Ng (bagian ke dua)

June 14th, 2009 by Ongky

hari ini saya mendapat email dari seberang sana;

Dear All,

Kok Liang passed away peacefully yesterday morning.

Our office will be closed from 15th June to 19th June 2009.

All urgent project matters, please contact Hui Fang at 96……

Regards, Hui Fang

saya berusaha mengingat, kenapa pemberitahuan ini musti jatuh ke email saya.
beberapa waktu lalu, saya sempet bertemu dengan arsitek singapore untuk salah satu proyek group lippo di sentosa cove-singapore.
saya membongkar files. mencari kartu nama yang saya dapat saat berjabat tangan dengan sang arsitek itu.
kartu namanya ada di files kantor.
saya baca;
NKLA architects,
NG KOK LIANG, MSIA RIBA, principal.

ya tuhan.

Ng…, baik baik di jalan.

Posted in Arsitektur Tulis having no comments »

S300

June 9th, 2009 by Ongky

hongkong express, UO 197 mendarat di bandara internasional sanya.
pukul 18.30pm.
udara masih terang dan hangat.
saya bersyukur, bukan hanya karena landing dengan baik, juga karena udara yang tak dingin!.
saya berkemas dan menunggu pintu pesawat terbuka.
tetapi, semenit kemudian, awak kabin memberi pengumuman, “mohon maap ladies dan gentlemen, sehubungan dengan peraturan yang berlaku saat ini di bandara internasional sanya, penumpang pesawat ini akan dicheck kesehatannya oleh petugas kesehatan pemerintah. mohon maap atas ketidaknyamanan ini”.
saya kembali duduk.
sekian petugas masuk ke kabin, berpakaian putih panjang ala dokter dokter. kepalanya dibalut plastik putih ala perempuan yang sedang creambath.
tangannya dibungkus selop plastik mengingatkan saya akan kondom laki.
hidung dan mulutnya ditutup masker, bagian yang tertutup itu maju ke depan beberapa senti karena gelembung udara, jadi persis seperti babi.
saya satu satunya yang duduk di kelas business, mereka menatap mata saya.
tak ada kesan persahabatan.
satu orang dari sekian petugas kesehatan itu, merekam semua keadaan dengan mini kamera.
beberapa bersiap siap dengan membuka tas mereka dan mengambil peralatan.
saya menatap ke luar melalui jendela, nampak para petugas pengangkut lugagge yang mulut dan hidungnya tertutup masker. di luar sana, ada banyak babi juga.
seseorang mengambil alat ukur suhu. bentuknya kecil seperti senter.
ia menembakkan sinar ke jidat saya, sinar merah itu memantul kembali ke senter itu, “36…”, begitu ia berkata dalam bahasa china.
petugas lainnya mencatat dan menuliskan ke “health declaration form of entry/exit” yang saya pegang.
mereka kemudian masuk ke kelas ekonomi.
awak kabin perempuan yang kulitnya mulus putih bak bubuk susu anak saya, berujar, “mohon maap, ini hanya random, kebetulan kena pesawat kita”.
saya hanya tersenyum, menatap kakinya yang jenjang terbalut kaos hitam transparan.

pemeriksaan berlangsung cepat, dan akhirnya semua penumpang bisa keluar.
bis menghantar kami ke pintu kedatangan.
saya berlalu dengan cepat, memberi form “health declaration” itu ke petugas dan berhenti di counter imigrasi.
saya buka kaca mata, maklumlah penampilan wajah saya sudah berbeda jauh sejak rambut yang semakin gondrom dan pirang. tak seperti yang tampak di passport.
petugas imigrasi itu memeriksa passport saya. tak ada guman sedikitpun.
saya berlalu. bersyukur ia tak memprotes rambut saya yang gondrong.
berjalan beberapa langkah, petugas imigrasi lainnya menghadang saya dan menanyakan passport, “maap sir, anda ikut saya. saya akan check isi koper anda. silahkan ikut saya”, begitu katanya dalam bahasa inggris yang patah patah.
ia menggiring saya ke ruangannya. keluar dari ruang imigrasi di mana sekian penumpang masih berjubel menunggu antrean.
ia menyuruh saya membuka koper.
saya buka.
2 petugas ada di depan mata saya.
satu sedang sibuk mengobrak abrik koper, satu lagi sedang menulis “form”.
ia buka 2 bendelan kertas A3 presentasi MGM sanya. ia lihat isinya. tak ada pertanyaan.
ia buka majalah yang saya bawa.
majalah tempo ber-cover SBY sedang berhadapan dengan mega dan kalla. ia tak mengerti bahasanya. sang petugas menutup majalah tempo.
ia buka majalah interior design yang saya beli di hongkong. tak ada tanya.
ia buka majalah architecture digest, tak ada tanya.
ia lihat majalah american photograpy yang saya beli di bandara bali, tak ada tanya.
ia buka tas kecil pemberian anak saya yang berisikan odol dan sikat gigi serta lainnya, tak ada tanya.
ia menelisik pakaian yang saya bawa, memeriksa kantong luar yang berisikan laptop macbook pro. memeriksa kantong dalam yang berisikan sekian charger, pulpen, scala dan CD presentasi.
petugas lainnya masih tetap sibuk menulis dalam bahasa china.
saya tak tahu, apa yang mereka cari.
kemudian 2 petugas itu bicara satu sama lainnya dalam bahasa china.
“ok sir, pls sign the form”, begitu akhirnya salah satu dari mereka berucap.
saya baca, “memang benar dalam isi koper saya tak ada barang yang ilegal”, begitu mereka tulis dalam bahasa inggris untuk menterjemahkan tulisan di atasnya yang berbahasa china.
saya tanda tangan.
kemudian ia menyuruh saya untuk membubuhi cap jari, saya lakukan.
saya berlalu kemudian keluar ruangan yang sempit itu.
sebelum keluar dengan lega, satu petugas lagi menghadang, “maap, boleh lihat passport anda?”,
saya sodorkan dan ia menyuruh saya untuk meng-scan koper.
saya lakukan.
keluar dari scanner, tak ada tanya.

di depan pintu, supir mandarain oriental membawa kertas putih yang terpasang dalam map kulit, bertuliskan nama saya.
saya melambaikan tangan, ia memberi hormat, “nihao ma!”.
kami berlalu meninggalkan manusia yang berjubel di depan pintu itu.

mersedes benz seri S300 membawa saya meninggalkan bandara itu.
dingin terasa di kabin.
“sir, your hot towels please..”, supir itu memberi handuk muka yang masih tergulung. “and your drinking water if you wanted”, ia melanjutkan.

saya tak pernah ingin untuk menjadi arsitek berkelas.
waktu membawa saya ke tiap jengkal kehidupan berprofesi sebagai arsitek seperti ini,
terkadang dirasa suka, terkadang dirasa begitu duka.
untuk dua hal rasa itu, saya hanya bisa mengucap syukur. ada semangat yang selalu membawa saya untuk menghadapi dua hal itu juga. dalam semangat, ada tatapan mata anak bini. dalam semangat itu, ada pesan keluarga. dalam semangat itu ada beban dari sahabat, guru dan seklolah. dan, dalam semangat saya, ada harapan arsitektur anak anak sanur membelah jagat!.

S300 berlalu perlahan. tak terdengar suara bising di luar sana. saya tertidur.

Posted in Arsitektur Tulis having 1 comment »

kertas karma

June 9th, 2009 by Ongky

tukang las itu, datang ke ruang kerja saya.
malam hari, saat saya bekerja untuk MGM sanya.

“ada apa mas putu?”, begitu ia memulai kalimat di kesepian ruang.
kami kemudian bercakap.
ia baru saja datang dari masjid. pakaiannya lengkap saat seperti ia ada di masjid itu.
“masjidnya di mana boss?”, saya bertanya.
“dekat mas, sebelah rumah”, ia menyahut.
ada satu pekerjaan yang ingin saya suruh ke tukang las itu.
kami bercakap lagi.

sampai ke titik akhir;
ia bercerita tentang karma.
“dalam hidup, baik yang sampeyan kasih, baik juga yang akan sampeyan dapat. itu pasti. saya tak mau berpikiran neko neko. kalaupun ada perempuan yang bugil di depan mata, saya…apayah..kalau bukan hak saya, tak akan membuat saya silau. itu adalah salah. saya sendiri selalu merasakannya. kalau saya berbuat jahil, semenit kemudian, pasti karmanya datang. pasti itu boss”, begitu ia berbicara.
saya terdiam.
manusia sederhana, mengajari saya bagaimana caranya berkembang hidup dengan baik.

“manusia jahat, ibarat kertas yang sudah hitam legam. apapun dosa yang ia lakukan, tak akan pernah terlihat ia telah berbuat jahat, karena kertasnya sudah hitam legam”, ia melanjutkan.

saya melirik kertas kertas yang berserakan di atas meja kerja saya.
penuh dengan coretan.
mungkin begitu juga kertas karma saya.
bagaimana dengan saudara?.

Posted in Arsitektur Tulis having no comments »

thanks!

June 9th, 2009 by Ongky

kemarin malam saya check in di hotel  mandarin oriental, sanya-hainan, china.
kami akan mempresentasikan desain MGM grand hotel-sanya.

mungkin,
saya hanya punya waktu 4 hari.
saya berkerja dengan 5 orang.
saya tak tahu apa yang musti saya buat.
dan seperti biasa, waktu tak bisa direm barang semenit, ia terus bergulir berdetak.
parahnya, otak tak bisa dipaksa. sesekali mengalir begitu saja, sesekali musti melirik email dan berjalan berkeliling kursi.
sesekali, saya melihat toko itunes, membeli beberapa games. sesekali saya bermain game di iphone.
terkadang, saya hanya ingin pulang, melihat anak. atau sekedar bersepeda ke luar arena.
5 orang bekerja estapet. sejengkal garis yang saya dapat, sejengkal garis kemudian mereka kembangkan lagi.
semenit waktu saya punya untuk menjelaskan apa yang ada di sketsa saya, mereka kembangkan dengan sedemikian banyak pertanyaan.
gambar kemudian pelan namun pasti berkembang beranak pinak, menjalar ke setiap sudut.
malam adalah saat di mana kita tahu bahwa tubuh saatnya melemah.
tapi,
5 orang masih bekerja, ntah tenaga mereka yang ada di permukaan dalam bekerja, adalah seperti apa yang nampak di permukaan luarnya,
tapi, manusia adalah sama, seperti di malam itu, tubuh bergerak turun. tapi dipacu untuk tetap on.

ada 1 job lagi, di malam di mana kami bekerja untuk MGM, musti dimasak dan ditayangkan, park hyatt ningbo.
kami bersahutan, melirik pekerjaan satu sama lain di awal awal hari.
semakin lama, lirikan semakin tak terjadi karena semakin sibuk dengan apa yang musti terjadi di tiap layar.
hyatt ada di kilometer lima, MGM ada di kilometer 4.5.
MGM ada di kilometer 10, hyatt ada di kilometer 9.

sampai di penghujung hari,
saya meninggalkan kantor pukul 3 subuh,
baik MGM dan hyatt, ada di kilometer di mana garis finish berada.
pintu rumah dibuka oleh istri saya yang matanya masih sipit, setelah sibuk dengan mimpi.
saya berusaha tidur di 3.30 subuh itu.
iphone kemudian berdering di kilometer 4.00 subuh.
mandi dan berkemas,
supir kemudian mengantar saya ke sanur, mengambil pekerjaan 5 orang itu.

anak anak bergelepakan di tiap sudut, tertidur.
satpam tertidur.
saya melintasi mereka, satpam masih tertidur.
hanya anak anak MGM yang masih menyala, walaupun sedemikian redupnya, bertahan untuk menunggu kertas A3 keluar dari bibir printer, satu demi satu.

5.11am subuh,
saya berlalu meninggalkan mereka.

adalah susah untuk hidup dengan cara opurtunist,
karena, tiap proses adalah sebuah pengalaman, ntah suka atau duka.
ntah gemerlapan hingga ke tenaga yang habis.
pelajaran yang paling baik adalah saat mana kita bisa menyelesaikan sebuah pekerjaan yang mungkin dirasa out of our power.

hari ini saat kami mempresentasikan MGM sanya di depan klien,
ada manusia bule desainer interior dari new york,
ada arsitek WATG california,
klien berujar dengan semangatnya.
matanya menatap boss saya, “i m so impressive for what you have proposed!”.

masterplan.jpg

setelah meeting di pagi itu,
kami balik ke mandarin oriental.
AC dihidupkan,
pintu terbuka ke arah lautan sana.
saya tertidur. dalam tidur, saya bertemu dengan anak anak MGM dan hyatt ningbo serta lainnya. dalam letih, kami tersenyum dan berucap, “thanks berat bro!”.

Posted in Arsitektur Tulis having no comments »

frustrated putu!

May 22nd, 2009 by Ongky

dscn2307.JPG

pm, sanur, 11.15am, today;
this week, i worked for revising the yuppies.
i need to study the irregular form of this space. the kids did this dwgs already, but i felt no happy yet for how the form from inside and the connection of the body vs the glass wall. the tectonics language is not good yet.

i study to use mud “tanah liat”,
the first form is broken yesterday.
and this morning i found what i did was still standing and made me happy.
i added one more layer BUT then this form is broken and collapsed.
i gave up and try to bring this to welded man somehow.

this afternoon, i jump to manoj art deco.

will send to you what i got.

bb, puerto rico, 17.30pm, today;
try the fibre glass man
he has a cloth that can take any form which is then painted with chemical to make it stiff….

dscn2310.JPG

Posted in Arsitektur Tulis having no comments »

s.o.s

May 20th, 2009 by Ongky

akhirnya saya menilpun seorang teman di jakarta. saya perlu bantuan.
ia sedang ada di rumah.
kami sama sama ada di kelas yang sama saat kuliah dulu di arsitektur.
bedanya cukup signifikan, saya berprofesi sebagai arsitek, teman saya itu kini perajin keramik.

saya bertanya tentang tanah liat.
dari pagi hingga siang, saya bermain tanah liat. membentuk bentukan rumah siput.
saat sudah terbentuk, tanah liat ambruk, blyiuusss…!, lagi..dan lagi..dan lagi…!.
saya frustasi.

dscn2286.JPG

teman di jakarta, yogiswari pradjanti, yang kesehariannya membelai tanah liat, cekikikan mendengar keluhan saya,
“duh..ada arsitek lagi frustasi..!”, begitu katanya.
ia memberi tahu cara menempel tanah liat dengan tanah liat.
ia memberi tahu cara membentuk dinding lengkung.
saya tak mengerti.
tapi akan saya coba lagi.

saat tangan kembali mendirikan bentukan tanah liat yang ambruk tadi, ia kembali ambruk, bliyuuusss….!.

kemarin hari,
saya sempat berkirim pesan ke abang sonny sutanto,
saya bercerita akan desain yang kami sodorkan ke kemang village akan bentukan shel yang kita pakai di sebuah clubnya.
saat itu, klien mengapprove desain ini, sekitar 2-3 tahun lalu.
kini, kemang village sedang berjalan pelan mendirikan gambarnya.
shel di club itu, masih selalu dan selalu bisa direvisi.
saya revisi dan menggambarkannya lagi dengan pencil, kurang afdol.
saat kami desain dulu, saya telah berpikir bahwa perlunya kerja sama desainer dengan kontraktor atau artis untuk mewujudkannya.
sehingga,
saat saya bicara bentukan ini ke abang sonny sutanto, beliaunya menyarankan hal yang sama; bekerjalah sedekat mungkin dengan kontraktor.
beliaunya telah berhasil melakukan bentukan liukan ini di resto barunya, the immigrant.

dscn2284.JPG

hari ini belum ada kontraktor.
yang ada hanyalah tanah liat yang mudah dibentuk dan mudah juga rubuh.
seperti pekerjaan lainnya yang berskala gampang hingga ke skala ruwet,
kita hanya memerlukan satu usaha.
kesabaran!.

Posted in Arsitektur Tulis having 3 comments »

run putu..run..!

May 19th, 2009 by Ongky

di meja saya penuh kertas.
kemarin hanya ada kerjaan untuk st. moritz jakarta, spa di payangan.

kini, kertas semakin menumpuk;
ada club yuppies interior untuk kemang village,
ada sketch resto hotel arya duta di st. moritz; building, interior, kebunnya
ada rumah mukesh ambani di mumbai; interior dan kebunnya,
ada 5 kertas HVS hotel MGM grand di hainan, baru nyampai
ada four seasons huangzhou, berupa CD, yang belum saya lihat.

kertas kertas itu menyebar di meja,
di 2 kursi panjang,
ada yang tergeletak di lantai,
CDs berserakan di meja kerja di mana macbook pro berada.

ada meja bundar kecil, 50cm diameter,
kini telah diisi oleh kaca 1m tebal, tempat di mana saya akan bermain tanah liat,
membentuk dinding lengkung melengkung untuk interior yuppies kemang village,

no tables available.

pagi ini, saya mendapat sms dari rekan B2W bali,
“20 mei gerakan bersepeda gowes bersama semua klub sepeda di denpasar, kumpul jam 5 sore di museum bali, finish di bajra sandhi dalam rangka hari kebangkitan nasional”.

saatnya saya kabur nanti sore!. run..putu..run!

Posted in Arsitektur Tulis having no comments »

hari itu

May 19th, 2009 by Ongky

“bapak sakit”, adik saya menilpun jam 11 malam.

saya berusaha menenangkan diri.
baru saja saya tertidur, tadi siang tubuh begitu diumbar tenaganya.
jam sembilan malam, saya telah lelap.
sayup sayup, dering tilpun merontokkan lelap.

jam segitu, menyetir ke singaraja adalah kantuk.
tapi ini adalah masalah lain,
bapak sakit.

saya kebut kendaraan di angka 80-100km/jam.
biasanya dari denpasar ke singaraja butuh 2.5 jam dengan mobil.
saya lalui dengan sejam liwat lima belas menit.
jam satu pagi, telah ada di singaraja.
ada adik, ibu, paman dan bibi.
bapak tergolek, tak bertenaga.
“sudah diajak ke rumah sakit, tapi ndak mau”, ibu saya menerangkan.
wajahnya letih dan was was.
jam satu tiga puluh menit di subuh itu, saya setir lagi mobil ke denpasar.
bapak, ibu, saya ajak ke denpasar.
saya pikir, saatnya untuk bapak masuk bengkel lagi. check ini di RS.
jam tiga subuh, mobil sudah berada di mulut rumah sakit.
“janganlah ke rumah sakit, ke rumah aja” ibu saya berkata.
saya hanya terdiam.
mobil berlalu, meninggalkan RS. tak jadi mausk bengkel.

esok paginya,
2 anak saya telah bersenda gurau dengan kakeknya, bapak saya.
wajah bapak, kini telah mulai merah.
tak seperti semalam, seperti kulit manusia jepang.
semakin siang, bapak telah kembali bisa berbicara.
bisa tertawa, karena ulah sang cucu.
tubuhnya dalam sehari, telah kembali agak pulih.
beberapa hari lalu, bapak berbicara, “HP ini sudah agak susah dipakai”.
saya kasih HP itu, 4 tahun lalu.
atau mungkin 5 tahun lalu. saya lupa.
mungkin sudah saatnya ia rusak.

hari ini,
saya bersepeda dari sanur menuju kota.
hendak ke toko HP.
dengan semangat saya mengayuh sepeda.
sepeda berlalu kencang, saling mendahului dengan kendaraan.
melesat menyalip semua kendaraan.
panas siang tak terasa.
keringat bercucuran.
meski tabungan tingal setipis selaput dara yang terselip di vagina perempuan, HP itu sudah musti diganti.

dari toko HP,
saya kembali bersepeda menuju rumah.
melintasi banyak kehidupan,
melintasi banyak kesibukan manusia manusia di siang yang terik itu.
melintasi tukang tukang bangunan yang mendirikan rumah rumah,
“boss, minta rokoknya dong!”, mereka berteriak dari atap. mereka sedang menyusun genteng.
“rokok tak baik buat paru paru!”, saya menjawabnya.
“kalau tak merokok, saya ngantuk boss….” mereka menjawabnya lagi.
saya tertawa. meningalkan mereka para tukang itu. tubuh mereka hitam legam dilalap sinar.

“ini pak”, saya menyodorkan bungkusan plastik.
“apa itu?”, bapak bertanya.
“HP”, saya menjawabnya.
wajah bapak sumringah.

sedikit apapun yang kita punya musti selalu berpikir agar kita bisa sumbangkan sedikit dari yang sedikit itu, artinya akan jauh lebih baik ketimbang kita berharap untuk suatu saat nanti kita mendapat sumbangan, walau hanya sedikit.

“pak, ini rokok mau taruh di mana?”, saya berteriak ke tukang tukang itu.
para tukang bersorak bergembira.
“terima kasih boss!”, begitu katanya.
tubuhnya legam oleh sinar matahari.
tak tahu seberapa legam paru parunya.

Posted in Arsitektur Tulis having 1 comment »

ambani

May 19th, 2009 by Ongky

rumah saya setinggi rumput jepang.
saya merancang rumah rumah buat manusia manusia luar sana, karena profesi.
rumah rumah yang saya gambar buat mereka itu, tingginya setinggi alang alang.
ada yang setinggi rumput gajah.
itu sudah amat sangat tinggi.
dan saya yang mendisain rumah rumah setinggi rumput gajah itu, berumah hanya setinggi rumput jepang.
di rumah setinggi rumput jepang itu, saya bernak pinak.
mendidik anak anak saya, ala rumput jepang.

rumah mukesh ambani, kembali datang ke studio.
rumah ini, sempat menghiasi studio ini dua tahun lalu.
bangkok mengoper gambar ini ke samudra, arsitek kami.
sejak kemudian samudra pindah ke jakarta lagi, rumah ambani pergi lagi ke bangkok.

siang ini,
ada satu dos besar datang dari bangkok.
salah satu isinya adalah CD rumah ambani lagi.
sejak minggu lalu, bill bensley memberitahu saya.
“hi hi putu, bisa bantu membuat strong concept buat level 2 dan 3 rumah ambani di bombay?”, begitu isi emailnya.
“no problemoLAH”, saya membalasnya. sekenanya saja.

dua tahun lalu, saat rumah ambani ada di studio sanur,
saya tak terlalu melihat secara detail.
kata bill, “putu, kita dapat rumah manusia terkaya di india. rumahnya bertingkat hingga 32 lantai!”.
bola mata saya jatuh ke tong sampah, saking melototnya mendengar cerita itu.

saat saya buka CD yang berisi rumah ambani,
saya saksikan tower itu penuh hijau daun hingga ke awan.
saya berpikir, rumah ini ndak setinggi rumput gajah, rumah yang menurut saya sudah teramat tinggi.
tetapi,
rumah ambani seperti tinggi pohon jati yang telah berumur ratusan tahun. beda banget dengan rumah saya yang setinggi rumput jepang. saya tak tahu, apa yang musti saya buat untuk merevisi kebun di level 2 dan level 3.

p1020505.JPG

Posted in Arsitektur Tulis having 1 comment »

50-an

May 19th, 2009 by Ongky

saya lihat seorang bapak duduk di atas tembok yang tingginya hanya 60cm.
tembok itu dinding sebuah kolam ikan koi.
saya menghampirinya dan ikut memandangi ikan koi itu.
“senang ikan?”, katanya.
“senang pak, tapi saya tak punya tempat untuk punya kolam ikan seperti ini”, saya menjawabnya.
kami tersenyum. mata kami kemudian kembali disibukkan oleh ikan ikan koi itu.

saban hari, bapak ini hanya duduk membaca koran.
atau,
berkebun di halamannya yang luas.
kadangkala, ia nampak berbincang dengan rekan rekannya.
warung makan di mana saya selalu ada untuk makan pagi atau makan siang, selalu dipenuhi oleh banyak orang.
termasuk, saat saya melihat bapak ini duduk di dinding kolam itu.
bapak ini, telah berada di keadaan stabil. hanya memikirkan masa tua.
merawat anak anaknya.
berkebun.
ikut mengantar istrinya berbelanja keperluan warung makannya.
atau,
memberi makan ikan koinya sambil matanya tetap menatap ikan ikan tersebut.
hidup di level ini, kayaknya menjadi impian saya.
tak harus kaya materi.
karena uang tak bisa dibawa ke mana.
setidaknya, umur seumuran bapak ini, hanyalah kemudian berpikir untuk menghidupi dg sederhana keluarga dengan warungnya, agar anak punya masa depan yang lebih baik.
saya tak tahu, di masa mudanya, ia bekerja sebagai apa.

pagi tadi,
saya mampir ke warung bubur kacang ijo. dan setiap hari, saya parkir sepeda di tempat yang sama.
warung pak lik, letaknya di renon. tepat di depan monumen bajra sandi.
hampir tiap hari, saya makan pagi di sini dengan menu yang amat sangat sederhana; soto ceker dan bubur kacang ijo plus teh botol dingin.
ceker ayam, kata orang bagus buat tulang. kacang ijo, kata orang, bagus buat rambut.
tadi pagi,
si mpunya warung berbincang dengan rekannya.
“segini aja sudah cukup pak, terlalu banyak juga ndak bagus”, pak lik berbicara.
saya hanya mendengarkan saja dari sebelah di mana ia duduk.
mata pak lik, memandangi langit langit warungnya yang terbuat dari ekspos struktur atap alang alang.
kalimat yang keluar dari pak lik, mengingatkan saya akan kehidupan bapak pemilik warung dengan kolan ikan koi.

sejak bulan desember lalu, hingga april, bill bensley tak bekerja di kantor.
3 bulan lamanya, ia cuman plesiran di amerika selatan dan berakhir di roma.
“ini untuk memperingati umur saya yang 50 tahun di bulan februari”, katanya.
selama tiga bulan itu, hanya beberapa kali ia mengirimkan email. 90% emailnya, berisi photo photo yang ia ambil saat plesiran.
“putu, ini photo saat di kepulauan galaphagos!”, katanya.
saya hanya tersenyum. ia ada di tempat di mana darwin dulu berada.
pikiran saya melayang.

manusia punya skala.
karena itu, saya berpikir panjang untuk berhenti menjadi arsitek secara total di umuran nanti.
ntah di 50.
ntah di 55. saya tak tahu kapan. tapi, itu musti bersaat.
saatnya menyibukkan diri dengan kesibukan lainnya.
karena, tak selamanya manusia itu berada di level SMA terus. atau di 9 semester terus.
kesibukan hari musti berjenjang dan bervariasi berganti.
yang terus musti terjadi adalah bagaimana kita belajar dari apa yang kita buat, apa yang kita hadapi.

kini saya masih berada di 17.
umur ranum ranumnya untuk bergiat diri. bekerja keras. belajar keras.
sampai nanti, saat kita rasa untuk berhenti dan mencari cara menikmati hidup yang lebih soft.
kegiatan, kesibukkan musti disepadankan dengan umur.

belajar diri hingga nanti, tak berarti berhenti saat kita berhenti berprofesi.

Posted in Arsitektur Tulis having no comments »

About putu mahendra

saya ndak bisa bergaul. gaul hanya ama orang yang sudah saya kenal. amat susah untuk mengenal orang baru
Details >>