putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

Archive for the ‘ Design ’ Category

di meja saya;

November 24, 2009 | 1 Comments | Design

di meja saya;

gambar tong sampah;

_DSC5690

_DSC5698

gambar artwork;

_DSC5696

OPTION#2

gambar rumah;

_DSC3127

_DSC3128

gambar villa untuk 6 stars hotel;

_DSC5763

master planning;

_DSC5764

baliBEER

koq

swimming pool area

_DSC5672

milih kain dan warna untuk interior;

_DSC5635

_DSC5636

ngomongin hard material;

DSC02688

Spec catalog

capek?, ndak juga. saya laki, suka wanita. semua hal di atas saya anggap wanita yang musti saya dandani dengan sedemikian rupa agar mereka tampil prima di situasi dan waktu tertentu, buat mata saya sendiri dan mata orang lain.

atau, semua hal di atas adalah segala hal yang ada di alam ini, yang musti tampil prima menurut mata saya sendiri agar di mana mereka berada mengakibatkan lingkungan kita semakin lebih bak.

Popularity: 10% [?]

i m bad man

November 24, 2009 | 3 Comments | Design

WATG, akhirnya kami tendang.

saya dan anak anak hanya memerlukan plus minus 24 jam untuk menggambar spa ini.
letaknya di vietnam.
sanur hanya kebagian untuk mendisain spanya.
bangkok kebagian yang lebih besar, hotel dan villanya.
bill memberikan order di hari jumat sore.
jumat malam, saya terima gambar kasarnya. sabtu musti kerja dan minggu subuh musti kelar dan dikirim.
di malam itu, saya berpikir. bisakah?

proyek ini, semestinya diarsitek-i oleh WATG, arsitek amrik.
saat terbang ke china beberapa waktu lalu bersama bill, ia menceritakan bahwa ia kurang sreg dengan gambar yang disodorkan oleh WATG untuk bangunannya.
dan ia menawarkan ke klien, “anda tak usah bayar saya untuk gambar buildingnya jika anda suka apa yang saya sodorkan nantinya, tapi terus terang, apa yang WATG sodorkan tak cocok dengan apa yang kita desain. tak cocok dengan culture vietnam”. begitu katanya.

jadi ingat dengan ini; beberapa bulan lalu, kami berada dalam satu job dengan WATG utnuk proyek di china.
mereka menggarap buildingnya, sanur mengarap kebunnya.
karena data wedding chapel yang mereka desain belum saya terima, maka terpaksa saya gambar wedding chapelnya agar site-section yang kita buat kelar dalam tampak.
dalam presentasi, klien menyukai wedding chapel yang kami sodorkan. ahhhhhh…….nasib!.

sabtu kemarin, anak anak mulai menggambar.
saya sodorkan “rong architecture”. dan, saya sodorkan arsitektur bambu.
kami masak dari pagi hingga pagi. vietnam adalah tamu tak diundang di week end kemarin. saya tahu anak anak telah letih dengan deadline yang bertubi tubi.
hingga di jam 4.30 pagi di hari minggu kemarin, saya tertidur di bangku panjang di ruang kerja saya.
dan terbangun, mendapati kantor sudah sepi.
kerjaan telah usai. gambar telah terkirim.

rong

hari ini,
bill menilpun.
“putu, we got it!, and we did kick WATG out!”.
saya tertawa.
kami tertawa.

“anda punya waktu dan ruang untuk memperbaiki bangunannya?”, bill bertanya.

“maksud anda?”, saya tak mengerti. “saya ingin anda handle semuanya. spa, hotel dan villanya. bangkok telah buat tapi hasilnya belum maksimal”, ia menjelaskan. saya jawab, “bolehlah….”.

sanur, type perancang yang buruk rupa; ndak senang dengan desain mereka, kita ganti dengan apa yang kita mau.

Popularity: 17% [?]

saya tilpun spot siang ini.
ia adalah arsitek di kantor seberang sana.
ada master plan untuk spa di vietnam yang saya terima hari ini.
sekilas, terbaca.

111

“halo spot, ini khun putu dari bali”, saya menenangkan suasana.
“yes khun putu, sawasdee khrab”, ia menjawab dari seberang.
“sawasdee khrab khun spot”, saya menjawab salamnya. “saya terima gambar anda untuk vietnam….”, saya melanjutkan.
kami berbicara.
tentang job ini. musti mengerti banyak hal.
tetapi setidaknya, kerajaan saya hanya di bagian spanya.
pertanyaan terakhir buat dia yang di seberang sana, “apa yang musti saya produksi untuk gambarnya?”,
dia jawab dengan enteng, “everything which is magic!”.
dia tertawa.
saya tertawa.

gilak!.

Popularity: 6% [?]

overbuilt

October 24, 2009 | No Comments | Design

hari itu,
mereka datang lagi.
katanya, “kata teman saya saat melihat gambar ini, kok kayaknya lebih bagus kalau villanya ditaruh di ujung tebing?”.
katanya lagi, “kata tamu tamu yang saya temui di hotel kami, kok mereka lebih prefer untuk ditempatkan di dekat sungai?”.
katanya lagi, “kayaknya kamarnya musti jadi tambah di sini, di sana juga. kok mash ada space ya?”.

beberapa bulan sebelum pertemuan di hari itu, kami jiuga bertemu di sebuah tempat. di pertemuan sebelum pertemuain di hari itu, mereka mengangguk bertanda mereka yakin dengan tak menempatkan villa di ujung tebing atau di sisi sungai. kelihatannya mengerti.

tapi di hari itu, mereka berubah pikiran lagi. karena ada teman berargumen lain.
perubahan pikiran ini, sudah berkali kali.
satu kali, sadar dan yakin dengan pemikiran kami. di lain hari kemudian, kembali berubah. bertemu lagi, diyakinkan lagi, dan yakin super yakin. tapi, semenit kemudian, berubah lagi.

saya gambar saja apa mau mereka.
tambah ini.
tambah itu.
geser sini.
geser sana.
lambat laun, setelah anak anak merubah gambarnya, dan dikirim ke email saya; site nampak overbuilt!.

saya bilang ke boss, “kalau begitu diperlukan, maka printlah dan sodorkan. tetapi, menurut pemikiran saya, gambar ini belum layak dishow!”.
boss menjawab dari seberang, “stop gambar”.
saya tanya, “kenapa kok distop?, masalah utamanya apa?”. saya memancing pendapatnya.
lama saya berpikir di saat menanti jawabannya. saya tulis email lagi ke boss, “otak saya berpikir, gambar yang kita buat itu sudah memperlihatkan gejala overbuilt!. site “menghilang” karena masalah penambahan dan penambahan”.
sesaat kemudian, ia menjawab, “the density and the destruction to the site!”.

wajar wajarlah. jangan terlalu over.

Popularity: 6% [?]

nothing is new

October 7, 2009 | No Comments | Design

_DSC5571

kamis siang itu, 24 september 2009. taxi melaju ke jalan bukit tunggal, singapore.
saya berbicara tentang opposite hotel di beijing.
super polos. glass wall. modern.
interior kayu. saat malam, hanya ada “stripe light” mengarahkan mata ke ruang. sisanya; gelap.
bed room; serba kayu, tembok kaca memisahkan bed dengan bath.
simple, tiada darah merah.
tapi, saya bilang; bagus!.

bill mengambil laptopnya.
menunjukkan sebuah desa, sekitar 4 jam dengan mobil dari shanghai, berumur 800 tahunan. desa di mana pilem hidden dragon crounching tiger dibuat.
ia meng-slide show potonya.
menjelaskan detail kayu yang telah berumur ratusan tahun itu.
menjelaskan detail simplenya.
“apa yang kamu lihat di opposite hotel, telah ada sejak dulu”, bill menjelaskan.
saya tersenyum.
“nothing is new”, begitu ia melanjutkan lagi.

kemarin sore pas maghrib,
saya bertemu dengan pak sanusi, pemulung khusus botol.
“cari apa mas?”, pak sanusi menghampiri saya, sesaat setelah ia selesai sholat.
“saya cari botol pak, botol bir bintang”,
pak sanusi bercerita tentang botol. tentang harga botol.
“kenapa ndak pakai botol kecap saja mas?, kan lebih murah”, pak sanusi bertanya.
“memang apa bedanya dengan botol bir, kenapa lebih mahal botol bir?”, saya balik bertanya.
“di mana mana, kecap harganya lebih murah dari bir. itu mangkanya, walaupun botolnya sama dengan botol bir, tetapi karena ia bekas bir, harganya mengikuti asalnya”, pak sanusi tertawa.
ia menggiring saya ke gudangnya. sekian karung berisi botol menumpuk.
“buat apa sih mas?”, pak sanusi bertanya lagi.
“buat tembok pak”,
alis pak sanusi terangkat, seperti ombak.
“anu pak, saya sedang buat rumah. ada arsitek terkenal yang sudah buat rumah dari botol. saya fans beratnya si arsitek ini. apapun yang ia buat, akan saya buat juga buat diri saya sendiri. apapun yang ia katakan, adalah agama saya”, mata saya berbinar, menatap langit. mulut masih menganga, tangan mengepal seakan menonjok langit. semangat!.
pak sanusi tersenyum, “saya salut dengan arsitek itu, menginspirasi ya mas!”.

sekitar tujuh tahun lalu,
sesaat setelah mempresentasikan kerjaan di colombo, srilanka, taxi berlalu ke sebuah tempat.
memakan hampir setengah hari berlari menuju bentota.
kami ingin menikmati arsitektur bawa.
hingga pada suatu tempat di mana rumah bevis bawa; the brief, kami berhenti.
bill menjelaskan banyak hal. hingga ke donald friends, pelukis yang banyak menghiasi tembok rumah itu.
di suatu sudut, “putu, lihat tembok botol itu”, telunjuk bill mengarah.
saya terkesima.
hanya berupa botol yang dilem dengan adukan, terjejal hingga setinggi 3 meter, melatarbelakangi sebuah outdoor shower.
saya tersenyum. kesederhanaan material menjadi ketaksederhanaan detail.

botol, dari sesaat setelah saya di the brief, hingga kini di jaman super potato, banyak menghiasi elemen arsitektur.
“kalau sekedar ditumpuk tumpuk, kagak ada seninya. coba di ujung botol dikasih pedang pedangan seperti pagar besi itu, itu baru seni!”, pak sanusi menjelaskan.
“kamu mau buat apa itu ribuan botol yang sudah ada?”, bill bertanya saat taxi melintas di jalan bukit tunggal singapore.
“ntahlah pak bill. yang jelas ndak sekedar tumpuk. saya juga tak tahu. belum ada ideh!”.

Popularity: 6% [?]

order

October 6, 2009 | 2 Comments | Design

seperti biasa,
hari ini, saya baca brief.
terkadang memusingkan.
terkadang melihaikan.
dari semua ini, saya berangkat menggambar.
arsitektur, mempertemukan segalanya.
ibarat iklan kartu BCA, mempertemukan segala profesi!

order ini, membuat saya ke sana ke mari.
mencari segala hal yang saya tak ketahui, bertemu hal hal yang tak pernah saya jumpai.
membuat saya rajin bertanya, kemudian rajin melongo lagi.
pelan pelan, mengumpulkan maknanya mengarahkannya.
mengingatkan saya akan proses persetubuhan;
nikmati alurnya, jangan buru buru.

kalo dirasa pusing, saya berhenti baca, dan browsing ke  www.penthouse.com.

Putu
Hi
more ideas for our restaurant
i would like to put the fine dining in the back portion of the site and keep the beer bar at the street as we talked about … an old dutch warehouse gudang, with the ends chopped off and encased modernly in glass.
I am thinking to do a series of stations, like Mezzanine, cooking various cuisines, but served anywhere on the property. … perhaps by waiters on roller skates?
there are lots of ideas here
pls take a first stab at the planning
have fun
You need stations for;
Thai?
Chinese?
Indian/Lebonese?
Japanese?
and Italian cuisine’s?
a raw bar?
and that all of these cuisine’s should have fresh ingredients available like a grocery store adorning the station.
a retail food boutique for sale of the restaurants unique products?
private party rooms?
We can provide the interior design, uniforms, mies en place, graphics, art program, and menus. 
some of my brainstorming thoughts for the restaurant..
I want to bring GOOSEBUMPS to all those that visit

I need to work with you/your chef on the food concepts in depth…in detail
the main space appears as a fresh grocerant that has taken up residency in the warehouse of the VandA museum.
floors, steel, stone and wood; recycled and plastic
walls, textured, background to the food, neutral in colour, raw pine wood, recycled wood and metal. Nanjing grey textured brick.. an ancient document library behind modern butt jointed glass.  a chinese apothecary spice wall with hundreds of drawers openable and usable… spice market ….antique wooden walls recycled.. window shutters, need to visit the junk yards.
columns; steel and wood clad
ceilings; woven bamboo, rusty box steel and raw wood with leather joinery as a ceiling…allows max flexibility with m+e.
furniture; chairs are varied, easy to maintain, unique, Quaker, Naguchi, wood, leather, club chair, some 50s wing upholstered.
Use 200 year old chinese beds from Nanjing with ultra modern zen like backgrounds….some swings for informal meals in bed, some japanese sunken style seats,
Tables, metal and wood very thick when of any length over a four top.. some higher level tables.  use fruit / fresh produce as table decorations as opposed to flowers.

~
A very modern feeling /detailing in a warehouse… Quirky is the key word..
..cooking equipment is state of the art and very modern.
the space should always look busy, never see all of it one time.. a series of “rooms” that get filled as you need them…. no one likes an empty restaurant.  should have a line of people waiting to get in.. bar in the entrance?
Entrance… very comfortable lounge chairs… this is a mall and we need a draw
signage on stretched sailcloth
~
artwork;
oils with animal human reversal themes..light hearted, funny, amusing, thought provoking, conversation pieces…
some on easels
machinery prints
ship parts
copper sugar drums for food stuffs
glass domes filled with flying butterflies
moose head, antlers, stuffed pheasants under glass.
tigers upside down
floating antique nanjing boat filled with food products
brancussi tall wooden modern sculpture
blue moons in the ceilings
painted swingers in the ceiling above the hanging dining beds
collections of glass, sewer covers, tools of the world, second hand metals by John Underwood. old chandeliers
polished mirrored metal and crystal balls
~
If the toilets are part of this space you are leasing..
at this size i would expect they are
then the toilets need to be an incredible experience too
the guest has to come back to the table raving about the toilets
sounds silly but true
Junkyard toilets with their own vibe
chill out sofa leather vintage
music videos in the vanity mirrors
Is there a place to punch through to the out doors?
Place to smoke? in the bar? cigar room? need to cater for all tastes
natural materials like wicker, coconut (solid octagonal logs)
old sandworn glass bottle collection (hundreds)
peformers use swings above a shallow pool full of furniture
glass box for balinese dancers (and or guests that like to be seen) dancing to their own music but can be heard thru earphones at a table
a conservatory look of glass and steel for the fine dining
with a white distressed beach look
use ship parts as sculture…should have a great permanent collection of paintings and sculptures
flowers (Heliconia) is a big part of the look
and Jari Menari too, massage ordered from bed to bed
dinner on bed
balinese angel dancers/acrobats/ surfer boys (read theo meier paintings) fly through AC glass box to retrieve wine
The beer machine is much larger that what we need, add a giant Balinese mouse trap that is in continuous motion, moves penjor penjor like the rice field, oil lamp bubbles, becak moves through the space.
uniforms like the chinese army uniform of nanjing, thin cotton pants, bamboo underwear.
construction lift to the sky bar
everything black and white
poleng, dogs tooth, stripes, polka dots, batik patterns
balinese gates
nanjing dogs
performance glass
an arts lounge for changing exhibits, (better than tony Raka, or inconjuction with tony rakka)  big walls, theatrical lighting
a variety of rooms;
beer hall
wine cellar
fine dining for 120 pax, this should be in the back to pull guests through the entire space.
billiards, pool and trophy room, sports trophys, antlers, stuffed fish, birds, bones, shells, wall of drawers, all sorts of drawers, medicine cabinets, ++ lit entirely by oil lamps, funkier than mades warung, books. recyled wood floors
a chinoiserie
an indondersian terra cotta room like john sloanes house in london, old terra cotta tile floors, and walls, TC exposed roof, stacked tiles as walls, suspended in front are TC sculpture + big pots + small pots + antiques++ TC table tops, plates, Like an old house mansion with two sides of the house sliced off, glazed, to show jungle on the outside.
a trampoline
a batting cage
one way mirror toilets
toilet stalls all have private gardens
urinals to face each other
hide the toilet doors
gardens associated with every room….coconut grove theme, some sandy beaches, sunning spots, hammocks,
interactive lighting
Balinese palace architecture… is there any such animal? the wantilan connected to a series of pavilions of all sorts of functions,  the long pavilion where they make the kain ikat, the lumbung. the girls room, dapur, the bale begong,
OR Bandung Deco colonial mansion?  minang kabau?
or a hybrid wood wall house wood structure, alang alang, glass walls a the exposed ends?
4×4″ wood end cut floors
tv videos in the mirrors in the bathrooms
fibre glass black and white OGA OGA holding the giant umbrella that pk agus saw at mecca


Popularity: 13% [?]

dimana

pagi ini saya berjalan ke toko bangunan,
pagi, sekitar jam 7.45.
belum cuci muka.
belum sisiran.
taek mata masih melekat erat, mungkin taek mata juga merasakan kantuk dan dingin, jadi mereka tak lepas bergelayut di pinggir kelopak.
rambut saya kayak sarang ular.
atau mungkin kayak medusa,
pirang panjang berantakan ke mana mana.
apalagi, di pagi hari saat baru bangun.
orang orang lihat saya di jalan, mungkin mereka pikir ada orang gila sedang cari makan.
tapi, terserahlah mereka kata dan pikir,
maksud saya baik di pagi itu, sekedar cari paku beton.
bukan ingin membuat kisruh atau ingin berperan sebagai orang gila.
tidaklah.

kemarin sore saya mengecheck kerjaan tukang di rumah saya.
ada tembok pagar yang materialnya; “out of order”!.
memang saya bebaskan tukang untuk memasangnya, “be creative baby!”, begitu saya berpesan.
tapi di sore kemarin, pasangan material agak aneh.
saya suruh dia membongkarnya atau melapisinya lagi.
“pakunya habis boss”, begitu tukang menimpali.
jadilah, hari ini di pagi hari, saya jalan ke toko bangunan.
tak mau mengendarai motor atau bersepeda,
enakEN jalan.
saya hanya ditemani satu benda; taek mata saya yang masih melekat di kelopak mata.

manusia manusia pada sibuk membuka toko,
mengisi hari dan meraih harap.
matahari masih di bawah.
mesin kendaraan berseliweran.
bau taek babi masuk ke lobang hidung, busyet!
demi rumah idaman, taek babi berasa bvlgari saat saya melintas di depannya.

saat kembali ke rumah yang sedang dikonstruksi,
saya menyerahkan paku beton itu.
dan saya beranjak meninggalkan tukang, menghampiri tembok pagar yang materialnya terpasang out of order.
jalan gang penuh sampah,
atau becek di sana sini, air got meluap.
perumahan di sekitar di mana saya membangun rumah, penuh dengan kehidupan becek.
saya berdiri di tengah jalan gang yang masih berupa tanah coklat, beberapa telah ditimbun dengan tanah kapur.
dalam kesendirian, saya memandangi facade barat rumah yang masih berupa onggokan.
sebuah sepeda motor dan supirnya melintas memandangi onggokan rumah saya, dan dia berhenti tepat di mana saya berada.
matanya menatap saya, bibirnya tersenyum.
saya balas dengan senyum.
“bapak punya rumah ini?”, akhirnya dia bertanya.
giginya merah, mungkin dia manusia pengisap sirih.
helm masih terpasang di kepala.
“iya pak”, saya jawab. mulut saya tertarik untuk tersenyum.
lalat hinggap di hidung saya. tangan mengibas.
“wah, klasik banget pak?”, begitu ia berkata.
klasik? hmmmmm…..
“saya pernah lihat rumah gini, tapi rumah itu memakai botol”, bapak itu berkata lagi.
“oh ya, bapak lihat di mana?”,
“saya lihat di tipi, kayaknya rumah itu memakai botol krating daeng”,
“oh itu, itu rumah ada di bandung. milik musuh bebuyutan saya!, dia arsitek dan saya tak akan mau berjumpa dengannya!”, saya jawab.
“oh…jadi bapak arsitek juga?”,
saya mengangguk.
“wah..pantes, rumah arsitek!”, bapak itu tersenyum.
kami kemudian bercakap.
bercakap tentang banyak hal.
termasuk tentang banjir di jalan gang di mana kami bercakap.
sampai akhirnya, bapak tadi berpamitan.
tinggal saya sendirian di tengah jalan gang itu.
menatap fasad barat rumah saya yang belum kelar kelar.

tukang datang membawa material.
memasangnya di atas lapisan material pertama.
“jangan miring bang, nanti kalau saya buat miring hidung kamu, mau?”, saya memberi arahan.
tukang tertawa.
kami tertawa.
matahari semakin naik memberi penerangan.

dan saya tak tahu, di mana Tuhan kini berada.
(karena saya ingin minta bantuanNya, agar rumah saya bisa kelar dengan cepat!).
kalau ada yang berjumpa denganNYA, mohon japri saya.

anda tahu di mana dia?.

Popularity: 10% [?]

H.W.

May 4, 2009 | 1 Comments | Design

 rimg0165.JPG

ada khabar dari seberang.
katanya, ada jenis material yang bisa menggantikan kayu.
tempat seberang sedang mendisain rumah raja malaysia yang kini berkuasa.
tempat seberang, menggarap kebun.
tempat seberang menggarap buildingnya,
hingga ke interiornya.
saya senang mendengarnya.

saat saya melihat gambar dari tempat seberang, kayu ada di mana mana. di gambar itu.

rumah raja ada di tengah hutan, mungkin dengan cara menghemat material kayu dengan menggantikannya dengan synthetic wood, rumah raja itu tak seperti mesin penghacur hutan.

mereka memberi khabar, “basicly, it is the fiberglass reinforced cement (GRC) (pls.see the attachment) moulded or formed as per your design and finished with 3times painted. It looked like real wood. Stronger than plastic, could be the large size which possible to use as the architectural ornament. Khun Bill suggests to send this image to you krub”.

membaca kemajuan ini, saya ingat mas dorce, eh salah, mbak dorce.
yang beberapa bagian dari tubuhnya dari “synthetic wood”.
maap.

Popularity: 10% [?]

ini cara orang gila melakukan presentasi.

dscn2193.JPG
di bawah sekian pohon eksisting,
di atas meja yang terbuat dari anyaman bambu,
sepi sunyi terasa,
sesekali, burung berterbangan di atas sana.
sesekali, para penonton yang kaum petani mengintip dari seberang.
sesekali, gambar gambar yang jumlahnya sekian puluh lembar dan berukuran XXL itu, musti kita gulung karena gerimis berjatuhan dari atas sana.

dscn2203.JPG

ini cara orang gila melakukan presentasi,
di titik mana anda berdiri, adalah kolam renang,
di titik mana anda berdiri, adalah kampung makan,
di sebelah sana di mana pohon durian berada, adalah satu villa anda,
di sebelah sana di mana pohon waru berada, adalah wantilan di mana anda akan melakukan check out.
dscn2207.JPG
ini cara orang gila berkreasi,
memadukan alam pikiran desainer versus manusia awam versus alam itu sendiri.

terkadang kita musti begini, menjadi gila,
melampui cara cara biasa yang dilakukan banyak desainer lainnya.

dscn2210.JPG

Popularity: 10% [?]

_dsc3032.JPG

“ahh…itu biasa saja bli”, begitu jawabannya dari seberang sana.
saya pikir, ia tak menggubris gambar saya.
atau saya pikir, ia tak berkomentar.
tapi, sore ini, saat saya mendarat di jakarta, ia menjawab email saya tentang villa di ubud.
denahnya typical, bentukannya juga, sempet saya pakai di beberapa tempat.

jawaban itu, membuat saya sadar, bahwa belum ada yang baru terhadap apa yang saya sodorkan untuk job baru ini.

kami berjalan sekian ribu langkah di tepian sungai campuhan di ubud beberapa minggu lalu.
menyaksikan beberapa detail alam, beberapa detail buatan manusia, dan tentu saja menggali kekuatan “seadanya” yang ada di situ.

saya mengirim master plan.
nampak krodit memang, tapi, saat itu saya mengejar brief yang dikasih oleh klien.
jauh jauh hari, ia berpesan pendek, “jangan dengar brief mereka!”.
saya tahu, dengan kondisi lahan berkontur seperti ini, mendapatkan banyaknya villa untuk ditebar di lahan seluas lebih dari 6 hektar, adalah hal mustahil.
saya paksa site untuk menerima jumlah villa yang mereka inginkan. saya tahu ini sedikit memperkosa, tapi setidaknya, jawaban ini krodit atau belum pasti akan terjawab kelak.
dan, hari ini, krodit adalah sebuah jawaban.
saya menerimanya.

dari sekian proposal ide yang saya tawarkan,
setidaknya, ada satu yang nyangkut.
dia bilang, “cool man!, lets go for it!”.
idenya, biasa saja.
saya dapatkan sesaat sebelum saya meninggalkan site.
ada rumah panjang yang dibentuk oleh deretan bambu. isinya ayam ayam petelur. kami menghampirinya. menyapa orang yang punya, “maap, permisi pak, saya mau melihat kandang ayam bapak”.
sang bapak tersenyum.
bau kotoran ayam menyerang hidung. nikmat. masih mending dibanding dengan bau kentutnya gus dur.

saya membuka pintu itu. sekian ayam sedang sibuk mematuk makanan. ada beberapa telur keluar dan menggelinding, stack di pinggir kerangkeng anyaman bambu.
hmmmm…indahnya hidup cuman makan dan bertelur…
andai manusia manusia seperti ayam ayam ini, bekerja…belekerja..demi segepok uang.
sebuah ide yang simple tetapi memberi banyak makna.

saya pulang bersama 3 rekan.
bercakap akan keadaan rumah ayam itu. simple tapi menggetarkan bila disentuh dengan perlakuan lebih.
saya memakainya. setidaknya, ada arsitek bego yang yang tersendak otaknya dan menemukan ide gila! untuk membangun sebuah tempat buat manusia manusia haus kerja demi segepok uang.

ide tak jauh ke mana.

Popularity: 6% [?]