putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

Archive for the ‘ Kritik Arsitektur ’ Category

jun 21 – univ khaerun, ternate
josef prijotomo

‘Bangunan panggung dibuat karena adanya ancaman dari binatang buas’, itulah yang kita pelajari dari arsitektur tradisional di Indonesia ini. Kita tidak terlalu mempersoalkan benar-kelirunya pernyataan itu karena telah banyak ditulis seperti itu, juga telah dikatakan oleh demikian banyak ahli dan peneliti. ‘Bangunan adalah tempat untuk berlindung’ juga sebuah pengetahuan akan arsitektur tradisional yang tak disoalkan benar-kelirunya. Jika mau dibuat rinciannya, demikian banyak ihwal pengetahuan tentang arsitektur tradisional yang tidak pernah kita pertanyakan benar-kelirunya. Masih dengan ihwal yang sama yaitu mempersoalkan benar-kelirunya, kita dengan mantap dan tegas menempatkan arsitektur tradisional kita dalam kaitan yang demikian erat dengan budaya dan kebudayaan, namun kalau berkenaan dengan arsitektur Erorika (Eropa-Amerika) serta arsitektur modern, nyaris tidak pernah ada pelibatan dan pengkaitan dengan budaya dan kebudayaan. Di satu sisi kita memantapkan itu untuk menegaskan bahwa arsitektur tradisional itu beda dari arsitektur Erorika, namun di sisi lain kita menjadi bermasalah dalam mengkinikan arsitektur tradisional dalam proses rancang yang sepenuhnya sangat Erorika itu.
Tanpa harus membincangkan mengapa tidak disoalkan benar-kelirunya, sajian yang akan saya paparkan dalam kesempatan ini akan mencoba untuk memperlihatkan apa yang seharusnya kita tanggung sebagai konsekuensi dari kenyataan bahwa Erorika dan Indonesia/Nusantara itu memang berbeda dalam banyak hal. Perbedaan itu akan kita manfaatkan untuk menyadari konsekuensi yang timbul. Ada konsekuensi yang menunjuk pada pengertian arsitektur sebagai perlindungan dalam persandingannya dengan arsitektur sebagai pernaungan atau perteduhan; ada pula konsekuensi yang menunjuk pada tempat/kategorisasi dari pengetahuan yang Erorika dalam persandingannya dengan pengetahuan arsitektur Nusantara. Di sini saya tidak melakukan pembandingan antara Erorika dengan Nusantara(tradisional) karena sebuah perbandingan akan berakhir dengan siapa yang lebih dan siapa yang kurang. Saya akan melakukan penyandingan, menjejerkan yang erorika dengan yang Nusantara/tradisional untuk memerikan/mendeskripsikan bahwa perbedaan yang ada bukan perbedaan dalam hal lebih-kurang, melainkan perbedaan tatapikir (mindset) yang digunakan dalam mempelajari dan memahami arsitektur Nusantara.

Kepulauan Nusantara

Berbeda dari kebiasaan dalam memerikan arsitektur tradisional yang diawali dengan menggelarkan budaya dari anak bangsa di Indonesia, saya akan mengawali penggelaran atas arsitektur Nusantara ini dengan menggelar alam dan iklim, yakni sebuah lingkungan yang menjadi tempat bagi munculnya arsitektur. Indonesia adalah Negara kepulauan yang satu pulau dengan pulau yang lain dihubungkan oleh laut. Laut atau perairan adalah penghubung pulau dan daratan, bukan pemisah. Jikalau laut dan perairan menjadi pemisah maka keterisolasian dari masing-masing pulau akan dapat muncul sebagai konsekuensinya. Sebaliknya, dengan menjadikan perairan dan laut sebagai penghubung, maka tidak hanya keterisolasian itu tersisihkan, tetapi komunikasi antara pulau satu dengan yang lain akan muncul sebagai konsekuensinya. Di dalam keterhubungan ini pulalah kita masih ingat penggal nyanyian anak-anak dari tahun 1950-1960-an yang diantaranya berbunyi: “nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudera”, menyadarkan kita akan arti dan makna dari sebutan bangsa kita sebagai bangsa bahari. Kejayaan kita di laut bahkan sudah berlangsung ratusan tahun sebelum Masehi, sebagaimana ditunjukkan misalnya oleh para ahli linguistic. Para ahli bahasa ini telah berhasil menemukan pencatatan rempah-rempah dari Pasifik di dalam dinding-dinding piramida di Mesir. Bahkan dalam abad ke-2 Masehi, perairan Nusantara ini merupakan perairan yang sibuk dengan lalu-lalangnya kapal dan perahu dari pasifik hingga Madagaskar dan dari Taiwan-Cina hingga India dan Arab. Di masa itu, telah pula terbuktikan bahwa bangsa Nusantara ini bukan hanya penonton, melainkan menjadi pemain; perahu dan kapal nusantara telah mengarungi sejauh Madagaskar dan Pasifik.
Keberhasilan mengarungi lautan dan samudera seluas dari Madagaskar hingga Pasifik dan Cina hanya mungkin terjadi bila teknologi pembuatan perahu kayu sangatlah handal. Kehandalan teknologi pembuatan perahu dari bangsa Nusantara ini sampai membuat para ahli kapal dan perahu Cina untuk belajar dari para pembuat perahu di Sulawesi Selatan di tahun 1420-an, demikian dikatakan oleh Gavin Menzies dalam bukunya yang berjudul 1423. Mereka itu perlu belajar tentang teknologi perahu dan kapal karena di tahun 1423 Cina memulai penjelajahan melintasi semua samudera di dunia ini! Setidaknya ada tujuh armada dikirim oleh Cina untuk mengarungi semua samudera. Masing-masing armada menjelajah samudera yang berbeda. Kehandalan dalam membuat perahu dan kapal yang dari kayu ini dengan langsung tentunya berimbas pada handalnya teknologi dan pembuatan bangunan kayu. Sebagaimana halnya teknik konstruksi ikat dalam pembuatan perahu yang sudah dikuasai semenjak duaratus tahun sebelum Masehi, di pedalaman Flores, tepatnya di desa Wae Rebo, kabuparten Manggarai, telah dapat dihadirkan sebuah bangunan berkonstruksi ikat yang memiliki ketinggian sampai lima lantai, dan lantai dasarnya mampu menampung lebih dari seratus orang. Sekali lagi, desa Wae Rebo bukan desa di pesisir tapi di pedalaman; sehingga dari sini kita dapat dengan tepat mengatakan bahwa pengetahuan tentang konstruksi ikat itu telah mampu menembus pedalaman dari daratan di pulau-pulau di Nusantara ini. Hal ini sekaligus menggugurkan pandangan yang selama ini mengatakan bahwa anak-anakbangsa Nusantara ini berada dalam keterisolasian.

Lembab
Lautan yang menjadi penghubung antar pulau juga memberikan kekhususan pada iklim yang ada di Indonesia. Iklim di Indonesia tidak hanya tropik, tetapi juga lembab, jadi beriklim tropik lembab.
Kelembaban dari iklim ini dipermantap oleh kekayaan hutan hujan tropik yang mengisi daratan Nusantara. Dengan kelembaban ini pula tubuh menjadi mudah sekali berkeringat serta udara berkurang kenyamanannya karena menimbulkan kegerahan. Berhadapan dengan kelembaban ini, sebuah penyelesaian yang cemerlang telah berhasil ditemukan oleh anak-anakbangsa Nusantara. Pertama, tidak merasa perlu untuk mengenakan pakaian. Penutup tubuh yang ada hanyalah penutup kelamin semata, atau lebih diperluas lagi adalah sebatas dari pusar hingga lutut. Busana seperti itu adalah norma kesopanan yang berlaku, dan itu berarti bahwa samasekali tidak porno sebagaimana kita sekarang ini menilainya. Dan karena itu tidaklah mengherankan bila hingga abad ke 16 Masehi kita masih bisa menyaksikan relief candi yang menggambarkan sosok manusia dengan busana yang seperti tersebutkan tadi. Dari wayang kulit di Jawa kita juga menyaksikan bahwa sebagian terbanyak tokoh yang digambarkan bertelanjang dada. Dihadapkan pada orang-orang yang bertelanjang dada ini orang-orang Eropa yang mengunjungi Nusantara menilainya sebagai tidak beradab (maklum, dalam adat dan budaya Eropa, ihwal berbusana yang menutup seluruh tubuh adalah sebuah tanda beradab). Dengan memperhatikan kenyataan bahwa bertelanjang dada adalah penyelesaian atas kelembaban yang tak dapat dihindari, tentunya dapat dibayangkan bagaimana semestinya bangunan yang didirikan untuk ‘mewadahi’ manusia Nusantara. Sebuah ruangan yang memakai dinding serba tertutup sudah pasti sulit untuk dipahami sebagai penyelesaian atas kelembaban ini. Betapa tidak, dalam hal berada di luar bangunan saja sudah tak berpakaian, bagaimana nyaman bila berada dalam ruangan yang serba berdinding tertutup. Dengan pencermatan seperti itu, dapat kemudian dikatakan bahwa bangunan yang mewadahi manusia yang harus berhadapan dengan kelembaban adalah bangunan yang tidak memiliki dinding tertutup. Sebuah beranda, serambi (teras) dan kolong bangunan adalah tempat-tempat di bangunan yang dapat mewadahi manusia yang berkeringat dan gerah karena kelembaban. Dangau-dangau di sawah serta warung dan gardu jaga juga dengan jitu menjadi wujud bangunan yang merupakan penyelesaian atas kelembaban yang menimbulkan keringat. Apabila terpaksa harus ada dinding, maka dinding ini adalah berupa kerai atau kalau mau lebih canggih, dinding yang berukir tembus seperti lazimnya sekat berukir. Bagaimana halnya dengan bagian bangunan yang berdinding, bahkan berdinding rapat tanpa jendela? Keadaan bangunan yang serba tertutup seperti itu akan sangat jitu bila digunakan untuk menyimpan barang serta untuk menghangatkan tubuh bila suhu udara menjadi dingin. Kalau tidur di malam hari dianggap sebagai menyimpan badan, maka bagian bangunan yang serba tertutup itu tidak hanya menyimpan barang tetapi juga menyimpan badan. Dengan demikian, bagian bangunan yang berdinding tertutup itu asal-muasalnya bukanlah sebuah tempat tinggal, melainkan tempat penyimpanan. Bagian dari rumah yang digunakan untuk berbagai kegiatan harian hadir sebagai serambi, beranda, dangau atau gardu serta kolong dari bangunan panggung. Kalau dipaksakan untuk disebut tempat tinggal, maka bagian yang berdinding rapat adalah tempat untuk tinggal di malam hari sedang di siang hari adalah di beranda, serambi atau kolong.
Dengan gambaran yang berdasar kelembaban seperti di depan, pembacaan denah dari arsitektur Nusantara akan menjadi sangat berbeda dari pembacaan denah dari bangunan Erorika. Di Nusantara, beranda, serambi dan kolong adalah tempat melangsungkan aktifitas siang hari. Bilik yang berdinding tertutup adalah tempat penyimpanan (termasuk menyimpan badan di malam hari). Pembagian bangunan dari irisan/potongan bangunan Nusantara juga bukan terdiri dari kepala-badan-kaki, melainkan terdiri dari atap-bilik-kolong. Bila antara bilik dengan muka tanah ada geladak, maka pembagiannya menjadi atap-bilik-geladak-kolong.
Dengan kelembaban maka ketropikan di Nusantara menjadi berbeda dari ketropikan di Afrika, misalnya. Daerah-daerah yang bertropik-lembab tentu tidak hanya Indonesia. Malaysia dan Philipina, juga segenap daerah kepulauan di Amerika Tengah adalah daerah-daerah yang beriklim tropik lembab. Di segenap tempat tadi, beranda atau kolong dan ruangan berdinding tertutup memang menghadirkan diri, sekaligus mendapat pendayagunaan yang serupa dengan yang di Nusantara. Yang menjadikan berbeda dari Nusantara adalah dalam bentukan atap bangunan. Sebagian banyak bangunan di Amerika Tengah adalah bentukan atap pelana atau atap perisai; sedang yang di Malaysia dan Philipina umumnya serupa dengan yang ada di Nusantara, jadi cukup berragam bentukannya.

Angin
Kita tidak perlu menyangkal betapa pentingnya angin ini bagi pelayaran mengingat adalah angin yang seakan menjadi motor bagi bergeraknya kapal dan perahu. Dengan kemampuan berlayar par pelaut dan peniaga Nusantara hingga Madagaskar di abad-abad sebelum Masehi, tak ayal lagi pengetahuan akan pola pergerakan angin, dan sudah barang tentu pengetahuan akan arus laut yang bergantiganti sepanjang tahun, telah sangat dikuasai. Sebutan mata-angin dapat dipastikan berawal dari ihwal pelayaran, bukan dari ihwal bercocoktanam. Laut dan gunung dijadikan titik rujukan bagi mataangin itu, sehingga arah ke laut dalam mataangin orang Bali dinamakan kelod, di Madura dinamakan Laok, sedang di Jawa dinamakan Lor. Sementara itu, dalam hal menyusuri sungai, motor penggerak dari kapal dan perahu bukan angin, melainkan dayung dan keras-lemahnya arus sungai dari hulu ke hilir, dan karena itu arah hilir dan arah hulu atau udik (mudik) lebih banyak digunakan.
Angin yang merupakan pergerakan udara dari dua tempat yang berbeda tekanan udaranya juga mampu didayagunakan dengan baik di daratan. Dalam keadaan normal (bukan dalam masa pancaroba khususnya), angin menjadi sumber utama bagi penyejukan udara. Angin yang berhembus dari laut akan membawa uap air dan mendatangkan udara yang lembab. Tetapi, bersamaan dengan angin yang berhembus itu, kepengapan udara dalam ruangan juga akan menjadi berkurang dengan cukup bena (signifikan). Di sini pula kolong, serambi dan beranda menjadi bagian dari bangunan yang dengan cemerlang mampu mendayagunakan hembusan angin guna menghadirkan ruangan yang nyaman (comfort). Melalui pembacaan atas asal angin berhembus, bangunan yang didirikan diarahkan agar dapat semaksimal mungkin memanfaatkan hembusan angin. Tidaklah mengherankan bila kebanyakan bangunan Nusantara didirikan dengan arah bubungan atap yang berlawanan dengan arah hembusan angin, seakan menjadi penangkap hembusan angin. Secara umum, arah hadap ke laut atau ke gunung adalah keletakan dari bangunan-bangunan Nusantara yang memakai bangun persegi empat; bangunan menjadi memanjang dan letaknya dibuat menangkap angin yang berhembus. Oleh karena itulah bangunan-bangunan di pantai utara Jawa memanjang dari timur ke barat dan menghadap ke ke laut Jawa (utara), sedang di daerah Jawa selatan, bangunan dibuat menghadap ke Samudra Hindia (selatan). Jikalau hubungan antara bangun geometrik dari denah bangunan menunjukkan adanya kaitan antara bangunan dengan arah angin, maka bangunan-bangunan dengan denah lingkaran rupanya bertempat pada daerah yang arah anginnya cenderung memutar, seperti misalnya di daerah lembah atau daerah yang dikelilingi oleh bukit. Selanjutnya, mengitari sekelompok gugus bangunan maupun sebuah gugus bangunan yang berdiri sendiri, pepohonan yang ditanam sepanjang pagar tapak lingkungan hunian serta pepohonan yang ditanam di seputar dusun diberi peran untuk menjadi pelambat lajunya hembusan angin.
Dengan hembusan angin yang menyejukkan dan dengan kelembaban yang dapat ditanggulangi dengan tinggal di beranda. Serambi atau kolong, maka keberadaan bilik di dalam bangunan menjadi nyaris tak terkunjungi di siang hari. Di malam hari saja bilik-bilik itu digunakan sebagai tempat untuk tidur, untuk menyimpan badan. Kegiatan harian yang lebih banyak terpusat pada sekeliling bagian luar bangunan memberi kesempatan bagi tampang luar bangunan untuk ditangani dengan citarasa estetika dan artistika yang mempesona. Tubuh luar bangunan tidak hanya kaya dengan ukiran (dan di percandian dielokkan dengan relief-relief), tetapi juga dengan menggunakan warna yang cerah dan segar. Tidak itu saja, sosok bagian atap juga menjadi sangat berragam perupaannya. Bagian bilik dan kolong boleh saja tanpa sentuhan artistika dan estetika yang menyita perhatian, tetapi tidak demikian halnya dengan bentuk atapnya. Nampaknya, demi penandaan bagian yang terpenting dan terutama dari sesuatu bangunan Nusantara, maka bentukan atap menjadi sangat mencolok penampilannya.

Kemarau dan Penghujan
Iklim tropik memang bukan iklim subtropik bukan pula iklim yang empat musim. Iklim tropik hanya mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Kalau mau dipaksakan menjadi empat musim, maka ada tambahan dua musim pancaroba, yakni pancaroba menuju penghujan dan pancaroba menuju kemarau. Salah satu pembeda mencolok antara iklim tropik dengan iklim subtropik adalah suhu udara. Bagi iklim subtropik rentang suhu udara dapat dipastikan mencakup suhu udara yang di sekitar nol derajat Celsius, sebuah suhu udara yang dalam iklim mereka berada dalam cakupan musim dingin. Suhu yang sangat rendah dalam musim dingin dengan langsung menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia yang berdiam di tempat itu. Dan karena itu tidak mengherankan bila mereka mengatakan bahwa iklim adalah ancaman, bahkan ancaman yang mematikan. Artinya, suhu yang rendah berpotensi mengakibatkan kematian. Dihadapkan pada ancaman kematian ini, tak ada jalan lain kecuali harus melindungi diri dari ancaman tadi. Di situ pula lalu muncul perumusan bangunan adalah perlindungan, arsitektur adalah tempat berlindung. Sebuah tindakan berlindung adalah tindaan menyembunyikan diri, dan oleh karena itu lawan yang mengancam sebisa mungkin tidak bisa mengetahui di manakah yang berlindung itu berada. Sebuah ketertutupan di semua sisi lalu menjadi jawaban dari pihak yang berlindung. Sebuah bangunan, karena dijadikan perlindungan adalah buatan manusia yang disemua sisinya tertutup; yaitu lantai, dinding dan atap semuanya serba tertutup. Sekurangnya tiga bulan lamanya orang harus berdiam di tempat yang serba tertutup, yang serba terpisah atau terisolasi dari dan lingkungan sekitar bangunan dan dunia luar. Perasaan ketersendirian yang dialami lalu membuat penghuni bangunan empat musim ini mengenal dengan baik perbedaannya dari kebersamaan.
Bagaimanakah halnya dengan iklim tropik seperti yang ada di Nusantara ini? Musim kemarau maupun musim penghujan tidak menghasilkan suhu udara yang selisihnya seekstrim seperti yang empat musim. Suhu udara juga samasekali tidak mampu menjadi ancaman bagi keselamatan hidup anak-anakbangsa Nusantara. Baik dalam musim kemarau maupun dalam musim penghujan orang tetap dapat menikmati hidup dengan busana yang hanya melingkari dari peerut hingga lutut. Terhadap terik matahari yang menyengat atau curah hujan yang demikian deras, cukuplah bernaung di bawah pohon yang sangat rindang. Kalau harus tetap melakukan perjalanan, orang Nusantara cukup memotong daun pisang atau daun keladi untuk menaungi kepala dan badan. Kalau mau mengenakan yang buatan sendiri, sebuah topi yang berdaun lebar atau sebuah payung juga sudah dapat menjadi penyelesaiannya. Dihadapkan pada keadaan yang dua iklim ini, bukan tindakan berlindung yang diperlukan, tetapi adalah tindakan bernaung atau berteduh. Dari sini tentunya sudah dapat dibayangkan bagaimanakah bangunan yang diperlukan bagi tanggapan terhadap iklim kemarau dan penghujan. Sepotong daun pisang atau keladi, sebuah topi lebar dan sebuah payung dan sebuah atap adalah tanggapan atas iklim tropik. Petikan dari naskah kuno di Jawa menggambarkan kebenaran dari hal itu “tiyang sumusup ing griya punika saged kaupamekaken ngaub ing sangandhaping kajeng ageng” – orang yang menyusup ke dalam bangunan itu dapat diupamakan dengan bernaung/berteduh di bawah pohon yang rindang.
Kebutuhan utama akan bangunan dan arsitektur lalu bukan untuk dijadikan perlindungan sebagaimana dilakukan oleh bangunan di Erorika; yang dibutuhkan adalah sebuah pernaungan atau perteduhan. Arsitektur lalu bukan sebuah perlindungan; arsitektur adalah sebuah pernaungan. Itulah yang menjadi pengertian tentang arsitektur di Nusantara. Bagi kebutuhan seperti ini, yakni akan adanya pernaungan atau perteduhan, maka cukup hadirnya sebidang atap penaung atau peneduh yang menjadi jawabannya. Di depan telah dikatakan bahwa keaneka-ragaman bentukan atap itu berkaitan dengan peran penting dan terhormat dari bagian atap. Melalui peninjauan atas ketropikan yang berisi musim kemarau dan musim penghujan, tentu menjadi semakin mantap dan nyata bahwa unsur pertama dan utama dari arsitektur Nusantara adalah atap. Dengan peran dan kedudukan yang utama ini pula lalu struktur bangunan menjadikan tiang-tiang penyangga atap sebagai tiang-tiang utama.
Sementara itu, dihadapkan pada musim penghujan yang basah, permukaan tanah akan dengan langsung menjadi basah bila hujan tiba. Menanggapi kepastian basahnya tanah ini, sebentang geladak dapat dihadirkan, dan merentang di atara tiang-tiang yang menopang atap. Geladak ini sudah barang tentu membentuk jarak dengan muka tanah, membentuk kolong bangunan. Lantai bangunan yang berupa geladak ini lalu bukan hadir karena takut pada binatang buas, melainkan agar diperoleh bidang yang tidak becek. Selanjutnya, melihat bahwa kolong geladak ini dapat didayagunakan pula untuk berbagai kegiatan manakala musimnya bukan musim penghujan, maka letak geladak semakin ditinggikan dari muka tanah di satu sisi, dan di sisi lain dibangun pula penopang-penopang geladak. Kini konstruksi bangunan tidak lagi hanya berupa tiang-tiang penopang atap tetapi juga tiang-tiang penopang geladak.

Bangunan Kayu, Gempa dan Konservasi

Perbedaan mencolok antara arsitektur Erorika dari arsitektur Nusantara dapat pula dilihat dari bahan bangunan yang digunakan. Bila kita membuka buku sejarah arsitektur Eropa kita akan melihat bahwa semenjak jaman Yunani hingga jaman sekarang ini, bahan bangunan yang dominan dipergunakan adalah bahan-bahan bangunan yang anorganik. Ini berbeda dari bangunan di Nusantara yang menggunakan bahan bangunan yang organik, seperti kayu, bambu, alangalang, rumbia dan rotan. Pemakaian bahan bangunan yang organik ini mengandung sebuah konsekuensi langsung yang tidak dapat dihindari yakni aus dan lapuknya bahan itu dalam jangka waktu yang tertentu. Alangalang dan rumbia akan menjadi bahan yang paling cepat aus dan lapuk, kemudian disusul oleh bambu dan rotan, dan akhirnya kayu yang dipakai untuk tiang, balok dan bilah lantai serta bilah dinding sebagai yang paling lama mengalami keausan dan kelapukan. Bila ketiga jenis bahan itu dipakai bersamaan di sebuah bangunan, maka akan terjadi saat aus dan lapuk yang berbeda. Untuk mempertahankan bangunan agar tetap dapat didayagunakan, sudah barang tentu dituntut adanya penggantian bahan bangunan. Tuntutan seperti ini dengan langsung berkaitan dengan konstruksi yang digunakan; dituntut konstruksi yang dapat dicopot dan diganti tanpa harus merusak atau merubuhkan seluruh bangunan. Konstruksi ikat konstruksi cathokan serta konstruksi purus dan lubang adalah yang jitu. Di depan telah ditunjukkan bahwa arsitektur Wae Rebo yang hanya bermodalkan konstruksi ikat dapat menghadirkan diri sebagai bangunan yang seukuran bangunan setinggi lima lantai. Sebuah keberhasilan yang luar biasa! Tidaklah mengherankan bila para pendatang Eropa geleng-geleng kepala dan terkagum-kagum menyaksikan kehebatan bangunan Nusantara yang samasekali tidak menggunakan paku tapi bisa berdiri dengan kokoh.
Pemakaian paku dalam mengkonstruksi bangunan juga memperlihatkan perbedaan yang besar dari konstruksi yang tanpa paku. Bangunan yang tidak menggunakan paku akan menghasilkan konstruksi yang masih bisa bergoyang-goyang. Kemungkinan bergoyang ini ditopang pula dengan penggunaan alat yang belum memungkinkan untuk menghasilkan presisi yang tinggi, misalnya pada sambungan antara tiang dengan balok. Lubang pada tiang yang akan dimasuki oleh purus balok bisa saja satu atau dua sentimeter lebih longgar dari ukuran purus balok. Secara keseluruhan, konstruksi yang digunakan di arsitektur Nusantara menghasilkan bangunan yang bisa bergoyang-goyang. Bahkan, keadaan yang paling stabil dan kokoh dari bangunan di Nusantara itu akan dicapai bila bangunannya sedikit miring, tidak tegaklurus terhadap tempatnya berdiri. Dengan adanya kesempatan bagi bangunan untuk bergoyang ke sisi yang satu di saat yang tertentu, lalu bergoyang ke sisi lain dalam kesempatan yang berbeda, maka bangunan Nusantara ini lalu menjadi tak ubahnya dengan sebuah gubahan yang ‘hidup’, mengingat salah satu dari ciri dari keadaan yang hidup adalah adanya gerakan dari obyek bersangkutan. Di sini pula pengertian dari pengurip, penghidup, yang ada di sejumlah arsitektur anakbangsa Nusantara itu mendapatkan penjelasannya.
Dengan menamakan konstruksi di Nusantara ini sebagai konstruksi goyang (sebagai lawan dari konstruksi mati, sebutan bagi konstruksi yang menggunakan paku), kehandalan dari arsitektur Nusantara menjadi semakin terbukti bila dihadapkan dengan gempa. Gempa yang merupakan gerakan bumi secara tiba-tiba, dapat berupa gerak yang horisontal dan dapat pula hadir dalam gerakan yang vertikal. Dengan penerapan konstruksi goyang, saat gempa menerpa, bangunan dengan nikmat mengikuti saja irama dari gempa, apakah horisontal ataukah vertikal, ataukah keduanya secara bergantian atau bersamaan. Pada sebagian banyak bangunan Nusantara yang keletakannya tidak dilakukan dengan menanam tiang ke dalam tanah, maka dapat saja terjadi bangunan akan terguling dan tergolek di tanah di saat gempa berlangsung; bangunan samasekali tidak remuk seperti yang selalu terjadi pada bangunan tembok dan beton. Di sini sebuah kecemerlangan pengetahuan konstruksi telah ditunjukkan dan dibuktikan oleh bangunan Nusantara, yakni penerapan konstruksi goyang.
Gerakan konservasi adalah gerakan melestarikan bangunan agar mampu bertahan dalam perubahan waktu (dan ruang). Bagi dunia Erorika, konservasi dengan mempertahankan keaslian bangunan dapat dijalankan dengan tak banyak kesulitan. Maklum, bahan-bahan bangunannya sebagian terbesar adalah bahan bangunan yang anorganik. jikalau harus melakukan penggantian bahan, itu dapat dilakukan dengan harus tetap mengkuatirkan konstruksi dari bangunan. mencopot satu bata atau batu bisa saja mengakibatkan runtuhnya bangunan. Keadaannya akan sangat berbeda bagi konservasi di arsitektur nusantara. Hampir seluruh bangunan Nusantara dalah bangunan kayu, bangunan dengan bahan bangunan yang organik. Naluri dasar dari setiap bahan bangunan organik adalah mengalami penuaan, lapuk dan runtuh. pemikiran untuk mendapat bangunan yang mampu berusia ratusan tahun tentu tidak ada dalam pemikiran arsitektur Nusantara. yang ada ialah bangunan yang harus bisa mengalami penggantian bagian bangunan yang lapuk atau aus tanpa harus mengakibatkan bangunan runtuh. Atau, kalau memang harus mengganti seluruh bahan bangunannya, maka membuat bangunan baru yang sepersis mungkin dengan yang sudah tua dan aus adalah penyelesaiannya. Dengan demikian, konservasi di Nusantara adalah pelestarian yang mengharuskan penggantian. Bongkar dan ganti dengan yang persis dengan yang dibongkar, itulah tindakan konservasi yang berlaku di Nusantara.

Arsitektur Nusantara

Pencermatan atas arsitektur anak-anakbangsa Nusantara yang saya lakukan di depan bertitik-tolak atau berlandasan pada kenyataan geoklimatik Indonesia. Kenyataan ini dengan langsung menjadikan adanya keniscayaan akan adanya perbedaan dari kenyataan geoklimatik Erorika. Pengertian atau perumusan Erorika yang menjadikan arsitektur sebagai perlindungan lalu menjadi berbeda dari pengertian dan perumusan yang digunakan di Nusantara yakni arsitektur sebagai pernaungan atau perteduhan. Dalam hal arsitektur sebagai perlindungan bagian lantai, dinding dan atap adalah mutlak untuk hadir di bangunan, tidak demikian halnya dengan di Nusantara karena hanya memutlakkan hadirnya atap serta menganjurkan adanya geladak.
Selanjutnya, jikalau paparan itu dicermati, maka ihwal adat, sistem kepercayaan dan pandangan dunia (worldview), serta budaya dari anak-anakbangsa Nusantara, hampir-hampir tidak terikutkan dalam memunculkan pengertian sebagai pernaungan atau perteduhan. Dalam tulisan-tulisan saya yang lain, ihwal-ihwal itu saya cermati sebagai keping-keping perekam pengetahuan tentang arsitektur, bukan sebagai sistem budaya yang dicerminkan oleh arsitektur. Sikap saya yang menempatkan segenap ihwal itu sebagai keping rekaman pengetahuan saya dasarkan pada kenyataan bahwa anakbangsa Nusantara ini mewariskan pengetahuannya tidak dengan menggunakan tulisan, melainkan dengan menggunakan segenap ihwal tadi. Masyarakat Nusantara adalah masyarakat yang bertradisi tanpatulisan; dan ini berbeda dari masyarakat Erorika yang bertradisi tulisan. Dengan tatapikir (mindset) tradisi tanpatulisan ini pula saya misalnya saja, memahami upacara pemasangan kuda-kuda dan bubungan atap di Jawa adalah sebuah bentuk pemeriksaan dan pengujian kehandalan konstruksi kuda-kuda. Selamatan yang diselenggarakan sebelum pemasangan kuda-kuda itu adalah sebuah wujud pengupahan tenaga kerja yang dirupakan sebagai barter antara tenaga dengan makanan yang disajikan.
Dari pencermatan saya di depan, kita menjadi memahami betapa mengagumkan kecemerlangan pengetahuan anakbangsa Nusantara ini di bidang arsitektur, dan oleh karena itu samasekali tak dapat dikatakan sebagai sebuah genius loci atau kearifan lokal (local wisdom) sebab kedua sebutan itu berlatarbelakang Erorika sebagai inti dan sebagai yang unggul, sedang di luar Erorika adalah tak ubahnya dengan ‘antah berantah’. Sebagai pengganti kedua sebutan itu, saya menggunakan sebutan cerlang-tara, yang adalah singkatan dari kecemerlangan Nusantara.
Di bagian awal dari paparan saya ini saya menjanjikan untuk menunjukkan bahwa arsitektur Nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Kiranya, melalui pasal yang terakhir ini kita semua telah dapat mengetahui bahwa arsitektur nusantara itu berbeda dari arsitektur tradisional. Arsitektur Nusantara mendasarkan pemahamannya atas arsitektur anakbangsa Nusantara pada pertama, kenyataan geoklimatik (kepulauan dan tropik lembab) serta yang kedua adalah kenyataan tradisi tanpatulisan. Di sini ihwal adat hingga upacara dan artefak menjadi rekaman-rekaman pengetahuan arsitektur. Sementara itu, arsitektur tradisional mendasarkan pemahamannya pada arsitektur sebagai cerminan budaya/kebudayaan, sebuah dasar yang tanpa disadari ternyata adalah ranah kajian budaya dan antropologi.

Surabaya, juni 2010

Popularity: 47% [?]

viagra

October 6, 2009 | No Comments | Kritik Arsitektur

dalam perjalanan ke bandara soekarno hatta,
seorang teman memperlihatkan sebuah bungkusan kecil.
sebagian besar bungkusan plastik itu berwarna hitam. ukurannya kecil, mungkin lebarnya cuman 1.5 senti dan panjangnya sekitar dua setengah senti.
saya teliti. bungkusan amat tipis. saya teliti lagi. ada gambar lingkaran dan panah. itu tanda logo laki.
saya baru sadar. nih bungkusan sekeluarga dengan viagra. viagra buat kaum laki.
saya tertawa.
saya kembalikan.
kami tertawa berbarengan.
laju kendaraan mendesing bak peluru. awan gelap di atas sana. terkadang hujan di beberapa tempat.
kami sibuk dengan obrolan.
salah satunya tentang viagra.

teman tadi memberitahu cara pakai.
saya mendengar.
yang lainnya juga, mendengar.
terkadang ada tanya.
dijawab oleh teman pembawa viagra.
selanjutnya, tawa memecah di mana mana, membelah awan gelap.

beberapa hari lalu, seorang teman mengirim pesan melalui BB.
isinya sama; tentang viagra.
ia bilang, bersetubuh dengan perempuan yang berstatus mahasiswi, tak perlu viagra.
bersetubuh dengan perempuan tetangga sebelah, perlu viagra, mungkin setengah tablet.
bersetubuh dengan perempuan istri teman atau tetangga, mungkin perlu viagra satu tablet.
dan pada kalimat akhir, ia menulis pesannya, kalau anda bersetubuh dengan istri anda di rumah, memerlukan viagra 10 tablet, pilem be ep selusin kaset, extra joss sepuluh saset!.
saya tertawa.

saya teringat profesi saya sebagai arsitek.
berkeliling tempat di belahan bumi sana,
melihat segala bentukan kehadiran, laki, perempuan, beton, cahaya, adat dan kelakuan,
begitu banyak dan cepat memperkaya pikiran. membantu saya untuk cepat keluar dari permasalahan desain.
koleksi kehadiran itu, ibarat membantu dalam menyelesaikan penghadiran ruang dalam sebuah kertas.
apalagi, kalau mata melihat sekian bentukan bentukan yang nyeleneh, ntah di buku atau di lapangan secara langsung.
otak begitu cepat bekerja, tanpa dipaksa tanpa aba aba, pikiran saya langsung menerobos, “weh, bentukan itu yang saya cari dan saya idam-idamkan”.
mata saya berbinar. bercahaya. kemaluan saya langsung tegang saat melihat bangunan bangunan modern itu.
sepertinya, saya tak butuh viagra, sekedar untuk memacu otak saya untuk mendisain sesuatu yang trendy!.

di singapore beberapa minggu lalu,
saya ada dalam sebuah taxi, bersama bill,
saya bercerita tentang beijing, bill menyimak.
sekelebat kemudian, bill mengambil macbook-pronya dan menunjukkan sekian photo.
photo photo tentang desa tua yang berumur 800 tahun lebih, di sebuah tempat di china yang ia kunjungi beberapa pekan silam.
mendadak mata saya ngantuk.
ia tetap menjelaskan beberapa detail yang ada di desa itu, melalui photonya.
mata saya ngantuk.
sekian photo tentang desa tua itu, ia kagumi.
saya menguap.
ia bertanya, “anda tak tertarik?”.
saya tertawa. taxi melaju. cahaya di luar sana meredup. siang akan berganti.

manusia, di mana mana sama saja.
selalu saja ingin berada dalam sebuah arus terkuat.
lihatlah kehidupan dari atas, kalau kita sempat berada di dalam kabin pesawat.
kehidupan selalu berada di mana jalan dan lampu berada.
begitulah saya, anda dan mereka.
selalu menempatkan tujuan hidup pada suatu yang trendy.
manusia selalu mempunyai kelakuan untuk berada di posisi “see and saw”.
sehingga saat arsitek seperti saya berada di desa kuno tenganan, panglipuran atau di desa terpencil di flores, otak saya tak tergerak.
tak terpancing. mati rasa.
sehingga, pembahasan tentang arsitektur yang berbau lokalitas, usaha ini memerlukan viagra!.
sama seperti saat teman saya memBB saya tentang viagra, “kalau anda bersetubuh dengan istri anda di rumah, memerlukan viagra 10 tablet, pilem be ep selusin kaset, extra joss sepuluh saset!”.

saya tertawa, sambil memisuhi diri.

Popularity: unranked [?]

ane/nte

August 28, 2009 | No Comments | Kritik Arsitektur

“mustinya ane ngomong ke nte!, nte bisa kerja kagak?”.
“sejak hari raya kemarin, nte ndak punya kemaluan!”, begitu dia bicara lagi.
ane diam. ane mencoba meraba kemaluan ane, masih ada!. untunglah ane.
“memang nte sudah kagak ada niatan kerja lagi?”,matanya melotot. bibirnya mengatup. semerbak, bau mulutnya seperti bangkai tikus!
ane hanya diam.
jejari ane, gerak ke sana ke mari. kadang garuk punggung, kadang garuk kemaluan. kadang, garuk lobang hidung. ane coba rasain kotoran hidung, asin.
kelakuan ini mengingatkan tingkah laku ane semasa kecil.
gdubrakkkkk…., meja kerjanya dihantam dengan tangannya.
ane diam.
kaku.
“nte dengar kagak?”, dia nanya lagi.
“ane sudah bilang, dan minta tolong, tolooong…toloooong…toloooong…, ane perlu kerjaan nte kelar. ane minta tolong pengertian nte bahwa nte punya kerja kini telah seperti gerakan kapal keruk!”, matanya memerah. tangannya gemetar. mungkin berasa sakit saat menghantam meja tadi.
ane diam.

“nte tau kan, dead line,….deadline…deadline…deadline kita buanyak. nte tahu apa itu deadline?”,
ane diam.
“BICARA!”, dia membentak ane.
celana ane basah. rupanya ane terkencing karena bentakannya.
ane menunduk.
masih diam.
“ya tuhan…..”, nte dengar ane bicara?”, mulutnya monyong. “nte bisa bicara?”, dia melanjutkan.
ane masih menunduk. terdiam.
“busyet, nte dengar suara ane?, nte tau jadwal kita yang super ketat?, nte bisa mengerjakan job nte tepat waktu?…busyet!..jawab bodoh…!”,
tangannya melempar pensil ke muka ane, ane berkelit.
air mata ane meleleh. ane usap cepat dengan kaki.
ane menunduk. kaku. masih terdiam.

karena pensil yang dilemparnya kagak mengenai muka ane, mukanya memerah. darahnya muncrat seperti cairan bir yang dikocok dan menyembur dari lobangnya.
tubuhnya basah oleh keringatnya sendiri.
ane terdiam. tak tahu musti bagaimana.
ia mendekat. gemetar badannya. nafasnya tersengal.
ane menunduk. pasrah.
langkahnya cepat. tangannya terkepal. ada asap mengepul dari kupingnya, berwarna hitam.
ane terpojok.
gdubbrakkk…ia terjatuh!. rupanya langkah kakinya tersandung kabel lampu yang melintang di lantai.
tubuhnya yang penuh bentakan, kini tak bergerak. diam.
nafasnya hilang.
ntah.

ane diam.
semua diam.
tak ada suara bentakan lagi. tak ada tanya.
ane manangis, menyalahkan diri.
andai ane bisa kerja dengan benar, andai ane bisa menggaruk waktu dengan benar.
maka ia tak akan membentak.
ia tak akan jatuh dan akhirnya diam dan nafasnya tak menjauh.
dan ane tak akan terdiam begini rasa.

orang orang kemudian berdatangan, sekian mata memandang.
mereka sigap, mengangkut tubuh yang tak bisa membentak lagi,
kemudian membawanya keluar,
membuangnya ke tong sampah sebelah. anjing berdatangan menjilati. lalat bersorak!. mereka bergembira.
orang orang datang kembali ke ruangan.
mereka kemudian berkerumun di hadapan ane,
memandangi ane,
ane menunduk, masih terdiam.
dan,
suara membahana di ruang itu, seperti paduan suara, “puas?”.

ane diam.
masih diam.

di luar ;
anjing bergembira.
lalat bersorak.

Popularity: unranked [?]

tulisan ini diemail ke saya malam ini, oleh profesor josef prijotomo. saya tak menyangka beliau akan menulis tentang apa yang kini saya buat dan belum kelar betul. ibarat bayi, saya merangkak agar bisa menyelesaikan rumah kami di tahun depan. jadi apa yang beliau tulis, baru sebatas apa yang beliau lihat melalui beberapa photo yang saya kirim beberapa minggu lalu. tahun depan saat kelar, saya akan undang beliau untuk melihat dari dekat. semoga beliau semakin merah menilainya.

_DSC3840

dengan lokasi di lingkungan kumuh, Ongky menghadirkan rumahnya yang dia namakan ‘rumah kumuh saya’. Dalam mata awam, rumah ongky memang ikut kumuh. Betapa tidak, seng gelombang bekas dijadikan pagar rumah dan juga dinding bangunan; lalu di sana sini dipasang pot berisi tanaman asli, bukan tanaman plastic. Ada yang ditaruh di tonjolan dinding ada pula yang digantung dari jorokan atap. Warna dan tekstur yang berpangkal dari batamerah dan seng gelombang yang di sana-sini telah berkarat mempermantap kekumuhan, sekali lagi kalau dilihat dengan menggunakan kacamata awam.

_DSC3841

Bagi kacamata orang yang umurnya telah tinggal empat tahun lagi untuk pension sebagai pegawai  negeri, itu sih bukan rumah kumuh. Itu sih rumah yang meng-kumuh, arsitektur yang meng-kumuh. Awalan ‘meng-‘ dalam bahasa Indonesia memiliki kesaktian yang seampuh senjata cakra Sang Kresna. Awalan itu menyatakan bahwa ada kejadian yang dengan sengaja dan sadar dilakukan agar dapat menyerupai sesuatu yang lain. Sebuah metafora. Hahahahahaha, Ongky bermetafora!. Bravo Ky. Ukuran bangunan yang tak bisa disembunyikan atau ditipu sehingga kelihatan menjadi kecil dan ‘kruntelan’ [maaf Ky, bahasa Jawa, aku belum ketemu bahasa Indonesianya apa, apalagi bahasa Balinya] adalah salah satu pertimbanganku untuk mengatakan bahwa rumah Ongky itu rumah yang meng-kumuh. Bangunan berukuran besar yang kumuh memang ada, tapi bukan rumah; gudang atau pabrik yang sudah tak digunakan adalah contohnya. Tapi, ya mana mungkin sosok bangunan rumah Ongky ini membuat kita teringat pada gudang dan pabrik yang telah tak terawat. Warna yang memerah [saya sebaiknya menyebut oranye memerah, dan warna ini sepenuhnya saya angkat dari foto yang saya terima, bukan dari pengamatan saya, Ongky belum mengajak saya ke rumah kumuh-nya, lho] dan cenderung ‘ngejreng’ rasanya ikut membantu menjadikan rumah ini tampil sebagai bangunan yang berukuran besar.

_DSC3842

Sebagai sosok yang tak mau diikat, yang merdeka, juga sebagai sosok yang lebih mengedepankan ‘ini aku’,.rumah Ongky juga telah berkata sama, tidak diikat oleh aturan sebuah rumah itu mestinya seperti ini atau seperti itu dalam tampilan maupun dalam langgam/style-nya. Karena itu, meski dalam sosok (shape) banyak mengesankan kemodernan dalam langgam bangunannya, namun itu hanya sebatas sosok, sebatas sebuah munculan yang samar-samar, tak ubahnya dengan samarnya sesuatu yang ada di kejauhan. Warna merah-bata yang memang lazim bagi tampilan yang mem-Bali juga digarap oleh Ongky untuk hanya menghadirkan diri di kejauhan, sama jauhnya dengan kemodernan.langgam dari bangunan ini.

_DSC3850

Aaah, Ongky bukanlah orang bebas yang samasekali bebas. Dia masih mengikat-dirinya dengan bersetia dan berbakti pada orangtuanya; dia masih setia dan mencintai istri dan anak-anaknya; dia juga masih Bali, Bali dan Bali, Karena itulah dia masih menuliskan PUTU MAHENDRA di KTP dan SIM, dan nama itu pula yang pasti dia tulis di formulir pendaftaran menjadi anggota IAI (putu ; aduh..maap prof., sampai hari ini masalah ini belum kelar. saya sudah mendapat 2 referensi, tapi saya lupa saya taruh di mana form itu. seingat saya, saya sudah taruh di meja, tapi ndak tahu kok hilang. mungkin saya sudah pindahkan, tapi pindah ke mana?. ada yang bisa bantu saya?, otak saya sudah full…).

_DSC3897Kalau sudah beradu bicara dengan dia, dengan segera akan hilanglah Ongky yang tanpa ciri, mengedepanlah Putu yang terlalu sulit untuk mengubah lidahnya dalam melafal ‘t’ sebagai ‘t’, dia masih melafalnya sebagai ‘th’ [lalu, ‘batuk’ menjadi ‘bathuk’, padahal dalam bahasa Jawa, bathuk itu adalah jidat]. Rumah meng-kumuh ini adalah rumah Bali, rumah Putu Mahendra, bukan rumah Ongky! Dalam arsitektur Bali-Nusantara, sebidang tembok yang berwarna merah bata tidak dibiarkan hadir begitu saja, tanpa ada apa-apa. Tembok ini pasti bersolek, dihias dengan menghadirkan patra ini dan patra itu. Ada penghiasan yang menjadikan hiasan itu sebagai emphasis atau artikulasi, dan karena itu lalu semacam pernak-pernik pada tembok. Lalu ada yang ekstrim seperti banyak kita jumpai di Gianyar, dinding tembok menjadi lenyap tertimpa oleh persolekan. Dedaunan, bunga atau/dan satwa adalah ukiran yang dihadirkan pada tembok tadi. Hiasan di Bali-Nusantara adalah dedaunan, bungaan atau satwa yang dibatakan, diparaskan, dibekukan, hiasan ini menggambarkan dedaunan, bebungaan atau satwa. Bli Putu Mahendra bisa saja tidak sadar, dia telah membalikan rumahnya dengan hiasan berupa dedaunan dan bebungaan. Di rumah Putu Mahendra ini, bebungaan dan dedaunan tidak lagi diberi kedudukan sebagai ‘hiasan yang menggambarkan’ tetapi sebagai dirinya sendiri, sebagai daun dan bunga seasli-aslinya, senyata-nyatanya. Kalau dalam Bali-Nusantara dedaunan dan bebungaan adalah metafora, di rumah Putu Mahendra bukan lagi metafora melainkan realita. Hehehe, jangan lupa, toh Ongky juga masih bermetafora dalam hal menghadirkan rumah Bali yang bersolek. Yang ini adalah di penyengkernya. Konstruksi dari pasangan bata adalah menumpuk dan menjejer.Penyengker rumah Putu Mahendra adalah seng gelombang yang ditumpuk (atas-bawah) dan dijejer (kiri-kanan).

_DSC3903

Lalu, tong yang dijadikan pot bunga dan digantung di jorokan atap, apa itu bukan penjor ya? Kalau penjor pakai janur, penjormu pakai tanaman pot. Tiupan angin akan membuat tong bunga ini bergoyang dan menari-nari, tak ubahnya penjor yang terbelai oleh angin yang semilir. Naah, pada tampang bangunan yang di bagian inilah ke-Bali-an mengkristal dengan kuat. Ciri Bali yang tampil dengan festive [apa bahasa Indnesianya, Bli, ceriah dan meriah?] tampil di tampang bagian ini. Rongga kosong di kiri lalu jadi sangat perlu dikasihani, tak punya kemampuan untuk ikut berbicara [tapi mungkin saja berbicara yakni: “betapapun kecil dan sempitnya kapling kamu, sisihkan sedikit untuk anak-cucumu” – hehe, salah satu pikiran dasar dari arsitek Putu Mahendra] Ya, kasihan arsitek Putu Mahendra, kepinginnya berkumuh ria, ternyata telah terperosok ke dalam ber-Bali raya.

_DSC3900

O, bukan rumah kumuh,

_DSC3895

tapi rumah meng-kumuh; bukan rumah tanpa jatidiri, tapi adalah rumah Bali.

(putu ; ahh…profesor, bisa ajah…)

j p

220809

Popularity: 36% [?]

4 mahasiswa KP dari kampus arsitektur UGM, datang ke ruang saya.
siang setelah jam makan siang ;

Microkini

saya memandangi mereka.
mereka saling pandang satu sama lainnya. jari tangan mereka saling bermain, mengisi waktu tunggu. matanya larak lirik ke semua sudut ruang kerja saya.
“saatnya untuk asistensi, seperti jadwal yang bapak suruh”, satu dari mereka berkata. mulutnya tersenyum. semua tersenyum.
saya berhenti membuat sketsa. ada gambar park hyatt ningbo-china yang sedang saya cloud untuk saya kirim ke klien hari itu.
saya memulai diskusi, “apa yang sudah kamu capai?”.
ruangan saya hening sejenak. persis seperti waktu yang hening saat perempuan menunggu seorang laki mencium bibirnya. detak jantungpun lebih kencang ketimbang suara harley davidson!.
kami berdikusi. tentang waktu yang mereka  garap selama 2 pekan.
satu satu mereka bersuara.
saya mendengarkan.

di suatu titik dalam sebuah diskusi itu, saya menerangkan sebuah gejala arsitektur yang ditinjau dari bagaimana seorang perempuan mentreat keindahan tubuhnya; brazilian’s wax!.
tangan saya bergerak mencari kertas kosong, diantara sekian tumpukan kertas. tangan meraih sebuah spidol kemudian.
saya mengungkap sebuah gejala yang disadari atau tidak, kegiatan perempuan meng-brazilian’s wax kan bagian tubuhnya, terjadi di ranah arsitektur di mana kaum arsitek berkarya.
“maap, ini bukan saya hendak memberi hal hal porno atau saya ingin meledek atau sebangsanya, saya hanya ingin menjelaskan dengan cara saya sendiri tentang kejadian ini”, begitu saya kira kira memulainya.
4 mahasiswa KP tersenyum. matanya memandangi saya.
tangan saya mulai begerak melukis bagian tubuh perempuan, tepat dari bagian pinggang, pusar, bagian yang ditutup CD hingga ke bagian paha.
“anda tahu apa artinya brazilian’s wax”, saya bertanya ke 4 mahasiswa KP itu.
mereka tersenyum. matanya melarak lirik satu sama lainnya.
saya tak tahu apa artinya.
saya tetap menggambar body perempuan. setidaknya saya telah kulonuwun.
selesai menggambar satu bagian tubuh perempuan itu, saya menarik nafas sejenak.
membiarkan waktu jeda.
4 mahasiswa KP dari UGM menunggu.
“saya tak tahu, kapan trend brazilian’s wax pada perempuan itu pertama kali meraja lela. brazilian’s wax, sebuah keindahan menurut mata perempuan untuk membabat habis rambut di (maap) vaginanya”, saya menjelaskan. mata saya menatap satu persatu 4 mahasiswa itu. “mereka pikir, di sanalah bentuk kenidahan tubuh itu berada, tak dihalangi oleh satupun rambut”, saya melanjutkan.
4 mahasiswa KP itu terdiam. mulutnya tersenyum. kecil.
saya melanjutkan, “ada 3 jenis “pencukuran” rambut di daerah itu”. saya berhenti. ludah mengalir deras ke ruang mulut.
tangan kembali mengarah ke gambar tubuh perempuan itu.
“jenis pertama, american’s wax. jenis ini hanya mencukur rambut yang lebih dari garis celana dalamnya. jadi nampak rapi dan tak nongol saat berbikini”, saya menjelaskan. tangan saya memegang spidol dan menggaris garis berulang ulang bibis celana dalam yang ada di gambar tubuh perempuan itu. untuk menekankan saja. bukan apa apa. jangan berpikiran porno. “rambut dibalik celananya, masih rimbun”, saya melanjutkan lagi.
“jenis ke dua, french’s wax. jenis ini membabat habis hampir semua rambut di daerah itu. mereka, kaum perempuan itu hanya membiarkan satu sampai dua sentimeter lebar dan bentuknya memanjang vertikal segaris dengan garis tengah vertikal vaginanya ke arah pusar. persis seperti kumis hitler. atau kumis jojon. saudara jusuf kala, adalah salah satu kumis yang masuk ke ranah french’s wax!”, saya melajutkan.
4 mahasiswa itu tertawa.
“jenis ke tiga, brazilian’s wax. jenis ini membabat habis semua rambut!. bentukan daerah sensitif itu nampak monumental!”, saya mengakhiri penjelasan.

ada sebuah job yang dikerjakan oleh 4 mahasiswa KP itu, letaknya di mumbai. berhadapan dengan lautan arab. di site di mana job itu terbangun kini, ada puluhan atau ratusan pohon kelapa. yang tingginya hingga mencapai 15 meter bahkan lebih. kami dari awal telah mewanti wanti untuk memeliharanya untuk tak menebangnya. bangunan yang kita gambar akan mengalah terhadap pohon kelapa existing ini. keadaan pohon existing ini, membawa saya kepada penjelasan barzilian’s wax.

“dalam setiap job yang kami kerjakan, terutama saat handover, selalu saja disediakan waktu hingga setahun dua tahun untuk melakukan supervisi. kita musti datang ke setiap job yang sudah dihandover itu. memberi saran akan tanaman. memberi saran akan perubahan yang dimungkinkan terhadap tanaman. perubahan atau penambahan furniture, atau lainnya. ini dimaksudkan agar desain itu bersifat terbuka dan tepat sasaran karena yang memberikan “bimbingan” penambahan dan perubahan dari sang desainer sendiri. artinya, kontrol itu diperlukan sepanjang waktu oleh desainer. tak bisa kemudian diserahkan kepada klien atau si pemakai”, saya menambahkan. “supervisi berkelanjutan ini, sifatnya free. agar apa yang kita buat di tempat itu tetap terjaga, tapi saat kita bermalam di situ, mereka musti mencharge kita free”, saya melanjutkan.

“pada tanaman yang daunnya telah tumbuh dengan baik, ranting pohon yang telah berkembang, atau bagian tanaman yang telah tumbuh subur, diperlukan proses “trimming” agar bentuknya masih bisa mendukung dengan pertumbuhan dan bentukan tanaman lainnya. tubuh mereka musti selalu dikontrol. hal ini dilakukan selain untuk kontrol desain dari desainer, juga memberi pengarajan terhadap klien atau si pemakai bahwa “ini bisa dipotong seperti ini”, “itu bisa dibiarkan hingga di keadaan seperti itu”, sehingga kelak mereka bisa melakukan pengkontrolan sendiri terhadap perkembangan tanaman di kebunnya”, saya melanjutkan.

“pemotongan di beberapa bagian terhadap tanaman ini, ini masuk ke katagori american’s wax!”, saya berhenti.
mata saya menatap mata 4 mahasiswa itu.
arsitektur, jangan dilihat hanya kebesaran sebuah building saja. semua yang kita bisa rasa melalui 5 indera kita, dan apa yang dicipta olehNYA terungkap dalam cipta oleh sakala manusia, itulah kesempurnaan kehadiran arsitektur. kontrol diperlukan agar apa yang kita desain berjalan sesuai dengan apa yang kita harap.
keserasian landskap dengan buildingn, tetap terjaga sebagain usaha masing masing menjadi sebuah kekuatan tanpa harus berpikir mereka saling hantam.

4 mahasiswa KP itu. terdiam.
saya tak tahu, apakah mereka mengerti.
“ada beberapa arsitek yang menyerehkan desain kebunnya ke landskap desainer. sang arsitek hanya memperbolehkan sang landskap desainer untuk menanam tanaman di bagian tertentu saja. bagian lain dari sitenya, dibiarkan tiada rerimbunan. kita jangan menyalahkan hal ini. itu adalah bagaiamana ia menghadirkan ruang. kehadiran building vs tanaman yang berada di daerah tertentu saja sesuai arahan si arsitek building, ini mengarah ke jenis french’s wax!”, saya menjelaskan lagi.
ada banyak yang begini. lihatlah pembangunan mall mall di lahan kota besar itu. hampir semuanya terbangun. hampir semuanya terpavekan. hanya di bagian tertentu diberikan hak untuk tanaman. ini bertujuan agar bentukan buildingnya nyaman dilihat oleh mata.

“di luar sana, ada juga gejala yang lebih ekstrem. building hadir tanpa didukung oleh kehadiran tanaman satupun di sitenya!. sehingga building mereka nampak begitu monumental. inilah jenis kehadiran arsitektur ang saya sebut sebagai jenis brazilian’s wax!”, saya berhenti ngucap.
4 mahasiswa KP itu tertawa.

di keadaan bumi yang sedemikian hebohnya saat ini, saya tak tahu, kehadiran arsitektur mana yang terbaik dari 3 jenis waxing itu yang paling menarik di mata kita sendiri sebagai desainer lingkungan.

“menurut anda, bangunan anda termasuk jenis waxing yang mana?”, saya bertanya kepada 4 mahasiswa itu.
mereka terdiam.
tangannya mengaruk garuk kepala.

saya terdiam. tangan saya berusaha mencabut satu rambut di lobang hidung.
brett…!, busyet……cabut satu saja kok sakit. apalagi mencabut seribu rambut!.

Popularity: 21% [?]

sepedaku

August 11, 2009 | No Comments | Kritik Arsitektur

———- Forwarded message ———-
From: putu mahendra <putu.mahendra@gmail.com>
Date: 2009/8/11
Subject: hari ini
To: greenwarrior warrior <greenwarrior@yahoogroups.com>

DSCN2167

hari ini saya bersepeda via jalur biasa sama dengan hari sebelumnya. ke daerah suwung trus ke bypass sanur.
keluar dari gang di mana saya tinggal, perumahan yang saya lihat sama dengan rumah yang saya tinggali kini.
rumah saya sekarang, sudah full dengan mainan anak, sudah full dengan sepeda, full dengan taek anjing di halaman belakang. garasi kini full dengan kayu gelontongan yang akan saya pakai utk rumah baru.
saat saya melirik rumah rumah kecil di sepanjang gang itu, hidup mereka bertumpuk dalam satu ruang. segalanya ada di sana.

kemarin,
saya menerima kiriman poto rumah yang dikirim oleh rekan arsitek muda di bandung, bro yu.
saya ingin ikut berpartisipasi dalam perancangan rumah rumah sederhana milik kaum sederhana.
saya melihat poto rumah yang ia sodorkan, rumahnya mirip dengan rumah yang saya tinggali kini.
bedanya, saat musim hujan, halaman depan, jalan raya hingga ruang dalam rumahnya tergenang air di mana mana.
bagaimanapun, saya masih berasa beruntung, tak separah itu saat musim hujan.

pada kehidupan di ruang sempit dan terbatas itu, ada sekian harapan yang menjulang akan kehidupan dan ruang yang lebih baik. setidaknya seperti apa yang mereka lihat dalam tipi tipi; makan 3 kali sehari. ada ruang tidur sendiri, ada ruang tamu sendiri dan kalau tuhan mengijinkan, ada mobilnya..hahahaha..setidaknya, hidup tak separah saat di rumah sederhana yang ruangannya itu itu saja.
duh..andai kita bisa hidup seperti mereka yang di tipi itu…
berhidup di ruang sempit, adalah bagaimana kita konsisten dengan ruang sempit. artinya, di sini memerlukan satu hal yang selalu musti menyala; disiplin!.

gowes pagi yang pelan, karena saya tak ingin berkeringat deras dan tak ingin mandi lagi di kantor karena sudah mandi di rumah,
saya berpikir,
komunitas bersepeda ngantor, adalah sebuah kehidupan yang sama dengan rumah rumah sederhana itu. bersepeda adalah hidup di ruang sempit.
di mana samanya?.

saat saya bersepeda,
melirik mereka yang berkendara, pikiran selalu berputar dan berkata, “andai ke kantor pakai motor atau mobil, ndak secapek ini hidup!”.
keadaan kendaraan yang berseliweran itu ibarat acara tipi yang mempertontonkan kehidupan nyaman.
pikiran pikiran yang mewarnai tarikan kaki menjalankan sepeda, bekerja sekeras mereka yang hidup di rumah rumah reod sederhana itu. tak seperti mereka yang hidup nyaman dengan apa apa yang tinggal diklik. makanan mereka yang hidup di rumah rumah reod sederhana, sama dengan udara yang dihirup oleh manusia manusia pesepeda di jalan raya; gas co2, bau kentut truck dan mimpi besar kaum elit.
saya yang bersepada di pagi itu, ibarat mereka yang ada di rumah reod itu, menonton acara tipi tentang hidup nyaman seperti pikiran saya yang menyuruh saya untuk memakai motor saja!. biar nyaman.

itu mangkanya, ada banyak manusia yang bersepeda sekedar pajangan, narek sepeda saat ingin.
belum berani memakainya sebagai alat hidup di keseharian. karena sepeda identik dengan hidup susah. rasa capek dan keringat serta bau.
karena sepeda identik dengan hidup di ruang sempit, penuh dengan angan dan mimpi akan kehidupan yang lebih baik dan nyaman.
termasuk kehidupan baik dan nyaman di mana bhumi semakin sehat.

apakah anda pikir bhumi masih sehat?,

Popularity: unranked [?]

saya dapat perintah untuk memindah pos jaga!.
detik itu, kepala saya panas!. tak ada kontrol.
saya tahu, ini hal sepele.
tinggal garuk, selesai.
apa susahnya?
.

hari itu, saya bales.
saya bilang, intinya; NO WAY!.
apa salahnya?
.

mereka punya alasan pasti.
efisiensi.
saya pelajari gambar.
efisien memang.
tapi, terkadang sebuah detail musti dibaca berhubungan dengan banyak hal. ia tak hadir demi dirinya sendiri.
atau demi sebuah efisiensi.
kalau mau efisien,
apa salah saya meminta agar mulut ditaruh dipusar saja, makanan langsung nyemplung di perut besar!.
artinya apa? hal beginian, yang namanya alasan efiseinsi, punya cacat juga.
kalau manusia punya mulut di mana pusar berada, lha pasti manusia cacat!.

begitu juga pos jaga hendak dipindah.
punya cacat juga.
titik.
otak saya tak mau menerima alasan seperti ini.
!
(tanda seru, ini artinya saya benar benar serius, walau jujur, kalau saya buat otak saya sedikit kendur dan rilex, saya mau memindahkan barang secuil ini sesuai dengan permintaan mereka. saya lihat gambar lagi, pos jaga dengan posisi yang diminta, tak akan mengganggu banyak facade rumah kaca kita)

hari ini saya terbang dengan garuda baru.
logo lama, tapi dikemas dengan warna baru.
jok juga semakin mentereng.
saya pertama kali menikmati terbang dengan garuda baru.
di terbang ini, saya diberi pelajaran,
tentang pos jaga itu
.

saya  bicara pos jaga.
dengan bill.
(saya tahu, ia akan menyuruh saya untuk mengikuti apa yang mereka kehendaki, dan hati kecil saya bilang, saya bisa dengan mudah memindahkan)
caranya dengan bermain tangan.
tangan memegang spidol biru.
dan kami pindah duduk di kursi deretan belakang, karena kursi di mana kami duduk, telah penuh dengan sekian kertas super jumbo berserakan di mana mana. (pramugara pramugari sampai tak bisa melintas!. mereka hanya tersenyum. senyum kecewa. senyum setan!).
pindah duduk, artinya diskusi kami serius.
!
.

pelan tapi pasti,
apa yang ia gambarkan sama persis dengan apa yang ada di otak saya.
saya mengangguk.
ini cara di mana bill menuruti apa mau mereka, dan ini cara juga untuk menuruti apa mau saya.
harusnya,
saya approve saja dari dulu.
tapi, memang otak saat itu cepat banget menjadi panas.
cerita jadi lain.

di garuda baru,
saya disuguhi dengan halus.
bagaimana menjadi arsitek atas yang masih bisa menerima hal sepele yang diminta oleh orang dengan tetap berada di apa yang kita kehendaki.
caranya dengan hal sepele.
saya dengan kont(r)ol.
bukan,
saya dengan kont( ) ol.
!
(tanda seru, ini artinya saya serius)

Popularity: unranked [?]

[adaptasi dan malihan (transformation) dari buku doa Puji Syukur dari umat Katolik]

tulisan oleh prof. josef prijotomo

1.Sakramen Inisiasi/Pembaptisan Penolakan Arsitektur Nusantara
Imam: apakah saudara menolak Arsitektur Nusantara di dalam diri saudara sendiri dan dalam masyarakat?
Calon: Ya, kami menolak!
Imam: Apakah saudara menolak Arsitektur Nusantara dalam bentuk filsafat, teori maupun aplikasi di masa kini dan mendatang?
Calon:. Ya kami menolak
Imam: Apakah saudara menolak segala tindakan dan kebiasaan yang berkenaan dengan arsitektur Nusantara, dan yang berbeda dari arsitektur erosentrik?
Calon: Ya kami menolak
Imam: Apakah saudara menolak Arsitektur Nusantara sumber segala pengindonesiaan arsitektur?
Calon: Ya kami menolak!

Pernyataan Iman Arsitektur Erosentrik
Imam: Percayakah saudara akan arsitektur Erosentrik yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi?
Calon: Ya kami percaya
Imam:. percayakah saudara akan Vitruvius beserta segenap turunannya
Calon: Ya, kami percaya
Imam: Percayakah saudara akan tatapikir erosetrik yang kudus, persekutuan arsitek erosentrik, kekuasaan erosetrikisme, dan kehidupan kekal arsitektur erosentrik?
Calon: Ya kami percaya
Imam: Inilah iman kita, inilah iman Arsitektur yang kita akui dengan bangga melalui erosentrisitas.
Calon: Amin

pembaptisan Arsitek Erosentrik
Imam: … Aku membaptis saudara dalam nama arsitektur erosentrik
Calon. Amin


2. sakramen Perkawinan sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia

Imam: adakah saudara meresmikan perkawinan ini dengan ikhlas hati?
Mempelai: Ya sungguh
Imam: Bersediakah saudara mengasihi dan menghormati arsitektur erosentrik sepanjang hayat?
Mempelai: Ya, saya bersedia.
Imam: bersediakah saudara menjadi bapak (ibu) yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Arsitektur kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi arsitek erosentrik yang setia?
M. Ya, saya bersedia.

Perjanjian Perkawinan sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia

M. di hadapan imam dan para saksi, saya arsitek indonesia menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa arsitektur erosentrik yang hadir di sini sejak saat ini menjadi istri/suami saya. saya berjanji akan tetap setia kepadanya dalam untung dan malang, dan saya mencintai dan menghormatinya seumur hidup. Demikianlah janji saya demi allah dan injil Suci ini.

I. Arsitek Indonesia, maukah saudara menikah dengan Arsitektur erosentrik yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?
M. ya saya mau

Pengukuhan Perkawinan sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia

I. Atas nama arsitektur dan di hadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan arsitektural yang sah (dan sah pula menurut negara). Semoga perkawinan ini menjadi bagi saudara sumber kekuatan dan kebahagiaan. Yang dipersatukan Arsitektur jangan diceraikan manusia.
U. Amin

Pemberkatan Perkawinan sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia

pengenaan cincin
Imam: kenakanlah cincin ini pada jari arsitektur erosentrik saudara sebagai lambang cinta dan kesetiaan
Mempelai: Terimalah cincin ini sebagai lambang kesetiaan dan cintakasihku


3. Ibadat sesudah saat kematian Arsitektur Nusantara

Sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia, pencipta segala teduhan dan lindungan, janganlah lupa akan ciptaanmu yang pernah kau anugerahi hidup. Engkau sendirilah yang memanggil arsitektur nusantara meninggalkan dunia ini. Terimalah di tempat kediamanmu, sebab dialah anakmu, ciptaanmu, milikmu.
Ya Sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia, arsitektur nusantara belum dapat menyelesaikan semua tugas hidup di dunia ini, tetapi engkau sudah memanggilnya. Kami percaya engkau berkenan menyempurnakan apa yang belum dapat diselesaikannya dalam batas waktu yang kauberikan
Kini jantungnya tidak berdenyut lagi, dan kelopak matanya sudah kaukatupkan, hanya satulah yang masih dirindukannya, yakni engkau, Sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia,. di dalam engkaulah, ia akan berbahagia selama-lamanya.

Pemakaman arsitektur Nusantara

Sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia yang mahakuasa telah berkenan memanggil arsitektur nusantara ini ke pangkuannya. Jenazahnya kita serahkan kembali ke ibu pertiwi. Semoga Sekolah arsitektur di Indonesia dan arsitek Indonesia, menerima dia dalam damai dan menguburnya dalam kematian kekal

Amin.

Popularity: 4% [?]

beberapa bulan lalu,
saya hadir di acara temu alumni dengan para mahasiswa arsitektur ITS.
mahasiswa ini sedang melakukan SE ke jakarta.
tempat temunya di JDC jakarta.
mas bob yang di kemang sana, memberitahu kalau kalau saya bisa hadir.
saya berusaha untuk hadir. mengatur atur jadwal.
mencari cari hari dan tilpun sana tilpun sini agar meeting bisa dilakukan pas di mana mahasiswa SE ITS itu terjadi.
akhirnya, saya bisa datang juga ke jakarta.

setelah meeting kelar, malam harinya saya ke JDC,
saya hanya punya waktu 30-45 menit, karena musti pergi lagi pulang ke bali.
karena kita masih berada di indonesia dan jakarta terkenal dengan macetnya, waktu temu molor hingga larut.

acara diskusi dibuka oleh mas rizal,
dilanjutkan dengan diskusi tentang prospek tamatan arsitektur,
penggambaran yang luar biasa diberi oleh mbak gita, rekan saya satu kelas dulu saat sekolah.
saya termasuk fans berat mbak gita saat sekolah dulu,
saya ingin menjadikannya pacar, tapi saya maklum,
wajah saya tak se-blink blink mereka yang punya kendaraan mewah saat itu.
jadilah saya hanya pengaggumnya hingga kini.
paparan mbak gita, memberi banyak gambaran tentang kemana saja tamatan arsitektur itu bisa lari.
di akhir sesion diskusi oleh mbak gita, si mbak bertanya ke mahasiswa itu, “ada yang mau jadi arsitek?”,

ruangan flamboyant di JDC itu berubah jadi kuburan.
sepi.
tak satupun dari mahasiswa itu berani mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan itu.

saya lemas.
mendadak kemaluan saya mengecil dan hilang.
terasa, saya berubah kini jadi lonte perempuan!.

ingin rasanya saya bakar semua murid itu untuk saya santap jadi burger katak !..

memalukan!.

Popularity: 15% [?]

dscn1738.JPG


erfan (materials sourcer) :
Godel / Putu,

Just to make sure the final approval of the bronze railing as attached file

1. All detail of railing will use as following :
a. short railing will have 5.57 meter long with 5 post supports, diameter post and railing using 30 mm diameter bronze green patina finish ( x 2 )
b. Long railing will have 10.47 meter long with 11 studs attached to the wall, diameter studs and railing using 30 mm diameter bronze green patina finish ( x 2 )

2. Please check also the site measurement based on the existing wall dimension for this railing  (long railing), and also the actual pavement existing for the short pond. We do not want to produce railing that become shorter or longer than existing.

3. Especially for short pond, please confirmed the qty. of total post, since Mr. Putu want only have 2 post instead of 5 post, based on safety and durability reason, it can not  be achieved because the span 5 meter will easily bend. Also for that span need to be thicker at least 50 mm diameter.

4. All ending railing detail will be the same between short and long railing (curly out)

By copy to Lim, please help to provide the site measurement for item no.2

putu :  godel ??

godel : Dear Erfan,

1. Confirm, and please check with the exact measurements on site.

2. Mr. Lim, Please help for exact measurements.

3. Mr. Putu, please confirm.

4. please follow our drawings for the short railing (not short pond)

thank you,

putu : #3. 2 posts. confirmed.

lim (P.M. dari main-Con di sentosa cove, singapore) : Putu,
Railing vertical post at 3000mm spacing is not strong enough. Normal railing
design the post is less than 1200mm spacing. Pls reconsider. Thanks.

putu : 2 posts confirmed.

how often they touch the railing at coral?
K.C. (architect from AXIS-singapore) : Hi Putu,

It is to comply with the authorities’ requirements in terms of the stability of the railing.

putu : lim,
i have no ideas.
if you want to have more posts, pls go a head.
my head is just want to have done by 2 posts.
thanks.

lim : Erfan,
Please proceed with 5 posts as per drawing to ensure stability of the
railing. Thanks.

(ini gila!. peraturan dalam perancangan dalam sebuah “tempat”, terkadang bisa membuat manusia seperti robot, atau handycap person!. menghilangkan sense dan estetika. dirasa perlu, terkadang dalam kenyatannya, tak fungsional)

Popularity: 36% [?]