aku bepergian ke sana ke mari.
jarang aku ungkap.
aku mengerjakan hal-hal kecil sampai ke hal-hal raksasa.
jarang aku ungkap.
aku bermasalah dengan tuhanku,
jarang aku ungkap.
aku diberi rejeki oleh tuhanku.
jarang aku ungkap.
aku bertemu dengan orang-orang besar,
tak aku ungkap.
aku perih. aku sakit. aku jatuh dan terpuruk,
tak ada yang aku ungkap.
aku bahagia,
aku bagi.

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    sejak dulu,
    rejeki sering nongol dalam bait bait doa.
    komat kamit doa.
    dalam hening malam.
    pada megah ruangan tempat suci.
    dan pada sanubari.
    baik sanubari seorang lonte,
    sanubari pekerja harian, dagang bakso, artis, boss, jongos hingga orang suci.
    ia selalu nampak.
    selalu diucap.
    seperti sayur tanpa garam.
    doa belum selesai diucap tanpa kata rejeki.
    ntah tuhan nanti mengabulkan atau kagak,
    itu urusan nanti.

    rejeki dicari.
    begitu diburu.
    hingga mataharipun menyinari tiap jengkal tubuh bhumi ini,
    agar pencari rejeki lebih mudah menemukan.
    hingga malampun tiba, bulan membantu menelisik tiap pojok di mana rejeki berada.
    kadang ia berada di tempat ramai,
    kadang tersembunyi di semak belukar.
    yang paling banyak, ia tak terlihat. tapi nyata.
    kadang datang tiba tiba, tak diundang.
    rejeki identik dengan kenikmatan.
    manusia tak memasukkan sial dalam keluarga rejeki.
    menurut saya ini aneh.
    tapi ya sudahlah.
    saking banyaknya pencari rejeki,
    dan begitu susahnya bertemu dengannya,
    rejeki ibarat vagina.
    sudah letaknya tersembunyi,
    “space” nya sempit.
    tapi kalau sudah menemukannya,
    orang selalu berucap lantang.
    alhamdulillah.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    tasku.
    berwarna biru tua.
    sudah 2 kali masuk bengkel louis vuitton.
    harga perbaikannya membuat leher tercekik sesaat.
    saat kubeli, bisa buat DP rumah.
    ya, begitulah.
    kaca mataku, warna hitam. kadang gold.
    merek prada.
    ya, prada.
    terkadang pramugara pramugari kepincut dg bentuknya yang bulat kayak dada perempuan.
    sepatuku mungil.
    telapak kakiku seperti kaki bayi.
    harganya ratusan ribu.
    kata bossku, kamu pasionabel banget memilih sepatu kayak gitu.
    kaos kakiku, beberapa ratus ribu. isi lima. setiap beli.
    kotak simpan kaos kaki kini penuh.
    warna warni agar hidup seperti pelangi.
    celana dalamku pula.
    laki laki seperti saya ndak mementingkan banyak waktu untuk pilah pilih celana dalam.
    ratusan ribu isi lima atau tiga.
    warna warni seperti permen.
    celana jean.
    bisa sebulan lama menemani lobang pantat.
    levis 501, harganya brutal dijajaran celana sejenis.
    yang mengasyikan malah koas yang hampir selalu aku pakai.
    merek swan, putih tipis.
    harganya 20 rebu sebiji. ada 20 biji.
    saking seringnya aku pakai,
    di sebuah meeting, ada dua lobang kecil di dada.
    ya, begitulah.
    mahal murah.
    atas bawah.
    selalu menemani bepergian.

    sampai suatu titik saat bepergian pulang nanti.

    saya hanya bawa 2 hal.

    satu. mantra dan doa dari keluarga. yang bermakna “hati-hati di jalan, semoga sampai selamat di tujuan”.

    dua, karma. ini yang menentukan saya nanti bisa lahir kembali jadi manusia bijak, atau manusia bejat, atau jadi anjing, atau jadi jamur.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    aku bilang, aku terbang sesaat saja.
    mencari rejeki di kota orang.
    siapa tahu, nasib berpihak pada orang kecil seperti kita.
    karena tuhan menyayangi nasib ciptaannya.
    termasuk kita yang merana dijepit besi kehidupan di setiap gerak waktu.

    kucukur kumis,
    kata orang, tebal tipis kumis mempengaruhi besar kecil rejeki.
    kucukur rambut di kepala,
    kata primbon, besar kecil keberuntungan dipengaruhi oleh tebal tipis rambut di kepala.
    kupilih warna baju,
    kata orang suci, warna putih membuatmu dekat dengan rejeki.
    aku ubah sifat,
    kata buku, ramah tamah bikin banyak teman.
    banyak teman banyak rejeki pula.
    aku ubah mulut,
    kata ibu, mulutmu harimaumu.
    aku ubah bau kentut,
    kata nenek, janganlah sering makan jengkol.

    aku berdandan.
    meninggalkanmu.
    aku cium keningmu.
    aku ingat sesuatu,
    kusempatkan melihat anak anak yang masih menekuk tubuh terbalut dingin ruangan.
    mimpi masih memabukkan mereka.
    masa depan mereka rimba belantara yang tak tahu seperti apa rupanya.
    anjing rumah menghampiri.
    berpesan singkat.
    saat kala tiba, cepatlah pulang.
    karena engkau yang memberiku makan, katanya.
    satu satu, mereka menyalamiku.
    hening sepi terbata.

    angin subuh menerbangkanku.
    ke kota orang nun jauh di angan.
    yang ku tak tahu buasnya seperti apa.
    bekalku satu.
    mimpi yang berwarna.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    subuh pagi aku mencarimu.
    saat matahari masih buta tak mampu berpendar.
    mengelilingi kota yang masih senyap.
    embun subuh membasahi dinding kota.
    suara dengkur penghuninya memekakkan sanubari.
    dewa dewi di atas sana sedang bermalas malasan.
    aku sibuk mencarimu.
    dalam kepalan gelap berselimut kabut pagi.
    berharap nasib berubah seketika di itu subuh.

    pekerjaanku yang tebal menumpuk,
    tak terbilang banyaknya.
    merangkak menyeret langkah di setiap hariku.
    bebanku bertambah berat saat sepi memberitahu engkau menghilang di purnama ke tujuh di tahun itu.
    meninggalkan bonyok luka yang aku toreh.
    meninggalkan bau liur yang menempel di tengkuk.
    meninggalkan angan yang baru saja terbentuk.
    aku memusuhi tuhan,
    ia telah memberi jalan dan tempat buatmu bersembunyi.
    di kota yng secuilnya gedenya.
    dalam subuh yang dingin.

    di kota yang secuil gedenya.
    aku terhenti melangkah.
    telah habis semua lorong,
    telah tercentang semua gang,
    telah kutelusuri semua jalan tikus yang biasa engkau lalui,
    telah habis semua warung di mana biasa kita nikmati pinggiran senja.
    telah habis kusaring semua udara tempatmu membuang sendiri.
    aku terkulai,
    seperti daging tanpa tulang.
    habis angan,
    dan asa,
    peluhpun tak punya, disedot gelap di subuh itu.

    aku memusuhi tuhan,
    ia telah menyelamatkanmu.
    memberi tempat yang tak berdaya aku jangkau.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Nov 2016
  • 0 Comments


  • Email

    malam gelap.
    hening.
    lampu kota melawan arus.
    mobil mobil hilir mudik.
    aspal jalanan yang basah kuyup.
    awan yang melepas lelah setelah menurunkan hujan.
    aku di balik kaca.
    dalam sebuah sangkar.
    memandangi alam di luar sana.
    melirik waktu yang sudah liwat;
    dari pesawat ke pesawat,
    makan di tiap kafe kafe kecil di bandara.
    melihat lalu lalang orang orang yang bernasib sama,
    kejar mengejar waktu.
    di arsitektur dunia.
    karena arsitektur juga aku menikmati,
    nasib yang dipermainkan oleh arsitektur juga.
    dalam senggang waktu,
    aku buka dunia melalui segenggam alat.
    dunia yang semakin carut marut.
    bahkan hidupku pun lebih carut marut.
    hidup merekapun begitu.
    carut marut.
    betapa dunia ini begitu ruwetnya hanya karena satu rasa.
    cinta.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 31 Oct 2016
  • 0 Comments


  • Email

    angin berkunjung.
    membawa berita.
    tentang sunyi yang mendekap raga.
    tentang noda yang membakar rindu.
    tentang angan-angan yang berada di antrean nomor sepatu.

    aku google nama “tuhan”.
    tak ada yang tahu alamatNya yang pasti.
    kepada siapa musti bertanya.
    tentang angin yang berkunjung,
    di tepi waktu menuju senja.
    yang membawa berita meluluhlantakkan asa.

    nasib asa,
    jungkir-balik ditiup angin mendesir sepanjang bibir pantai.
    timbul-tenggelam dimainkan ombak laksana bangkai tak berarti.
    aku tatap langit.
    di mana dewa-dewi berstana.
    aku raungkan seribu serapah.
    sambil menudingkan satu kepalan,
    aku berujar lirih.
    “aku belum mati”.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Jul 2016
  • 0 Comments


  • Email

    anak saya, bhumi.
    di tahun lalu, dia mewakili bali untuk lomba seni pantomim di tingkat nasional.
    bhumi, bahagia banget.
    walau kemudian dia kalah.
    tapi senyum dia bersama pasangan pantomimnya tetap lebar.
    dadanya tetap busung.
    provinsi bali, memberi apresiasi yang tak terhingga.
    sekolah dan guru-gurunya berada di tingkat kebahagiaan tertinggi melihat anak didiknya.
    saya bergetar hati.
    saya kunjungi dia saat ada di palembang, saat festival seni itu dilangsungkan.

    *
    hari ini,
    dia gugur mencari seklolah liwat jalur prestasi.
    dengan nem 43 koma sekian, dia telah gugur diterima di sekolah favorit. angka 49 bertebaran dipegang oleh sekian siswa SD.
    salah satu jalan yang masih menganga adalah jalur prestasi.
    istri saya sibuk menyiapkan berkas-berkas piagam penghargaan dari tingkat kota, dan kabupaten hingga provinsi dan kertas yang diteken pemerintah.
    di saat wawancara oleh pihak sekolah, pihak sekolah berujar santai.
    “di sekolah ini tak ada extrakurikuler pantomim, nak. kamu melamar sekolah di mana saja?, semoga diterima di sana”, katanya.
    kalau memang tak ada extrakurikuler seni pantomim, kenapa negara mengadakan lomba seni pantomim?
    tak terbukakah pemikiran para sekolah itu bahwa negara mengapresiasi semua seni yang berkembang?
    di semua SD, SMP atau SMA di negeri ini, tak ada extrakurikuler tentang seni pantomim,
    lalu kenapa ada sekian anak-anak SD dan SMP berlomba adu tangkas dalam olah seni pantomim di festival seni yang diselenggarakan saban tahun?

    ya tuhan…

    aku yang salah menuliskan sedu-sedan ini.

     

    di tahun 1995,

    saya melamar kerja sebagai arsitek di konsultan atelier sad ripu di sanur. salah satu biro ternama yang menurut kata orang adalah cabang dari jakarta. mereka membalas lamaran saya dengan menyuruh saya untuk mengirimkan nilai IPK saya. saya kirimkan. mereka jawab kemudian, bahwa saya tak bisa bergabung. maklumlah, nilai IPK saya cuma 2,5.

    hari ini di tahun 2016,

    setelah saya berkarya sebagai arsitek, membangun mimpi di tiap titik di planet ini,

    kejadian yang menimpa anak saya saat mencari sekolah negeri, membangunkan ingatan saya.

    ya tuhan,

    aku bersyukur aku tak diterima di konsultan itu.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Jul 2016
  • 0 Comments


  • Email

    banyak bergentayangan kini,
    arsitektur GOOGLE(ing)

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Jun 2016
  • 0 Comments


  • Email

    sudah banyak bingit saya lempar kertas surat lamaran.
    dari lamaran KP sampai kerjaan.
    berasa terbakar kepala saya kalau saya lempar.
    anak-anak muda enerjik nan baru lulus.
    saya ndak bisa terima mereka, walau sekedar untuk KP.
    apalagi untuk bekerja bergabung.
    kursi habis.
    mau saya suruh duduk dan bekerja di kebun?

    duduk di dalam ruangan saya sudah banyak yang kena DB!.
    busyet dah.
    saban saya lempar kertas lamaran ke tong sampah,
    jadi ingat masa depan.
    jangan-jangan…
    jangan-jangan…
    jangan-jangan, surat lamaran KP anak saya nanti akan dilempar ke tong sampah pula..

     

    penting banget,

    kini nyiapin anak-anak saya buat ndak jadi jongos kayak saya.

    titik.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Jun 2016
  • 0 Comments


  • Email