keberadaan printer segede gajah di sebuah studio, mungkin lumrah.

begitu juga hal yang sangat biasa dan sangatlah lumrah kalau studio arsitek berhiaskan segala rupa maket dan benda seni.
semalam pas midnait.
saya bergegas memasuki airport ngurah rai.
menuju konter hongkong airline.
check in, menuju hongkong.
ada 2 koper besar membuntuti. sebuah troli didorong oleh porter bandara.
tergopoh gopoh ia.
saya lirik.
di konter,
petugas memberi saran.
membagi isi koper yang habis oleh berat.
masing masing koper musti tak lebih dari 32 kilogram
saya membawa 2 koper dengan berat total hampir 90 kilogram.
isinya?
gambar.
saya kirim berita ke ia.
“besok, belilah timbangan. agar aku tak habiskan waktu buat bagi bagi gambar ke masing masing koper dan tahu berapa koper kita musti bawa”.
ia,
di seberang sana menjawab lalu.
“sudah. sudah ada”.

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 8 Oct 2017
  • 0 Comments


  • Email

    saya,

    pandangi lautan depan restaurant.

    beberapa kapal melayang di atas air.
    beberapa lalu lalang.
    beberapa bangunan menjulang melayang di atas air.
    beberapa dikonstruksi menjulang.
    hongkong, siang tadi.
    saya,
    pandangi sepiring makanan.
    piring keramik putih,
    dengan segala daging dan kue.
    segelas air di sampingnya.
    segelas jus wortel juga di sampingnya.
    seabreg orang berdesakan di restaurant.
    berbicara,
    tertawa.
    bersantap.
    siang yang hingar.
    saya,
    menatap ke lautan di depan.
    sepi.
    melamunkan sesuatu;
    pekerjaan.
    anak anak dan bini.
    mobil tua.
    studio.
    anak anak kantor.
    jiwa jiwa yang menunggu untuk dilahirkan,
    mereka yang sakit dan kesakitan,
    tuhan.
    tentu ada maksud kenapa saya musti selalu berada di kejauhan rumah.
    berinteraksi dengan mereka yang bisa bernafas lega di lantai lantai bangunan yang menjulang.
    menikmati seteguk dua teguk wine cap langit.
    menggesek kartu kredit tanpa beban.
    dan saya,
    terlibat di dalam pekerjaan-pekerjaan yang melangit.
    nasib?.
    mungkin ada hal lain yang utama selain tertawa,
    selain menikmati masakan kelas atas.
    menikmati pekerjaan pekerjaan khas langit.
    menunjukkan muka di facebook,
    update proyek proyek di sosial media lainnya.
    mengumbar tawa yang maya.
    yang musti selesai dilakukan sebelum pulang.
    saya,
    sekali lagi menoleh ke arah kerumunan orang orang yang berjubel itu,
    sesaat sebelum terduduk,
    orang restaurat bertanya, “anda pilih di keramaian di sebelah sana apa di sini. sepi?”.
    “di sini. sepi”, saya menjawab.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 8 Oct 2017
  • 0 Comments


  • Email

    semalam saat berkendara menuju singaraja,

    hujan sebentar-sebentar.
    saya mengirim sebuah note atas issue yang berkembang di area atas antara saya, direktor bangkok dan boss.
    “no matter i m director or managing director,
    no matter i m architect or ID designer.
    no matter i m gardener or office boy.
    what is always on my mind, SERVING PEOPLES IS UBER ALLES”
    titik.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 6 Oct 2017
  • 0 Comments


  • Email

    di guangzhou suatu siang;

    “saya belum pernah melihat kalian bertiga jalan bareng atau mempresentasikan sebuah proyek barengan”, seorang teman berkata.
    saya menatapnya.
    pepohonan telah banyak terpasang di proyek.
    deru debu terbang ke sana ke mari.
    peluh peluh tukang diterpa sengat matahari kota.
    “sering”, saya menjawab. “cumak kebetulan anda tak melihatnya. atau yang kita presentasikan bukan proyek anda”, saya melanjutkan lagi.
    dia mangut-mangut.
    saya tersenyum.
    siang semakin memuncak.
    kesibukan di proyek semakin merajalela.
    kejar tanyang.
    saya menyebrang hingga ke negeri ini oleh sebuah pekerjaan.
    lainnya tak ada. atau kekuatan otak saya tak bisa menelusuri alasan lainnya.
    di bangkok suatu siang;
    kami duduk bertiga.
    masing masing sudah berhadapan dengan makanan buat makan siang.
    bill dan brian dengan sepiring sayuran doang.
    saya, seperti kebanyakan manusia indonesia, semangkok mie ayam.
    ada satu piring daging ayam bakar di atas meja.
    sepiring buah anggur.
    dan masing masing segelas air dengan tumpukan esnya.
    sisanya, di atas meja teronggok beberapa kain yang dibeli di srilanka. ntah buat proyek apa.
    di meja lainnya, tumpukan gambar interior dan lanskap yang akan dipresentasikan setelah makan siang.
    klien belum datang.
    mungkin terjebak macetnya kota bangkok.
    kami bertiga, membicarakan tragedi las vegas. penembakan manusia oleh manusia.
    membicarakan jadwal, pekerjaan dan hal hal menarik lainnya.
    ntah apa yang membuat saya duduk dengan orang orang hebat ini.
    bukan di negeri sendiri.
    tapi di negeri orang.
    kami beretiga bukan asli manusia thailand.
    tapi siang ini kami bertiga duduk membicarakan masalah masalah menarik di thailand.
    walau hanya sekejap.
    tapi setidaknhya memori saya berkelana ke antah berantah.
    arsitektur, tempat saya bermukim dan beranak pinak,
    menjadikan ladang pertemuan dengan orang orang yang punya kemungkinan besar pernah juga bertatap muka dengan saya di kehidupan lain di dulu sekali.
    atau ini hanya imajinasi dan khayalan doang?
    ntah.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 5 Oct 2017
  • 0 Comments


  • Email

    aku bepergian ke sana ke mari.
    jarang aku ungkap.
    aku mengerjakan hal-hal kecil sampai ke hal-hal raksasa.
    jarang aku ungkap.
    aku bermasalah dengan tuhanku,
    jarang aku ungkap.
    aku diberi rejeki oleh tuhanku.
    jarang aku ungkap.
    aku bertemu dengan orang-orang besar,
    tak aku ungkap.
    aku perih. aku sakit. aku jatuh dan terpuruk,
    tak ada yang aku ungkap.
    aku bahagia,
    aku bagi.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    sejak dulu,
    rejeki sering nongol dalam bait bait doa.
    komat kamit doa.
    dalam hening malam.
    pada megah ruangan tempat suci.
    dan pada sanubari.
    baik sanubari seorang lonte,
    sanubari pekerja harian, dagang bakso, artis, boss, jongos hingga orang suci.
    ia selalu nampak.
    selalu diucap.
    seperti sayur tanpa garam.
    doa belum selesai diucap tanpa kata rejeki.
    ntah tuhan nanti mengabulkan atau kagak,
    itu urusan nanti.

    rejeki dicari.
    begitu diburu.
    hingga mataharipun menyinari tiap jengkal tubuh bhumi ini,
    agar pencari rejeki lebih mudah menemukan.
    hingga malampun tiba, bulan membantu menelisik tiap pojok di mana rejeki berada.
    kadang ia berada di tempat ramai,
    kadang tersembunyi di semak belukar.
    yang paling banyak, ia tak terlihat. tapi nyata.
    kadang datang tiba tiba, tak diundang.
    rejeki identik dengan kenikmatan.
    manusia tak memasukkan sial dalam keluarga rejeki.
    menurut saya ini aneh.
    tapi ya sudahlah.
    saking banyaknya pencari rejeki,
    dan begitu susahnya bertemu dengannya,
    rejeki ibarat vagina.
    sudah letaknya tersembunyi,
    “space” nya sempit.
    tapi kalau sudah menemukannya,
    orang selalu berucap lantang.
    alhamdulillah.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    tasku.
    berwarna biru tua.
    sudah 2 kali masuk bengkel louis vuitton.
    harga perbaikannya membuat leher tercekik sesaat.
    saat kubeli, bisa buat DP rumah.
    ya, begitulah.
    kaca mataku, warna hitam. kadang gold.
    merek prada.
    ya, prada.
    terkadang pramugara pramugari kepincut dg bentuknya yang bulat kayak dada perempuan.
    sepatuku mungil.
    telapak kakiku seperti kaki bayi.
    harganya ratusan ribu.
    kata bossku, kamu pasionabel banget memilih sepatu kayak gitu.
    kaos kakiku, beberapa ratus ribu. isi lima. setiap beli.
    kotak simpan kaos kaki kini penuh.
    warna warni agar hidup seperti pelangi.
    celana dalamku pula.
    laki laki seperti saya ndak mementingkan banyak waktu untuk pilah pilih celana dalam.
    ratusan ribu isi lima atau tiga.
    warna warni seperti permen.
    celana jean.
    bisa sebulan lama menemani lobang pantat.
    levis 501, harganya brutal dijajaran celana sejenis.
    yang mengasyikan malah koas yang hampir selalu aku pakai.
    merek swan, putih tipis.
    harganya 20 rebu sebiji. ada 20 biji.
    saking seringnya aku pakai,
    di sebuah meeting, ada dua lobang kecil di dada.
    ya, begitulah.
    mahal murah.
    atas bawah.
    selalu menemani bepergian.

    sampai suatu titik saat bepergian pulang nanti.

    saya hanya bawa 2 hal.

    satu. mantra dan doa dari keluarga. yang bermakna “hati-hati di jalan, semoga sampai selamat di tujuan”.

    dua, karma. ini yang menentukan saya nanti bisa lahir kembali jadi manusia bijak, atau manusia bejat, atau jadi anjing, atau jadi jamur.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    aku bilang, aku terbang sesaat saja.
    mencari rejeki di kota orang.
    siapa tahu, nasib berpihak pada orang kecil seperti kita.
    karena tuhan menyayangi nasib ciptaannya.
    termasuk kita yang merana dijepit besi kehidupan di setiap gerak waktu.

    kucukur kumis,
    kata orang, tebal tipis kumis mempengaruhi besar kecil rejeki.
    kucukur rambut di kepala,
    kata primbon, besar kecil keberuntungan dipengaruhi oleh tebal tipis rambut di kepala.
    kupilih warna baju,
    kata orang suci, warna putih membuatmu dekat dengan rejeki.
    aku ubah sifat,
    kata buku, ramah tamah bikin banyak teman.
    banyak teman banyak rejeki pula.
    aku ubah mulut,
    kata ibu, mulutmu harimaumu.
    aku ubah bau kentut,
    kata nenek, janganlah sering makan jengkol.

    aku berdandan.
    meninggalkanmu.
    aku cium keningmu.
    aku ingat sesuatu,
    kusempatkan melihat anak anak yang masih menekuk tubuh terbalut dingin ruangan.
    mimpi masih memabukkan mereka.
    masa depan mereka rimba belantara yang tak tahu seperti apa rupanya.
    anjing rumah menghampiri.
    berpesan singkat.
    saat kala tiba, cepatlah pulang.
    karena engkau yang memberiku makan, katanya.
    satu satu, mereka menyalamiku.
    hening sepi terbata.

    angin subuh menerbangkanku.
    ke kota orang nun jauh di angan.
    yang ku tak tahu buasnya seperti apa.
    bekalku satu.
    mimpi yang berwarna.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    subuh pagi aku mencarimu.
    saat matahari masih buta tak mampu berpendar.
    mengelilingi kota yang masih senyap.
    embun subuh membasahi dinding kota.
    suara dengkur penghuninya memekakkan sanubari.
    dewa dewi di atas sana sedang bermalas malasan.
    aku sibuk mencarimu.
    dalam kepalan gelap berselimut kabut pagi.
    berharap nasib berubah seketika di itu subuh.

    pekerjaanku yang tebal menumpuk,
    tak terbilang banyaknya.
    merangkak menyeret langkah di setiap hariku.
    bebanku bertambah berat saat sepi memberitahu engkau menghilang di purnama ke tujuh di tahun itu.
    meninggalkan bonyok luka yang aku toreh.
    meninggalkan bau liur yang menempel di tengkuk.
    meninggalkan angan yang baru saja terbentuk.
    aku memusuhi tuhan,
    ia telah memberi jalan dan tempat buatmu bersembunyi.
    di kota yng secuilnya gedenya.
    dalam subuh yang dingin.

    di kota yang secuil gedenya.
    aku terhenti melangkah.
    telah habis semua lorong,
    telah tercentang semua gang,
    telah kutelusuri semua jalan tikus yang biasa engkau lalui,
    telah habis semua warung di mana biasa kita nikmati pinggiran senja.
    telah habis kusaring semua udara tempatmu membuang sendiri.
    aku terkulai,
    seperti daging tanpa tulang.
    habis angan,
    dan asa,
    peluhpun tak punya, disedot gelap di subuh itu.

    aku memusuhi tuhan,
    ia telah menyelamatkanmu.
    memberi tempat yang tak berdaya aku jangkau.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    malam gelap.
    hening.
    lampu kota melawan arus.
    mobil mobil hilir mudik.
    aspal jalanan yang basah kuyup.
    awan yang melepas lelah setelah menurunkan hujan.
    aku di balik kaca.
    dalam sebuah sangkar.
    memandangi alam di luar sana.
    melirik waktu yang sudah liwat;
    dari pesawat ke pesawat,
    makan di tiap kafe kafe kecil di bandara.
    melihat lalu lalang orang orang yang bernasib sama,
    kejar mengejar waktu.
    di arsitektur dunia.
    karena arsitektur juga aku menikmati,
    nasib yang dipermainkan oleh arsitektur juga.
    dalam senggang waktu,
    aku buka dunia melalui segenggam alat.
    dunia yang semakin carut marut.
    bahkan hidupku pun lebih carut marut.
    hidup merekapun begitu.
    carut marut.
    betapa dunia ini begitu ruwetnya hanya karena satu rasa.
    cinta.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 31 Oct 2016
  • 0 Comments


  • Email