
pagi ini saya berjalan ke toko bangunan,
pagi, sekitar jam 7.45.
belum cuci muka.
belum sisiran.
taek mata masih melekat erat, mungkin taek mata juga merasakan kantuk dan dingin, jadi mereka tak lepas bergelayut di pinggir kelopak.
rambut saya kayak sarang ular.
atau mungkin kayak medusa,
pirang panjang berantakan ke mana mana.
apalagi, di pagi hari saat baru bangun.
orang orang lihat saya di jalan, mungkin mereka pikir ada orang gila sedang cari makan.
tapi, terserahlah mereka kata dan pikir,
maksud saya baik di pagi itu, sekedar cari paku beton.
bukan ingin membuat kisruh atau ingin berperan sebagai orang gila.
tidaklah.
kemarin sore saya mengecheck kerjaan tukang di rumah saya.
ada tembok pagar yang materialnya; “out of order”!.
memang saya bebaskan tukang untuk memasangnya, “be creative baby!”, begitu saya berpesan.
tapi di sore kemarin, pasangan material agak aneh.
saya suruh dia membongkarnya atau melapisinya lagi.
“pakunya habis boss”, begitu tukang menimpali.
jadilah, hari ini di pagi hari, saya jalan ke toko bangunan.
tak mau mengendarai motor atau bersepeda,
enakEN jalan.
saya hanya ditemani satu benda; taek mata saya yang masih melekat di kelopak mata.
manusia manusia pada sibuk membuka toko,
mengisi hari dan meraih harap.
matahari masih di bawah.
mesin kendaraan berseliweran.
bau taek babi masuk ke lobang hidung, busyet!
demi rumah idaman, taek babi berasa bvlgari saat saya melintas di depannya.
saat kembali ke rumah yang sedang dikonstruksi,
saya menyerahkan paku beton itu.
dan saya beranjak meninggalkan tukang, menghampiri tembok pagar yang materialnya terpasang out of order.
jalan gang penuh sampah,
atau becek di sana sini, air got meluap.
perumahan di sekitar di mana saya membangun rumah, penuh dengan kehidupan becek.
saya berdiri di tengah jalan gang yang masih berupa tanah coklat, beberapa telah ditimbun dengan tanah kapur.
dalam kesendirian, saya memandangi facade barat rumah yang masih berupa onggokan.
sebuah sepeda motor dan supirnya melintas memandangi onggokan rumah saya, dan dia berhenti tepat di mana saya berada.
matanya menatap saya, bibirnya tersenyum.
saya balas dengan senyum.
“bapak punya rumah ini?”, akhirnya dia bertanya.
giginya merah, mungkin dia manusia pengisap sirih.
helm masih terpasang di kepala.
“iya pak”, saya jawab. mulut saya tertarik untuk tersenyum.
lalat hinggap di hidung saya. tangan mengibas.
“wah, klasik banget pak?”, begitu ia berkata.
klasik? hmmmmm…..
“saya pernah lihat rumah gini, tapi rumah itu memakai botol”, bapak itu berkata lagi.
“oh ya, bapak lihat di mana?”,
“saya lihat di tipi, kayaknya rumah itu memakai botol krating daeng”,
“oh itu, itu rumah ada di bandung. milik musuh bebuyutan saya!, dia arsitek dan saya tak akan mau berjumpa dengannya!”, saya jawab.
“oh…jadi bapak arsitek juga?”,
saya mengangguk.
“wah..pantes, rumah arsitek!”, bapak itu tersenyum.
kami kemudian bercakap.
bercakap tentang banyak hal.
termasuk tentang banjir di jalan gang di mana kami bercakap.
sampai akhirnya, bapak tadi berpamitan.
tinggal saya sendirian di tengah jalan gang itu.
menatap fasad barat rumah saya yang belum kelar kelar.
tukang datang membawa material.
memasangnya di atas lapisan material pertama.
“jangan miring bang, nanti kalau saya buat miring hidung kamu, mau?”, saya memberi arahan.
tukang tertawa.
kami tertawa.
matahari semakin naik memberi penerangan.
dan saya tak tahu, di mana Tuhan kini berada.
(karena saya ingin minta bantuanNya, agar rumah saya bisa kelar dengan cepat!).
kalau ada yang berjumpa denganNYA, mohon japri saya.
anda tahu di mana dia?.
Popularity: 10% [?]