baru. Langgam langgam baru. Pesetubuhan material dengan segala detailnya. Persetubuhan dalam arsitektur, tak hanya bisa dibaca sebagai persetubuhan dua hal tersebut di atas saja. Perlu juga dilirik bagaimana persetubuhan arsitektur yang akhirnya menempatkan si pemakai arsitektur dengan dirinya sendiri (dengan arsitektur itu sendiri). Kemudian patut juga dibahas bagaimana persetubuhan itu terjadi antara site dimana arsitektur berada dengan site lain, misalnya. Arsitektur, kemudian akan dibaca secara sebuah rangkaian yang begitu komplek.

Sesungguhnya ketika arsitektur ditubuhkan, ia memiliki hal yang positif dan negative. Bisa dirasa melalui 5 indera. Saat ia tak ditubuhkan, ia tak akan mempunyai dua hal itu.

Ia hanya berupa text.

Sama saat manusia ditubuhkan, ia punya kans untuk dilihat dan disentuh. Kita bisa menilainya baik dan buruk, ganteng atupun cantik atau buruk. Untuk bisa dirasa, arsitektur musti dilahirkan, melalui persetubuhan. Melalui seks.

Persetubuhan, dengan demikian kemudian menjadi sebuah alat bagaimana arsitektur itu dihadirkan.. Bagaimana tubuh tubuh lain hadir. Dan bagaimana selanjutnya tubuh tubuh itu melakukan seks dengan yang lainnya, sehingga sekian tubuh lain pun telah hadir lagi.

Disadari ataupun tidak, seks kemudian secara sederhana telah, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang disebut “mahluk”, tetapi kemudian seks juga ternyata dilakukan atau terjadi pada arsitektur. Dengan seks, arsitektur berkembang pesat. Dengan seks kemudian arsitektur bisa “terbaca”. Melalui seks, arsitektur mempunyai kritik. Tektonika dalam arsitektur, identik dengan kamasutranya Vatsyayana Mallanaga.

Busyet, masak iya?.

“Kamasutra”, bukan lagi sebuah produk yang hanya bisa dibaca oleh kaum 17-an. Menyebut kamasutra, orang orang akan selalu menghubungkan dengan serba serbi persetubuhan, eksotika teknik bersetubuh!. Dalam kamasutra, begitu amat ditekankan tentang detail persetubuhan, tata cara ciuman, bagaimana mustinya kuku kuku tangan mencengkram kulit lawan jenis, sampai kecepatan irama/gerakan (maap) penis ke (maap) vagina!.

Dalam kamasutra, 5 indera musti merasa!, begitupun dalam arsitektur.

Dalam tektonika arsitektur, bukan saja berbicara bagaimana kusen pintu musti bertemu dengan tembok, bagaimana kita mengelaborasi kaki meja bertemu dengan lantai, apalagi bagaimana balok beton bertemu dengan kolomnya.

Dalam arsitektur, dibahas bagaimana kita dipertemukan ke dalam arsitektur. Bagaimana arsitektur itu dipertemukan ke bhumi. Dan bagaimana arsitektur itu dipertemukan ke arsitektur lainnya.

Pada arsitektur, dipertontonkan bagaimana ruang bersetubuh dengan ruang dan menyetubuhi si pemakai ataupun sebaliknya.

Kesan, rasa dan segala yang timbul saat pertama kali bersetubuh dengan arsitektur, katakanlah saat kaki beradu dengan lantai di porte cochere sebuah rumah, saat itu kita menikmati kata seks dalam arsitektur. Bunyi langkah kaki, adu pandang dengan ruang berserta isinya yang mempertontonkan “seks seks” material pembentuknya.
5 indera terpuasi. Bukan hanya pada mata.

Dalam kata lain, tektonika dalam arsitektur, ataupun pada kamasutra, “kreativitas” amat sangat memegang peranan penting.
Creatifity?,
What is creatifity?

Creativity is not copying!

Saya selalu menyempatkan belajar pada arsitek arsitek yang telah membuat ruang di luar sana. Jarang saya membaca buku tentang arsitektur. Saya tidak percaya akan textbook!. “there is nothing outside the text” (Jacques Derrida).

Ini bukanlah sebuah ajakan untuk menjauhi buku. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengertikan segala sesuatu tentang apa yang ia geluti. Silahkan membaca buku sebanyak banyaknya, tetapi, jangan lupa untuk selalu menanyakan tentang apa yang telah tersirat di dalamnya.

Merasakan ruang secara langsung, membuat kita bisa mempertanyakan segala sesuatu yang ada dalam “textbook”. Tetapi, memang perlu dan kita musti tahu dulu segala sesuatu yang ada di textbook. Text book perlu tetapi kemudian untuk dipertanyakan.

Karena tanda, mencirikan “an absent present”. Manusia menggunakan tanda agar tidak perlu menghadirkan objek secara langsung, meski makna tanda harus ditangguhkan.

Kata kata yang diucapkan manusia segera hadir dalam kesadarannya, sementara tulisan cenderung merampas eksistensi manusia.
Itu sebabnya, merasakan ruang secara langsung, melebihi pengalaman dalam pembacaan “text”.
Belajar ruang secara langsung, membuat kita akan tahu interaksi kita dengan ruang yang terbentuk. Merasakan interaksi kita dengan material, dengan suasana, dengan tektonikanya. Menerjemahkan “text” pembentuk ruang secara langsung. Dengan cara seperti ini, distorsi dalam pembacaan text, bisa diminimalisasi.

Reaksi kita apa?,

Menemukan sebab akibat yang ada di dalamnya. Menemukan bagaimana sang desainer memecahkan masalahnya dalam konteks perancangannya dalam skala proyek tersebut. Mempelajari sifat material, mempelajari karakter ruang yang terbentuk melalui olah ruang dengan cara pe-mandat-an segala jenis material. Mempelajari bagaimana ruang tersebut memperlakukan kita saat berada di dalamnya. Mempelajari tubuh!.

Mempelajari creativitas!.

Ada dua hal yang secara global bisa ditangkap dari sekian tersebut di atas.
Penemuan hal hal yang bersifat buruk dalam sebuah desain si perancang dan penemuan segala sesuatu yang bagus, tentunya.

Terhadap yang pertama, saya selalu menekankan bagaimana caranya agar kita bisa membuatnya lebih baik. Belajar dari kesalahan orang, selalu akan membuat kita bisa mengantisipasi dan bergerak ke hal yang lebih baik. Bukan dengan membuangnya begitu saja, tetapi tetap memakainya sebagai bahan masakan yang mengharuskan kita menjadikannya hal yang bertambah baik untuk dinikmati. Hal ini penting, agar kita terbiasa mengolah sesuatu yang dicap jelek atau biasa saja dalam olah detail dan tidak hanya berpikir bahwa hal yang jelek tidak semestinya untuk dipakai dan diangkat sebagai thema utama.

Pola pikir seperti ini, tak akan bisa menjadikan kita untuk selalu membuat otak kita selalu dan selalu berpikir untuk menghadirkan hal yang bagus dari bahan yang sudah dianggap basi atau jelek.

Terhadap yang ke dua,
Saya selalu menekankan untuk menemukan apa yang baru, apa yang baik dari sebuah rancangan dari disainer lain. Apa yang musti di “highlight”?

Dari hal ini, saya bisa menemukan bagaimana pola pikir sang perancang dalam membebaskan diri dari kemonotonan!

“monotonity is the killer of creativity!”.

Usaha ini bukan untuk membuat kita berada di kondisi “rilex” karena masalah telah terpecahkan begitu saja melalui “someone else”, dan kita hanya kemudian meng-copy paste pada proses perancangan.

Inilah yang orang bilang sebagai plagiator!.

Hal yang bisa kita lakukan adalah, mempelajari “kebaikan” desain mereka.

Mempelajari “kenapa” nya mereka.

Dari sana kita kemudian berangkat untuk memasaknya lagi dengan cara yang lain dan menghadirkannya kembali menjadi sesuatu yang baru.

Tidak ada yang sama, karena kita menghadirkan dengan pola pikir yang berbeda dalam memandang permasalahan yang kemungkinan sama.

Terhadap hal yang jelek dan hal yang buruk dari tiap rancangan dari arsitek lain pada sebuah proyeknya, hal tersebut di atas akan selalu membuat kita meng-upgrade kreativitas kita masing masing. Tidak membiarkan kita hanya sekedar sebagai penonton yang berusaha membicarakan kehebatan perancang perancang lainnya ditiap diskusi arsitektur dan mengkopi paste ide ide mereka secara brutal.

Pembelajaran ruang yang bekerja pada proses ini tak akan menempatkan sang pembelajar pada proses kreativ yang sesungguhnya, tetapi ia akan ditempatkan pada keadaan masa lalu dari desain yang oleh desainer pertama telah ditinggalkanya.

Orang orang yang berlomba lomba merasakan ruang secara langsung, musti selalu berpikir untuk selalu bisa berada di keadaan masa depan walau hanya berangkat dari apa yang dia lihat dari ruang yang telah terbentuk dari seorang desainer, baik melalui material, komposisi, tektonika ataupun hal yang lainnya.

Karena dalam arsitektur, tak ada yang absolute, tidak ada satu cara atau gaya yang terbaik atau landasan hakiki di mana seluruh arsitektur harus berkembang. Gaya klasik, tradisional, modern dan yang lainnya mempunyai posisi dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Memakai apa yang telah dipakai secara utuh tanpa membuatnya berkembang adalah membuat kemonotonan hidup dalam kenikmatan. Dominasi pandangan dan nilai absolute dalam arsitektur harus segera diakhiri, perkembangan arsitektur mustinya bergerak mengarah ke keragaman pandangan dan tata nilai, bukan keseragaman apalagi kesamaan hal yang telah ada di masa lalu di kekinian.

Saya masih ingat, seorang arsitek Bangkok menceritakan tentang kuatnya pengaruh “pengalaman seks” dalam mendisain detail detail dalam arsitektur.

“Putu, apakah anda sudah melakukan seks?”, tanyanya di pelataran gedung Bursa Efek Jakarta, suatu hari.

Saya jawab, belum!.

“Anda musti melaukan seks dulu, untuk mendapatkan detail yang bagus”, begitu dia kemudian melanjutkan.

Saya menanggapinya dengan tertawa.

Apa betul?

Tanpa seks, bentukan tak akan pernah terjadi. Tanpa seks tak mungkin kita merasa melalui 5 indera bahwa arsitektur ternyata 4 dimensional (atau lebih?). Bentukan yang terjadi, baik oleh karena dua material yang sama ataupun dengan material yang berbeda. Tanpa seks, tiada arsitektur!.

Jadi apa betul, seks mempengaruhi rasa kita dalam berolah detail?, menghasilkan detail yang bagus?

Tubuh, sebenarnya didalamnya berisi sekian ilmu tentang tektonika. Kalau berbicara dalam arsitektur, begitu luas cakupan tentang bagaimana menghasilkan akhiran, pertemuan, penggabungan material, penyertaan unsur bunyi, bau dan rasa, bukan sekedar sebuah “cuci mata” dan pertemuan tembok dengan pintu yang menjadikannya pembatas ruang.

It is not that easy lah!.

S, M, L, XL
Posting saya ke forum AMI, 21 agustus, 2006 :
“saya biasanya ke jakarta, menuju karawaci.
ada satu teman yang ikut.
di terminal kedatangan, klien menjemput dengan mercedesnya.

karena bawaan buanyaknya minta ampun, terpaksa hanya boss besar yang naik mercedes dan dalam mercedes tadi ternyata klein menyiapkan satu kendaraan motor roda dua. teman memakainya sekaligus membonceng beberapa barang yang ndak muat di mersedes itu.
saya terpaksa berjalan kaki menuju karawaci!.
mersedes berlalu cepat begitupun teman yang memakai honda supra. mereka berkejaran.

busyet! saya ditinggal!

si boss nyampe di karawaci dalam 1.5jam
teman yang memakai honda supra dalam 2.5 jam
dan saya hampir sehari penuh dengan peluh membasahi tubuh!
sesampainya di karawaci, boss bertanya ke saya, kok lama banget?

“yah namanya jalan kaki boss”, saya jawab sekenanya.
saya bertanya ke boss, gimana rasanya ke karawaci mengendarai mercedes?
“busyet, dingin banget di dalam, jalanan macet!”, katanya
“boss lihat apa saja?” saya bertanya lagi,
“ya mobil macet doang ama gedung gedung!”,
saya bertanya kepada teman yang mengendarai honda supra, apa saja yang dilihat
“wah..betul tuh si boss, jalanan macet, mobil lalu lalang, malah ada jalan kereta api di atas, tumben loh lihat begituan, kan biasanya kereta api jalan di tanah!”, katanya.
mereka bertanya ke saya, kok lama, dan apa yang saya lihat.
“wah, ketemu si sonny di suter, ngobrol tentang arsitektur, trus jalan sebentar eh ada teman se kampus minta tolong digambarin rumah..ya udah saya gambarin dulu rumahnya. selesai itu, yang makan dulu di warteg, ada banyak supir angkot di situ, mereka bercerita tentang susahnya penumpang sekarang, tentang istrinya dan anaknya, tentang perselingkuhan. sampai eneg nih kuping. eh..tau ndak ternyata ada jalan tikus yang bisa membuat gerak kita semakin cepat, ndak ada macet ! dijamin. malah saya temukan masih ada sawah loh di jakarta, kamu bayangin deh! di jakarta ada sawah..hari gini..!tetapi yang paling menarik saat saya membantu melahirkan ibu ibu di kampung apa gitu…………dll dlsb”,

begitulah,
lama…murah, ada sekian hal yang ditangkap,
cepat…mahal dan cuman secuil yang ditangkap!
malah ada yang paling mahal, itu ibaratnya sudah menempuh S3!
saat kita dijemput di soekarno hatta dengan helikopter!
perjalanan dari bandara ke karawaci cuman 4 menit!

apa yang dilihat?
pemandangan alam yang ndak begitu detail, tetapi terlihat begitu indahnya….terasa sudah lengkap hidup ini terbang di atas sana melihat segalanya!
saat saya terbang dari pnomh penh ke siem riap (cambodia) di mana angkor wat berada,
saya dipinjemi buku oleh teman karib, “biar ndak bengong tu”, katanya.
judul buku itu adalah “IT IS NOT HOW BIG YOU ARE, IT IS HOW BIG YOU WANT TO BE”

salam,

putu-belum bisa tidur karena terbiasa dikeloni!”

Proses menjadi arsitek, tak sama seperti kita membeli burger di KFC!. Atau membeli camilan “Taro” snack kegemaran anak saya, what you see what you got.

Begitu halnya dalam membuat arsitektur yang sebenarnya. Segalanya penuh perjuangan. Bukan segampang studio 1 sampai studio 5 pada masa kuliahan. Bukan!.

Ada proses di dalamnya. Ada proses pencarian diri. Mau kemana saya?, ada proses pengujian “fisik-mental”; kenapa saya musti jadi drafter kamu?, apa kamu ndak tahu saya tamat di Harvard? Kenapa musti men-draf pekerjaan mu?.

Ada sekian “pengujian” untuk mereka yang baru tamat.
Dan, itu adalah alami. Menjadi arsitek adalah hanya buat mereka si pemenang. Pemenang segala ujian yang ada di jalan raya. Kesempatan telah ada di sana, segala rekan, segala proyek dari yang type small, medium, large sampai ke XL!
Dan saya telah membuktikan, bahwa menjadi arsitek tak seperti yang kebanyakan orang kira, dimana kekayaan akan materi bisa di dapat, atau bisa juga kita TIDAK temukan.

Relative!.

Ada banyak yang bisa kita raih, di semua profesi, selain menjadi arsitek, kaya, miskin, untung, rugi, sejalan bersama. Ditemukan bisa dimana mana.
Semua profesi berada pada kesempatan yang sama meraih sukses.
Arsitektur di profesinya sebagai arsitek, di dalamnya tertulis akan kaidah bagaimana kita memperlakukan alam.
Arsitek, turut serta dalam membuat “shape” alam ini. Menjadi arsitek, di dalamnya terjadi proses pembelajaran diri juga pembelajaran terhadap orang lain, demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Melalui arsitektur, arsitek menghantar kehidupan masyarakat banyak ke arah yang semakin baik.

Jangan bermimpi terlalu tinggi dulu buat mereka yang pemula untuk mendapatkan pekerjaan gede, klien gede dan segalanya serba gede, karena hidup menjadi arsitek, buat asitek pemula ibarat bayi yang baru mulai merangkak, bukan mereka yang sudah bisa berlari dengan kencang.

Saya yakin, mereka yang pemula, akan merambah dunia arsitekturnya dengan berkenalan dulu sesama keluarga. Mendapatkan klien dari keluarga, dari teman sesama masa kecil, dan akhirnya mendapat fee dengan ucapan terima kasih.

Jangan berkecil hati.

Dari kasus tersebut, jangan pernah kemudian menempatkan klien yang dituju adalah mereka para keluarga dan teman itu. Tapi tempatkan buruan yang kita akan cari adalah mereka yang berada di luar sana. Keluarga dan teman adalah jalan menuju mereka yang ada di luar sana.

Tentang nilai rupiah yang semestinya didapat buat mereka yang pemula menapaki dunia arsitektur, 50% for fun dan 50% for producing the works.
Hal ini dipakai agar para klien klien itu tak berujar, “wah, kalau cumin beginian doing mah saya juga bisa gambar!”
Yang musti selalu diingat buat mereka para pemula, adalah penempatan pendidikan arsitektur buat mereka yang awam terhadap arsitektur. Saya menekankan agar selain rupiah yang ingin digapai, selalu tempatkanlah bagaimana kita bisa mendidik klien klien tersebut untuk semakin mengerti terhadap pentingnya hidup kea rah yang lebih baik melalui arsitektur. Kalau kita sudah membicarakan arsitektur, yang ada di dalamnya adalah olah kreatifitas. Kita berbicara disain.

Kreatifitas dalam disain, dipercaya bisa membuat hidup menjadi lebih baik.

Mulailah dari hal hal yang paling kecil, termasuk bagaimana kita musti mendidik seorang tukang sampah sekalipun dalam mendisain rumahnya, kalau kalau anda sebagai arsitek pemula berhadapan dengan klien tukang sampah dan diberi fee ucapan “thank you!” saja.
Kalau saya bisa menemukan pengalaman pengalaman S, M, L, XL di dunia arsitektur, kenapa musti Rem Koolhass saja yang bisa menuliskannya pada bukunya yang tebal?.
Bagaimana dengan anda sekalian-mahasiswa arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya?.

Putu Mahendra, arsitek – www.bensley.com
Grand Hyatt Singapore, #0940November 24, 2006

Popularity: 6% [?]

membaca tubuh

April 21, 2008 | No Comments | Teori

saya berjalan menuju kolam renang,
ada 5 kolam renang di hotel ini, satu diantaranya berupa “lagoon”.
dari lift sampai ke lokasi 5 kolam renang itu, lalu lalang tubuh bule ataupun lokal china.
bikini!.

barefoot, berjalan tanpa alas kaki, celana pendek dan handuk terlipat di bahu, saya melihat keramaian tubuh yang ada.
sekian type bikini dan sekian type tubuh, dari yang berumur 5 tahun, sweet seventeen, sampai yang sudah di tahap older.
dari yang finishingnya hammered, honed, flame sampai ke yang polished!
saya mengamati bahannya,
ada yang berwarna merah, merah terbakar sampai ke putih langsat sampai kelihatan urat uratnya.
ada yang sintal, lembek sampai berotot. menggiurkan!
saya ingat tubuh di rumah!
finishing finishing itu, -hanya membicarakan finishing, kumpulan finishing yang serupa itu, telah membentuk ruang.

karena saya telah tahu tentang “tubuh”, sesuatu yang “hidden” di bikini, bisa saya baca,
sesuatu yang hidden di CD, saya bisa baca. walau terbungkus rapi.
kalau telah “merasakan”, amat sangat gampang untuk “membaca”
amat sangat gampang untuk men-determine, men-judge
amat sangat gampang untuk menafsir “text” yang ada di dalamnya.

bandingkan kalau hanya belajar dari video,
ini ibarat para mahasiswa yang belajar hanya dari sekolah, membaca semua buku, menerima apa yang di kata.
‘rasa ruang’ bisa dilihat, tapi tak bisa dirasa secara langsung.
melihat “tubuh” hanya melalui pilem, pelajaran yang dipetik memang ada, tapi tak akan setajam kalau kita merasakannya secara langsung.
efeknya berbeda.
merangkai finishing finishing itu, tanpa tahu efek yang akan timbul, tiada arti yang di dapat.
saya duduk di jaqquzi, nampak sekian tubuh berbikini datang bergabung, menyatu dalam tubuh kolam.
saya rasakan ada kesalahan desain pada dudukan dimana nozzle berada.
dari sini akan terjadi modifikasi agar bisa nyaman untuk desain berikutnya.
mengamati tingkah laku tubuh itu berada dalam tubuh air, berharap bisa memperbaiki kekurangan yang ada.
ada dalam suatu ruang, suatu tubuh, musti selalu membawa 2 senjata utama untuk menentukan ruang atau tubuh ini “elok” atau ndak yaitu ada dan tidak ada kah sesuatu yang bisa di copy? kalau ada yang bisa di copy, musti ada hal yang bisa kita perbaiki menjadi satu tubuh yang lebih baik. kalau ada sesuatu yang ndak kita bisa jadikan eferensi, bagian tubuh itu musti bisa kita perbaiki menjadi “seharusnya bagaimana”.
kalau kita hanya bisa meng-copy, itu sama halnya kalau kita bersetubuh hanya mementingkan agar kita saja yang orgasme, tubuh lain gue pikirin!.
dan jangan harap ajakan untuk membawa kertas dan pencil bisa menjadikan satu satunya alat untuk membaca. itu artinya membaca bikini bikini tadi hanya dari arah depan saja.

hotel ini dirancang oleh local designer institut dari beijing, interiornya wilson associate singapore. dan menjadikan dirinya menjadi hotel bintang 5 ke dua setelah hotel gloria sanya. kita menyelesaikan hotel ini tepat saat SARS bangkit untuk yang kali pertama!

saat berjalan bersama 2 rekan saya menuju ke mandara spa yang berada di lantai dasar, masuk ke dalamnya, bau aroma spa begitu kental. pintu yang guedenya minta ampun membuat dorongan tubuh menekan agak berat. seberat pijatan mereka saat menarikan jari tangan di sekujur tubuh.
2 therapist menyambut dan saya bilang saya ingin melihat.
anak anak mulai action memotret setiap sudut.
sang therapist meng komplain, agar jangan mengambil gambar di setiap jengkal areanya.
saya bertanya, nih spa siapa yang mendisain, sambil kita bareng bareng masuk ke salah satu kamar treatmentnya. anak anak pada takjub dengan apa yang dia lihat sambil tersenyum saat saya bertanya siapa designer interiornya.
“..hmmm, sir, saya lupa namanya, tapi dia orang amerika, sebentar sir, saya bertanya ke rekan saya di reception dulu” ia meninggalkan kita tergopoh gopoh. anak anak pada tersenyum dan melihat semua detail.
saat therapist tadi kembali, dia menyebut nama.
saya cuman mengangguk angguk dan anak anak pada kembali tersenyum puas.
“boleh saya photo”, saya kembali bertanya walau saya tahu dia akan berkata tidak.
dia kembali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. senyum lokal china.
saya mengeluarkan kartu nama, dan ia membacanya.
“..aduh, maap sir, saya tidak tahu, tapi memang aturan di spa ini tidak boleh ada yang memotret. tapi sekali lagi mohon maap karena saya tidak tahu anda. tapi kini, anda boleh memotretnya, silahkan”, dia agak malu.
anak anak tersenyum dan menjawab, “no problem lah”
anak anak mulai membaca tubuh spa mandara hotel ini, merasakan material kulit tubuhnya, menyentuh tiap kulitnya, menggerayangi sekujur “hidden” area, mereka menemukan dunianya!
sekali lagi, dua senjata itu saya pakai untuk membaca, walau desain ini datang dari dapur sendiri.
adakah sesuatu yang bisa di copy dan membuatnya menjadi hal baru? atau sesuatu yang ndak beres dan menjadikannya lebih baik?

“there is always something more powerfull to read te “box” with nuked and unite with it rather then we only doing those all thing without knowing what is it”

putu yang punya mahendra
sheraton sanya-hainan, china
21 agustus, 2006

Popularity: 4% [?]

(tulisan ini me reply posting zenin adrian dan miranti gumayana di milis forum AMI, agustus 30, 2006, setelah sebelumnya saya memposting judul yang sama ke milis tersebut)

saya bisa makan di warung made kuta, setelah saya mengalami sekian proses, sebuah perjuangan, salah satunya dengan bekerja dulu agar dapat rupiah baru bisa makan di warung tenar itu.
seorang pemulung yang selalu liwat di depan rumah saya, mengorek ngorek tong sampah mencari plastik bekas agar bisa mengais rupiah juga untuk bisa makan besok.
bagi kalangan yang mampu, mungkin hal itu ndak akan terjadi, prosesnya malah “dipersingkat”.
tetapi intinya adalah, kita bekerja dulu, agar bisa menikmati selanjutnya.
itulah hidup, yang menjadi hukum alam.
itulah ruang subjek, dimana kita diposisikan sebagai objek yang musti di”kerja”i untuk mendapatkan sesuatu hasil yang diinginkan.
kalau kita ibaratkan sedang melakukan persetubuhan, prosesnya ndak segampang membalikan tangan, ada sebuah proses (cium, belai, bisikan, menanggalkan baju satu persatu..dst, sampai ke orgasme!)
saya yakin, semuah mahkluk termasuk anda, pasti mengalaminya bukan?

selama ini,
yang terjadi dalam hasil desain adalah ruang telah tertata sedemikain rupa.
bagus!
dan kita masuk kedalamnya menikmatinya, berinteraksi, istilah kerennya, kita berinteraksi dengan ruang atau ruang berinteraksi dengan kita. kalau ndak ada interaksi ndak keren! atau kalau ndak nge-drug ndak gaul!
penikmatan ruang pun berhembus sampai kita bisa yakin bahwa ruang yang kita diami nyaman.
pada posisi seperti ini, kita berada di posisi “subjek” dan ruang itu berdada di predikat “objek”.

pernahkah menemukan sebuah ruang yang memaksa kita untuk melakukan sesuatu dulu sebelum bisa menikmatinya?
ibarat anda datang ke starbuck, memesan coffee late dan membayarnya di kasir tetapi kemudian anda disuruh membuat sendiri kopi yang anda pesan?
pernahkah menemukan sebuah ruang dining yang hanya berisi meja, dan satu kursi tetapi 3 kursi yang lain berada di tempat lain yang jaraknya ada yang 1m, 2m, dan yang ke 3 berada di meja lain dan anda datang ber-4, ruang yang berukuran 3×3 ini pun akhirnya memaksa anda untuk “bekerja” dulu mengumpulkan 3 meja yang terpencar tadi, agar anda bisa duduk bersama sama dengan rekan rekan anda?

pada perancangan sebuah ruang interior, fitness centre sebuah hotel di kawasan nusa dua bali, ada sebuah ruang yang disebut “changing room”.
di dalamnya ada ruang vanity, changing, toilet, shower, steam sauna.
di vanity, biasanya posisi faucet/keran air langsung ada di atas wash basinnya.
bagaimana halnya jikalau posisi wash basin berada sekian jengkal dari krannya?
para tamu musti berpikir dan bekerja dulu agar posisi kran dan wash basinnya berada tepat satu sama lainnya agar ia bisa mencuci tangannya.
selamat datang di ruang subjek!.
bahwa hidup musti bekerja, agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan!

salam,
putu di bali, sedang bekerja agar bisa menjadi arsitek yang lebih dan lebih baik.

Popularity: 8% [?]

(ini terjadi di 13 mei 2007)

kemarin malam,
seseorang datang ke komputer saya.
dan bertanya tentang konsultan A yang ada di bali.
kami bercakap.
dia ada di jepang, sedang belajar, dan saya ada di Goa india, sedang ber-arsitektur.
“maap pak putu, boleh saya tahu bagaimana pendapat bapak tentang konsultan A?”,
“konsultan A itu anak lanskap asli, ndak pernah buat BUILDING, ndak pernah buat INTERIOR”,
“wah, saya mau berarsitektur”,
“lha, sampeyan meng-artikan arsitektur itu apa an?”
“hum…”

ini sudah ke sekian kali, ada yang berujar seperti itu.
mungkin, ibarat sejarah, bahwa G30S PKI itu, ceritanya “musti” begitu!

saya melanjutkan,
“boleh saya tahu, yang disebut kue itu yang mana?”,
“apa nagasari?, apa burger? atau tart?”,
“kalau kamu mau “berkendara”, apa musti naik supra? atau jazz? atau mercedes?”
“lha, semuanya “berkendara”,
“semuanya “kue” toh?”,

saya menerangkan arsitektur ke mas yang di jepang agak simple dan mudah;
“kalau kamu bermain di tempat tidur, yang terpenting bukan “size!”,
saya melanjutkan,
“yang menjadi thema utama kemudian adalah “creativity” dan “cordination”,
“?”, dia bertanya, agak bingung sambil mengirimkan wajah baby yahoo tertawa.
saya melanjutkan,
“kantor kecil, kantor besar, kerjaan building, kerjaan kebun, atau interior, bukan kemudian menjadi yang utama dalam berarsitektur”,
“tetapi adalah keativitas kita. kemudian kordinasi teknik kita membuat detail”,
“pendetailan sebuah perkawinan/persetubuhan material atau apapun dalam detail, intinya cuman dua; mereka itu sejenis (homosex, lesbi, atau hubungan pendetailan tak sejenis (hetero SEX)”
” HA HA HA”, si mas di jepang tertawa lebar.

gitu aja kok repot!,

salam dari jauh,
ongki di goa india

Popularity: 8% [?]