putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

Archive for the ‘ Arsitektur Tulis ’ Category

rekan rekan,
pagi ini saya terbang dari guangzhou ke sanya.
ada klien hendak mengundang kami untuk mendisain propertynya.
sebenarnya, saya telah lihat sitenya bersama satu rekan di sanur 2 minggu lalu.
kini saya mengajak prinsipal untuk melihatnya.

dalam laporan tertulis saya akan site ini, saya bilang bahwa sitenya tak tergolong enak untuk didisain.
tapi terus terang, saya suka site yang berada di lahan terjal dan berhutan pinus. ada banyak hal yang membuat kemudian site ini tak cocok.
buildingnya digarap oleh top world architect, aedas hongkong.
dan interiornya digarap oleh 2 interior desainer dunia, satu dari england dan lainnya dari bangkok.
saya tak bisa berkomentar apa apa terhadap garapan aedas dan garapan interior dari 2 IDnya.
“saya tak mau berkomentar banyak terhadap building dan interiornya, anda bisa liat langsung saat anda ada di sanya”, saya tulis begitu di laporan saya.

site pertama yg didisain oleh aedas dan 2 ID itu, berada pada lahan berkontor terjal dan berhutan pinus.
sekarang, proyek di site pertama telah berada di langkah 75% konstruksi.
apa yang terjadi?
pohon pinus bablas!. satupun tak tersisa. kontras alam menganga memperlihatkan hutan beton dan potongan tanah sedemikian rupa antara man-made dan god made. beton dan tanah yang terkotak kotak dilatar belakangi oleh hutan pinus dan kontor alami.
kontor habis dibabat seperti potong kue tart!
imagine: saat semua arsitek melakukan pendekatan seperti ini dalam olah site….

klien mengajukan site ke dua, yang jaraknya cuman beberapa meter dari site pertama.
building tetap akan digarap oleh aedas, dan interiornya akan di garap orang orang yang sama pada site pertama.
pada site ke dua yg ditawarkan ke kami ini, aedas telah melakukan master planning sebanyak 16x lebih.
dan tetap tak bisa membuat happy klien.
yang akhirnya studio kami dipanggil.

siang kami landing di sanya.
hujan menyambut.
dan supir dari klien menjemput.
sesaampainya di site,
klien menemani untuk melihat apa yang telah mereka lakukan di site pertama.
melihat prototype villanya, melihat mock up interiornya.
melihat garapan aedas di master planning yang kini sudah 75% jalan.

kemudian klien mengantar ke site ke dua di mana ia tawarkan untuk menggarapnya.
masuk ke hutan pinus dan melihat sekeliling.

dari site ini,
kami melaju ke kantor klien.
di rapat sore itu, prinsipal berujar, “maap, saya tak suka building villa anda. tak suka dg interior yg sudah ada. tak suka bagaimana arsitek memperlakukan alam di site pertama. saya tak berkeinginan menggarap proyek anda. sekali lagi, maap”.
klien berujar, “anda boleh garap buidingnya, sekalian interiornya. agar memudahkan anda mengkontrol. itu sebabnya kita panggil anda ke sini untuk membuat property ini semakin baik”.
prinsipal berkata, “mohon maap”.
kami meninggalkan ruang rapat.
hujan di luar masih berintik rintik.

saya bukan orang kaya, yang tak butuh uang dan kerja. juga bukan arsitek top rank world.
tapi kalau ada arsitek yang merogoh dompet klien dengan membabi buta menggasak “mother nature”,
saya doakan ia untuk masuk kubur dengan cepat!, menjadi pupuk buat bhumi ini agar tetanaman semakin rindang olehnya.

salam dari sanya-china,

Popularity: 12% [?]

hp saya bergetar dan berbunyi.
singapore masih teramat pagi.
basah hujan membuat kaca di lantai 9 grand hyatt berbintik bintik air.
seperti cacar air di mukak saya saat belita duluk.
istri menilpun sepaghik ini. deringan hp saya menyalak keras, membuyarkan mimpi.
saya bermimpi.
mimpi tentang 2 perempuan.
saya tak menghiraukan dering tilpun.
ingin rasa tertidur lagi. bermimpik lagi.
tentang 2 perempuan ithuk.

*

manusia berbaur.
berseliweran.
gang orchad di week end itu bagai acara tujuh belasan di alun alun kota di desa saya.
dari dulu hingga jaman edan ini, acara tujuh belasan yang hanya bisa membuat manusia berjubel jubel memadati alun alun kota.
masyarakat desa kami, dengan pakaian baru dan penuh solek, mengajak keluarganya sekedar “tamasya” ke alun alun kota, manusia kecil peruntungan kecil.
tujuh belas agustus, di alun alun kota banyak ada hiburan. banyak ada warung kejut. dan yang pasti, selalu ada tong edan!.
itulah desa kami, berjubel manusia hanya di saat perayaan tujuh belasan.
taphik siang itu di orchad, jubelan manusia lalu lalang di trotoar kota adalah hal lumrah. bukan karena menyambut hari kemerdekaan mereka.
tapi hal lumrah. hal yang telah menjadi “tahi lalat”.
saya berpikir, ruang publik ini begithuk berhasil menyedot manusia lokal dan luar untuk menikmatinya.
saya berdiri di kerumunan itu. di jubelan manusia itu.
otak saya bertanyak, “apanya yang membuat gang ini begitu di damba manusia?”.

duduk di lantai kayu toko buku kinokuniya,
di siang itu, membuat perasaan lebih adem ketimbang berada di kerumunan manusia itu.
ntah kenapa, badan kini telah berada di lantai kayu itu. kini berserakan dengan tertata, tumpukan buku yang berwarna warni.
bertebal tipis. tubuh buku dilapisi plastik membuat mata memergoki gambar kovernya. menyiratkan isi dalamnya. menggoda mata.
persis seperti pakaian wanita wanita yang berseliweran di gang orchad; terbungkus kain tipis tembus pandang dengan rok semili meter dari selangkangan.
menggoda mata.
sekian buku, membuat mata blingsetan.
menikmati buku di siang itu, duduk di atas lantai kayu, menikmati proses karya sekian arsitek yang dipahat pada setiap lembar kertas, angan angan melayang bebas di udara singapore.
arsitek, ternyata bisa membuat dunia bermimpi. bergoncang, berwarnak.
dari jingga sampai ke kelam gelap.
dari drama, bego’ begoan hingga dar-der dor!
lembar demi lembar berlalu, warna demi warna berlalu. cerita demi cerita berlalu.
udara berlalu. datang dan perghik.
sekejap, suara hak sepatu mendekat membuyarkan lamunan di udara singapore.
2 perempuan menyapa.
mereka ayu, ayu mereka mengalahkan desingan mesin ferrari di gang orchad.
mengalahkan hingar bingar starsitek manapun.
mengalahkan lamunan saya di siang itu.
ayu perempuan, karya arsitektural tuhan yang tak berhingga.
ayu perempuan, menyiratkan kekuatan tuhan dalam berkarya.
kebodohan dari perempuan ayu, merusak segala kekuatan tuhan.

*

kami bercakap.
lama sudah tak bersua.
waktu memisahkan. waktu mempertemukan.
ntah dirasa atau tak dirasa, perjalanan adalah dua hal utama; temu dan pisah.
2 perempuan ayu, saya kenal saat mereka berada bareng di sanur.
meramaikan suasana siang dan malam.
merayakan hari dengan hidup tertekan dan leluasa.
meniti jalan menemukan makna arsitektur dan arsitek.
saya menatap ke duanya.
belum banyak berubah.
“bapak kok gondrong?”, satu perempuan ayu bertanya. tubuhnya dibungkus kain rajutan. dalamannya melipir nongol keluar bertuliskan “mango”.
“bapak kok gemuk?”, perempuan ayu ke dua bertanya. dia mangut mangut hingga tubuhnya bergelombang. persis seperti jalan ulat daun. selama dia ada di sanur, tak pernahlah mata ini melihat dia bersolek. keluar studio sanur, banyaklah yang berubah. solek adalah dunia kini.
saya bingung, meraba rambut saya. tak terpikir kenapa rambut ini gondrong.
saya menatap diri sendiri, kok bisa gemuk?.
kami terbang. melesat. menikmati udara.
melayang di atas, mencari tempat untuk bercengkrama.
duduk di setiap awan. pindah ke awan berikutnya. angin berhembus menepi memberi minuman dan makanan ringan surgawi.
kami tertawa dan menunjuk satu bintang yang bersinar terang di siang itu.
di bawah sana, sekian manusia berjubel lagi. dan lagi..dan lagi..di gang orchad itu.
kami terbang melayang menuju awan yang ada di pojok.
awan singapore berseri. mataharinya berwarna pink!
sayap putih mengepak di bahu. angin menepi terhempas.
kegembiraan dalam cengkrama di siang itu, melupakan segala hal yang terjadi di bawah sana; gang orchad dengan mataharinya yang berwarna biru dongker.
kantong saya bergetar.
hp saya tersambung dengan nomor di luar sana.
istri menilpun.
mata saya terbuka.
saya terjaga.

2 perempuan ayu sirna.
hanya ada 2 bantal putih dan selimut, persis awan awan saat itu di mana kami duduk bersama.
dering tilpun memisahkan waktu.
saya menatap keluar,
kini matahari singapore berawarna jingga.
arsitektur dan dunia arsitek,
penuh warna dan mimpi serta punya seribu tujubelas matahari.

Popularity: 9% [?]

selamat paghik,
baru saja saya datang dari desa saya,
desa kecil mrengil di punuk pulau bali, singaraja.
kami mengadakan ngaben masal.
mereka yang tak mampuk, sepertik kami kami ini, ngaben masal adalah sebuah jalan keluar.
sathuk perempuan kami yang baru beberapa bulan lalu khatam, dimasukkan dalam daftar yang akan diaben.
saya gusung satu bokor silver yang berisi canang sari dan dupa yang berbusa asap, diatas kepala saat dari pura segara ke bale banjar.
semangat membara membawanya bersama ratusan jiwa yang diaben.
manusia bali, hidup selalu dengan “representasi”.

*

beberapa tahun lalu,
saya masuk ke dalam sebuah kamar tidur.
rumahnya yang kecil mrengil di denpasar.
dalam ruangan itu,
nampak satu perempuan tua.
ia kini kurus, mengecil seperti cabe merah yang kering digilas sinar matahari dan waktu.
saat perempuan itu melihat saya datang,
tubuhnya menangis.
matanya berkubang air kehidupan yang semakin surut.
saya duduk di dekatnya.
kami bercerita melalui diam.
ruangan itu seakan ikut berpesta kata kata.
hanya kami berdua yang mendengar kalimat kalimat yang keluar dari mulut semua benda yang ada di ruangan itu.
kami berbicara melalui diam.
saya memegang tubuhnya yang mrengil.
perempuan itu menangis.
dalam hati saya berujar, “tuhan, kalau sampeyan ingin perempuan ini hidup, berilah ia kesembuhan. tapi kalau sampeyan ingin perempuan ini khatam, jangan begini caranya!”.
selang infus melilit di tangan dan masuk ke lobang hidungnya.
satu kaleng besar biruk tabung gas tersambung.
manusiak dalam keadaan meregang nyawa, tuhanpun tak bisa berbuat apa.
esok hari setelah pertemuan dengan perempuan itu,
saya terbang ke colombo-srilangka.
saat presentasi di ruang yang sepi dan lebar, colombo mengundang hujan untuk datang.
awan gelap, burung gagak berseliweran dan menepi.
sesekali petir datang meramaikan.
di suasana yang dingin dan penampilan presentasi kami yang menawan,
perempuan tua yang meregang nyawa itupun benar benar khatam. tuhan mengajaknya pulang.
saya menangis.
colombo basah.
burung gagak menepi.
tunai sudah perjuangan!.

*
ini tentang beberapa bulan laluk;
di siang itu,
perempuan tua sedang tidur di atas sofanya yang lusuh.
ia sendiri.
saya masuk ke ruangan di mana ia tertidur di sofa itu.
ia sendiri.
anak anaknya sedang bepergian mengais rejeki.
merayakan hari dengan bekerja.
saya duduk di sampingnya.
bunyi reyot sofa membangunkan perempuan itu.
ia tersenyum.
saya tersenyum
udara luar membawa kebahagian.
kami bercakap.
tentang banyak hal.
dan tentang rumah seng saya.
“kalau bibikmu ini sehat dan selamat, ingin rasa bibik ikut melaspas rumah kamu tu”, ia berujar.
nafasnya naik turun. matanya menerawang berharap pada tuhannya agar ia diberi umur lagik.
“ya, nanthik saya akan jemput!”, saya berujar membalasnya.

tiga harik setelah pertemuan di sofak reyot itu;
ada sms masuk saat saya sibuk dengan pulpen dan kertas, “bibikmu masuk RS laghik!”.
saya bergegas keluar.
menerjang malam yang dingin.
di rumah sakik itu.
sekian manusia berjubel.
manusia manusia udik yang berharap banyak pada sebuah tempat; rumah sakik.
masuk ke ruangan ICU,
perempuan tua yang saya ajak ngobrol tentang banyak hal beberapa hari lalu itu, kini meregang nyawa.
selang infus melekat erat di lengan.
selang lain menerobos masuk ke lobang hidungnya.
sekian alat mengontrol hidupnya.
sementara, si perempuan tua yang meregang nyawa, mulutnya komat kamit berbicara banyak hal.
bahasanya bahasa yang tak saya kenal; bahasa sorgawi.
sekali laghik tuhan menunjukkan kelemahannya, ia tak bisa berbuat apa apa.
tiga puluh menit kemudian, perempuan tua yang saya ajak ngobrol tentang banyak hal ituk, khatam!.
malam yang dingin, kini ramai oleh tangisan.
saya menatap langit. ia diam seribu bahasa.

ini tentang kemarin;
jasadnya,
kemarin berupa sesajen bali dan dupa yang berbusa asap mengepul menemui langit cerah.
saya berpikir, seburuk buruk perempuan selama hidupnya, niatnya untuk mengasihi kita kita ini adalah setinggi busa asap dupa yang merangkul bhumi hingga ke langit.
representasi jasadnya yang kinik hanya berupa sesajen dan dupa, saya taruk di atas kepala, berjalan gagah dari segara ke bale banjar,
di kemarin siang yang terik itu.

perempuan perempuan tua reyot yang pernah dekat di hatik saya.

anda punya perempuan perempuan tua reyot yang pernah dekat di hatik?
saya punya, perempuan bali menginspirasik.

salam week end.

Popularity: 9% [?]

istri saya meng-sms;
“nanthik malem keluar ndak?”.
saya tak menjawabnya.
saya musti mengirim email artwork untuk proyek di luar sana.
tilpun dari bangkok, kemarin hari, membuat saya terjaga.
“putu, apa khabar, dan selamat siang”, katanya.
“selamat siang. saya baik baik saja”.
“bagaimana dengan artwork yang dipesen brian?, katanya anda sudah meeting dengan brian dan berkenan mengerjakan?”, katanya lagi.
saya baru terjaga.
terjaga akan tugas yang diberikan beberapa minggu lalu.
kertas gambarnya tertumpuk di bagian bawah tumpukan tumpukan lainnya.
dan yang paling menyiksa di hari kemarin adalah masalah listrik yang dimatikan oleh PLN.
seharian tiada listrik.

gambar artwork untuk proyek di luar sana, saya genjot.
ibarat mengendara mobil.
ntah tikungan, jalan becek, jalan ramai, trotoar, lampu merah, saya libas habis.
250km/jam!.
kerjaan ini musti kelar, karena ada kerjaan lain yang musti dilibas habis dalam semenit dua menit. dan ada lagi. dan ada lagi. begithuk seterusnya. proyek datang silih berganthik.

sore menjelang gelap, listrik masih padam.
sedang mata sudah agak gelap menatap kertas dan memainkan tangan.
11 artwork saya hasilkan.
meng-scannya, dan siap kirim.
tapi listrik masih padam
sore menjelang malam, di hari kemarin itu.
saya teringat dengan sms istri, “nanthik malem keluar ndak?”.
saya tinggalkan kantor. lebih baik keluar nganter istri ke mall beli susu.
dan saya bisa nyantol di JCo-donat, untuk berinternet dan mengirim artwork!.

di mall;
ibu saya yang ikutan rombongan, matanya melirik telapak kaki saya.
ia menegur saya.
“tu, sandalnya kok aneh?”.
saya berhenthik berjalan. dan melihat telapak kaki.
kaki kiri dengan sandal “volcom” hijau tentara.
kaki kanan dengan sandal “rip curl” hitam.
saya hanya nyengir.
anak anak saya tertawa terpingkal pingkal.
mereka berlalu.
saya menepi menuju toko sandal.
membeli sandal yang satu warna satu produk, satu rasa, satu merek; quiksilver.
mungkin otak saya sudah tak mampu berjalan secepat yang saya mau.
mungkin otak saya sudah tak mampu menyimpan data sebanyak yang saya butuhkan.
mungkin saya merasa superman, tetapi apa yang saya miliki adalah kelas supermi.

malam itu di JCo-donat,
saya kirim artwork pesanan.
saya kirim photo photo st. regis bali yang saya potret beberapa hari lalu.
ada 10 photo untuk pendahuluan.
tak hendak semuanya. musti sathuk sathuk. biar sexy!.
sisanya ada 2765 photo lagi.
setidaknya, nyantol di JCo-donat malam itu, sudah bisa mengurangi beban.

pagi ini di pos polisi,
“nama anda?”, pak polisi bertanya.
“putu mahendra”.
“pekerjaan?”,
“arsitek”.
“arsitek negeri?, atau arsitek swasta?”,
saya bingung.
“swasta”, saya jawab.
“keperluan anda?”,
“anu pak. atm saya hilang”.
“kapan lalu, anda juga ke sini. atm hilang juga. sekarang hilang lagi?”.
“anu pak. saya lupa taruh. ntah di mana”.
wajah pak polisi ragu. dan ia berpaling muka kemudian memulai mengetik di komputernya yang kere.

pagi ini di kantor sanur;
email datang bertubi tubi.
ratusan jumlahnya.
saya baca secuil.
dan bersiap untuk mandi. habis bersepeda dari rumah menuju pos polisi. menuju bank BCA untuk meminthak atm baru. menuju warung makan untuk sarapan pagi.
peluh meluluh-lantakkan tubuh.
ruang kerja yang ramai. ramai oleh kertas. ramai oleh kerjaan. ramai oleh email. ramai oleh ide dan pesanan.

handuk.
sabun baru.
sikat gigi dengan secuil odol.
shampoo.
pakaian ganthik. tergeletak di meja. tepat di depan hidung. agar saya tak lupa membawanya ke ruang mandi.

air yang keluar dari shower membuat dahaga.
sabun yang tinggal segores, dipaksa untuk mengeluarkan busa. saya lupa mengambil sabun yang sudah tepat berada di depan hidung tadi.
otak saya sudah tak beres.
saat badan basah oleh siraman air,
handuk ternyata masih tergeletak di meja di ruang kerja.
otak saya sudah tak mampu mengingat.
pakaian bekas tadi pagi yang saya pakai untuk bersepeda, berfungsi dadakan sebagai handuk. bau peluh kini bercampur dengan bau sabun.
saat akan keluar dari kamar mandi,
saya baru ingat bahwa saya membawa shampoo dan tak meng-shampoo rambut saya yang kulit kepalanya sudah gatal.

mungkin memang benar, otak saya sudah tidak beres.

ada email baru datang saat kembali duduk di depan mac,
tentang photo st. regis yang saya kirim semalam;
“putu, you are such a teaser!. send them all!”.
saya tersenyum. ikannya nyantol di pancingan.

selain memang benar otak saya sudah tak beres lagi, mungkin pekerjaan saya juga sudah tak beres lagi.
mungkin memang benar begithuk adanya.

Popularity: 14% [?]

saya beli apa yang saya mau.
istri saya hanya tersenyum doang.
sambil bertanya, “dimana dapat duit?”.

saya sudah pindah ke rumah seng.
belum dapat listrik.
walau lampu bisa nyala karena pihak pengembang menarik listrik dari tetangga, setidaknya pagi hingga sore bisa liat berita di tipi.
dalam tipi; ada artis saling cakar cakaran. ada perempuan yang mundur. ada manusia yang tergelatak di jalan. ada banyak sandiwara.
jam enam sore, listrik dicabut oleh tatangga, maklum tetangga ini punya business tukang las.
ia kerja sampai malam.
jam 10 malam, ia istirahat.
dan listrik di rumah pun kembali nyala :-) .
dan tipipun bersandiwara lagi.

saya bicara ke pengembang.
kenapa bertele tele.
dia menjawab, dengan bertele tele pula.
jadinya, saya dan pengembang berada di dunia antah berantah.
dunia tele menele.
tetangga saya dalam satu perumahan, hanya diam saja walau hidup tak berlistrik pula.

saya pikir,
rumah seng ber-ruang besar.
saat diisi furnitur,
ruang terlihat kecil.
atau memang furniturnya kebesaran.
atau,
furniturnya kebanyakan.
atau dua duanya benar.
semuanya benar.
jadinya,
kalau jalan dalam rumah seng, musti mencari “celah”.

kalau saya ingat ingat lagi,
rumah para kaum marginal yang saya lalui sebelum ke rumah seng,
nampak dalam satu kamarnya akan penuh oleh segala barang.
ada kasur yang tergeletak di lantai,
lemari plastik pakaian.
tape recorder, beserta speakernya segede lapangan bola basket.
tivi.
kulkas.
kipas angin.
bini.
dan anaknya.

dan saya sendiri?,
tak ada bedanya.
cuman menang kelas doang.

saya berburu barang dari toko ke toko.
di sekitaran bypass sanur hinga ke kuta.
ada beberapa dapatnya di cambodia.
ada yang dapatnya di india.
ada beberapa yang hasil tangan sendiri.
saking seringnya belanja,
lupa akan tempat yang tersedia di rumah seng.
dan yang paling penting;
lupa ternyata kartu kredit ada batas limitnya!.
dan yang penting dari yang terpenting adalah saya lupa bahwa saya musti bayar tagihan di nanthik bulan.

saya beli apa yang saya mau.
istri saya hanya tersenyum doang.
sambil bertanya, “dimana dapat duit?”.

saya hanya diam.
tak bisa menjawabnya.
kemaluan saya gatal.
ingin menggaruknya.

Popularity: 25% [?]

saya bekerja dengan wayan wijaya, seniman kaca lokal yang studionya di desa bona di gianyar.

sama dengan bagaimana saya bekerja dengan mas fulkin, tukang las yang berada sekitar tiga puluh meter dari studio sanur, begitu saya bekerja dengan masing masing supplier yang merealisasikan apa yang ada di benak. saya musti dekat, tak bisa dilepas hanya memberi gambar.
klien sudah membuat sampel untuk apa yang kita gambar, saat inspeksi beberapa waktu lalu, hasilnya tak begitu menohok.
serasa saat kita melakukan sex, tak ada jilatan maka tak enak.
gambar yang ada di kertas dari hasil plotter kita, tak fix. dia musti selalu membuka ruang untuk dipijit beberapa bagian agar lebih sempurna.
pemijitan dilakukan saat dibuat sampelnya.
dipijit atau dijilat, itulah bagaimana kita memadu madankan apa yang di kertas dengan apa jadinya ia nanti.
desain musti dijilat, biar lidah merasakan apa kurang dari gambar yang kita buat.
atau,
disain musti dijilat agar sampel yang dibuat tanpa supervisi kita, kita bisa memberikan gambaran apa yang kurang dari sampel itu.
kalau tak dijilat, tak enak.
itulah sex.
sextecture!.

jam empat pagi saat saya masih lelap, di dubai;
mas andre, tukang las dari bengkelnya mas fulkin menilpun saya.
“busyet, ada apa mas andre?, pagi gini..”, saya lupa saya tak memberi tahu dia bahwa saa ada di dubai.
“anu mas, saya mau minthak gambar pagarnya. boss tak ada di bengkel. saya tak tahu di mana ditaruh gambarnya”, begitu dia menjelaskan. “ini kan sudah siang, jadi tak pikir mas putu sudah ada di sanur”, katanya lagi.
sudah siang?. he..he..

hari apa yang digarap mas andre sudah kelar.
saya ada di bai saat ia mengerjakan.
ia meng-sms saya.
“mas putu, sudah ada di mana sekarang?”.
saya jawab, “di studio boss!”.
dia balas, “bisa ke bengkel?, liat sampelnya. sudah jadi”.
wweeeiiikkksss…., saya terkejut. tanpa supervisi?.
saya bergegas berjalan.
matahari masih bersahabat. hangat sinarnya.

mas fulkin dan mas andre sudah di bengkel.
dia memegang sampel pagar itu.
saya manikmati.
ternyata mereka mengetahui apa yang ada di benak.
maklumlah, kita sudah terlalu sering bekerja dengan tukang las ini.
jadi, apa yang mereka sodorkan dengan sampel pagar ini, saya hanya berkomentar sedikit saja.
secuil, tak banyak.
saya puas dengan apa yang mereka kerjakan.

pagi itu setelah dari bengkel mas fulkin,
wayan wijaya, seniman kaca lokal dari desa bona menilpun.
“di mana ini boss?”, tanyanya.
“di studio boss, nape?, saya jawab.
“weh, kebetulan ini saya sudah ada di depan studio, saya masuk saja ya”, ia berkata lagi.
kami bertemu dan berbicara di kebun.

ada satu job yang memerlukan bantuannya.
memerlukan masukan dari pengalamannya.
saya buta akan kaca.
buta akan dunia itu.
dan saya memerlukan bantuannya untuk merealisasikan apa yang ada di benak.

ada komentar dari klien tantang kaca yang akan kita pasang.
banyak masukan dari klien yang membuat saya juga berpikir.
setidaknya apa yang mereka bawa, masih diterima.
hal ini seperti membuat kita musti bekerja dari nol lagi.
meraba raba lagi.
bereksprimen lagi.
untuk bisa begini,
hal yang paling membantu adalah bekerja dengan manusia yang tahu.
yang tahu masalah kaca.
wayan datang membantu.
tanpa melihat ia akan mendapat pekerjaan atau tidak dari diskusi ini. ia iklas untuk nantinya tak dipilih untuk menyuplai kaca.

masalah sedikit tertanggulangi.

arsitek,
semestinya musti bekerja dengan dekat bersama para seniman.
termasuk tukang las yang tahu masalah besi,
termasuk tukang kaca yang tahu karakter kaca.
bengkel kerjanya seadanya.
tak ber-ac,
lantainya tak bereramik.
dari sana segudang ilmu dan pengalaman menumpuk
jangan malu untuk bertanya.
karena arsitek adalah manusia juga.

sama seperti wayan wijaya,
iklas saja.

Popularity: 34% [?]

dubai membuat saya berpikir banyak.

“tu, kamu nanam tanaman banyak banget. air yang kita sediakan tak cukup menyuplai untuk sekian tananam yang kamu tanam”. begitu issue yang saya terima di rapat di pagi itu di dubai.
saya mengernyitkan dahi.
ini pertama kali saya digugat karena mereka tak bisa menyiram tanaman karena jumlah tanaman yang banyak dengan air yang terbatas.
ada apa dengan dubai?

sebelumnya;
“tu, karena ingin melakukan penghematan air dan mengontrolnya secara ketat, lebih baik water feature yang berupa air mancur ditiadakan. karena kami takut air itu menguap dan menghilang di udara”.
katanya lagi pada sebuah meeting.
saya mengernyitkan dahi.
ini aturan main yang mau menggoda saya atau memang ini issue yang serius?.
kenapa dengan tempat ini?.
telunjuk saya mengutak utik lobang hidung.
mereka menatap saya tanpa banyak tanya.
tak terasa lobang pantat mengeluarkan kentut yang tak berbunyi.
“ppppsssssssttttttt……..”.
lima detik kemudian.
beberapa lobang hidung di depan mata tertutup tangan mereka masing masing.
saya senang.

kalau mau hemat energi dan air,
di sekitar hotel yang kita bangun, membentang sekian hektar lapangan golf yang memerlukan energi dan air yang tak berhingga.
tapi kalau saya pikir, tetangga adalah tetangga.
kebijakan kita tak bisa dipakai untuk mengukur kehebatan dan kekurangan tetangga di mana kita hidup.
aturan main yang selalu baru di mana kita bermain dan bergembira, selayaknya tak membuat desain kita tambah kerdil.
sebaliknya, musti bisa lolos untuk tetap bermain dan bergembira seperti sedia kala.

di lain waktu itu,
“tu, ini tembok terlalu tinggi. kita ingin kebun yang luas dan lapang. see, dengan adanya tembok tinggi besar ini, membuat kebun yang memang sudah kecil jadi semakin kecil”.
saya mengernyitkan dahi.
saya pelajari dan memang ada kesalahan gambar pada kertas yang kita bawa itu.
men-type ex di sana sini.
mencoret di sudut kanan dan kiri.
dan mempresentasikan kembali ke sidang meeting yang terhormat.
ada saja saat di mana beberapa sudut dari desain kita akan menjadi titik komentar yang mungkin benar ada kesalahan di situ.

saya bertemu konsultan MEP siang itu.
ia membawa segulung tebal gambar.
gambar gambar dari kita yang ia telah tambahkan gambar MEPnya.
kamu bersalaman. dan berpandangan. serta tersenyum.
ia menjelaskan gambarnya. menjelaskan desainnya.
saya mangut mangut. saya setujuh saja.
saat ada pertanyaan secuil darinya, saya menjelaskan.
karena tangan saya tak bisa diam saat menjelaskan konsep, tangan dengan reflek mengambil pena merah dan menggambar di kertasnya.
“maap, putu, tolong jangan sentuh kertas saya. itu kertas konsep. tak bisa dicorat coret!”, matanya mendelik.
saya terkesima.
reflek tangan melempar pena merah ke sudut ruangan.
banyak mata terkesima.
manusia protektif.

saya mengerti.
hari berganti, ditandai dengan banyak hal baru.
nikmati saja.

perut saya kembung karena kebanyakan kopi starbucks.
kali ini tak kuasa menahan kentut.
“broouuuttttt….!”.
suaranya keras.
untung sudah berada di kamar mandi hotel.

Popularity: 30% [?]

saya kembali berada di cambodia,
beberapa bulan lalu.

ada tanah yang hendak kita garap menjadi sebuah kompleks hotel.
seperti halnya kompleks hotel di kawasan BTDC nusa dua-bali.
di areal seluas 300 hektar, saya disuruh untuk menggarap beberapa hotel.
ritz carlton.
st. regis.
marriot.
hyatt.
sheraton.
plus hotel mini yang akan dihibahkan ke pemerintah cambodia beserta sekolah yang akan kita desain dan bangun untuk anak anak desa di sana.

saya antusias pergi.
menyukai cambodia amat sangat.
lebih baik saya keluyuran di negeri ini ketimbang disuruh jalan jalan di dubai.
cambodia menyisakan banyak kenangan sejak saya pertama kali berada di situ beberapa tahun lalu.
terutama tentang manusianya.
terutama tentang angkornya.
terutama tentang arsitekturnya yang berbudaya melekat.

di tanah 300an hektar itu,
semua hotel yang akan digarap, tangan ini musti lengkap memberikan desain buildingnya.
plus desain interiornya.
plus lanskapnya.
hingga grafis dan fashionnya.
pekerjaan yang tak gampang.
dan tak mudah.
serta memerlukan banyak waktu mikir.

menjelajahi tanah yang 300an hektar itu,
sungai sungai hutan mengalir.
bebatuan cadas adalah dinding.
pepohonan adalah rekanan hidup.
sementara keserakahan manusia yang berusaha untuk bisa bertahan hidup dengan membakar hutan dan menebang pohon tua adalah signal bahwa akan selalu saja ada satu raksasa dasamuka dalam setiap kehidupan yang damai.

dalam bengong memikirkan beratnya masa depan untuk tanah 300an hektar itu,
otak saya mengingat kalau kalau saya bisa singgah ke siem riep kembali.
memotret angkor wat kembali.
menikmati paginya dan terbenamnya matahari di sana.
menikmati becaknya.
memperhatikan bagaimana jalannya gajah yang gontai.
walau ke sana dengan duit sendiri, pengalaman hidup di angkor wat adalah segalanya.
“tu, anda bisa lanjutkan perjalanan ke siem riep, sekalian musti singgah ke luang prabang di laos. i pay!”, bill membalas email saya di suatu hari.
saya terkesima.
mata gelap.
saya pingsan!.

ini mimpi?.

Popularity: 48% [?]

pagi ini,
jalanan dubai menuju abu dhabi tertutup pasir.
angin berhembus kencang di luar sana.
aspal dihiasi pasir putih gading.
udara kering berhembus.

mata saya semilir semilir hendak menutup.
tim, project manager proyek di abu dhabi menyetir.
saya tak bicara banyak.
dan tak bisa menahan kantuk.
semalam tidur jam 12, dan bangun jam 4 pagi.
kantuk berat menerpa.
pingin tidur, tapi kasihan si tim hidup sendiri di jalanan sepi di tengah padang pasir.
sesekali kami bercakap, setelah itu sepi lagi.
saya tak banyak bicara dan tak bisa bicara banyak.
pikiran kami menggelepar masing masing.

ada dua tempat yang akan dikunjungi.
dua duanya nursery yang akan dipilih untuk menyuplai tanaman di proyek.
lalu lalang kendaraan di sepanjang jalan ini nampak sepi.
sabtu dan jumat adalah hari libur di dubai.
minggu, mereka start kerja lagi.
saya tak bisa membayangkan bagaimana pohon bisa ditanam di daerah tandus ini.
apalagi ada perusahaan supplier tanaman di daerah setandus dubai.
saya dengar, mereka mengexpornya dari jerman, thailand, malaysia.

untuk merubah tabiat tanaman tropis ke daerah kering begini, memerlukan ketelatenan yang luar biasa.
dan sedikit uji coba yang sedemikian besarnya.
saya penasaran.
udara di luar berada di angka 41 derajat.
kulit terasa ditusuk oleh sinar.
mobil melaju kencang.
angin membawa pasir.

kami berhenti di shangrila abu dhabi.
berkenalan dengan kontraktor dan satu supplier tanaman.
duduk di lobby hotel, kelihatan sekali interiornya ala middle east.
saya memesan kopi late.
mereka ngobrol.
saya mendengarkan.

dalam setiap job,
selalu bertemu manusia manusia baru.
tabiat tabiat baru.
dan pengalaman baru.
mereka bercerita tentang mereka.
saya mendengarkan saja.
mereka bercerita tentang manusia lain.
saya mendengarkan.
pengalaman bertemu dengan pengalaman.
cerita bertemu dengan cerita.
seperti perjalanan uang di bursa efek, mengalir deras dari satu tangan ke tangan lainnya.
dalam sekali pertemuan dalam satu meja empat kursi,
pengalaman bertambah deras seiring waktu berjalan.

kopi late tarasa pahit tanpa saya beri gula.
kopi mengalir pelan di kerongkongan. pahit melekat hingga ke otak.
mereka semakin bersemangat berbicara.
tentang mereka.
tentang job yang kita garap.
saya berbicara sedikit. tersenyum sedikit. dan menikmati lobby hotel.

kami bergerak.
“tu, kopi anda tak anda habiskan?”, tanya manusia satu.
saya menyeruput pelan. tak semanis kopi late starbucks.
kami pergi.
menuju nursery si supplier tanaman.

dalam nursery itu;
nampak sekian tanaman.
peopohonan.
palm.
perdu dan penutup tanah.
saya terkesima.
mereka hidup hijau bak kebun di studio sanur.
tas plastik besar dan kecil sebagai media tanamnya.
saya menyentuh batangnya.
menyentuh daunnya.
dalam hati, saya berucap, “kamu sehat baby?”.

antusias saya bertambah kencang.
panas 41 derajat menusuk kulit.
tak membuat rasa senang untuk berjalan di tiap jengkal kebun itu.
supplier tanaman bertambah girang saat membaca raut muka saya.
kami bercakap.
tentang banyak hal.
sesekali dengan bahasa latin tanaman yang tak dimengerti oleh tim dan kontraktor.
manusia dubai punya talenta yang tajam untuk merubah nasib.
tak mau bermuram durja pada padang pasir yang luas.
saya berpikir, kalau mereka bisa merubah dunia, kenapa saya tak ?.

kami meninggalkan kebun itu.
ada perasaan lapang mencuat.
dubai ternyata bisa membuat perubahan tanaman tropis ke keadaan di mana ketandusan adalah juga punya kans untuk hijau.
mobil bergerak ke supplier tanaman lainnya.
aspal tertutup pasir.
angin berhembus kering.

di supplier tanaman ke dua.
hijaunya lebih gila dari supplier pertama.
luasnya lebih gila ketimbang yang pertama.
saya semakin bersemangat.
sama seperti seorang lelaki yang sedang menggauli perempuannya, menuju puncak!.
si suplier melihat wajah saya yang sumringah.
kami bercakap.
ia menjelaskan koleksinya.
berapa banyak koleksi palm.
berapa banyak koleksi pohon.
menjelaskan segala hal tentang tabiat tanaman di daerah tandus.
kami seperti berada dalam satu keluarga.
padahal, saya tak tahu tanaman sama sekali.

dua tempat itu,
menyisakan banyak harapan akan hijaunya job kita nanti.
semegah apapun bangunan kita nantinya,
ia akan tenggelam dalam kerindangan pepohonan.
ia akan nampak kalem dalam pelukan perdu.
seperti angin yang menerbangkan butir pasir yang berat.

kami berpisah.
saya, tim, kontraktor itu dan para supplier.
abu dhabi memberikan sebuah harapan.
kerja yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.
sesuatu yang baik, didapat dari pertemuan manusia manusia yang mengerti apa yang dikerjakannya dan dengan apa mereka musti mengerjakannya.

door boy hotel shangrila dubai, menyapa saya dan menyilahkan masuk.
perut telah menangis sejak tadi.
kerongkongan telah kering dihembus udara dingin ac mobil.
kamar ada di lantai 37.
saya memesan makanan siang; hainanese chicken rice dan orange juice.
sambil menunggu makanan datang, facebook terbuka.
ada banyak cerita tertulis di atas layar.
satu teman saat kuliah dulu, mengirimkan video mesum dengan belahan paha menganga.
kiriman seperti ini sudah saya terima bebeapa bulan lalu.
saya delete saja.
tapi kali ini lain.
ini teman kuliah, mungkin ia mengirimkan sebuah pesan.
saya klik.
tak menghasilkan apa apa.
beberapa detik kemudian,
otomatis bin ajaib, account saya mengirim video mesum dengan gambar paha tersingkap itu ke beberapa rekan.
tanpa saya suruh!.

weeeiiiiikkkkkssssss…..
“aku ketahuan…..pacaran lagi….!”

Popularity: 29% [?]

ada 3 hal yang ingin saya utarakan.

satu.
saat sonny sutanto datang ke studio sanur atas undangan saya untuk mendiskusikan arsitektur dari sudut pandang SEX, saya memulainya dengan kalimat kalimat sederhana.
bahwa hidup adalah hasil dari sex. manusia adalah sebuah tanda sex itu sendiri, dari bermacam perkawinan dan ia hadir oleh sebuah sex.
saya berpikir sederhana, hanya manusia yang hidup dengan sex yang berdasar akan cinta, ia akan tumbuh berkembang dengan dasar cinta jua.
tubuh manusia adalah sebuah tektonika. sebuah pertemuan. sebuah perkawinan berbagai anggota tubuh.
mereka, anggota anggota tubuh itu, adalah sebuah contoh bagaimana sex alam terjadi.saya belajar bagaimana tubuh manusia tersusun, menjadikannya alat bantu dalam mendisain selama ini.
tak jauh jauh, saya cukup melihat bagaimana tubuh saya bersatu bertautan.
bagaimana kepala bertemu dengan badan. bagaimana kaki bertemu dengan badan. bagaimana kuping menghias kepala.
bagaimana alis memisah mata dengan dahi.
saya berhenti berbicara.

sonny menanggapi.
bahwa cara berpikir ala saya, tergolong sebagai cara berpikir yang amat tradisional, klasik. takutnya hal ini akan selalu melatarbelakangi bagaimana saya berkarya, bagaimana saya menilai sebuah karya. bahwa dengan pemikiran seperti itu, saya akan selalu nantinya membagi bagi mana kepala, mana kaki, mana badan dalam sebuah karya arsitektur.
bahwa suatu saat nanti kalau sebuah karya arsitektur tak mempunyai kepala, apakah masih bisa dikatakan sebagai sebuah karya arsitektur? karena pemikiran saya masih berada dalam pemikiran klasik tradisional seperti itu.
kini, ada banyak gerakan di mana para arsitek membolehkan kepala di kaki, kaki di kepala. bahkan mana kepala mana kakipun tak bisa dilihat kini.

saya menanggapi pemikiran sonny.
pembelajaran tradisional/klasik yang dilontarkan sonny di diskusi itu, hanyalah merupakan sebuah dasar. kalau pengertiannya sudah tertangkap secara jelas, maka dalam penerapannya di lapangan bisa dipakai atau tak dipakai. disain terkadang memerlukan pemikiran tepat waktu dan tempat. pembelajaran mendasar mustinya selalu dipelajari hingga ke akar, sehinga suatu saat nanti kalau memang sebuah karya arsitektur tak mempunya wujud kepala yang jelas, tentunya oleh sebab yang mendasar.
mengetahui bagaimana kepala bertemu dengan badan, bagaimana tangan bertemu dengan kepala, adalah cikal bakal sebuah tektonika yang patut diresapi. bagaimana kemudian hal itu diterapkan di kekinian, diserahkan kepada masing masing kepala.
pembelajaran tentang sex, bukan sekedar untuk mengetahui baik buruknya, tetapi musti juga mengetengahkan sisi seninya melakukan sex itu sendiri.

diskusi berlanjut hingga ke hal hal yang membuat saya lupa untuk menangkap apa yang saat itu kita bicarakan.

sebuah pertanyaan datang;

Q : Jika Arsitektur dikaitkan dengan sex, bagaimana kejujuran berarsitektur dinilai? Mengingat jaman yang serba ‘boleh’, penggunaan bahan tiruan (vibrator untuk laki-laki dan wanita homoseksual), bagaimanakah jika mereka menginginkan anak original?
A : Tergantung dari pilihan yang diambil sang arsitek. Apa mau mengikuti sikap klasik atau mengikuti sikap yang ‘serba boleh’ tadi karena tidak ada benar salah dalam arsitektur, tidak ada baik – kurang baik. 3 hal yang perlu diperhatikan : 1. Dampak yang timbul dari pilihan itu terhadap si arsitek sendiri; 2. Dampak terhadap lingkungannya; dan 3. Dampak untuk semesta.

Selama kita tau dan berani bertanggung jawab terhadap pilihan kita, kita akan tau batas, dan kemudian kembali menjadi sebuah pilihan untuk berada di belakang batas atau berani untuk melampauinya, dan musti siap akan segala konsekuensinya.

Q : Kalau ada 1st dan 2nd Gender (male & female), bisakah diberikan contoh arsitektur yang merupakan the 3rd Gender (kaum homoseksual)?
A : Arsitektur dimasa ini lebih cenderung ke male architecture, karena lebih mementingkan ego, keperkasaan dalam pencapaian.
Contoh Negara-negara yang sedang pesat-pesatnya berlomba membangun pencakar langit, tak lebih hanya sebuah pencapaian yang tidak masuk akal, hanya adu panjang-panjangan penis saja, ini adalah ciri arsitektur yang kelaki-lakian (male architecture).

saya lebih menanggapinya begini;
keadaan di mana serba boleh ini, sex bebas, homo, lesbian dan lainnya (hingga manusia vs hewan) adalah di mana keadaan arsitektur yang banyak terjadi kini oleh starchitects. tak bisa lagi dibedakan mana kepala, kaki, badan. bagaimana kaki dipertermukan dengan badan. bagaimana kuping dipertemukan dengan kulit.
semua site adalah sama. satu arsitek mendapat site di jepang akan sama saat ia mendisain di dubai.
sama seperti seorang laki yang merasa puas dengan orgasme melalui oral, melalui anal. manusia merasa puas dengan olahan sexnya saat bertemu sesama.
saya pikir saya telah menemukan keadaan arsitektur gender ke tiga.

pertanyaan lain mencuat;

prolog: arsitektur adalah mencoba mengcreate sesuatu agar diri kita yang selama ini terkonotasi oleh aktivitas biasa menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dari biasanya. misalnya aktivitas mandi: yang terbiasa menggunakan keran air otomatis, yang tanpa di sentuh pun airnya sudah keluar duluan, menjadi sesuatu yang harus menggunakan usaha seperti mengambil gayung, menyiduk air, kemudian menyiramnya ke seluruh tubuh. hal-hal biasa ini lah yang coba diubah menjadi lebih baru. dengan harapan memberikan pengalaman yang baru pula bagi orang lain.
q: adakah batasan mengenai kata baru tersebut? maksud saya, adakalanya kita bilang kepada masyarakat awam bahwa ini baru. ini sesuatu yang belum pernah ada di lingkungan ini. dan secara tidak langsung mereka akan menganggap saya sebagai penemu si “baru” tersebut. padahal di satu sisi, saya hanya mengambil “baru” tersebut dari apa yang saya lihat di buku-buku luar negeri. dan hanya saya yang tahu itu. nah sejauh mana batasan makna baru tersebut mengingat disekitar kita sebenarnya banyak sekali perbuatan plagiatisme arsitektur yang secara sepihak diklaim sebagai barang sendiri dan dihalalkan sebagai kata “baru”?

sonny menaggapi;
menurut beliau (dari apa yang pernah ia baca sepertinya) di dunia ini hanya ada 9 hal yang ia anggap baru:
1. api
2. bahasa
3. alat tukar
4. roda
5. alat perang
6. ….
7. ….
8. teknologi (mohon koreksi)
9. internet
yang lainnya bukanlah produk “baru”. tapi merupakan proses dari “baru” yang diatas tersebut. baru disini dikategorikan sebagai 2 hal: originalitas dan authentic (saya lupa dengan kata yang satu ini,). ke-sembilan hal diatas di sebut sebagai hal-hal yang original. dari yang benar-benar tidak ada hingga akhirnya ada. misal: mengapa orang tiba-tiba mempunyai pemikiran untuk membuat api bukanlah suatu ide yang muncul tiba-tiba. adalah suatu kejadian dimana mereka menyaksikan sesuatu yang terbakar ketika petir menyambar ranting pohon. adalah suatu percobaan ketika mereka menyadari bahwa rasa tumbuhan dan daging yang di diamkan lebih dulu di atas api menjadi lebih baik dibanding dimakan mentah-mentah. adalah suatu kenyamanan ketika mereka melakukan aktivitas di saat yang terang sehingga api menggantikan posisi matahari di saat malam (dua kalimat sebelumnya adalah pendapat saya). maka dari itu mereka memaksa membuat api.
authentic adalah suatu proses yang sebenarnya juga menggunakan hal-hal lama yang di letakkan di masa sekarang untuk kemudian di olah kembali sehingga menjadi sesuatu yang baru. baru di sini bukan satu sifat dengan originalitas. tapi lebih kepada perasaan yang diciptakan ketika kita berdiri di lokasi tersebut.
sambungan vertical dengan horizontal, sambungan kolom dengan lantai bukanlah hal yang baru. sambungan kepala kolom yang lebih besar dengan kaki kolom yang lebih ramping bukanlah barang baru. semua menjadi baru (authentic) saat bill bensley mencoba meletakkan kolom tersebut dengan suatu proses terlebih dahulu sehingga saat kita memandang kolom tersebut itu bukanlah sekedar penyangga bangunan. Atau ketika bill bensley mempermainkan kita dengan ruang-ruang dimana saat kita memandang satu kolom dari tempat yang berbeda kita merasakan pengalaman ruang yang berbeda pula. kita mencoba menciptakan sesuatu yang berbeda melalui perasaan ruang yang bahkan ketika kita berpijak di belahan bumi manapun hanya ada satu tempat dengan “perasaan memandang kolom” seperti di atas.
selama ini kita memandang dekonstruksi adalah hal yang baru. ia lahir setelah jaman post-modern. ia ada setelah runtuhnya salah satu bangunan simbolik (saya lupa nama dan tempatnya) yang menjadi matinya jaman modern dan beralih pada post modern. padahal dekonstruksi juga bersumber dari “barang lama”. kita harus tahu cara mendirikan kolom yang benar terlebih dahulu untuk kemudian merusaknya. kita harus mengerti system tektonik yang berada dalam “zona aman” untuk kemudian menjadi sesuatu yang kurang aman di mata struktur. jadi semua hal yang ada sekarang pastilah sesuatu yang baru secara authentic tapi tak akan bisa dikategorikan sebagai originalitas.
di dunia ini ada 3 kategori masyarakat. pertama: masyarakat yang tahu sejarah (tahu disini belum tentu mengerti). ke dua: masyarakat yang membaca sejarah (ia tahu dan mengerti). ke tiga: masyarakat yang merubah sejarah. misal: masyarakat yang tahu sejarah adalah masyarakat yang tahu mengenai kasus bank century dari kabar burung dan tidak ambil pusing dengan isu tersebut. masyarakat yang membaca sejarah adalah masyarakat yang mengikuti isu bank century dan berusaha menjadi pemain belakang dengan mendukung para jagoan mereka. masyarakat yang merubah sejarah adalah para jagoan tersebut yang mengambil keputusan besar dalam kasus ini. dan arsitektur pastilah merubah sejarah karena ia akan semakin baru dan baru dari masa ke masa. untuk menjadi baru (authentic) ia butuh baru (originalitas) sebagai pondasi mereka.
diantara ke sembilan originalitas diatas, teknologi adalah poin yang memiliki pengaruh paling banyak. saat ia pertama kali ada, ia menjadi sesuatu yang amat langka, susah didapat dan mahal. namun seiring perkembangan jaman, ia menjadi suatu kebiasaan dan murah. teknologi memang harus murah! Dengan ia semakin murah semakin mudah di gunakan. dan kita sangat membutuhkan teknologi untuk menjadi baru (authentic). dengan teknologi kita dapat membuat struktur mustahil mendekati hasil. dengan teknologi kita dapat merubah jaman!
sekian dari saya.
Saya tidak tahu apa yang saya sampaikan ini telah menjawab pertanyaan anda atau malah tidak sama sekali.

saya menanggapi;
bill itu, saat ia membeli semua barang untuk interior. saat ia dengan seenaknya comot sana comot sini, tarik sana sini untuk kemudian diletakkan pada sebuah job interior, ia sebenarnya telah mempelajari benda-benda itu terlebih dahulu. ia tahu kursi yang akan ia letakkan pada bangunannya itu berasal dari tahun berapa, dibuat oleh siapa, dicetuskan oleh siapa, pernah dipakai dimana saja, untuk kemudian dia putuskan pakai barang itu tapi dipuntir, diplintir, digaruk sana sini terlebih dahulu agar ia tampak baru saat ia diletakkan pada tempatnya.
menuju kata baru itu juga merupakan proses. dan proses pastilah butuh hasrat. butuh passion! seseorang yang mencoba membuat sesuatu yang menurut dia baru tapi ia sama sekali tidak sreg saat mengerjakannya, itu sama sekali tidak ada artinya. J
jadi saya selalu mengatakan diawal kepada semua orang, “kalau kamu tidak sreg, tinggalkan sekarang!”

~

dua.
ini diskusi sederhana lagi.
tentang trend. saya ajak profesor prijotomo hadir saat mahasiswa mahasiswi arsitektur universitas tadulako palu datang berkunjung ke studio sanur.
saya bicara tentang trend arsitektur.

ada banyak diskusi tentang trend dan dalam setiap diskusi itu selalu saja tersirat bahwa jangan selalu ikut dalam sebuah trend. karena trend akan mati suatu saat nanti dan penganutnyapun akan kelimpungan sesaat trend yang dipakainya mati.
tap banyak yang tak berani mengungkap bagaimana seharusnya kita menghadapi trend ini. kita boleh saja berujar bahwa saya tak ikut sebuah trend tapi kita musti bisa bersikap yang lebih ekstrem; saya pencipta trend itu sendiri!.
saya lebih segar jika berada dalam sebuah trend. katakanlah minimalis. saya tak akan berada dalam hingar bingar garis minimalis kaum public yang sudah banyak dirasakan oleh masyarakat. seharusnya saya musti bisa berada dalam sebuah minimalis baru yang tak seorangpun berada di sudut itu. lahirkanlah sebuah trend minimalis versi anda sendiri, karena dengan begitu, karya anda telah banyak memberi sebuah sumbangan pemikiran terhadap apa itu minimalis. setidaknya karya anda masih berada dalam sebuah trend dan yang paling penting adalah karya minimalis anda telah berujud sebagai sebuah pakem baru dalam ranah minimalis.
ciptakanlah trend baru, bagaimana kita berminimalis!.
jadi jangan giat giat berucap, “saya tak berada dalam sebuah trend!”.
tapi berusahalah, “menciptakan trend!. be trendsetter!”.

profesor josef prijotomo menambahkan;
bethoven, mozart, osland husein, beatles, rolling stone, beyonce, adalah sekian corak/ragam dunia musik. dari masa ke masa terjadi pergeseran musik sebagai seni ke arah musik sebagai sebuah produk industri(komoditi/komoditas), begitu pula dengan dunia arsitektur.
postmodern = pluralism/majemuk berhubungan dengan segmen pasar yang bervariasi.
segmen pasar arsitek dari kelas bawah sampai atas tak masalah, intinya pada karya yang di hasilkannya.
“putu mahendra itu, karyanya kelas ferrari tapi sosok personnya; suzuki carry.
arsitektur sudah tidak lagi berada pada dunia seni. di dunia barat, hal ini telah terjadi pada saat revolusi industri.
jenks bilang, “arsitektur adalah ilmu dan seni”.
ilmu = singularistik
seni = multi tafsir, pluralistik, sebuah ekspresi
perkawinan antara ilmu dan seni memunculkan postmodern – yang kemudian membawa arsitektur sebagai media informasi dan komunikasi
arsitektur tidak hanya merancang dan menggambar, tapi harus bisa menggunakan media2 informasi, pameran, forum(lisan atau tulisan), publikasi tulis(web, blog).
tentang pemahaman tentang trend, trend bisa berbeda tergantung pada cara pandangnya;
putu mahendra memandang dari sisi seorang praktisi sedangkan prof. josef dari dunia keilmuan,
seseorang yang belajar dunia arsitektur tidak harus berakhir dengan menjadi seorang arsitek. namun dapat menjadi kritikus, dosen, dll.

tentang trend yang kini membahas global warming.
saya berpikir begini;
banyak arsitek yang fasadnya tidak ingin tergangu dengan tanaman,
desain haruslah “down to earth” tidak perlu mem”blow up” dirinya sendiri.
desain bangunan dapat berkompromi pada suatu kondisi alam tertentu. denah massa bangunan tak mesti besar tapi diusahakan sekecil mungkin agar bisa berhimpitan diantara dua tanaman besar. arsitek tak serta merta kemudian membabat lahan hutan sekedar untuk menonjolkan bagunannya yang cantik.
setiap arsitek mempunyai mimpi/ego untuk menunjukkan dirinya oleh sebab itu perlu adanya kontrol diri sebagai seorang arsitek.

profesor josef menambahkan;
sekolah arsitektur merupakan agen peredaran pengetahuan sekaligus pembunuhan pengetahuan yang berasal dari barat.
bangunan menyediakan tirai, alam menyediakan pepohonan.
arsitektur seharusnya menyembunyikan diri. tak menonjolkan diri.
menikmati arsitektur bukan dari kejauhan tapi bagaimana merasakan ruang dari dekat.
hijau merupakan bagian dari perancangan “tropis”,di mana akan selalu ada atap, lantai, dan tirai/pepohonan. arsitektur bukan perlindungan tapi merupakan pernaungan.

tiga.

ini diskusi dengan mahasiswa arsitektur universitas atmajaya jogjakarta.
kita berbicara tentang sketsa. tentang arti di balik sketsa sang arsitek.

saya menjelaskan tentang beberapa sketsa. dan bagaimana saya bekerja dengan anak anak yang membahasakan sketsa saya menjadi bahasa gambar yang lebih komunikatif.
mereka butuh waktu yang lama dan panjang untuk mengertikan setiap titik dan garis yang ada dalam setiap sketsa saya.
mereka tahu ruang ruang yang terjadi. mereka tahu makna titik dan garis yang tersirat dalam setiap gambar. untuk berada di level ini, panjang waktu digaruk.
setiap arsitek mempunyai kekhas-an tersendiri dalam sebuah sketsanya dan mempunyai team tersendiri yang mampu membacanya dengan baik dan benar ibarat pembacaan apoteker yang terbiasa dengan tulisan para dokter yang semrawut.
dalam sebuah sketsa, terekan ruang yang terjadi, terekam material, suasana yang diinginkan.
sektsa seorang arsitek tak serta merta hanya sebuah gambar tak jelas yang tiada arti. hanya mansia manusia yang telah bekerja sama dengan ia yang akan mampu menterjemahkan isi di dalamnya dengan kadar pemikiran dan terobosan yang sama dengan apa yang dipikir oleh si arsitek terhadap sebuah ruang.

Popularity: 28% [?]