angin berkunjung.
membawa berita.
tentang sunyi yang mendekap raga.
tentang noda yang membakar rindu.
tentang angan-angan yang berada di antrean nomor sepatu.

aku google nama “tuhan”.
tak ada yang tahu alamatNya yang pasti.
kepada siapa musti bertanya.
tentang angin yang berkunjung,
di tepi waktu menuju senja.
yang membawa berita meluluhlantakkan asa.

nasib asa,
jungkir-balik ditiup angin mendesir sepanjang bibir pantai.
timbul-tenggelam dimainkan ombak laksana bangkai tak berarti.
aku tatap langit.
di mana dewa-dewi berstana.
aku raungkan seribu serapah.
sambil menudingkan satu kepalan,
aku berujar lirih.
“aku belum mati”.

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Jul 2016
  • 0 Comments


  • Email

    anak saya, bhumi.
    di tahun lalu, dia mewakili bali untuk lomba seni pantomim di tingkat nasional.
    bhumi, bahagia banget.
    walau kemudian dia kalah.
    tapi senyum dia bersama pasangan pantomimnya tetap lebar.
    dadanya tetap busung.
    provinsi bali, memberi apresiasi yang tak terhingga.
    sekolah dan guru-gurunya berada di tingkat kebahagiaan tertinggi melihat anak didiknya.
    saya bergetar hati.
    saya kunjungi dia saat ada di palembang, saat festival seni itu dilangsungkan.

    *
    hari ini,
    dia gugur mencari seklolah liwat jalur prestasi.
    dengan nem 43 koma sekian, dia telah gugur diterima di sekolah favorit. angka 49 bertebaran dipegang oleh sekian siswa SD.
    salah satu jalan yang masih menganga adalah jalur prestasi.
    istri saya sibuk menyiapkan berkas-berkas piagam penghargaan dari tingkat kota, dan kabupaten hingga provinsi dan kertas yang diteken pemerintah.
    di saat wawancara oleh pihak sekolah, pihak sekolah berujar santai.
    “di sekolah ini tak ada extrakurikuler pantomim, nak. kamu melamar sekolah di mana saja?, semoga diterima di sana”, katanya.
    kalau memang tak ada extrakurikuler seni pantomim, kenapa negara mengadakan lomba seni pantomim?
    tak terbukakah pemikiran para sekolah itu bahwa negara mengapresiasi semua seni yang berkembang?
    di semua SD, SMP atau SMA di negeri ini, tak ada extrakurikuler tentang seni pantomim,
    lalu kenapa ada sekian anak-anak SD dan SMP berlomba adu tangkas dalam olah seni pantomim di festival seni yang diselenggarakan saban tahun?

    ya tuhan…

    aku yang salah menuliskan sedu-sedan ini.

     

    di tahun 1995,

    saya melamar kerja sebagai arsitek di konsultan atelier sad ripu di sanur. salah satu biro ternama yang menurut kata orang adalah cabang dari jakarta. mereka membalas lamaran saya dengan menyuruh saya untuk mengirimkan nilai IPK saya. saya kirimkan. mereka jawab kemudian, bahwa saya tak bisa bergabung. maklumlah, nilai IPK saya cuma 2,5.

    hari ini di tahun 2016,

    setelah saya berkarya sebagai arsitek, membangun mimpi di tiap titik di planet ini,

    kejadian yang menimpa anak saya saat mencari sekolah negeri, membangunkan ingatan saya.

    ya tuhan,

    aku bersyukur aku tak diterima di konsultan itu.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Jul 2016
  • 0 Comments


  • Email

    banyak bergentayangan kini,
    arsitektur GOOGLE(ing)

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Jun 2016
  • 0 Comments


  • Email

    sudah banyak bingit saya lempar kertas surat lamaran.
    dari lamaran KP sampai kerjaan.
    berasa terbakar kepala saya kalau saya lempar.
    anak-anak muda enerjik nan baru lulus.
    saya ndak bisa terima mereka, walau sekedar untuk KP.
    apalagi untuk bekerja bergabung.
    kursi habis.
    mau saya suruh duduk dan bekerja di kebun?

    duduk di dalam ruangan saya sudah banyak yang kena DB!.
    busyet dah.
    saban saya lempar kertas lamaran ke tong sampah,
    jadi ingat masa depan.
    jangan-jangan…
    jangan-jangan…
    jangan-jangan, surat lamaran KP anak saya nanti akan dilempar ke tong sampah pula..

     

    penting banget,

    kini nyiapin anak-anak saya buat ndak jadi jongos kayak saya.

    titik.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Jun 2016
  • 0 Comments


  • Email

    dipanggil jero itu,
    memberi beban berat.
    ndak dipakai, kok berasa salah.
    dipakai, kok nambah beban.
    ndak digubris, kok ancur nanti.
    bukannya takut ancur, tapi orang kok sudah tahu akan ancur kok dituju biar ancur.
    taunya cumak kerjaan gambar-mengambar.
    kalau bisanya melebihi dari itu, terus terang itu bukan saya lagi yang bermain.
    pinginnya biasa saja.
    mungkin sudah kadung; dulu sudah teken kontrak untuk berjalan di area jro,
    jadi sekarang musti dibiasakan.
    ntah layak atau kagak,
    lihat saja nanti.
    tak usaha-usahakan biar cocok.
    kalau nanti jalan dikit dikit sempoyongan, ya udah saja.
    kan saya manusia biasa.
    bukan ironman.

    ironman saja kalau bateri habis, musti charge lagi.

    tapi,

    percaya akan diri sendiri itu lebih penting ketimbang mempermasalahkan sebutan.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Jun 2016
  • 0 Comments


  • Email

    menuju keliki,
    saya merambat pelan.
    hanya 30km.
    sekian kendaraan meyalip.
    saya biarkan.
    angin menderu dan mendahului.
    saya biarkan.
    doa-doa terdengar dari bibir terkatup,
    saya biarkan.
    uang-uang melaju berpindah dari tangan ke tangan,
    saya biarkan.
    tawa anak-anak sekolah bederai-derai mendahului laju vw,
    ya sudah saja.
    di tanah keliki,
    saya bersyukur sangat.
    hingga saat ini jumlah terbesar vegetasi itu masih hidup bersama hasil pemikiran.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email

    di dubai,
    selain tentang gigi matahari yang begitu runcing dan kering.
    saya belajar banyak,
    tentang satu hal.
    kalau kontraktor salah, saya musti mengalah.
    kalau saya yang salah,
    saya musti TETAP mengalah.

    ada saatnya arsitektur yang dilahirkan begitu sarat akan pelajaran ke dalam diri.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email

    ingin memfokuskan,
    titik api pada tempat lain.
    tak memamerkan sosok,
    tak memamerkan isi dalaman,
    atau tentang ruang luar.
    tapi pada anak-anak yang telah bekerja siang malam.
    membantu saya hingga ke tepian,
    di mana ombak pecah di bibir bumi.
    meninggalkan jejak dari garis temu langit dan bumi.
    perjuangan dari awal hingga akhir.
    bersama-sama mereka.
    saatnya telah tiba buat mereka.
    bukan buat apa yang saya garap.
    tetapi untuk “dengan siapa saya bekerja”.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email

    di subuh tiba,
    aku mengingatmu.
    sambil mengirim tanya.
    saat raga tiada harga, kemana pergi ia.
    engkau jawab,
    “tak jauh”.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email
    barusan saja bertemu dengan teman lama.

    ia menungangi motor.

    membonceng anak perempuannya yang masih mungil.

    kami berpapasan.

    ia membawa bungkusan gede ditaruh di atas tangki motor hondanya.

    wajahnya penuh suka dan harinya penuh warna.

    kami saling menyapa sebentar.

    dan kemudian berlalu.

    ke tujuan masing masing.

    seperti angin.

    *

    saya buka fb.

    sekian berita menumpuk.

    seperti kue lapis.

    berwarna-warni.

    ada tawa.

    pertemuan.

    suka ria.

    cacian.

    keluh kesah.

    dan poto diri.

    hidup yang bergerak.
    kata orang,
    lets move on!
    seperti angin.

    *

    sementara,

    saya masih terbelenggu dengan puisi lama,

    mengurung diri di balik tembok ruang gelap tanpa cahaya.

    meraba arah yang tak pernah bisa dilihat,

    bertanya tanpa suara.
    mendengar yang tak bersuara.
    di meja kerja yang gelap tanpa cahaya,
    menumpuk perintah,
    menumpuk pekerjaan.
    menumpuklah beban.
    di balik ruang gelap tanpa cahaya,
    tak ada mukzizat.
    yang ada hanya asa buta.

    *

    saya buka instagram,
    dunia penuh kejadian,
    kejadian yang berwarna warni,
    dunia yang begitu luas dan bercahaya,
    penuh dengan pesan.
    saya melihat hidup.
    yang hinggap ke mana mana di ruang berwarna.
    bergerak ke sana ke mari.
    seperti angin.

    *

    dalam ruang gelap,
    cahaya bertanya, “kamu kenapa?, tak bisa melihatku yang begitu benderang?”.

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email