putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

Archive for the ‘ Rock Alternatives ’ Category

di malam yang begitu dingin di kota beijing, saya teringat kejadian di jakarta beberapa tahun lalu;
kami tertawa terbahak bahak saat menyadari betapa kejadian dalam sehari itu penuh warna dan level hidup.
di jakarta, saat jalanan sorenya yang penuh dengan kendaraan berburu pulang, saya berada dalam sebuah taxi bersama bill.
ia memandangi dunia luar yang penuh kendaraan, sambil jejari tangannya tetap bermain dengan tuts macbook pronya.
saya melamun. hidup di jakarta, bukan saja susah tetapi juga menjemukan.
“putu, baru tadi pagi kita dijemput dengan heli dari bandara soekarna hatta ke site”, begitu ia memulai. “trus pindah ke proyek lainnya, kita dijemput dengan mercedes”, ia tertawa.
“kemudian kita pindah ke proyek lainnya, dijemput dengan innova”, saya melanjutkan. “kini, kita bandara dengan taxi!”, saya melanjutkan.
dalam taxi menuju bandara itu, kami tertawa, melepas penat. mata saya berair karena mulut penuh tawa.
bahagia.

di malam itu, saya berdiri kaku menunggu taxi.
udara beijing begitu dinginnya. manusia manusia lalu lalang dengan pakaian yang tebal.
tangannya bersarung, setebal sarung tinju.
kendaraan begitu ramainya.
taxi tak ada yang kosong.
lama saya menunggu taxi.
“maap putu, saya tak bisa menyediakan mobil buat anda untuk balik ke hotel anda. saya lupa, semua supir kantor sudah pulang”, li cheng berkata. “maap, maap sekali lagi”, ia melanjutkan.
“tak apalah”, saya menjawabnya. badan mulai gemetar.
taxi berlalu sekian banyaknya. tapi semuanya full.
di sisi kanan dan kiri jalan aspal yang penuh kendaraan itu, salju menumpuk.
saya berusaha untuk menyentuhnya dengan sepatu, salju tak ubahnya dengan serutan es balok yang saya lihat pada semangkuk es campur.
baru kali ini, setelah saya pergi ke mana mana, melihat salju dengan dinginnya.

tadi pagi, kami berangkat ke tempat meeting dengan maserati.
saat kami turun dan meninggalkan maserati, deruman mesin maserati begitu menggetarkan dada.
saat tadi kami berada di dalam kabinnya, sang supir melajukannya dengan santai. tak terasa suaranya yang heboh.
“putu, can you feel your seat heating up?”, brian bertanya. punggungnya digerak gerakkan. sepertinya ia nyaman.
“no lah, i feel cold!”.
ia tersenyum.
kanan kiri aspal, penuh salju. pepohonan berdiri kaku tanpa dedaunan. seakan mereka ingin berpesan untuk segera mendapatkan musim semi.

kami berdua, saya dan li cheng, masih beridir kaku. menunggu taxi.
“li cheng, bisa tilpun saja hotel di mana saya menginap?, suruh mereka menjemput saya di sini”, badan saya sudah digerogoti udara dingin. gemeretak gigi tak terasa bergerak sendiri.
hidung berasap saat bernafas, persis seperti pilem kartun saat sapi mengendus!.
li cheng menilpun. berbicara bahasa china. saya tak mengerti.
“maap putu, kendaaraan hotel tak tersedia”, li cheng berkata.
kini, tubuh terasa telah berubah jadi es. pakaian saya tak setebal tembok.
saat tadi di ruang meeting, manusia MGM berkata guyon,”pakaian kamu cuman segitu tebal putu?”, ia tertawa.
“setidaknya, saya menghabiskan waktu hampir 90% di dalam ruang, jadi saya hanya memakai pakaian ini saja sudah cukup”, saya menjawabnya.

dan malam itu saat taxi tak kunjung tiba,
pakaian ini tak mampu memberi perlindungan.
saya putus asa. kalah oleh dingin beijing.
“putu, kamu lebih baik masuk ke kantor saya lagi, biar saya yang menunggu taxi di sini. nanti kalau sudah dapat, biar saya yang mencari ke sana”, li cheng berkata.
kami bergerak ke arah kantornya.
malam sudah demikian dingin. manusia berjalan di trotoar berjubel. jam pulang.
beberapa di antaranya bergerombol di trotoar. bercakap dan tertawa. dingin bukan musuh buat mereka. mereka menikmati suara alam.
berjalan beberapa langkah, li cheng berhasil menangkap taxi kosong.
saya tersenyum bahagia.
dalam kabin taxi. dingin dikuras oleh hawa hangat kabin.

dalam kabin taxi itu, saya teringat dengan kejadian di jakarta itu; come with the rich, back with the ordinary. satu hal yang selalu saya rasakan terhadap ke duanya;

bahagia.

Popularity: 2% [?]

_DSC5626

ntahlah, selagi kepala mumet, selalu saja ada kejadian yang membuat saya tersenyum. bahkan mungkin, terpingkal pingkal.
ada saja yang menghibur saya, bahwa dalam kepenatan pikiran, solusinya cuman satu; tersenyumlah!.

di suatu siang saat saya keluar dari rumah seng saya, hendak pulang ke rumah.
ada sepasang suami istri, dengan kendaraan honda supranya menyambangi rumah.
mereka berhenti sesaat saya keluar dari pagar rumah.
mata mereka, suami istri itu, memperkosa facade rumah seng saya.
sesekali, mulutnya komat kamit berucap pelan satu sama lainnya.
sang istri tersenyum, menutup mulutnya. matanya masih ke sana ke mari memperhatikan bangunan.
mata sang suami, tak berkedip. bergerak ke sana ke mari. mulutnya tertahan, hendak tertawa. tak seperti istrinya yang bisa tertawa lepas.

“pak yang punya rumah ini?”, sang istri bertanya.
“iya”, saya menjawabnya. kini saya mendekat.
mereka tak pernah lepas untuk memandangi rumah saya.
“saya ada di belakang rumah bapak, sedang bangun rumah juga”, sang istri berkata.
saya mangut mangut.
“seumur umur, pak, saya tak pernah lihat rumah kayak gini!”, sang istri berujar.
mulutnya kini tertawa lebar.
sang suami berusaha menahan tawa.
“saya sudah 30 tahunan, bahkan ada tetangga di belakang bilang ia sudah enam puluh tahun hidup, baru sekali ini lihat rumah kayak gini!”, sang istri kembali tertawa lebar.
saya mangut mangut.
kemudian tersenyum menyambut tawa sang istri.
“berapa tembok kaca itu pak?”, sang istri bertanya.
telunjuknya mengarah ke pagar glass-block.
“ah..itu, ibu musti beli satu biji glass block. trus dipasang satu satu”, saya menjelaskan.
“berapa habis pak?”, si ibu bertanya lagi.
“sebiji sekitar selawe”,
“selawe?, apa itu?”, si ibu bertanya lagi.
“dua lima”, sang suami menjawab. berusaha menjelaskan.
si ibu mangut mangut.
“kalau saya ya pak, hidup cuman sekali nih, kalau mau buat rumah, maka rumah saya musti mewah!”, si ibu berkata sambil tertawa lebar.
“bapak mungkin sudah bosan dengan kemewahan ya?”, dia bertanya lagi.
saya tertawa ngakak. terpingkal pingkal.
ada ada saja siang ini.
tangan si ibu kembali mengarah ke besi tua berbentuk usus meliuk liuk, “dapat dari mana itu pak?”,
“anu bu, saya nyarinya ke rumah rumah pemulung. nyari barang bekas. ada banyak kini di rumah saya. ada banyak juga yang belum terpasang”, saya menjelaskan.
mereka mangut mangut.
“nanti tampaknya sudah begini saja pak?”, si ibu bertanya lagi.
“ah..masih ada yang nambah bu, nantilah itu”, saya menjawabnya.
mereka mangut mangut.

sejenak saya lupa akan kepenatan.
siang yang panas membawa sebuah berkah; tersenyum lebar.

di sore hari, di hari yang sama.
saya menyirami tanaman yang bergelantung di dinding. bergelantung di tong oli.
kendaraan roda dua supra dengan suami istri lainnya, datang mendekat.
mereka memperhatikan dengan seksama.
berhenti di samping seorang tukang.
mereka bercakap.
saya tak ikut bergabung. hanya mendengar.
sesekali mereka tersenyum. saya tetap bermain dengan air.
hari yang indah, penuh hiburan dengan hal hal sederhana.
hari yang indah, penat terasa hilang sejenak.

mungkin lebih baik tersenyum menghadapi segala hal, ketimbang mangut mangut.

Popularity: unranked [?]

di singapore;

banyak sekali aturan main bermain desain.
jarak antar tetangga, level eksisting, railing untuk tangga lebih dari 5 anak tangga, ketinggian pergola, setback, loose material, besar floor drain,
ketinggian tembok pagar, masang batu, masang tile,
semua ada aturan mainnya.
dan orang orangnya manthap.

di indonesia, saya dengar akan bergerak ke arah ini?
dan orang orangnya kurang manthap, business baru nih?

Popularity: unranked [?]

penis saya

September 11, 2009 | 1 Comments | Rock Alternatives

singapore di pagi hari ;

kemaluan saya, atau bahasa kerennya, penis saya, mengajari saya akan satu hal.
saat ukuran XS, masih juga berfungsi. saat ukuran XXL, apalagi!
tapi saat kecil XS ataupun saat ia besar di keadaan ereksi XXL, ukurannya tak pernah melebihi ukuran tubuh saya sendiri.
tunduk.

berjalan menyusuri kota beijing hingga di kelebatan hutan yang merindangi tembok china kemarin, menatapi ruang ruang terbuka kota hingga bagaimana saya diperlakukan oleh kotanya dan oleh desain arsiteknya, ibarat menatapi organ organ tubuh saya sendiri. tower tower yang menjadi pagar kota dan aktivitas keseharian masyarakatnya yang numplek ruah di ruang ruang terbuka yang tersedia cukup banyak memberikan service dari pagi ke pagi, ibarat bagaimana semua organ memberikan pelayanan buat saya sendiri. mau makan, pertu bertindak mengontak otak. mau tertawa demikian juga. tangan bergerak sesuai apa yang dipikir. ruang ruang kota yang tanpa disuruh, tapi hanya di disain, ia berupa barang mati yang kelihatan hidup, memberi pelayanan sedemikian rupa. terkadang memang ada kejadian di mana tangan bergerak reflek tanpa sadar, tanpa di duga mata kelilipan. tanpa di rasa hati sudah rusak sama seperti body salah satu wing CCTV yang tanpa diduga menjadi gosong.

semua tower dan bangunan kecil dalam tengah kota seperti tubuh saya. terkadang kota ibarat rumah dalam skala kecil. ruangannya terpisah satu sama lain untuk memberikan penghuninya bergerak leluasa seakan ia berada dalam sebuah area yang luas. itu makanya, rumah rumah tradisional bali, terpecah dalam masa masa kecil pada satu site.

keadaan sekarang kalau menatapi kota kota itu, menatapi bangunannya atau tower tower itu yang menyilaukan, seperti menatapi manusia manusia yang memamerkan penisnya masing masing.
istilah kerennya, kalau berada dalam kota kini, seakan kita berada dalam olimpiade lomba penis atau olimpiade ms. vagina ayu.
besar, kecil, hitam berurat. ada juga yang waxing tanpa rambut, begitulah kota kini dijejali oleh ruang.

xu, supir yang mengantar saya mengelilingi kota beijing hingga ke tembok china kemarin, bibirnya berdecak kagum saat mobil berada di pantat overhang bangunan koolhas.
langit beijing dihiasi sekian laki laki dan perempuan yang bugil dan memamerkan kemaluannya.
lain ya, dengan langit bali, yang kesehariannya dihiasi oleh layang layang!
kota punya skala sendiri sendiri.
sama seperti pendidikan yang diberikan oleh kemaluan saya, penis saya;
saat ukuran XS, masih juga berfungsi. tower atau bangunan itu hidup melayani masyarakat di siang hari.
dan pada ukuran XXL, tower tower dan banguan itu hidup menghiasi kota di malam hari dengan memamerkan sedemikian eloknya bentukan tubuhnya seperti banci banci yang beroperasi di malam hari dengan penuh konte dan gincu. di ukuran XXS ini, sedemikian banyak beaya terserap; listrik. ibarat penis yang sedang berukuran XXL, sedemikian banyak darah yang dipompa untuk menggelembungkannya.

seindah dan sebesar apapun ia, masih terasa kecil kalau dibandingkan dengan masyarakatnya.
seindah dan sebesar apapun ia, kalau sudah saatnya game over, ia tak akan berkutik.
seperti penis, kalau sudah saatnya tiba, ia tak berkutik.
tunduk.

Popularity: 8% [?]

beberapa bulan lalu saat ada pergantian pengurus bike to work daerah bali, mereka bermimpi, suatu saat nanti ada car free day di bali, setidaknya di kota denpasar di mana komunitas ini berkembang.
dan sejak 16 agustus lalu, car free day resmi diberlakukan atas jerih upaya komunitas pesepeda seluruh denpasar melobby mereka yang ada di pemerintahan.
car free day, tak musti menunggu keadaan kota sesemrawut jakarta. atau tak menunggu bali semakin botak dan berasap seperti kota chongqing di china yang selalu gelap dan berdebu.
banyak tempat di kota china mematri otak saya bahwa jalanannya begitu semrawut, mulut mulut yang berdahak dan beringas air liurnya keluar mengotori jalanan hingga lantai berkarpet.
di lain pihak, china mengajari bagaimana ia memperlakukan masyarakatnya dengan ruang publik yang sedemikian simpatiknya.

mimpi saya, juga mimpi mereka yang berada di komunitas bike to work ;

_DSC4302

Popularity: unranked [?]

MASTER PLAN

terima kasih buat semua arsitek muda sanur akan kerja kerasnya selama tiga minggu ke belakang. tiada tidur tiada pertemanan.
MGM sanya-hainan berlalu dengan sukses seperti biasanya, walau memerlukan beberapa revisi seperti biasanya juga. fee design terbayar hari ini dan klien tersenyum puas mengambil gambar yang kita tahan kemarin saat presentasi. no money no drawings!.

on the show ; brian kent sherman-director,bkk+ putu mahendra-managing director, bali
chief de party; sujay
red carpet ; dely, jamee, prei, willi, oryza, rossi, godel, nanda, oland, ww, agung, maman, jungyat, rahadi. salut buat masyarakat KP, aik+ucil (kampus arsitektur UGM).

DSCN2599

china, mengajari saya bagaimana berprilaku sebagai kaum berduit;
tampang boleh rombeng, dompet tebal selalu!,
mao was so inspiring man!.

DSCN2592

coming next ; le coco. r u ready?

Popularity: 4% [?]

siang tadi saya menilpun bapak saya,
“halo, men kenken ditu (halo, gimana di sana) ?”, rambut saya berterbangan ke sana ke mari. angin cukup kencang. orang orang berlalu lalang.
“dije ne tu? (di mana ini tu)”, bapak menjawab di kejauhan.
“di tembok china”, saya menjawabnya.
“beh, adi uyut keto ditu (buih, kok ribut gituh di sana)?”,
“nak liu ane mai, mekalukan gati (banyak yang di sini berdatangan, berdesakan ramai sekali di sini)”, saya jawab lagi.
“maman komang nu di rumah sakit (paman komang masih di rumah sakit)”, bapak melanjutkan lagi. “tanggal tujuh belas bapak kontrol buin (tanggal 17 bapak kontrol ke denpasar lagi)”,
“nah (ya)”, saya menjawabnya.
angin masih berdesakan kencang meniup rambut. manusia manusia berjubel. memotret alam dan diri serta kerabat.
saya di tembok china, bapak saya di singaraja, bali.
kami terhubung oleh teknologi.
IMG00147-20090911-1059-2
sejak kemarin, paman saya-adik bapak, masuk bengkel lagi. sakitnya sama dengan bapak saya. bedanya, bapak saya telah menikmati sakit ini sejak 4-5 tahun lalu. sedang paman saya baru menikmati sakitnya sejak 3 minggu lalu.
3 minggu lalu, ia masuk bilik rumah sakit. badannya merosot jauh tambah kurus, dari kaca mata saya.
ibu saya memberi wejangan musti bagaimana menghadapi sakit begitu, maklum, pengalaman dengan si bapak di rumah.

berkeliling beijing hingga mendarat di tembok china, hari ini memberikan banyak arti hidup.
bahwa kekurangan selalu datang dengan kelebihan, sebaliknya, kelebihan selalu datang dengan kekurangan. kita nampak amat sangat kecil jika dibanding dengan kebesaran alam.

saat mendarat lagi di kamar hotel, saya download semua photo.
bapak mengirim sms, “maman komange ba kritis. sube sing kingetan bane nyen. barengin mendoakan apang masa kritisne bisa dilalui (paman komang ada di keadaan kritis. sudah tak ingat siapa siapa. bareng bareng mendoakan agar ia melalui masa kritisnya)”.

saya jawab, “nyanan peteng balik ke bali, sabtu siang nengked, kal ke beleleng (nanti malam akan balik, sabtu siang sudah nyampai di bali trus akan ke beleleng)”. saya rubah jadwal kedatangan ke bali.

makanan siang saya datang; nasi goreng satay, jus jeruk, lumpia vietnam dan jus mangga.
saya lahap habis, maklum sejak di tembok china tadi, perut telah bernyanyi.

kembali ke mac saya, melihat lihat photo photo tadi pagi hingga ke siang saat berada di CCTV beijing, suara tilpun di samping macbook Pro berdering nyaring, bapak menilpun sambil menangis deras, “maman komange be ngalahin (paman komang sudah berpulang)”.
klik. tilpun mati.

saya kaku.

Popularity: unranked [?]

tadi pagi saya ngantar istri kerja.
“pak, antar dong?”,
“okeh, pakai motor ya?”
“walah, dingin. lagian di luar sana kan hujan”,
saya lihat ke luar, hujan telah reda.
“pake motor saja, kan bisa lebih cepat?”,
“walah, dingin bok…., lagian masih lama juga jam masuknya”.
saya antar pakai mobil.
keluar dari jalan palapa di mana rumah mungil kami berada, MACET!
berhasil keluar jalan palapa, masuk ke jalan sidakarya, MACET. 30 menit stacked.
om batman-aktivis B2W bali ngacir dengan selinya. saya bel beliaunya, tetap ngacir.
istri menyalakan AC.
saya tak habis pikir dengan cara ia berpikir. tadi sebelum berangkat, ia bilang “dingin” kalo ngacir pakai motor, sekarang kok nyalakan AC?.
saya diamkan saja. males perang pagi pagi gini.

mobil berhasil keluar jalan sidakarya, masuk ke jalan bedugul, antrean sepanjang sekilo. setiap simpul, selalu bercokol.
motor berjumpalitan menutup jalur di mana saya berada. mereka penuh nafsu berkejaran, seakan lobang pantatnya akan keluar taek atau lobang kemaluannya hendak muntah air seni! karena tak kuat nahan. jadi, musti melibas waktu dengan sangar, walau bukan hak milik.

di pertigaan jalan bedugul-batanghari, MACET!

ABCD0006

“nih, lu lihat sendiri toh, enak toh?, manthab toh..!”,
istri diam seribu bahasa.
dia telat nyampe di kantor 45 menit!

keserakahan memang membawa kesialan. apalagi kalau sudah keserakahan dalam penggunaan fasilitas publik, seperti jalan raya.

di bali, sejak 16 agustus lalu, telah dicanangkan car free day. saban minggu, di areal renon di mana kantor pemerintahan berada, tiada kendaraan dari pukul 7 pagi hingga 11 pagi. sekretariat bersama pesepeda di bali, bergerak melobby kaum pemerintah untuk membuat areal renon bebas kendaraan.
masyarakat tumpek rueh memakai jalan; skate board, pesepeda, pejogging, gerak jalan, walau ada sekian motorist melaju dengan kencang. dasar bodoh!.
toh, car free day saban minggu di renon, masih saja menuai protes oleh masyarakat luar sana, “kenapa kok ndak dibuatkan jalan layang segala untuk membuat kagak macet?”.
urusannya bukan macet atau kagak macet. urusannya adalah alam ini ndak dipakai seumuran kita doang. urusannya bagaimana membuat diri kita sadar akan keberlanjutan hidup. bagi anda, anak anda dan cucu serta cucu cucu dari cucu cucu yang lain saat anda telah mati nanti.

do bike, go green!

IMG00142-20090830-0832

Popularity: unranked [?]

dscn2135.JPG

ada beberapa kejadian, yang membuat saya loyo, membuat siang ini saya tak bekerja. hati saya tak bergerak. mata menatap keluar ruangan. kebun yang hijau sedang disiram mas wayan, daunnya bergerak ke sana ke mari ditiup angin. suara burung bersahutan. tapi pikiran saya semakin kacau!.
siang ini, saya baru saja datang dari ubud. kami berempat me-revisit site. menikmati site. atau singkatnya, saya ingin berdialog dengan site, saya tahu, tanah seluas itu akan berbicara ke pikiran saya, memberikan info info. walau tiada kuping yang mendengar. saya yakin, saya bisa berdialog.

siang ini, sesampai saya di sanur, pikiran saya teramat kacau! ;

1. sabtu kemarin, sore sore setelah saya memperbaiki sepeda di toko sepeda langganan saya, hujan berderai berjatuhan. saya menikmati hujan turun sambil menunggu sepeda yang masih diotak atik. sepeda kini telah menjadi kendaraan di keseharian saya. di depan toko sepeda itu, ada toko khusus buat petualang. saya ke sana, berniat membeli jas hujan. sudah beberapa hari ini, denpasar diguyur hujan dan saya basah kuyup selalu menuju pulang. jas hujan berwarna kuning mentereng saya bawa meninggalkan toko itu. sesampai di toko sepeda, saya lihat sepeda tunggangan saya telah kelar. saya berpamitan. hujan mereda. jas hujan baru tak jadi saya pakai. sepeda saya kayuh di aspal yang masih basah. bau udara bercampur air merayap naik masuk ke hidung. nyaman.

sepeda melaju tenang. menyalip kendaraan yang stuck di mana mana. menikmati laju sepeda yang lincah mengingatkan saya akan masa kecil.
gerimis kini berjatuhan kembali. banyak kendaraan bermotor menepi berteduh. sebagian besar pengendara honda itu, kini bersiap memakai jas hujan.
saya menepi. takut badan basah kuyup dan dua handpone saya amblas oleh air hujan, jas hujan kuning mentereng saya kenakan.
blackberry terlindung di celana dan kini terbungkus oleh celana jas hujan yang anti air.
iphone saya taruh di kantong baju jas hujan yang cukup dalam, walau kantong itu tak menutup sempurna, tapi saya yakin, iphone akan terlindungi.
sepeda berlalu membelah hujan. gerimis yang menjotos semakin kencang, membuat muka saya terasa perih. sepeda berlalu. berlalu dan berlalu.
awan semakin hitam. hujan semakin galak. sepeda saya semakin berlari kencang. indahnya hari saat masa kecil terulang kembali.

sampai di rumah, blackberry saya masih kering. saya tersenyum puas.
tangan meraba kantong.
kantong jas hujan saya penuh dengan air.
sampai hari ini, iphone saya tak bisa dinyalakan!.

2. pagi tadi, saya menerima sms dari istri, “pak, priyah mengambil uang di atas kulkas, 50 ribu perak, ia taruh di tas. tadi sudah saya tilpun, tapi priyah tak mau ngomong!”.
ada beberapa uang 50 ribuan ditaruh istri saya tadi pagi di atas kulkas. saya suruh supir untuk membeli makanan anjing. satu sak makanan anjing telah habis buat anjing anjing saya yang 5 biji di halaman belakang. tapi, uang itu kini berkurang, sang supir menilpun istri saya, “buk, uangnya kurang 50 ribu perak, tapi saya temukan di tasnya mbak priyah saat memasukkan buku buku pelajarannya”.
priyah, baru berumur kelas 2 SD. ia tak pernah saya kasih uang untuk makan di sekolahnya. tetapi kami kasih bekal makanan dari rumah.
kini, ia telah berani mencuri uang sebesar 50 ribu perak, yang saya yakin ia sendiri tak tahu seberapa besar nilai uang 50 ribu perak itu!.

3. sesampai saya di sanur, dari re-visit site, saya ditilpun istri.
“pak, sudah ditilpun supir?, jenong mati!”.
HAH??.
jenong, nama anjing golden saya. tubuhnya gemuk begitu menggemaskan.
tadi pagi, saya lihat supir memandikannya bersama anjing anjing lainnya.
ia mati tadi siang.

saya loyo.
mati rasa.
kaku.

Popularity: 19% [?]

D

October 4, 2008 | 2 Comments | Rock Alternatives

perasaan seperti ini selalu saja muncul.

duduk sendiri di lobby st regis singapore, memandangi apa yang meruangkan saya. memandangi manusia manusianya. menikmati warna dan tekstur. menikmati kesendirian. dalam sendiri, saya teringat akan pikiran pikiran, perbuatan serta ucap. yang saya lempar di luar. ntah, terkadang selalu saja terbersit sebuah pertanyaan, “apa yang kamu cari dengan itu semua?”.

arsitektur di perdebatkan. diaturkan. dikerjakan. diorganisasikan. dalam itu semua, selalu saja jalan menjadi tumpul. beruntung kalau jalan semakin meruncing. tapi, sebagian besar malah semakin melebar dan menjauh. selalu saja ada distorsi.

kebenaran tak datang dari diskusi diskusi itu. kebenaran malah letaknya tak jauh jauh. ada dalam diri. kalau dirasa apa yang kita buat untuk arsitektur, baik dan benar, just do it!.

justru kalau sedemikian seringnya memperhatikan lalu lintas diskusi, membuat perasaan menjadi kalut. apakah arsitektur separah itu?, atau secantik itu?

manusia memang selalu menjadikan dirinya subjek, ntuk proses yang tak pernah tuhan lakukan: dikotomi!.

Popularity: 9% [?]